Perjalanan 50 KM, Tabungan Sebulan, Berakhir di Centang Biru.
Rafi, siswa SMA dengan uang saku pas-pasan, rela makan nasi garam selama sebulan demi satu proyek besar: mengajak Nisa berkencan ke Irian Kisaran. Menempuh 50 KM demi bioskop 5D dan makan di McD, semuanya tampak sempurna hingga mereka berpisah di terminal.
Di dalam bus pulang yang sunyi menuju Tanjung Balai, Rafi mengirimkan pesan terindahnya. Ia menunggu dalam cemas hingga bus tiba di tujuan, namun harapannya hancur saat layar HP hanya menunjukkan status paling menyakitkan: "Dibaca."
Apakah pengorbanan keringat dan harga diri Rafi hanya dianggap hiburan satu hari bagi Nisa? Di dunia di mana perasaan diukur dari kecepatan membalas chat, Rafi harus belajar bahwa investasi hati tak selamanya berbalas janji.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Berkeliling Mall
## Bab 31: Berkeliling Mall
Eskalator yang membawa Rafi dan Nisa turun dari lantai dua bergerak dengan ritme yang statis dan tenang, sangat kontras dengan gejolak di dalam dada Rafi. Setelah euforia Bioskop 5D di Bab 30, kini mereka memasuki fase kencan yang lebih "visual"—berkeliling area *department store* Irian Kisaran.
Ubin granit putih yang memantulkan cahaya lampu LED dengan sempurna membuat pandangan Rafi sedikit silau. Begitu kaki mereka menapak di lantai dasar, aroma parfum mahal dari konter kosmetik ternama langsung menyerbu indra penciuman. Ini bukan lagi aroma aspal Tanjungbalai; ini adalah aroma kelas sosial yang berbeda.
Nisa berjalan dengan langkah ringan, sesekali matanya tertuju pada manekin-manekin yang dipajang dengan pose elegan. Ia tampak mengagumi potongan kain yang jatuh dengan pas di tubuh patung plastik itu. Rafi mengikuti di sampingnya, berusaha menyesuaikan langkahnya agar tidak tertinggal, namun juga tidak terlalu mepet.
"Cakep-cakep ya, Fi, baju di sini," gumam Nisa sambil berhenti di depan sebuah gerai pakaian bermerek yang cukup ternama bagi masyarakat Sumatera Utara.
Rafi berhenti. Ia melihat ke arah deretan kemeja flanel yang dipajang. Secara teknis, kemeja itu mirip dengan yang ia pakai (Bab 13), namun warnanya lebih tajam, kainnya tampak lebih tebal, dan yang paling mencolok: tidak ada pudar sedikit pun di bagian kerahnya.
Rafi memberanikan diri melirik sebuah label harga yang tergantung di lengan sebuah jaket denim.
*Rp499.000.*
Angka itu seperti hantaman keras tepat di ulu hati Rafi. Secara analitis, harga satu jaket itu setara dengan tabungannya selama hampir dua bulan jika ia makan nasi garam setiap hari tanpa henti. Bahkan uang di dompetnya sekarang (Bab 27) tidak cukup untuk membeli satu lengan dari jaket tersebut.
Rasa minder yang sempat hilang karena adrenalin bioskop kini merayap kembali melalui ujung kakinya. Ia menunduk, melihat sepatu hitamnya yang baru saja ia lem dengan Alteco di Bab 3. Di atas lantai mall yang mengkilap ini, sepatu itu terlihat sangat biasa—hampir kusam.
"Rafi, lihat ini! Lucu ya modelnya?" Nisa menunjuk sebuah *blouse* wanita berwarna *peach* yang lembut.
Rafi berdehem, mencoba mengatur suaranya agar tidak terdengar gemetar. "Iya, Nis. Kayaknya cocok kalau kamu yang pakai. Warnanya pas sama kulit kamu."
Ia berusaha berakting tenang, seolah-olah angka di label harga itu hanyalah sekadar angka yang tidak berpengaruh padanya. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, menyentuh dompetnya untuk memastikan benda itu masih ada. Sentuhan pada dompet itu adalah jangkar realitasnya—pengingat bahwa ia harus tetap waspada dan tidak boleh terbawa suasana.
"Coba lihat harganya, Fi," Nisa menarik label harga itu karena penasaran. "Wah... tiga ratus lima puluh ribu. Bisa beli beras berapa karung ya itu di rumah?" Nisa tertawa kecil, sebuah tawa yang mengandung pengakuan akan realitas ekonomi mereka yang serupa.
Rafi merasa sedikit lega. Nisa tidak mengharapkannya membelikan barang itu. Nisa tahu posisi mereka. Namun, sebagai pria, ada bagian dari diri Rafi yang merasa sakit secara logis. Ia ingin menjadi seseorang yang bisa berkata, *"Ambil aja, Nis, aku yang bayar,"* tanpa harus menghitung sisa saldo untuk ongkos pulang bus di Bab 5.
Mereka melanjutkan perjalanan melewati lorong-lorong pakaian. Setiap kali mereka melewati pramuniaga yang berdiri tegak dengan seragam rapi, Rafi merasa sedang dipindai. Ia merasa pramuniaga itu tahu bahwa ia hanya "jalan-jalan" dan tidak punya daya beli untuk produk yang mereka jaga.
"Nis, ke sana yuk, lihat yang bagian tas," ajak Rafi, mencoba mengalihkan perhatian dari baju-baju mahal yang terus-menerus memicu kalkulator mental di kepalanya.
Mereka berjalan menuju area aksesoris. Di sini, suhu AC terasa lebih dingin karena lebih sedikit orang yang berkumpul. Rafi memperhatikan detail kecil: bagaimana orang-orang berpakaian di sini. Ada seorang remaja seusianya yang berjalan dengan santai membawa tas belanjaan besar, menggunakan sepatu merek internasional yang harganya pasti jutaan.
Rafi menyadari sebuah kebenaran pahit: mall ini bukan hanya tempat belanja, tapi sebuah teater stratifikasi sosial. Dan saat ini, ia hanya sedang menyewa kursi di barisan paling belakang dengan uang hasil joki tugasnya.
"Tas yang ini bagus, tapi kayaknya nggak muat buat bawa buku sekolah," komentar Nisa sambil memegang sebuah tas ransel mini berbahan kulit sintetis.
"Terlalu kecil itu, Nis. Nanti malah bahu kamu sakit kalau dipaksa bawa berat," sahut Rafi, memberikan saran praktis untuk menutupi rasa mindernya.
Nisa meletakkan kembali tas itu dengan hati-hati. Ia tidak terlihat kecewa. Ia justru tampak menikmati proses "melihat-lihat" itu seolah-olah mall ini adalah museum seni. Rafi mengagumi ketabahan mental Nisa. Nisa tidak tampak tertekan oleh label harga; ia hanya menikmati momen bersama Rafi.
Namun, pengamatan analitis Rafi tidak bisa berhenti. Ia melihat sekeliling lagi. Ia menghitung ada berapa banyak kamera CCTV di plafon mall. Ia memikirkan berapa biaya listrik yang harus dibayar Irian Kisaran setiap bulan hanya untuk menjaga suhu sedingin ini. Secara skeptis, ia berpikir bahwa harga baju-baju mahal itu sebenarnya hanyalah biaya sewa AC dan gaji pramuniaga yang dibebankan kepada pembeli.
*Sepuluh ribu untuk nasi garam, tiga ratus ribu untuk kemeja. Nilai gunanya sama: menutupi tubuh dan menghilangkan lapar. Tapi nilai sosialnya... itu yang mahal,* batin Rafi pahit.
Ia melirik Nisa lagi. Nisa sedang tersenyum menatap deretan jepit rambut warna-warni. Cahaya lampu mall membuat wajahnya terlihat sangat bersih. Rafi berjanji dalam hati, suatu hari nanti, ia tidak akan hanya berdiri di samping Nisa sambil menghitung uang kembalian di saku celananya. Suatu hari nanti, ia ingin menjadi orang yang tidak perlu melirik label harga sebelum tersenyum pada Nisa.
"Fi, aku sudah cukup lihat-lihatnya. Capek juga ya muter-muter," ujar Nisa.
Rafi mengangguk cepat. "Iya, Nis. Kaki juga butuh istirahat. Kita cari tempat duduk yang lebih nyaman yuk di bawah?"
Mereka berjalan menuju arah depan, melewati gerai-gerai makanan ringan yang aromanya mulai menggoda perut Rafi yang sejak Bab 2 tadi belum diisi dengan makanan berat. Namun, Rafi menahan diri. Ia punya target yang lebih besar di Bab 33 nanti: McD.
Saat mereka melangkah keluar dari area *department store* menuju atrium utama, Rafi merasakan sebuah kemenangan kecil. Ia berhasil melewati ujian "toko bermerek" tanpa melakukan kesalahan finansial sedikit pun. Ia tidak tergoda membeli apa pun, dan ia berhasil menjaga martabatnya dengan tetap terlihat tenang di depan Nisa.
Rafi kembali meraba dompetnya. Uangnya masih utuh sesuai rencana setelah dikurangi tiket 5D. Di tengah hawa dingin mall yang menusuk, ia merasa sedikit hangat karena menyadari bahwa sejauh ini, ia berhasil menjadi penjaga rahasia kemiskinannya dengan sangat rapi.
---