Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Tarikan napas tajam terdengar jelas dari Sherin. “Astaga… Jadi kamu harus melindungi anaknya? Anak yang mungkin lahir saat kau—”
“dilupakan olehnya,” potongnya cepat. “Saat aku sama sekali tidak ada dalam ingatannya.”
Axlyn terduduk di tepi ranjang. Kenangan lima tahun lalu menghantam tanpa ampun, dimana malam berdarah, tembakan, dan wajahnya yang terakhir kali ia lihat sebelum semuanya gelap. Sebelum ia menjadi sosok yang terlupakan sampai detik ini.
“Bukankah sudah Kakak katakan kau nggak harus ambil tugas itu,” suara Sherin melembut.
“Kondisimu juga—”
“Aku harus.” Kali ini suaranya tegas, meski tangan gemetar. “Kalau benar dia anaknya… berarti anak itu dalam bahaya. Dan aku tahu persis seperti apa dunia di sekelilingnya.”
“Kakak tidak peduli dengan semua itu, karena bagi Kakak kau dan dua bayi yang ada di dalam kandunganmu ‘lah yang terpenting bagi Kakak?” Sherin menegaskan. “Lalu apa dia masih belum ingat denganmu?
“Belum. Dan mungkin… mungkin dia bahkan nggak akan mengenaliku.” Jawabnya. “Mengenaliku sebagai wanita yang menghabiskan malam bersama di Praha. Meski dia mencariku, tapi lagi-lagi dia melupakanku begitu saja.”
Axlyn tertawa kecil, getir. “Dia kehilangan ingatannya, Kak. Mana mungkin dia bisa mengingatku dengan mudah. Jika semudah itu, maka aku tidak akan menunggu selama ini.”
“Dan sekarang,” lanjutnya, suaranya berubah dingin, “Pria itu bahkan berada di sisinya, Kak. Pria yang menjadi alasan aku terluka, pria yang membuat Kay melupakanku kini menjadi saudaranya. Mereka berteman sangat baik, seolah kejadian lima tahun lalu di Kota Xennor hanya sebuah mimpi buruk yang panjang. Mimpi yang akan menghilang begitu saja begitu terbangun.”
“Maksudmu apa?”
“Dia sudah jadi bagian dari keluarganya.” Kata-kata itu terasa seperti duri yang ia telan paksa. “Aku lihat sendiri tadi. Duduk di ruang yang sama. Bicara seolah-olah mereka… saudara dan teman terbaik.”
“Tidak mungkin.”
“Itu kenyataannya.” Ia memejamkan mata lagi.
“Orang yang menyebabkan dia hilang ingatan. Orang yang hampir membunuhku. Sekarang berdiri di sampingnya.”
“Dia tahu siapa pria itu sebenarnya?”
“Aku nggak tahu.” Suaranya nyaris berbisik. “Kalau dia masih nggak ingat kejadian di Kota Xennor… dia mungkin cuma melihatnya sebagai penyelamat. Atau rekan. Atau bahkan keluarga.”
Sunyi kembali menggantung. Tanpa Axlyn ketahui, Sherin sudah mengepal erat kedua tangannya menahan emosinya yang semakin memuncak. Sudah payah adiknya berusaha bangkit setelah menjadi terlupakan, siapa sangka takdir begitu kejam hingga kini mereka dipertemukan kembali.
“Jadi kau akan tetap masuk kembali ke dalam lingkaran itu?” tanya Sherin akhirnya. “Dalam keadaan hamil. Mengawal anak yang mungkin anaknya. Berhadapan dengan pria yang hampir merenggut nyawamu?”
Axlyn membuka mata. Pandangannya mengeras, berbeda dari beberapa menit lalu. “Iya, Kak. Ini sudah menjadi tugas yang telah aku terima.”
“Kau gila, Clauretta Axlyn.”
“Mungkin.” Axlyn tersenyum tipis. “Tapi kalau aku mundur sekarang, siapa yang akan melindungi anak itu? Dan juga aku ingin mencari tahu kenapa pria itu tiba-tiba menjadi bagian dari hidupnya?”
“Dan bagaimana dengan hatimu?” suara Sherin kembali melemah. “Kamu siap melihatnya setiap hari… tanpa dia mengingat siapa kamu? Lalu bagaimana dengan anakmu sendiri? Kau melindungi anaknya, tapi tidak dengan bayimu sendiri, begitu?”
Pertanyaan itu menancap tepat di dadanya.
“Karena anak ini juga, Kak aku ingin tetap disampingnya walau untuk waktu yang singkat. Setidaknya mereka bisa merasakan keberadaan Papah mereka di dekatnya, sebelum aku kembali menghilang… menjadi sosok yang terlupakan untuk kesekian kalinya.”
Axlyn hanya bisa mengatakan fakta itu di dalam hatinya. Biarlah hanya dirinya dan Tuhan yang tahu siapa ayah kandung dari anak yang masih berada dalam perutnya.
“Kamu masih mencintainya, ya?”
Ia terdiam lama.
“Aku nggak tahu,” bisik Axlyn akhirnya. “Yang aku tahu, sebagian diriku tertinggal bersamanya malam itu. Dan sekarang… takdir seperti memaksaku untuk kembali dipermainkan.”
Di seberang sana, Sherin menghela napas panjang. Ia tahu bahwa adiknya jelas masih mencintai Kay, meski sekarang tidak langsung mengatakannya. Jujur saja, Sherin tidak ingin Axlyn terjebak lagi dengan perasaannya terhadap Kay, namun mungkin ini sudah waktunya mengakhiri atau memulai semuanya dengan baik.
“Kalau begitu dengarkan aku baik-baik,” katanya tegas. “Jangan pernah sendirian dengan pria itu… pria yang dulu hampir membunuhmu. Jangan percaya siapa pun di rumah itu. Dan kalau keadaan memburuk, kau beritahu kakak. Pikirkan dirimu dan bayi itu, meski harus membayar biaya denda itu Kakak akan berusaha mendapatkannya asal kau dan calon bayimu tetap aman.”
Axlyn mengangguk patuh, meski tak terlihat. “Aku janji akan langsung memberitahu Kakak, jika memang sudah waktunya aku menyerah.”
“Mmm, jaga dirimu baik-baik di sana.” Sahut Sherin.
Telepon ditutup perlahan. Ruangan kembali sunyi. Axlyn berdiri dan menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah yang dulu penuh cahaya kini lebih keras, lebih dewasa. Namun di balik itu, ada bayangan luka yang belum sembuh. Ada perasaan yang masih terkubur… perasaan yang entah bisa tersampaikan atau mungkin harus terkubur selamanya.
“Anakmu…” gumam Axlynn pelan, membayangkan Hezlyn. “Dan anak kita…bisakah mereka kelak bisa bermain bersama dengan bahagia?”
Takdir mempertemukannya kembali dengan pria yang pernah menjadi dunianya dalam keadaan yang paling rumit. Dengan seorang anak yang mungkin darah daging Kay. Dengan seorang musuh yang kini berdiri sebagai keluarga. Dan dengan rahasia dua kehidupan yang tumbuh di dalam dirinya. Axlyn memejamkan mata, menarik napas panjang.
...****************...
Jam digital di atas nakas menunjukkan pukul 00.37. Perut Axlyn tiba-tiba bergejolak. Bukan sekadar lapar biasa… ini seperti dua makhluk kecil di dalam rahimnya sedang mengadakan demonstrasi serentak. Ia mengerang pelan, mengusap perutnya yang masih rata hanya menunjukan benjolan kecil yang terlihat lucu baginya sendiri
“Kalian ini… baru saja makan kue satu jam lalu,” gumamnya lirih.
Namun kedua bayi kembar itu, yang kini memasuki baru trimester pertama, jelas tidak peduli pada logika. Rasa lapar itu datang tiba-tiba, tajam, nyaris menyakitkan. Axlyn melirik ke arah pintu kamar. Mansion mewah itu tampak begitu sunyi di tengah malam. Angin berdesir pelan menyusup dari celah jendela, membuat tirai tipis bergoyang lembut.
“Baiklah, ayo kita pergi ke dapur. Siapa tahu ada makanan yang bisa menenangkan kalian berdua di sana,” ucap Axlyn pada kedua bayinya yang mungkin belum berbentuk.
Bersambung ….
𝘔𝘢𝘢𝘧 𝘺𝘢𝘩 𝘒𝘢𝘬, 𝘳𝘦𝘢𝘥𝘦𝘢𝘳𝘴 𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘢𝘯𝘺𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘶𝘯𝘺𝘢... 🤭😭
slalu menyimpulkan sendiri,,jgn sampai anak mu knp knp Baru kamu nangis nangis,dan bilang maafkan mamah yg tidak bisa menjaga kalian,, padahal dirimu yg slalu salah paham dan bisa di egois
malah si dispenser yang duluan nemuin siapa wanita yang selama ini di cari keluarga Xavier🤭🤭
𝘛𝘢𝘱𝘪, 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘚𝘱𝘦𝘯𝘤𝘦𝘳 𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘪𝘥𝘪𝘬𝘪𝘯𝘺𝘢? 🤔
𝘒𝘦𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘦𝘯𝘥𝘢𝘮 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘵𝘢𝘯 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘣𝘶𝘢𝘩𝘯𝘺𝘢 𝘌𝘷𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘪𝘴𝘢, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘤𝘶𝘤𝘶𝘯𝘺𝘢..
𝘏𝘶𝘩, 𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘦𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘣𝘢𝘭𝘬𝘢𝘯 😌😌😌