🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 | Konfrontasi di Distrik Komersial
...----------------🍁----------------🍁----------------...
Sepatu bot ku menghantam aspal basah Distrik Komersial Shanghai dengan irama yang mencerminkan detak jantung ku, cepat, berantakan, dan penuh amarah. Nama ku Chen, dan selama lima tahun terakhir, aku telah hidup dalam bayang-bayang kegagalan. Kasus pencucian uang sindikat Ghost Serpent adalah duri dalam daging ku. Mereka licin seperti belut di genangan minyak, menghilang tepat sebelum timku mendobrak pintu, seolah-olah mereka punya informan di dalam otak ku sendiri.
Malam ini, hujan turun tipis, menyamarkan bau karat dan limbah industri di area gudang tua dekat pelabuhan. Aku berdiri di balik bayangan truk kontainer, menyesuaikan earphone di telinga kanan ku.
"Tim A, posisi?" bisik ku ke radio.
"Sudah di perimeter utara, Detektif. Tapi... area ini kosong. Radar panas menunjukkan tidak ada aktivitas di gedung target," suara bawahan ku terdengar frustrasi.
"Sial!" Aku memukul badan truk di samping ku. "Lagi? Bagaimana mungkin mereka tahu kita akan datang ke gudang 12 B?"
Aku keluar dari bayangan, membiarkan air hujan membasahi jaket kulit hitam ku. Pikiran ku buntu. Aku butuh petunjuk, butuh sesuatu yang nyata, bukan sekadar laporan intelijen yang selalu berakhir di jalan buntu. Saat itulah, aku melihat nya.
Seorang pria berjalan santai di tengah distrik yang seharusnya steril ini. Dia mengenakan jas mahal yang tampak tidak pas untuk lingkungan kumuh ini, namun dia membawa nya dengan karisma yang membuat ku berhenti bernapas sejenak. Dia tidak membawa payung. Dia hanya berjalan sambil menatap langit-langit gudang seolah-olah sedang menghitung bintang di balik awan mendung.
"Siapa dia? Sipil? Atau salah satu dari mereka?" pikir ku. Tangan ku secara naluriah turun ke pinggang, menyentuh gagang pistol Glock ku.
"Berhenti di sana! Polisi!" teriak ku sambil melangkah maju, mengarahkan senter taktis ke wajah nya.
Pria itu berhenti. Dia tidak terkejut. Dia tidak mengangkat tangan dengan gemetar. Dia perlahan menoleh ke arah ku, dan saat cahaya senter mengenai mata nya, aku melihat sesuatu yang membuat bulu kuduk ku meremang. Mata nya tidak memantulkan cahaya senter ku, mata nya seolah menyerap nya, dengan kilatan merah redup yang berputar di dalam pupil nya.
"Detektif Chen," suara nya tenang, hampir merdu, namun mengandung beban yang sangat berat. "Anda sedang mencari sesuatu yang salah di tempat yang salah."
Aku mengerutkan kening, tidak menurunkan kewaspadaan ku. "Bagaimana kau tahu nama ku? Dan apa yang kau lakukan di sini, Tuan...?"
"Satya. Hanya Satya," jawab nya. Dia melangkah mendekat. Secara logika, aku seharusnya memerintahkan nya untuk tiarap, tapi ada aura di sekeliling nya yang membuat otoritas polis ku terasa kerdil. "Anda mengejar bayangan di gudang 12 B, padahal ular yang Anda cari sedang meringkuk di dalam kotak yang dikira kosong."
Dia mengangkat tangan nya, menunjuk ke sebuah gudang tua di ujung jalan, Gudang 44. Gudang itu sudah dinyatakan tidak beroperasi sejak sepuluh tahun lalu. Atap nya sudah runtuh sebagian, dan pintu nya di rantai dengan gembok berkarat yang sudah menyatu dengan besi pintu nya.
"Gudang 44? Jangan bercanda," cetus ku sinis. "Tim intelejen sudah menyisir tempat itu bulan lalu. Itu tempat pembuangan limbah kimia tua. Bahkan tikus pun tidak mau tinggal di sana."
Satya tersenyum tipis. "Manusia seringkali lebih kotor dari pada limbah kimia, Detektif. Dan mereka sangat ahli dalam membuat apa yang tampak mati menjadi sangat hidup di bawah tanah."
Dia berjalan melewati ku seolah-olah aku hanya tiang lampu.
"Hei! Tetap di tempat mu!" bentak ku, tapi dia terus berjalan menuju Gudang 44.
Aku tidak punya pilihan selain mengikuti nya. "Jika dia bagian dari sindikat, ini adalah jebakan. Tapi jika dia benar..."
Kami sampai di depan pintu rongsokan itu. Satya berhenti, mata nya menatap pintu besi tersebut. Aku melihat otot rahang nya mengeras.
"Dengar, Tuan Satya, jika ini adalah lelucon, aku akan memastikan kau mendekam di sel malam ini," ancam ku, meskipun suara ku sedikit bergetar.
"Detektif," Satya menoleh pada ku, wajah nya hanya berjarak beberapa inci. Aku bisa mencium aroma kayu cendana dan sesuatu yang tajam, seperti bau ozon sebelum petir menyambar. "Jangan gunakan pintu depan. Di balik rantai itu, ada sensor getaran yang terhubung ke peledak C4 di langit-langit. Mereka ingin mengubur siapa pun yang mencoba masuk lewat jalur legal."
Aku tertegun. "Peledak? Bagaimana kau bisa tahu?"
Satya tidak menjawab. Dia menunjuk ke arah lubang ventilasi kecil di bagian samping bangunan yang tertutup tumpukan kayu palet. "Masuklah lewat sana. Di bawah lantai beton itu, ada ruang bawah tanah seluas tiga ribu meter persegi. Di sanalah server pencucian uang mereka berada, dan di sana pula buronan internasional yang kau cari, Markus Volkov, sedang menenggak vodka sambil menghitung uang mu."
Aku menatap lubang ventilasi itu, lalu menatap Satya. "Kenapa kau membantu ku?"
Satya menatap ku dalam-dalam. Untuk sesaat, aku merasa dia tidak hanya menatap mata ku, tapi dia sedang membaca seluruh riwayat hidup ku, kegagalan ku, hingga trauma masa kecil ku saat melihat ayah ku yang juga seorang polisi tewas di tangan sindikat.
"Karena aku butuh seorang polwan yang berhutang nyawa pada ku di kota ini," bisik nya dengan nada yang sangat jujur hingga membuat jantung ku berdegup kencang. "Dan karena mawar yang layu seperti mu butuh sedikit cahaya matahari agar bisa berduri kembali."
Aku terdiam, wajah ku memanas karena perumpamaan nya yang aneh namun tepat sasaran. Tanpa berkata apa-apa lagi, aku memberikan sinyal tangan kepada timku melalui kamera bahu.
Sepuluh menit kemudian, distrik komersial itu pecah oleh suara ledakan granat asap dan rentetan tembakan.
Aku memimpin tim S.W.A.T merangsek masuk melalui lubang ventilasi yang ditunjukkan Satya. Dan apa yang kutemukan di sana membuat ku hampir kehilangan kewarasan. Satya benar. Di bawah gudang yang tampak rongsok itu, terdapat fasilitas teknologi tinggi yang luar biasa. Deretan server berkedip biru di kegelapan, dan benar saja, Markus Volkov ada di sana, sedang mencoba menghancurkan hard drive saat kami menyergap nya.
"Jangan bergerak! Angkat tangan!" teriak ku sambil menekan Volkov ke lantai beton yang dingin.
Saat aku memborgol nya, aku melihat ke sekeliling. Di sudut ruangan, berdiri Satya. Dia hanya diam, memperhatikan kekacauan itu dengan tangan di saku jas nya. Dia tampak seperti seorang sutradara yang sedang menonton adegan film yang baru saja dia arahkan.
Setelah area itu aman dan para tersangka digiring keluar, aku menghampiri nya. Pakaian ku kotor oleh debu dan darah musuh, tapi dia masih tampak sempurna.
"Bagaimana kau melakukan ini?" tanya ku, suara ku masih dipenuhi adrenalin. "Kau tahu soal peledak, kau tahu lokasi server, kau bahkan tahu Volkov ada di sini. Tidak ada warga sipil yang bisa memiliki informasi sedetail ini. Siapa kau sebenarnya? Agen rahasia? Interpol?"
Satya melangkah mendekat, mengabaikan garis polisi yang dipasang tim ku. Dia mengulurkan tangan nya, dengan lembut menyeka noda darah di pipi ku dengan ibu jari nya. Sentuhan nya hangat, sangat kontras dengan udara malam yang menggigit.
"Aku bukan agen, Chen," katanya lembut. "Aku hanyalah seorang pria yang bisa melihat masa depan yang kalian abaikan."
Aku menepis tangan nya, mencoba menjaga jarak profesional, tapi mata ku tidak bisa lepas dari nya. "Lihat masa depan? Kau pikir ini film fiksi ilmiah? Aku butuh jawaban yang bisa ku tulis di laporan, Satya!"
Satya tertawa pelan, suara yang kini mulai kusukai meskipun aku membencinya. "Tulis saja Informan Anonim. Itu akan menyelamatkan karir mu dari pertanyaan konyol atasan mu. Tapi bagi mu..." dia mencondongkan tubuh, berbisik tepat di telinga ku, "...kau tahu di mana harus mencari ku jika kau butuh mata yang lebih tajam dari pistol mu."
Dia memberikan sebuah kartu nama emas polos dengan hanya satu nomor telepon di sana.
"Tunggu!" panggil ku saat dia mulai berjalan menjauh ke kegelapan hujan. "Volkov bilang, pengiriman uang berikutnya akan melalui pelabuhan minggu depan. Benarkah?"
Satya berhenti sejenak, menoleh tanpa berbalik sepenuh nya. "Pelabuhan itu pengalihan. Uang nya akan dikirim lewat pesawat kargo diplomatik besok sore pukul empat. Jika kau ingin menangkap kakap yang lebih besar, jangan pergi ke laut. Pergilah ke langit."
Lalu, dia menghilang. Benar-benar menghilang di balik kabut hujan, seolah-olah dia hanyalah ilusi yang diciptakan oleh rasa frustrasi ku.
Aku berdiri mematung di depan Gudang 44. Di tangan ku, kartu emas itu terasa berat. Aku menatap tim ku yang sedang mengangkut barang bukti bernilai triliunan Yuan. Selama ini aku mengandalkan fakta, bukti fisik, dan kerja keras. Tapi malam ini, seorang pria asing dengan mata merah mistis memberi ku kemenangan terbesar dalam karir ku hanya dengan sebuah telunjuk.
"Masa depan yang kita abaikan..." gumam ku, mengulangi kata-kata nya.
Aku meraba saku jaket kulit ku, memastikan kartu itu tersimpan aman. Di dunia ku yang hitam putih, Satya Samantha barusan muncul sebagai percikan warna yang membingungkan sekaligus memikat. Dia berbahaya, aku tahu itu. Pria dengan kemampuan seperti itu tidak akan membantu polisi secara gratis.
"Dia bilang aku berhutang nyawa pada nya," pikir ku sambil menatap langit Shanghai yang masih kelabu. "Dan di kota ini, hutang nyawa biasanya dibayar dengan sesuatu yang jauh lebih intim daripada sekadar uang."
Aku merasakan getaran aneh di dada ku, sesuatu yang sudah lama mati sejak ayah ku pergi. Itu bukan rasa takut. Itu adalah rasa penasaran yang membakar. Rasa penasaran seorang polwan yang baru saja menemukan misteri paling besar dalam hidup nya.
"Detektif Chen! Kami butuh tanda tangan Anda untuk penyitaan ini!" panggil bawahan ku.
"Ya, sebentar," jawab ku. Aku mengambil napas dalam-dalam, menghirup aroma hujan yang kini terasa berbeda.
Shanghai mungkin sedang diguncang krisis moneter, tapi malam ini aku menyadari bahwa badai yang sesungguh nya bukanlah tentang uang. Badai itu baru saja berjalan pergi dengan jas sutra biru gelap, dan aku... aku baru saja mendaftarkan diri ku untuk terjun ke tengah-tengah pusaran nya.
"Satya Samantha," pikir ku dalam hati saat aku berjalan menuju mobil patroli. "Kau mungkin bisa melihat masa depan ku. Tapi aku akan pastikan, aku adalah satu-satu nya orang yang akan mengejar mu sampai kau tidak punya rahasia lagi untuk disembunyikan."
...----------------🍁----------------🍁----------------...