NovelToon NovelToon
Murim'S Engineer

Murim'S Engineer

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: PENALIAR

Seorang insinyur muda cerdas mati dan transmigrasi ke dunia murim.ingin membuktikan jika ilmu pemgetahuan mampu mengalahkan seni bela diri murim

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Puing-puing Masa Lalu

Satu bulan setelah Klan Selatan pergi.

Markas Klan Gong perlahan mulai bangkit dari puing-puing. Aula Utama masih reruntuhan, tapi barak-barak sudah diperbaiki. Tembok-tembok yang jebol ditambal sementara. Gerbang perak—ikon kebanggaan—masih hancur, tapi fondasinya sudah mulai dipasang ulang.

Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di dua tempat: bengkel dan ruang pertemuan.

Di bengkel, aku mengawasi produksi senjata baru. Kebutuhan mendesak—kita tidak tahu kapan Klan Selatan akan kembali. Atau klan lain yang iri. Atau bajak laut. Atau siapa pun.

Di ruang pertemuan, aku duduk bersama Dae-ho, Hyerin, dan para tetua yang tersisa. Merencanakan masa depan. Membagi tugas. Memadamkan konflik kecil yang terus muncul.

Dae-ho masih di sini. Katanya, "Aku tidak akan pulang sebelum markas ini benar-benar aman." Tapi aku tahu, di Utara, ada kekosongan kekuasaan yang bisa dimanfaatkan musuh. Dia mengorbankan banyak hal untuk membantu kami.

Suatu malam, aku bertanya padanya.

"Kenapa kau lakukan ini semua? Bantuan, pasukan, waktu... kau bisa dapat apa?"

Dia menatapku lama. Lalu menjawab, "Kau tahu, di Utara, aku dikelilingi orang-orang yang hanya ingin menjilat atau membunuhku. Tidak ada yang benar-benar... tulus. Tapi kau? Kau tidak pernah meminta apa pun dariku kecuali saat benar-benar butuh. Dan saat aku butuh, kau selalu ada." Dia tersenyum. "Itu langka, Tae-kyung. Persahabatan sejati itu langka."

---

Hyerin sibuk dengan urusannya sendiri.

Sebagai pewaris tunggal, dia harus memimpin ritual-ritual pemakaman untuk ayahnya dan para pendekar yang gugur. Upacara demi upacara, doa demi doa. Setiap kali, dia harus tampil tegar di depan umum. Setiap malam, dia kembali ke paviliun kami dengan mata sembab.

Aku tidak bisa berbuat banyak selain menemani. Memeluknya saat dia menangis. Mendengarkan saat dia bicara. Diam saat dia butuh diam.

Suatu malam, dia bertanya, "Oppa, apa kau pernah membunuh orang sebelum dunia ini?"

Aku diam sejenak. "Tidak. Di duniaku, membunuh adalah kejahatan terbesar. Aku bahkan tidak pernah memukul orang."

"Tapi di sini... kau membunuh banyak."

"Aku terpaksa."

Dia menatapku. "Apa kau merasa bersalah?"

"Setiap hari. Tapi rasa bersalah tidak akan menghidupkan mereka kembali. Yang bisa kulakukan hanya memastikan kematian mereka tidak sia-sia."

Dia mengangguk pelan. Lalu berkata, "Aku juga. Tapi kadang... kadang aku tidak merasa bersalah sama sekali. Dan itu yang menakutkan."

---

Hari ke-45, kabar dari selatan.

Utusan dari Klan Song—salah satu klan menengah yang cukup berpengaruh—datang menemui kami. Mereka membawa tawaran aliansi.

"Ini akibat dokumen itu," kata Dae-ho setelah utusan pergi. "Mereka takut nama mereka masuk daftar berikutnya."

"Mungkin. Tapi kita butuh sekutu."

"Setuju. Tapi jangan terlalu cepat percaya."

Aku mengangguk. Politik di dunia ini rumit. Siapa pun bisa jadi kawan hari ini, musuh besok.

---

Bulan kedua, Dae-ho pamit pulang.

"Sudah terlalu lama," katanya. "Para tetua di Utara mulai resah. Aku harus kembali."

Aku berpelukan dengannya. Di dunia persilatan, pelukan antara pria jarang terjadi. Tapi kami sudah seperti saudara.

"Terima kasih untuk semuanya, Dae-ho."

"Jaga dirimu. Jaga Hyerin. Dan kalau butuh bantuan, kirim kabar. Cincin itu masih berlaku."

Dia pergi dengan seribu pasukannya, meninggalkan kami dengan dua ratus prajurit Utara yang sukarela tinggal—atas izinnya—untuk membantu pertahanan.

---

Hari itu, Hyerin dan aku berjalan di area markas yang sudah mulai pulih.

Pekerja sedang membangun kembali tembok. Pendekar berlatih di halaman. Anak-anak—anak-anak prajurit yang tewas—bermain di antara puing-puing yang belum sempat dibersihkan.

Tiba-tiba, seorang anak kecil berlari ke arah Hyerin.

"Nona! Nona!" teriaknya.

Hyerin berjongkok. "Ada apa, Nak?"

Anak itu—mungkin enam tahun, laki-laki dengan baju lusuh—menatapnya dengan mata besar.

"Ayahku... ayahku bilang Nona hebat. Bilang Nona pimpin kita baik-baik. Tapi... tapi kenapa ayahku mati?"

Hyerin diam. Matanya berkaca-kaca.

Aku ingin campur tangan, tapi dia mengangkat tangan, menahanku.

Dia menarik anak itu ke dalam pelukannya.

"Ayahmu mati karena dia memilih untuk melindungi kita," bisiknya. "Dia pahlawan. Dan kau harus bangga padanya."

"Tapi aku rindu ayah..."

"Aku juga rindu ayahku, Nak. Setiap hari. Tapi kita harus kuat. Untuk mereka."

Anak itu mengangguk, lalu lari kembali ke temannya.

Hyerin berdiri, menatap kepergiannya. Air mata mengalir di pipinya.

Aku memeluknya dari belakang.

"Kau hebat," bisikku.

Dia tidak menjawab. Hanya menggenggam tanganku erat.

---

[Bersambung ke Bab 25]

1
SR07
lanjut bro
Q. Zlatan Ibrahim: terima kasih...masih harus banyak belajar
total 5 replies
Mika Dion
mantap Thor isi babnya panjang lain dari yg lain
Q. Zlatan Ibrahim: siap om mika
total 2 replies
Mika Dion
masih sepi...mungkin Krn masih baru y
Mika Dion
mampir thor
Nona Dalla
ini yang aku tunggu" sejak tadii 😄🤣
Kang Nyimak
semangat teruss
Kang Nyimak
SENI ADALAH LEDAKAN
Q. Zlatan Ibrahim: mencoba memadukan sains ditengah dunia bela diri
total 2 replies
Kang Nyimak
sebagus ini sepi?, serius?
Q. Zlatan Ibrahim: mkasih bang..masih belajar
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!