Caramel Willem, cucu mafia terbesar di dunia mengalami transmigrasi ke dalam buku novel.
Ding!
"Selamat datang di dunia paralel, saya sistem 014 akan menemani perjalanan anda."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mellisa Gottardo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
Sekolah pertama berjalan dengan lancar tanpa hambatan, Erlangga jadi tau jika Kevin aslinya itu introvert. Dia tidak suka keramaian tapi terpaksa menjadi ketua geng, karena dia anak orang kaya dan terkenal dimana-mana.
"Nama lo siapa?." Tanya Kevin, sebelum keluar dari kelas.
"Erlangga Willem." Jawab Erlangga.
"Oke, gue Kevin Leonard." Ucap Kevin, ternyata dia ingin kenalan.
Erlangga hanya mengangguk singkat, dia keluar dari kelas dan hendak pulang ke rumah. Padahal hanya perkenalan saja, tapi dia merasa sangat lelah sekali dan butuh kasur secepat nya.
Di perjalanan pulang Erlangga terpaksa menghentikan motornya karena sedang terjadi tawuran di depannya. Kevin yang sedang tawuran bersama sekolah lain, Erlangga menatap dengan aneh.
"Ternyata orang kaya juga tawuran?." Gumam Erlangga, dia pikir tawuran itu khusus untuk orang miskin.
Erlangga tidak mau terlibat karena nanti Caramel akan mengomel, dia hanya akan menunggu sampai tawuran itu selesai lalu lanjut pulang ke rumah. Dia juga sebenarnya ingin cepat pulang, tapi keselamatan nomor satu.
"Woi!! lo ngapain di sana, brengsek mau kabur lo." Teriak murid sekolah lain, yang melihat Erlangga nangkring di motor dengan santuy.
"Anjir, padahal gue gamau ikutan." Ujar Erlangga malas, tapi dia tidak suka kabur.
Erlangga jadi join tawuran sambil mengenang masa-masa SMP saat dia menjadi berandalan kampung. Jika urusan perkelahian jalanan, tentu saja dia sangat jago.
Kevin yang melihat Erlangga terlihat kuat tersenyum smirk, mungkin pertemuan nya dengan Erlangga di kelas itu bukan hanya kebetulan.
"Apalagi udang telur___ eh apa maksudnya?." Batin Kevin heran sendiri, karena tiba-tiba kepikiran udang telur.
"Brengsek Bos, kayaknya dia kuat." Ucap murid sekolah lain.
"Jadi lo belagu karena udah punya teman baru yang jago? woi lo di bayar berapa sama dia? gue bayar dua kali lipat gabung aja sama gue." Ucap Bos sekolah lain.
"Ga minat, gue mau balik." Erlangga ingin cepat pulang.
"Balik? yaelah anak mami ternyata." Ujarnya menertawakan.
"Mau anak mami, anak papi, anak abi, anak umi, anak bapak, anak ibu, anak ayah, anak bunda juga gapapa. Asal bukan anak kambing kaya lo." Saut Erlangga.
"Brengsek lo, anak siapa lo berani banget sama gue. Gue pertama kali liat lo, lo pasti anak beasiswa kan?." Tudingnya.
"Jadi di mata lo gue keliatan kaya orang pinter? ya emang sih." Erlangga malah menyibak rambutnya sok ganteng.
"Pfttttt." Kevin bahkan tidak bisa menahan tawa.
"Sialan, gue tandain muka lo. Setelah ini jangan harap lo bisa pulang ke rumah dengan aman." Ancam si Bos, hendak melayangkan tongkat baseball ke arah Erlangga.
Tap.
Tiba-tiba tangan besar menahan tongkat itu dengan mudahnya, Erlangga mendongak dan melihat ada pria tampan, tinggi dan sangat menawan sekali. Bahkan mereka yang laki-laki saja mengakui jika pria asing itu sangat tampan.
"Jam berapa ini Erlangga?." Ucapnya.
"Eh? oh.. jam 4 sore om." Jawab Erlangga canggung.
"Om?." Ujarnya tidak senang.
"Ahahah maksudnya Kak." Erlangga semakin canggung.
"Bukan ponsel mu." Ucapnya datar.
Erlangga jadi heran, tapi dia langsung membuka ponselnya dan dia melotot terkejut. Di sana sudah ada 20 panggilan tak terjawab dari Mama dan 46 panggilan tak terjawab dari... Papa?.
"Huh?.. sejak kapan aku nyimpen nomor Papa." Gumam Erlangga.
Karena penasaran Erlangga memanggil nomor Papa itu. Tak lama kemudian ponsel milik pria tampan di depannya berdering, Erlangga langsung melongo dengan bodoh ternyata sosok Papa yang selama ini dia caritau se tampan ini.
sraattt
Akkkhhhhhhh
Arga menjewer telinga Erlangga dan menarik nya ke mobil. Erlangga hanya bisa berteriak sakit, tapi tidak berani melawan. Bisa-bisa nya anak berandalan sepertinya memiliki orangtua angkat se perfect Caramel dan Pria ini.
"Bawa motor putraku pulang." Perintah Arga pada bodyguard yang ada di sana.
"Baik, Tuan." Mereka menjawab serempak.
Tawuran mendadak berhenti, mereka justru heran dengan hubungan antara Erlangga dengan pria asing nan tampan tadi. Mendengar pria itu mengatakan " Motor Putraku" artinya dia adalah Ayah dari Erlangga. Tapi kenapa Erlangga terlihat tidak kenal? mereka jadi penasaran.
Di sepanjang perjalanan pulang, Erlangga diam membisu dengan kaku di sebelah Arga. Dia jadi canggung dan sangat tidak nyaman, kenapa harus bertemu Papa angkat nya di saat seperti ini.
"Kenapa tawuran?." Tanya Arga melirik Erlangga.
Erlangga tidak berani menjawab, bahkan untuk bergerak saja dia tidak berani. Dia ingin kabur saja rasanya, padahal dia ingin menjelaskan jika dia tidak sengaja terlibat.
"Jawab Papa, Erlan." Ujar Arga, seperti nya dia marah.
"Ekhem... itu.. tidak sengaja." Jawab Erlangga.
"Tidak sengaja?." Arga menghentikan mobil dan menoleh menatap Erlangga.
"I-iya, mereka ngalangin jalan jadi aku nunggu diatas motor. Tapi... tapi itu.. mereka malah ikut nyerang aku jadi ya gitu.. ngga sengaja." Erlangga menjelaskan dengan gugup sekali.
"Kamu lihat ada tawuran tapi malah nunggu? padahal bisa puter arah lewat jalan lain." Ucap Arga.
"Jauh... " Lirih Erlangga, pertama kali di marahi orangtua.
"Anjir kok bisa gue takut banget, padahal udah biasa di maki-maki orang tapi kenapa yang ini serem. Turunin gue please, gue mau kabur aja." Batin Erlangga ketar-ketir.
"Liat Papa, Erlan. Emangnya muka Papa ada di selangkangan mu?." Celetuk Arga.
Erlangga reflek mendongak, ucapan tidak senonoh apa yang baru saja dia dengar barusan? kenapa Papa angkatnya yang terlihat elegant ini mengatakan hal tidak sopan seperti itu.
"Maaf.. pa." Lirih Erlangga canggung.
"Huftthh... Papa baru pulang dari luar negri sore ini, Papa bahkan belum ke rumah. Pasti sekarang Caramel sedang panik karena kau belum kembali, bagaimana jika kita menyiapkan kejutan?." Ucap Arga.
"Eh Mama gatau Papa pulang? tapi... kenapa Papa tau aku ada di sana? kan Papa ga pernah ketemu aku." Ujar Erlangga merasa aneh.
"Kepo." Ujar Arga, simple.
Erlangga menatap Arga dengan tatapan syok, kenapa Papa angkat nya ini aneh. Kadang terlihat berwibawa seperti pangeran, kadang juga plenger dan sulit di tebak.
"Sudah lah ayo kita beli kue dan hadiah untuk Mama. Hari ini Mama ulang tahun apa kau tau?." Ujar Arga, kembali menjalankan mobilnya.
"Oh hari ini Mama 26 tahun?." Tebak Erlangga.
"25 tahun." Ralat Arga.
"Eh? tapi Mama pernah bilang umurnya udah 25 tahun. Kok sekarang 25 lagi?." Heran Erlangga.
"Tahun ini Mama 25 tahun, tapi tepatnya hari ini." Ucap Arga.
"Ohh gitu____
Drrrrttttt
Drrrrttttt
Ucapan Erlangga terpotong karena ada panggilan masuk dari Caramel. Erlangga menatap Arga, bertanya harus di jawab atau tidak. Arga mengangguk, daripada Caramel khawatir lebih baik di tenangkan dulu.
"Hal___
"DARI MANA AJA SIH, MAMA TELFON NGGA DI ANGKAT. HARI UDAH SORE JUGA KAMU BELUM PULANG, KAMU GATAU MAMA UDAH MUTER-MUTER NYARIIN KAMU??." Caramel mengomel sampai menangis karena khawatir.
"M-maaf ma, tadi aku ketemu sama kakek-kakek minta di anterin ke terminal. Ini aku lagi mampir beli pop mie dulu, bentar lagi pulang." Ucap Erlangga mencari alasan.
"Terminal mana? Mama jemput kamu sekarang." Ujar Caramel.
"Ngga, ini aku pulang kok. Aku juga bawa kejutan buat Mama, serius ngga boong." Ucap Erlangga.
"Kejutan? kamu kecelakaan? kamu nabrak orang? kamu__
"Bukan. Aku bawa hadiah mahal." Ujar Erlangga.
aneh ga sih 🤔🤔🤔