NovelToon NovelToon
Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Mendapatkan Level 99999 Didunia Lain

Status: sedang berlangsung
Genre:Harem / Reinkarnasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wakasa Kasa

Kai di reinkarnasi setelah mengalami kecelakaan mobil akibat menolong anak kecil , setelah di Reinkarnasi , ia kembali menjalani kehidupan keduanya , tetapi suatu hari ini malah masuk kedunia ketiga , apakah ada sesuatu yang direncanakan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15

"Bukan apa-apa. Meskipun tertutup, yang kulihat sebenarnya sama saja dengan yang kamu lihat."

Kai melihat sekelilingnya.

Ia menyipitkan matanya sedikit.

"Benar juga… kalau diperhatikan lebih detail, seperti ada selaput tipis di udara."

Marina menjelaskan dengan nada biasa.

"Pelindung ini disebut Ice Barrier."

"Monster di sekitar sini tidak akan bisa menembusnya."

Kai menoleh dan tersenyum.

"Sihir yang hebat…"

"Ternyata sihir seperti itu juga ada, ya."

Wajah Marina langsung berubah bangga.

"Ehem… sihirku lebih hebat, kan?"

Kai hanya tertawa kecil.

Marina-san sebenarnya sekuat apa sih…

Penampilannya seperti gadis kecil yang imut…

Tapi sifatnya agak polos juga…

Sulit sekali membayangkannya sebagai seorang Archmage rank A.

Gumam Kai dalam hati.

RAWWW—

Kai langsung menoleh kaget.

"Eh… Marina, suara tadi suara monster?"

Marina menjawab datar.

"Suara barusan adalah suara perutku."

Kai langsung panik dan suaranya sedikit keras.

"Uwah! Maaf!"

Ia lalu melihat langit.

"Benar juga ya… sebentar lagi sudah waktunya makan siang."

Marina memalingkan wajahnya.

"Kai jahat."

"Oke, oke. Ayo kita istirahat sekarang."

Jawab kai panik.

Mereka duduk di batang pohon yang patah.

Kai menyalakan api unggun kecil.

Wajah Kai menjadi datar saat melihat Marina.

Mulutnya penuh remah kue.

"Anu… aku ini kan petualang baru, jadi aku tidak begitu paham."

"Makan kue di tengah misi… apa tidak apa-apa?"

Marina masih sibuk mengunyah.

Kedua tangannya memegang kue.

"Kai… sudah kuduga kamu tidak paham."

"Kue ini walaupun kelihatannya seperti ini… sebenarnya adalah kue revolusioner."

Kai berkedip.

Marina melanjutkan dengan serius.

"Keseimbangan nutrisinya sudah dipikirkan matang-matang."

"Dengan satu kue ini saja, kamu bisa mendapatkan kalori, vitamin, mineral, zat besi, dan nutrisi lain yang cukup untuk setengah hari."

"Selain praktis, yang hebatnya lagi adalah rasanya tetap enak sebagai sebuah kue."

"Sebenarnya toko ini mengubah konsepnya dari toko kue biasa menjadi toko dengan konsep kue untuk petualang."

Kai langsung memotong dengan wajah merasa menyerah.

"Maafkan aku."

"Ternyata pemikiranku masih dangkal."

Marina mengangguk kecil.

"Pintar juga kamu…"

"mengingat ini soal kue."

Kai langsung menyela lagi.

"Berisik."

Ia lalu mengganti topik.

"Oh ya, soal rumor tadi…"

"Ngomong-ngomong, kenapa White Snow mati-matian mencari penyihir itu?"

"Apakah untuk mengucapkan terima kasih karena sudah ditolong atau semacamnya?"

Marina sedikit menundukkan pandangannya.

"Itu juga salah satunya."

"Tapi alasan utamanya adalah… dari sudut pandang kami…"

"Dia bukan eksistensi yang bisa kami abaikan begitu saja."

Kai tertawa kaku.

"Tapi dia kelihatannya bukan orang jahat, kan?"

"Sebenarnya tidak masalah kalau dibiarkan saja, kan?"

Marina langsung menjawab tanpa ragu.

"Masalah besar."

"Ini bukan hanya soal apakah dia orang baik atau jahat."

Ia menatap ke depan.

"Seseorang dengan kekuatan dahsyat seperti pahlawan dalam dongeng…"

"Jika dibiarkan berkeliaran tanpa pengawasan… itu sendiri sudah berbahaya."

Mata Kai langsung melebar.

"T-tunggu sebentar…"

"Apa maksudmu pahlawan?"

Gumamnya.

Namun dalam hatinya—

Tidak kusangka aku dibicarakan sebagai

eksistensi setingkat itu…

Berarti aku keren juga, ya…

Yah… walaupun sebenarnya aku tidak ingin terlalu mencolok.

Kai menyipitkan matanya.

Tapi kalau identitasku sampai terbongkar…

Aku tidak akan bisa hidup normal lagi.

Belum lagi soal mata ini…

Marina memperhatikan Kai dengan wajah bingung.

Sial…

Kenapa dari semua kemungkinan…

Aku malah berteman dengan anggota party yang mungkin bisa membongkar identitasku?

Gumam Kai dalam hati.

Setelah lama termenung, Kai akhirnya berbicara.

"O-oh begitu ya… kalau begitu memang harus dicari."

Marina mengangguk.

"Benar."

"Selain itu, aku pribadi juga ingin bertemu dengannya."

Kai penasaran.

"Kenapa?"

Wajah Marina berubah datar dan sedikit kesal.

"Yang pertama… untuk membuatnya meminta maaf."

"Karena telah menyebarkan rumor palsu bahwa aku mengakui kekalahan."

Ia mengambil gelas minumnya.

Namun wajahnya sedikit melembut.

"Alasan kedua adalah…"

"Mana orang itu… terasa familiar."

Kai menatapnya penasaran.

"Apa yang membuatmu merasa mananya familiar?"

Wajah Marina masih tertunduk, seolah memikirkan sesuatu.

"...Aku sendiri juga tidak begitu paham."

Ia terdiam sejenak sebelum melanjutkan.

"Tapi kalau aku bertemu dengannya… mungkin aku akan mengerti sesuatu."

Marina lalu menatap Kai.

"Karena itulah, Kai. Kalau kau tahu sesuatu, aku ingin kau berbagi informasi denganku."

"Aku harus menemukan penyihir itu."

Kai hanya tertawa kecil dengan wajah agak kaku.

"Ha… haha… iya."

Setelah beristirahat cukup lama, mereka kembali melanjutkan perjalanan.

Tidak lama kemudian, mereka akhirnya sampai di mulut sebuah goa yang menjadi sarang kobold.

Mereka mengamati situasi dari balik semak-semak.

Di depan goa, terlihat sekitar sepuluh kobold yang sedang berjaga.

Kai memperhatikan mereka dengan serius.

"Apakah itu sarang kobold?"

"Kalau dilihat dari pergerakannya… mereka memang mirip goblin. Tapi karena mereka bergerak berkelompok dan cukup lincah, kekuatannya hampir setara."

Marina mengangguk.

"Kau benar."

"Bahkan petualang Rank C pun bisa kesulitan menghadapi mereka jika diserang secara berkelompok."

Ia mengangkat tongkat sihirnya.

"Selain itu penciuman mereka cukup tajam, jadi kita harus memperhatikan arah angin."

Tiba-tiba salah satu kobold melolong.

Kai mengerutkan kening.

"Loh… apa mereka menyadari keberadaan kita?"

Marina menjawab dengan santai.

"Tenang saja. Kita berada di arah bawah angin, jadi mereka tidak akan mudah mencium bau kita."

Kai menatap kobold-kobold yang mulai bergerak.

Wajahnya berubah datar.

"Iya… tapi bukankah mereka sekarang justru menuju ke arah kita?"

Marina menoleh sebentar, lalu berkata santai.

"Mungkin karena pai apel penuh kayu manis yang kumasukkan ke dalam tas untuk dimakan nanti."

Kai langsung berbisik sambil setengah berteriak.

"Apa yang kau lakukan sih?!"

Marina justru membuat pose dua jari dengan percaya diri.

"Tenang saja, ada aku."

"Justru karena ulahmu kita jadi ketahuan!" bisik Kai kesal.

Tiba-tiba Marina berlari maju ke arah kobold.

Kai yang melihat itu langsung kaget.

"Hei! Marina—!"

Namun gadis itu sudah melesat lebih dulu.

Kai menghela napas.

"Sial… sudah kuduga dia cuma anak yang ceroboh."

Ia mengeluarkan salah satu katananya.

"Hah… apa boleh buat."

"Aku bantu sedikit saja."

Kai melesat maju dengan kecepatan tinggi.

Satu tebasan.

Dua tebasan.

Lima kobold langsung roboh sebelum sempat bereaksi.

"Yos. Sisanya aku serahkan padanya."

Namun baru saja ia selesai bicara, dari dalam goa muncul lebih banyak kobold.

Kai menatap mereka dengan ekspresi datar.

"Eh… bala bantuan."

Ia mengeluarkan katana keduanya.

Kai kembali bergerak.

Satu.

Dua.

Tiga.

Dalam waktu singkat puluhan kobold sudah terjatuh.

Kai lalu menoleh ke arah Marina.

Marina berdiri dengan tenang sambil mengangkat tongkatnya. Ia mulai melafalkan mantra, dan sebuah gelembung air raksasa muncul di atas kepalanya.

"Grand Aqua Boom."

Bola air itu melesat dan menghantam kobold-kobold yang tersisa.

Dalam sekejap semuanya tumbang.

Kai berjalan mendekat sambil tersenyum.

"Hebat juga, Marina."

"Padahal misinya cuma investigasi, tapi kita malah mengalahkan semuanya."

Marina menatapnya sebentar.

"Kau juga hebat, Kai."

"Ternyata penutup mata itu benar-benar tidak mengganggumu."

Ia lalu melirik ke arah goa.

"Ayo pulang."

"Lalu makan kue."

Kai langsung menghela napas.

"Hah? Bukannya kau baru saja makan tadi?"

Setelah misi selesai, Marina pergi ke kediaman Amane, pemimpin party White Snow.

Ia menceritakan banyak hal tentang Kai.

Amane mendengarkan dengan penuh perhatian.

"...Oh?"

"Tumben sekali ya."

"Marina tertarik pada orang lain."

Marina masih sibuk mengunyah kue.

"Aku juga merasa aneh."

"Kai itu… menarik."

Ia berhenti sejenak.

"Dan juga membuatku penasaran."

Marina meminum tehnya.

"Kau tahu? Dia selalu memakai penutup mata."

Amane menyilangkan tangannya.

"Ada yang aneh dengan penutup mata itu?"

Marina menggeleng.

"Aku sendiri tidak merasakan sesuatu yang aneh."

"Tapi katanya dia memakainya karena matanya sakit."

"Namun anehnya… dia tetap bisa melihat dengan jelas."

Ia melanjutkan.

"Bahkan dia bisa mengalahkan banyak kobold."

"Padahal mereka terkenal lincah."

Amane menatap marina dengan wajah serius.

"Kalau begitu… petualang baru bernama Kai itu…"

"Sepertinya kita perlu mengawasinya dengan seksama."

1
Khai
hai semua,
semoga semua sehat selalu ya,
Aamiin
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!