NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7 Nora si Kompor

Pintu geser kelas 12-A terbuka dengan bunyi derit halus yang mendadak sanggup membungkam keriuhan di dalam ruangan. Langkah kaki yang tenang namun tegas bergema di lantai porselen. Sierra masuk dengan wajah datar, tanpa emosi dan berjalan menuju bangkunya.

Seketika, puluhan pasang mata tertuju padanya. Ada binar ketakutan dan tatapan menghakimi yang tidak lagi disembunyikan.

"Dia benar-benar berani kembali ke kelas?" bisik seorang siswi di barisan depan, suaranya gemetar.

"Paling cuma mau mengemasi barang," sahut yang lain dengan nada sinis namun pelan. "Mana mungkin sekolah mempertahankan monster yang berani menyentuh keluarga Steel? Hari ini pasti hari terakhirnya di sini."

Semua orang di kelas itu yakin bahwa Sierra akan dikeluarkan. Reputasinya yang buruk dari tiga tahun lalu ditambah dengan insiden kekerasan tadi siang adalah semakin membuat mereka yakin akan takdir Sierra.

Mereka menunggu Sierra menangis, atau setidaknya menunjukkan raut wajah putus asa.

Namun, yang terjadi justru di luar nalar.

Tanpa melirik siapa pun, Sierra berjalan menuju mejanya di pojok belakang dan dengan santai duduk lalu mengeluarkan sebuah headsetnya. Dengan gerakan yang sangat acuh tak acuh, ia memasang alat itu di telinganya, menyandarkan punggung, dan memejamkan mata. Dalam hitungan menit, ia tampak tertidur lelap di tengah keheningan kelas yang mencekam.

Tidak ada barang yang dikemasi.

Tidak ada air mata.

Semua orang tampak bingung dan berbisik-bisik apa yang terjadi tadi di ruang kepala sekolah.

Sampai jam pulang sekolah, semua orang masih sibuk membicarakan nasib Sierra, mereka bahkan sampai memasang taruhan apakah Sierra akan dikeluarkan dari sekolah atau Sierra akan dipenjara atau Sierra akan kembali dibuang Keluarga Moore. Yang pasti semua orang menebak hal terburuk yang akan terjadi pada Sierra.

Sore harinya, Nora telah sampai lebih dulu di kediaman keluarga Moore. Sierra tidak mau semobil enggan semobil dengan Nora dan memilih menaiki sepeda tuanya.

Dengan wajah yang dibuat-buat pucat dan mata yang berkaca-kaca, Nora langsung duduk di sofa ruang tengah di samping Samantha.

"Ma, kau harus tahu apa yang dilakukan Sierra tadi siang," adu Nora dengan suara lirih. "Dia menyerang Wanda Steel di kelas. Benar-benar brutal. Satu sekolah heboh, Ma. Aku malu sekali sampai ingin bersembunyi. Sierra benar-benar tidak bisa diatur, Ma. Sepertinya dia semakin liar sejak tinggal di Cragstone. Sierra tidak cocok bersekolah di Metropolia Internasional School."

Wajah Samantha memerah padam. "Wanda Steel? Anak dari keluarga Steel? Sierra benar-benar sudah gila! Kenapa dia harus memprovokasi keluarga Steel?! Keluarga Moore tidak ada apa-apanya dibandingkan keluarga Steel. Charles tidak akan bisa melindunginya kali ini! Anak itu memang seharusnya tidak pernah kembali ke keluarga ini! Belum dua bulan di sini tapi sudah membuat masalah sebesar ini!"

Tepat saat itu, pintu depan terbuka. Sierra melangkah masuk dengan tangan di saku jaketnya. Ia bahkan tidak berniat menyapa, namun langkahnya terhenti saat suara melengking Samantha membelah ruangan.

"Sierra! Berhenti di situ!"

Sierra menoleh pelan, menatap ibunya dengan tatapan dingin.

"Bukankah aku sudah bilang jangan buat masalah lagi?!" teriak Samantha, berdiri dari sofa. "Kau benar-benar tidak bisa diberitahu, Sierra! Seharusnya kamu tidak perlu kembali ke sini! Sekarang apa? Kamu dikeluarkan, kan? Jika kamu keluar dari sekolah ini, tidak akan ada sekolah yang mau menerimamu lagi! Jadi lebih baik kamu memohon maaf pada keluarga Steel dan kepala sekolah agar kamu bisa tetap bersekolah di sana!"

Sierra menaikkan satu alisnya. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring yang meremehkan. "Heh? Siapa juga yang dikeluarkan dari sekolah? Dari mana Mrs Moore yang terhormat ini mendengar kabar semacam itu? Lagipula kalau aku memang dikeluarkan, bukankah setidaknya kepala sekolah akan memanggil waliku dulu? Apa kepala sekolah menelpon anda?"

Tatapan Sierra kemudian beralih, tajam dan menusuk, ke arah Nora yang duduk bersandar di sofa. Nora sedikit tersentak, merasa seperti sedang ditelanjangi oleh tatapan predator itu.

"Kenapa kau melihat Nora seperti itu?" bentak Samantha lagi, membela putri kesayangannya. "Memang Nora yang mengatakannya padaku, tapi itu benar, kan?! Dasar pembuat onar! Sebenarnya kelakuanmu itu mirip siapa?!"

Sierra menghela napas panjang, seolah menghadapi anak kecil yang sedang tantrum. "Jangan cuma bisanya berimajinasi liar. Silakan hubungi Mr. Henderson untuk menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Jangan cuma mendengarkan tukang gosip."

"Kau...!!" Nora bangkit, wajahnya memerah karena terhina.

Namun Sierra tidak memberikan kesempatan untuk membalas. Ia berbalik dan lanjut naik ke lantai atas menuju kamarnya, meninggalkan suasana tegang yang tertinggal di bawah. Samantha kini menatap bingung ke arah Nora. Ada keraguan yang mulai merayap di pikirannya.

"Apa kau bohong soal Sierra dikeluarkan dari sekolah? Sebenarnya ada apa ini, Nora? Apa benar dia membuat masalah?"

Nora tergagap, jarinya meremas ujung bajunya. "A-aku tidak tahu, Ma. Aku hanya tahu Sierra menyakiti murid di sekolah dan anak itu adalah Wanda Steel. Jadi aku pikir... dengan semua keributan seperti itu, pasti dia dikeluarkan..."

Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Samantha langsung merogoh ponselnya. Ia menelpon Mr. Henderson, wali kelas sekaligus orang kepercayaan di sekolah, untuk menanyakan kebenaran status Sierra.

Keesokan paginya, suasana di meja makan terasa dingin. Hanya ada Samantha, Nora, dan Sierra. Carson dan Brady belum bangun setelah semalam menemani klien bisnis minum hingga larut. Sementara Charles, ayahnya, seperti biasa memilih makan di kamar karena keterbatasan kemampuan gerak.

Samantha meletakkan sendoknya, suaranya kini lebih terkontrol namun tetap tegas. "Aku sudah dengar semuanya dari Mr. Henderson."

Nora menahan napas, sementara Sierra tetap tenang mengunyah rotinya seolah tidak mendengarkan suara apapun.

"Aku harap kamu tidak membuat masalah lagi di sekolah, Sierra," lanjut Samantha. "Karena sekarang kamu bersekolah bersama Nora, jika ada apa-apa kamu bisa minta bantuan pada Nora."

Nora segera menangkap peluang itu. Ia tersenyum manis, senyum yang selama ini berhasil membodohi semua orang. "Tentu saja, Ma... jangan khawatir. Aku pasti akan menjaga Sierra, dan memastikan dia tidak mengulangi lagi kesalahannya di masa lalu."

Di dalam hati, Nora bersorak. Ia yakin dia bisa menyingkirkan Sierra lagi, persis seperti yang dilakukannya tiga tahun. Bagi Nora, seberapa pun kerasnya Sierra mencoba, levelnya akan selalu berada di bawah Nora.

Padahal awal kebencian Nora adalah karena iri pada Sierra yang lebih cantik dan lebih berprestasi darinya. Semua pria yang pernah disukai Nora pasti ramah pada Nora hanya untuk lebih dekat dengan Sierra. Tapi setelah berhasil mengusir Sierra sekali, Nora langsung merasa menang, merasa lebih dari segalanya dibandingkan Sierra.

Sierra berhenti mengunyah. Ia melirik Nora dengan tatapan jijik yang terang-terangan. "Apa kau sudah selesai berakting? Jangan membuatku jijik saat aku sedang makan, atau aku akan muntah."

Brak!

Sierra langsung berdiri, mengambil tasnya, dan pergi lebih dulu ke sekolah tanpa pamit.

"Ada masalah apa dengan anak itu?!" Samantha memijat pelipisnya. "Apa dia tidak bisa bersikap lemah lembut? Dia bahkan tidak tampak menyesal sama sekali karena sudah mencoreng nama keluarga tiga tahun lalu!"

"Jangan marah, Ma. Itu tidak baik untuk kesehatan Mama," ujar Nora lembut sambil mengelus punggung tangan Samantha. "Kan ada aku. Aku tidak akan pernah mengecewakan Mama seperti Sierra."

Samantha tersenyum haru. "Benar! Untunglah ada kamu, Nora. Kamu tidak pernah mengecewakan Mama. Kamu harapan Mama untuk mengangkat derajat keluarga kita, asalkan kamu bisa menikah dengan Felix."

Mendengar nama Felix, jantung Nora berdegup kencang, namun ada sedikit keraguan yang menyelinap. Selama tiga tahun ini, Felix sangat sulit dihubungi. Pria itu menempuh studi di luar negeri dan hampir tidak pernah memberikan kabar yang berarti. Pesan-pesannya hanya dibalas singkat, itu pun setelah berhari-hari. Telepon pun sering tidak diangkat.

Namun, kabar terbaru mengatakan bahwa Felix hampir menyelesaikan studinya. Artinya, ia akan segera kembali ke Metropolia. Nora meyakinkan dirinya sendiri bahwa hubungan mereka akan segera diresmikan. Apalagi orang tua Felix sangat menyukai citra "gadis sempurna" yang ia bangun selama ini.

Setibanya di sekolah, suasana berubah drastis dari hari sebelumnya. Jika kemarin semua orang menatap Sierra dengan hinaan, hari ini mereka menatapnya dengan ketakutan. Mereka berpikir bahwa kepala sekolah saja tidak berani mengusik Sierra, mereka yakin kepala sekolah sudah diancam Sierra.

Hal ini dikarenakan ada berita yang menyebar bahwa Wanda Steel resmi keluar dari sekolah.

Bukan Sierra yang pergi, melainkan Wanda. Seluruh koridor sekolah berbisik-bisik tak percaya. Bagaimana mungkin keluarga Moore bisa memaksa keluarga Steel yang kuat untuk mengalah?

Tak lama kemudian, kebenaran yang lebih mengerikan terungkap melalui berita bisnis pagi itu. Kerajaan bisnis keluarga Steel dikabarkan tengah diguncang skandal hebat. Masalah hukum, kegagalan investasi, dan harga saham jatuh membuat mereka hampir bangkrut dalam semalam. Masalah datang bertubi-tubi tanpa henti seolah ada tangan tak terlihat yang sedang meruntuhkan mereka dengan sengaja.

Keluarga Steel yang angkuh itu bahkan dikabarkan harus menjual aset-aset mereka yang tersisa dan pindah ke kota lain yang jauh untuk menghindari debt colector.

Di tengah kegemparan itu, Sierra berjalan melewati kerumunan siswa yang kini membelah jalan untuknya. Ia tidak peduli. Ia masuk ke kelas, duduk di bangkunya, dan kembali memasang headsetnya.

1
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!