Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu Peperangan
Dengan langkah yang lebar dan sangat cepat, bahkan Aira harus berlari kecil mengejar Magnitius yang akan mengantarnya ke Gardarium.
"Apa kunci itu masih ada padamu?". Tanya Magnitius.
Kemudian Aira mengeluarkan kunci pintu Gardanium dari pakaiannya. Setelah pintu itu terbuka, Aira menyusul Magnitius yang sudah pergi lebih dulu.
"Lyra!...Lyra...". Teriak Magnitius. "Dimana kamu?".
Magnitius dan Aira tidak menemukan posisi keberadaan Lyra. Tapi Aira menemukan Kristal darah yang cahayanya memudar di atas altar.
"Kristalnya akan segera mati!". Ujar Aira menunjuk kristal darah.
Tapi tiba-tiba, terdengar suara Lyra berteriak meminta pertolongan. "Kak...Kakak...tolong aku...". Suaranya tersenggal.
Aira dan Magnitius berlari ke arah suara Lyra, hati mereka dipenuhi dengan kekhawatiran. Mereka menemukan Lyra di pojok ruangan dengan awan merah mengelilingi tubuhnya. Lyra tampak terjepit di antara dua dinding yang bergerak, wajahnya penuh dengan rasa sakit dan ketakutan.
"Kak... Kakak... tolong aku..." Lyra berteriak mengulang ucapannya.
Aira dan Magnitius bergegas menuju Lyra, Aira menggunakan sihirnya untuk menghentikan dinding yang bergerak, sementara Magnitius mencoba melepaskan Lyra dari jepitan.
"Kita harus cepat, kristal darah akan segera mati!" Aira berteriak,
"Aira, biarkan aku yang menangani Lyra. Cepatlah kamu kuasai kristal darah itu!". Teriak Magnitius.
"T-tapi...ak-..aku...".
"Cepat Aira! sebelum kristal itu semakin meredup dan kita semua mati!". Desak Lyra
Aira tidak ragu lagi, dia berlari ke arah altar dan meletakkan tangannya di atas kristal darah. Dia merasa energi besar mengalir ke dalam tubuhnya, dan dia mulai menguasai kristal darah itu.
"Kak, cepatlah!" Lyra berteriak, suaranya semakin lemah.
Tiba-tiba, kristal darah itu mulai bersinar lebih terang memenuhi seluruh Gardarium, dan Aira merasa dirinya diangkat ke udara.
Aira merasa energi es yang ada di dalam tubuhnya mulai bergejolak, seperti ingin melawan energi darah yang mengalir dari kristal itu. Dia merasa seperti ada dua kekuatan yang bertarung di dalam tubuhnya, energi es yang dingin dan energi darah yang panas.
"Aira, tahan!" Magnitius berteriak, suaranya terdengar jauh.
Aira menggabungkan kedua tangannya, dia fokus pada energi es yang ada di dalam tubuhnya.
Tiba-tiba, energi es itu mulai membentuk sebuah kristal kecil di dalam tubuh Aira. Kristal itu mulai bersinar, energi es dan energi darah itu terus bertarung, tapi Aira tidak menyerah.
Aira merasa energi darah itu seperti api yang membakar seluruh saraf-sarafnya, membuat seluruh tubuhnya bergetar tidak terkendali. Dia merasa seperti akan meledak, seperti tidak bisa menahan energi itu lagi.
"Mag..ni..tiusss..., aku tidak bisa...!" Aira berteriak, suaranya hampir tidak terdengar.
Tiba-tiba, Aira ingat kata-kata ibunya, Ratu Avia, "Kekuatan sejati ada di dalam dirimu, Aira. Percayalah pada dirimu sendiri."
Dan di sana, Aira melihat jiwa ayahnya yang datang untuk membantunya. "Ayahanda...". Gumam Aira.
"Tetap fokus Aira, ayah akan mempermudah energi itu masuk ke dalam nadimu". Ucap jiwa raja Skypian
Aira mengambil napas dalam-dalam, dan fokus pada energi darah yang ada di dalam tubuhnya. Dia membiarkan energi darah itu mengalir, membuatnya lebih kuat dan lebih stabil.
Aira merasa energi darah itu meledak di dalam tubuhnya, dan kristal darah itu tertanam di dalam dadanya. Dia merasa seperti dirinya telah berubah, seperti ada kekuatan baru yang mengalir di dalam tubuhnya.
Aira dan Lyra terjatuh bersamaan, tak sadarkan diri. Aira membuka matanya, dan melihat Lyra dan Magnitius yang menatapnya dengan kagum.
"Aira... kamu berhasil," Lyra berteriak, suaranya penuh dengan kegembiraan.
Aira tersenyum, dan merasa kekuatan baru yang mengalir di dalam tubuhnya.
"Kita harus pergi dari sini," Magnitius berkata, suaranya serius. "Raja vampir pasti sudah mengetahui apa yang terjadi."
"Tapi...kenapa aku belum bisa menggunakan kekuatanku?". Lirih Aira.
"Itu karena kastil ini yang menahan energimu, Aira. Kamu harus segera pergi ke arah gunung es agar menghidupkan seluruh kekuatanmu". Ucap Lyra.
"Bagaimana cara aku pergi kesana?". Tanya Aira.
Magnitius menggenggam tangan Aira dan Lyra bersamaan. "Kami ada bersamamu Aira". Ucapnya.
"Baiklah, kita harus segera pergi". Ajak Lyra.
Magnitius memapah Aira yang masih lemah, sementara Lyra berjalan lebih dahulu. Tapi saat baru saja mereka berada di bibir pintu, terdengar sebuah dentuman keras menghantam tanah kastil. Percikan cahaya api terbang di udara. Terlihat seekor naga api merah datang dengan Raja Ignis yang tengah duduk sebagai pengendali di atas kepalanya.
Aira, Magnitius, dan Lyra berhenti sejenak, menatap ke arah naga api. Raja Ignis tersenyum sinis, matanya berkedip-kedip dengan api yang membakar di dalamnya.
"Ha! Kamu telah mengambil kristal darah itu, putri es" Raja Ignis berkata, suaranya seperti petir yang mengguntur. "Tapi itu tidak akan membuatmu selamat. Karena apiku akan membakar kalian semua!"
Naga api merah itu mengaum, semburan apinya membuat tanah kastil terbakar. Aira, Magnitius, dan Lyra harus melompat ke samping untuk menghindari semburan api itu.
"Kita harus pergi dari sini, sekarang!" Magnitius berteriak, sambil memapah Aira
Tapi Raja Ignis tidak akan membiarkan mereka pergi dengan mudah. Dia mengangkat tangannya, dan naga api merah itu menyerang lagi, membuat mereka harus berlari untuk menyelamatkan diri.
Serangan api terhenti saat pusaran badai merah menyerang raja Ignis. Ia sempat kewalahan dengan serangan mendadak.
"Keu menghancurkan istanaku Ignis!". Suara itu menggema di udara.
Magnitius, Lyra dan Aira memanfaatkan kesempatan untuk pergi ke luar kastil. Dengan langkah seribu bayang yang mereka miliki, akhirnya bisa membawa Aira pergi dari kastil.
...----------------...
Semoga suka sama ilustrasinya...❤️❤️