NovelToon NovelToon
Antara Balas Dendam Atau Cinta

Antara Balas Dendam Atau Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Aliya sofya Putri

seorang anak kecil yang baru berusia 5tahun, ia ingin melakukan dendam akibat tantenya meninggal karna menyelamat kan nya. setelah ia beranjak remaja ia memulai melakukan dendam tersebut, dan rencananya ia akan bikin anak dari sang pembunuh jatuh cinta padanya dan meninggalkan nya. tetapi ia malah jatuh cinta pada gadis itu, dan siapa sangka ia tidak bisa melanjutkan balas dendam tersebut. tetapi karna permintaan sang mamah dan tidak akan membuat mamahnya kecewa ia akan melakukan balas dendam itu, walaupun harus merelakan orang yang ia cintai. namun ia tidak bisa untuk menyakiti hati orang yang ia cintai tapi apalah dayanya mamahnya selalu memaksa ia untuk melakukan balas dendam. dan ia semakin di buat bingung oleh keadaan, ia harus memilih salah satu ANTARA CINTA ATAU BALAS DENDAM.

penasaran sama ceritanya? sini dibacaa

jangan lupa follow dan vote di setiap bab nya ya gayss

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aliya sofya Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

happy reading

 

Lampu IGD menyala terang ketika brankar membawa Devi masuk dengan cepat.

"Pasien perempuan, kondisi lemah dan dehidrasi" ujar salah satu perawat tegas.

Fathir berdiri kaku di depan pintu ruang tindakan. tangan nya agak sedikit gemetar. Afan masih terduduk di kursi lorong, napasnya belum stabil.

Beberapa menit terasa seperti berjam-jam.

Akhirnya yang tunggu-tunggu dokter keluar.

"keluarga pasien?"

"saya ayahnya" jawab Fathir cepat.

"anak anda mengalami kekurangan cairan dan tenaga cukup parah. ada beberapa luka memar dan lecet di tubuhnya. tapi syukurlah, tidak ada cedera dalam yang serius. sekarang kondisinya sudah stabil, hanya sangat lemah. dan pasien membutuhkan istirahat sementara waktu."

Fathir menghela nafas. untuk pertama kalinya sejak lima hari terakhir, dadanya sedikit lega.

Mereka di izinkan masuk setelah Devi dipindahkan ke ruang rawat.

Devi terbaring dengan infus terpasang di tangan nya. wajahnya masih pucat, tapi napasnya lebih teratur.

Fathir mendekat ke sisi brankar devi.

"dev.." panggil fathir pelan.

Kelopak mata devi bergerak perlahan. ia membuka mata, menatap ayahnya, lalu Afan yang berdiri tak jauh darinya.

Air matanya langsung menetes.

"yah.." lirih devi.

"Fathir menggenggam tangan putrinya hati hati.

"ayah disini dev"

Suasana hening beberapa detik. hanya ada suara Isak tangis devi.

Dengan suara pelan dan serak, devi mulai bicara.

"Yahh Clarissa.. dia yang ngelakuin ini semua.." ucapnya pelan, dan air matanya tanpa bisa di cegah lolos lagi.

Afan mengepalkan tangannya.

"Clarissa. liat aja Lo bakal dapet balasan dari semua ini." batin Afan.

"aku di pukul yah.." suara Devi bergetar, "aku dicambuk...bahkan aku pernah di lempari pecahan kaca.."

Fathir menutup matanya sejenak. rahangnya mengeras menahan amarah.

Afan mendekat, menahan emosinya sendiri. "kejadian ini gak akan terulang lagi dev" ucap Afan pelan, tangan Afan bergerak mengusap puncak kepala devi, pelan.

Dokter yang berdiri di sudut ruangan ikut berbicara pelan,

"Secara fisik, dia butuh waktu pulih. tapi yang lebih penting sekarang adalah kondisi mental nya. ja gan biarkan dia merasa sendirian."

Fathir mengangguk perlahan.

Ia menunduk, mencium kening devi dengan lembut.

"kamu istirahat aja yaa? biar nanti kita bertiga yang ngurus semuanya"

Devi memejamkan mata kembali. air matanya masih mengalir.

Di sisi brankar, Afan berdiri diam. Dan dalam hatinya, satu hal sudah pasti. bahwa orang yang melakukan ini tidak akan lepas begitu saja.

Ia tak perduli siapa orang itu, dan berasal dari mana.

Clarissa.

Nama itu.

 

Ruang interogasi itu dingin dan sunyi.

Clarissa duduk di kursi besok dengan kedua tangan terikat borgol di atas meja. wajahnya tak lagi setenang dulu. matanya senbab, tapi sorotnya masih mencoba untuk bertahan.

Di seberangnya, dua penyidik duduk dengan berkas terbuka.

Di sudut ruangan, Fathir berdiri dengan rahang mengeras. lian di sampingnya, sementara Afan memilih berdiri agak jauh, tatapan tajam nya tak lepas dari Clarissa.

"Clarissa Adelia" ucap salah satu polisi tegas. "kami sudah menemukan tiga pria di lokasi yang sama dengan korban. mereka mengaku bekerja atas perintah seseorang."

Clarissa menelan ludahnya dengan susah payah.

"aku nggak tau apa apa" jawabnya berbohong.

Lian tertawa kecil, tapi dingin.

"Berhenti berpura-pura"

Polisi mendorong sebuah ponsel ke atas meja.

"ini ponsel salah satu pelaku. ada percakapan dengan nomor yang terdaftar atas namamu"

wajah Clarissa langsung berubah.

"itu... itu bukan aku..." jawabnya pelan.

Fathir akhirnya bicara. suaranya rendah, tapi penuh tekanan.

"putri saya hampir kehilangan nyawanya, hanya karna tingkah gila kamu."

Clarissa terdiam.

"Lima hari kamu menyembunyikannya"

Wajah Clarissa menjadi pucat pasi.

"A-aku cuman gamau devi dekat dekat dengan Afan..." suaranya pecah. "dan Afan itu suami aku, jadi wajar kalo aku gamau devi dekat dekat dengan dia."

Afan yang sejak tadi diam akhirnya maju selangkah.

"dekat dekat gue? sejak kapan? gue gak Sudi punya istri licik kek Lo, clar."

Clarissa menatap afan, berharap ada pembelaan.

Tapi tidak ada.

"Aku cuman gamau kehilangan Lo fan..." ucapnya lirih

ruangan itu mendadak hening.

Polisi mencatat setiap kata.

"orang tua tersangka sedang dalam perjalanan ke sini" ujar salah satu penyidik. "kasus ini akan di lanjutkan sesuai prosedur hukum"

Clarissa mengepalkan tangan nya di bawah meja.

Tak lama, pintu ruang interior terbuka.

Seorang wanita dan pria paruh baya masuk dengan wajah panik.

"Clarissa?" suara Shara panik.

Clarissa menunduk.

Di sisi lain--

Di ruang rawat rumah sakit yang tenang, Devi terbaring dengan infus masih terpasang.

Salma duduk di samping ranjang, mengelus rambutnya perlahan.

"Kamu istirahat aja, dev. semua masalah ini udah di tangani."

Devi menatap langit langit kamar. tubuhnya masih lemah, tapi pikirannya perlahan masih mengingat akan satu hal.

Saat dirinya di cambuk.

Di pukul.

Di gores pake pecahan kaca.

Semua memori yang berada di ingatan devi masih terngiang-ngiang dengan jelas.

 

1
Putu Sri utari
👍👍👍
Putu Sri utari
keren banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!