NovelToon NovelToon
Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Syifa Si Wanita Kukang - Tumbal 7 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Kutukan / Hantu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eouny Jeje

​"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."

​Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.

​Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.

BERANI MELEWATI MALAM KE-6?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keset kaki orang-orang mabuk

...​"Bagi Mami Maya, Tubuhmu Bukan Nyawa—Hanya Lembaran Lecek Penutup Lubang Utang yang Tak Pernah Lunas."...

......................

Di balik gemerlap lampu neon fuchsia yang memanjakan mata para lelaki hidung belang di bar depan, terbentang sebuah lorong sempit yang menjadi sekat antara khayalan dan kehancuran. Begitu melewati tirai beledu yang bau apek, atmosfer mewah seketika menguap, digantikan oleh lorong panjang menuju deretan kamar standar—sebuah labirin pengap yang lebih mirip sel penjara daripada tempat peristirahatan.

​Di sini, tidak ada lagi sofa empuk atau denting botol sampanye mahal. Cahaya beralih menjadi pijar lampu kuning yang redup dan berkedip-kedip, seolah-olah listrik di sana pun enggan untuk menyala. Suasana terasa mencekam dengan deretan pintu triplek tipis yang dilapisi wallpaper bermotif bunga kusam. Di bagian bawahnya, kertas-kertas itu sudah mengelupas dan berwarna kecokelatan akibat lembap yang menahun, membusuk perlahan bersama harapan para penghuninya.

​Nursifa—atau Syifa—terduduk lemas di tepi ranjang sempit yang sprainya masih berantakan. Bau keringat pria kantoran kelas teri yang baru saja pergi masih tertinggal di bantal, bercampur dengan aroma parfum stroberi murah milik Syifa yang mulai memuakkan. Jemarinya yang gemetar berusaha mengancingkan blus satinnya yang koyak di bagian bahu, sebuah "kenang-kenangan" dari tamu tadi yang terlalu kasar karena merasa telah membayar.

​Ia baru saja hendak meraih sisa napasnya ketika pintu itu terbuka tanpa ketukan.

​BRAKK!

​Mami Maya masuk dengan langkah angkuh, membiarkan pintu terbuka lebar agar semua orang di lorong bisa melihat kehinaan Syifa. Maya berdiri dengan gaun sequin hitam yang berkilauan, kontras dengan kusamnya dinding kamar nomor 07 itu.

​"Mana? Jangan kau sembunyikan di balik kutang kau itu! Sini setoran kau!" suara Maya menggelegar, memutus isak tangis Syifa yang tertahan.

​Syifa tersentak, bahunya merosot pasrah. Ia menyerahkan tiga lembar uang seratus ribuan yang masih lecek dan terasa hangat—uang yang ia dapatkan setelah satu jam harga dirinya diinjak-injak.

​"Ini... ini semuanya, Mi. Tolong... Syifa mau sisihkan sedikit saja... buat kirim obat Ibu. Ayah baru telepon, Ibu sesak napas lagi..." rintih Syifa, suaranya parau, nyaris hilang ditelan dentum musik remix dari aula depan.

​Maya merebut uang itu dengan gerakan secepat kilat, seolah tangan Syifa adalah barang najis yang menular. Ia menghitungnya dengan muka masam, lalu tawanya meledak—sebuah tawa kering yang lebih mirip hinaan daripada keceriaan.

​"Obat? Syifa, lihat muka kau di cermin itu!" Maya mencengkeram dagu Syifa, memutar wajah gadis itu dengan kasar ke arah meja rias. "Uang tiga ratus ribu ini? Di kelas ekonomi ini, jangankan buat nyawa ibu kau, buat bayar listrik AC yang kau pakai dingin-dinginan sama tamu tadi saja tidak cukup! Kau pikir sewa kamar ini gratis? Kau pikir bedak yang kau pakai itu turun dari langit?"

​Maya melempar uang itu kembali ke pangkuan Syifa dengan gerakan menghina, seolah uang itu adalah sampah.

​"Ini cuma buat bayar bunga utang kau bulan lalu. Pokok utang kau? Masih segede Gunung Merapi! Kau jangan mimpi bisa masuk ke VIP. Tamu VIP itu seleranya tinggi, mereka mau yang kulitnya mulus, yang gayanya berkelas. Bukan gadis kampung yang kaku kayak mayat dan bau bawang kayak kau!"

​Maya meludah ke lantai, tepat di ujung jempol kaki Syifa yang telanjang.

​"Jangan harap ada kiriman obat hari ini. Kalau kau mau Ibu kau tetap napas, besok kau harus dapat tamu dua kali lipat dari hari ini. Kalau tidak, Mami sendiri yang bakal kasih tahu bapak kau kalau anaknya di sini bukan jadi pelayan restoran, tapi jadi keset kaki orang-orang mabuk!"

​Maya berbalik pergi, suara hak sepatunya yang mahal mengetuk lantai granit dengan irama yang mengintimidasi, meninggalkan Syifa yang bersimpuh di lantai, meraba-raba lembaran uang lecek itu di antara debu dan air matanya sendiri.

​Syifa masih bersimpuh, tubuhnya yang ringkih bergetar hebat di bawah cahaya lampu pijar yang berkedip sekarat, seolah ikut merasakan ajalnya sendiri. Dengan jemari yang kasar dan gemetar, ia merangkak pelan di atas lantai yang dingin dan lengket oleh noda-noda masa lalu yang tak pernah benar-benar bersih. Ia meraba-raba lembaran uang lecek yang dilempar Maya tadi—uang yang merupakan harga dari setiap inci kulitnya yang baru saja diperas paksa.

​Satu lembar ia temukan di bawah kolong ranjang yang berbau apak dan debu menahun. Satu lembar lagi terselip di dekat tumpukan tisu kotor sisa tamunya yang tak punya hati.

​"Ibu... maafin Syifa... Syifa kotor, Bu..." bisiknya lirih, suaranya parau, hancur berkeping-keping.

​Ia mendekap lembaran uang lusuh dan bau itu ke dadanya dengan erat, seolah kertas-kertas hina itulah satu-satunya jantung yang membuat ibunya tetap berdetak di kampung sana. Air matanya jatuh deras, membasahi uang tersebut, menyatu dengan keringat dan sisa bau lelaki asing yang masih melekat di tubuhnya.

​Syifa baru saja menyandarkan punggungnya yang pegal pada dinding kamar yang lembap. Ia menarik napas pendek, mencoba menghentikan isak tangisnya dan menghapus sisa air mata yang membuat gincunya belepotan. Namun, kedamaian itu hanya bertahan sedetik.

​Tiba-tiba, pintu kamar kembali terbuka sedikit. Tangan dengan kuku merah darah milik Maya menyelinap masuk, merampas kembali lembaran uang yanG baru saja didekap Syifa di dadanya. Syifa terperanjat, jemarinya terkulai kosong.

​Maya condong ke depan, embusan napasnya yang berbau alkohol dan tembakau menyapu telinga Syifa. Ia berbisik dengan nada yang lebih mirip kutukan daripada instruksi.

​"Jangan manja. Ada tamu lagi di depan. Layani dia benar-benar. Lumayan buat cicil hutang kau, biar nggak makin numpuk itu bunga," bisik Maya dingin sebelum menarik diri.

​Syifa hanya bisa menghela napas panjang yang terasa sesak di paru-parunya. Tulang-tulangnya terasa seperti akan rontok. Sejak pagi tadi, ia sudah melayani tiga tamu—semuanya pria-pria kelas bawah yang kasar, pelit, dan meninggalkan bau keringat asam di sprainya. Tak satu pun dari mereka memberinya uang lebih; mereka semua menawar hingga ke titik paling rendah, seolah tubuh Syifa adalah barang loakan yang tak bernilai.

​Lalu sekarang, siapa lagi yang datang di jam selarut ini?

​Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki yang terseret-seret di lorong lantai granit. Suara hak sepatu Maya perlahan menjauh, memberi jalan bagi sosok baru yang berhenti tepat di ambang pintu kamar nomor 04.

​Sosok itu muncul.

​Seorang pria yang sangat renta. Tubuhnya bungkuk, dibalut kemeja batik yang sudah pudar warnanya dan kedodoran. Kulitnya keriput, dipenuhi bercak-bercak penuaan, dengan rambut putih tipis yang nyaris habis. Saat pria itu melangkah masuk, Syifa merasakan gejolak mual yang hebat menghantam dadanya.

​Rasa jijik yang luar biasa mendadak menyeruak. Pria ini bahkan terlihat lebih tua dari kakeknya di kampung. Mata pria itu yang keruh dan berair menatap Syifa dengan tatapan yang sulit diartikan—antara nafsu yang tersisa dan kesunyian yang dalam.

​Syifa mematung di tepi ranjang. Tangannya mencengkeram sprai dengan kencang hingga kukunya memutih. Di dalam benaknya, ia menjerit, mempertanyakan dosa apa yang telah ia perbuat hingga takdir menyeretnya ke titik serendah ini: menyerahkan sisa-sisa kemanusiaannya pada seseorang yang seharusnya ia tuntun menyeberang jalan, bukan ia layani di atas ranjang apek.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

1
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh agung akan mati kah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduh ini kapan berkahir kasihan jadi tumbal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhhh
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lhaaa trus kemana itu kukang nya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
aduhh gila ini pengeruh iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahhaha perempau memang banyak drama tak ada yg bisa mengerti 😝
@🏡s⃝ᴿ yayuk
ahahahhaha aq ngakak baca artinya juga 🤣🤣🤣
@🏡s⃝ᴿ yayuk
hiiii ngeri sekali ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
iblis twtaplah iblis
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow
karena apa coba
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh piye jal
@🏡s⃝ᴿ yayuk
waduhh bodoh sekali tp apa boelh di katanya kan
Mersy Loni
lanjut thor
@🏡s⃝ᴿ yayuk
wow lgsg kena target
Mersy Loni
aku tuh masih sedih sma broto jd tolong jangan nambah lagi ya, jgn biarkan agung juga pergi Thor.
Jeje: ya jgn ada kepikiran ke situ dlu kasian agungnya
total 3 replies
@🏡s⃝ᴿ yayuk
lah dalah
@🏡s⃝ᴿ yayuk
efekmya kok sampe gitu ya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
minta sama sifa dia kaya raya lho
@🏡s⃝ᴿ yayuk
g kebanyang ya gimna ngerinya
@🏡s⃝ᴿ yayuk
kacau sudah berapa harga semua yg ada di etalse itu hadeg berhamburan sudah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!