Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hancurnya Aluna
Aluna sedang asyik mendengarkan cerita Roger, salah satu pelanggan setianya. Ketika namanya dipanggil, Panggilan itu bernada familiar, namun asing di tempat ini. Ia menoleh dan senyumnya langsung membeku.
“Aluna…..” sapa Budi yang kini berdiri tegak di hadapannya.
Aluna merasakan tubuhnya menggigil, bukan karena dinginnya AC klub tapi karena ketakutan. Ia segera melepas rangkulan Roger dan berdiri dengan gugup. “Kak… Kak Budi……” sapanya terbata. Sebutan “Kak” keluar secara otomatis, sisa dari rasa hormat di masa lalu.
Budi tersenyum miring, senyum yang sama sekali tidak hangat, penuh dengan penilaian. “Jadi benar kamu. Aku tidak menyangka kamu kerja di sini. Bukannya Sultan bilang kamu kerja di restoran? Ahhh... atau kamu membohongi Sultan dan keluargamu?” tanyanya dengan nada mengintimidasi itu menusuk telinga Aluna.
Wajah Aluna mendadak pucat, lebam di pipinya terasa berdenyut. Ia ketahuan dan yang lebih buruk oleh orang yang ia anggap Kakak kelas yang baik.
“Kenapa sayang?” tanya Roger ikut berdiri kemudian menarik pinggang Aluna, seolah menegaskan kepemilikannya di depan orang asing itu.
Budi melihat sentuhan itu dan semakin memandang rendah Aluna. “Jadi begini kelakuan kamu?”
Aluna melepaskan diri dari Roger. “Maaf, Pak…. Aku tinggal sebentar yah. Aku ada urusan dengan orang ini. Kak Budi, ayo ikut aku.” Aluna hendak menarik tangan Budi dan membawanya keluar klub, mencari tempat sepi tetapi Budi menepisnya kasar.
“Bicara di sini saja. ” kata Budi datar.
Roger yang mengerti bahwa ini adalah masalah pribadi menghela napas dan pergi dari sana. Aluna memandang sekeliling, mencari keberadaan Friska, tetapi sahabatnya itu sudah tenggelam dalam ruangan VIP Pak Daniel.
“Jadi sudah berapa lama kamu jadi perempuan murahan begini Aluna?” tanya Budi, kata-katanya setajam belati.
Mata Aluna memerah. Ia sungguh kesal mendengar panggilan itu. Ia mengepalkan tangannya sekuat tenaga, kuku-kukunya memutih.
“Kenapa? Apa kamu marah? Bukankah benar kamu memang perempuan murahan? Bukankah perempuan yang kerja di klub pastinya murahan? Lihat saja penampilanmu. Waaahhhhh.” Budi bertepuk tangan dengan tatapan yang sangat merendahkan. “Kamu benar-benar memiliki body yang sangat seksi." lanjutnya, tatapannya terhenti pada payudara Aluna yang sedikit menyembul dari balutan dress minimnya.
Aluna merasa sangat tidak nyaman dan terhina.
“Berapa tarifmu sekali main?” tanya Budi, nada suaranya seolah sedang menawar komoditas.
PLAAAKKKK!!!
Aluna menampar Budi. Tamparan itu sangat keras, suaranya menggema dan membuat beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Untung saja klub baru buka, jadi belum terlalu banyak orang yang datang.
“Aku memang kerja di klub, tapi aku tidak menjajakan tubuhku sampai segitunya." kata Aluna penuh penekanan, amarahnya meluap setelah menahan sakit hati seharian.
Budi menatap tajam kepada Aluna. Ia mencengkeram pergelangan tangan Aluna dengan keras, cengkeraman yang menyakitkan. “Jangan sok suci, Aluna…. Aku tahu perempuan seperti kamu seperti apa. Kamu rela melakukan apa saja untuk mendapatkan uang kan termasuk membohongi keluargamu. Sudah, jangan sok jual mahal. Aku bisa membayar mahal kamu, asal kamu bisa melayaniku sampai puas.” Budi hendak meraba bahu Aluna, tetapi segera ditepis.
“Jaga kelakuanmu. Dan jangan memandang rendah semua perempuan yang kerja di klub. ” geram Aluna.
Tiba-tiba, Friska muncul dengan wajah tergesa menghampiri pertengkaran mereka. Windi, rekan mereka yang lain melapor pada Friska jika Aluna sedang bertengkar. Hot scene Friska dan Pak Daniel harus ditunda dulu. Friska mengkhawatirkan Aluna.
“Aluna…..” Friska memegang tangan sahabatnya itu.
“Halo... Friska sayang." sapa Budi sinis.
“Jadi aku harus memandang mereka seperti apa? Apakah harus memandang mereka seperti anak pesantren?” tanya Budi, menyindir Aluna. Ia kembali menatap Aluna, tawanya sinis. “Kamu benar-benar munafik. Apa jadinya kalau sampai Sultan tahu kelakuan kamu ini.”
“Jangan berani-beraninya kamu memberi tahu Kak Sultan! Awas saja kalau kamu sampai memberi tahunya!” kata Aluna tegas, tetapi ada kekalutan yang mendalam di matanya.
“Tidak usah ikut campur urusan orang.” tambah Friska geram.
“Ternyata kamu punya pelindung. Tapi arrgghhh gimana yah…. Aku sudah terlanjur memberi tahunya kalau adik salehanya ini kerja di klub.” Kata Budi sambil melirik arah pintu masuk.
Aluna mengikuti arah pandang Budi. Seketika darahnya serasa berhenti mengalir. Sultan. Kakaknya sudah tiba dengan langkah lebar, wajahnya merah padam menahan amarah, matanya berkobar melihat adiknya dalam balutan dress klub malam.
“ALUNA PUTRI SAGARA!!!” panggil Sultan dengan penuh penekanan.
PLAAAKKK!!!
Tamparan keempat dan ini yang terkeras, mendarat telak di pipi Aluna. Ia terhuyung. Sudut bibirnya kembali mengeluarkan darah, rasa asin dan perih itu kini bertambah kebas. Friska berteriak kaget. Mereka menjadi tontonan orang-orang di sana. Budi tersenyum miring, puas melihat kehancuran Aluna.
“Lun, kamu tidak apa-apa?” tanya Friska panik.
Aluna menggeleng, air matanya sudah terlalu lelah untuk keluar.
“Memalukan... Kamu benar-benar bikin malu keluarga.” teriak Sultan. Ia lalu menoleh tajam ke arah Friska. “Ini semua pasti gara-gara pengaruh buruk dari kamu sampai Aluna seperti ini. Dasar perempuan murahan. ” hardik Sultan kepada Friska.
Aluna tidak terima Friska dihina. “Kak, bukan salah Friska. Semua ini salah aku.”
“Berani sekali kamu membela perempuan murahan ini? Sini kamu…. kita pulang…. Ibu harus tahu kelakuan kamu. ” Sultan menarik tangan Aluna dengan kasar, cengkeramannya seperti besi.
Aluna memberontak. Ia tidak mau ikut pulang dengan penampilannya seperti ini. Ia tidak mau dilihat ibunya, khawatir Ibunya shock lagi. “Friska…. hiks... tolongin aku.”
Friska hendak menolong, tetapi ditahan oleh Budi. “Jangan ikut campur. Biar Aluna tahu rasa." kata Budi sambil memegang lengan Friska.
“Aluna….. lepasin aku, Budi….. Aluna… Aluna….” bentak Friska, tetapi Budi tidak mau melepaskan cengkeramannya.
BUGH!!!
Tak lama sebuah bogeman mentah mendarat di pipi Budi. Daniel yang melakukannya. Wajahnya keras dan penuh ancaman. “Jangan pernah menyentuh Friska.”
Melihat ada celah, Sultan menarik Aluna semakin menjauh dan keluar dari klub. Sultan mendorong tubuh adiknya itu masuk ke dalam mobil yang dipinjamnya dari kantor. Ia menancap gasnya begitu kencang. Aluna ketakutan, ia memejamkan matanya, membiarkan tubuhnya terombang-ambing.
**
Mereka akhirnya sampai di rumah. Aluna terus memberontak. Sultan masuk ke rumah, menarik rambut Aluna dan menghempaskan tubuh adiknya itu ke lantai, tepat di hadapan ibu mereka yang baru saja keluar kamar karena mendengar suara ribut dari luar.
“Sultan…. ada apa ini Nak? Siapa perempuan ini?” tanya Bu Sasmi, suaranya lemah karena baru pulih, kaget melihat keributan.
“Perempuan ini Aluna, Bu… putri kebanggaan Ibu." kata Sultan, suaranya pecah karena amarah dan kekecewaan.
“Aluna?” Bu Sasmi memperhatikan perempuan yang masih tergeletak di lantai dengan menunduk. Aluna tidak berani mengangkat wajahnya. Pakaiannya sungguh minim. Ia mengenakan dress ketat dengan panjang hanya sampai setengah paha dan dandanannya benar-benar bukan seperti biasanya. Ia sungguh takut ibunya shock melihatnya.
“Iya... dia Aluna, Bu." kata Sultan, kemudian memaksa Aluna berdiri dengan kasar. “Bangun kamu…. biar Ibu lihat bagaimana wajah asli kamu.” Sultan memegang dagu Aluna dengan kasar, mendongakkan wajahnya.
Bu Sasmi menatap lamat-lamat putrinya itu. Tangan Aluna bergetar.
“Angkat wajah kamu, biar Ibu lihat seperti apa wajah anaknya ini." paksa Sultan.
Dengan wajah yang basah karena keringat dan air mata yang mengering, Bu Sasmi dapat melihat jelas wajah putrinya, lengkap dengan lebam dan darah di sudut bibir. Ia menutup mulutnya, tak menyangka. Matanya melebar penuh horor. Penampilannya, luka di wajahnya dan kekasaran Sultan.
Ini adalah akhir dari segalanya. Kehancuran total di depan Ibu.