Alea mengira hidupnya sudah berakhir ketika cinta pergi meninggalkan depresi yang menyesakkan. Baginya, toko buku tua itu adalah bunker—tempat ia bisa menangis tanpa suara dan menghilang di antara deretan rak. Ia tidak butuh penyelamat, ia hanya butuh dibiarkan sendiri.
Sampai Aksa Pratama hadir setiap pukul empat sore.
Pria itu dingin, kaku, dan menyimpan luka broken home yang sama dalamnya. Aksa tidak datang dengan kata-kata manis. Ia hadir lewat kehadiran yang intens, lewat kopi hitam yang pahit, dan lewat sebuah catatan misterius yang membuat jantung Alea nyaris berhenti.
“Gerbang kost-mu tidak dikunci semalam. Ada seseorang yang berdiri di depan kamarmu selama satu jam sebelum aku datang. Hati-hati.”
Di tengah trauma masa lalu dan ketakutan akan rumah yang retak, Alea terjebak dalam tanya: Apakah Aksa adalah rumah yang bisa ia pilih untuk pulang? Ataukah pria itu adalah rahasia lain yang lebih berbahaya dari sekadar masa lalu yang menghantuinya?
Sebuah kisah tentang dua jiwa yang rapuh, bukan untuk saling menyembuhkan dengan keajaiban, tapi untuk saling menemani dalam luka—hingga mereka sadar bahwa rumah bukan sesuatu yang diwarisi, melainkan sesuatu yang dipilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Anggriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22- Batas yang Terjaga
Keheningan di dalam mobil malam ini terasa sangat berbeda. Jika biasanya sunyi di antara mereka adalah bentuk kenyamanan, kali ini bagi Alea, sunyi itu terasa mencekam, seperti udara yang mendadak hampa sesaat sebelum badai besar datang menghantam. Kalimat yang sempat terbaca di layar dashboard tadi masih terbayang-bayang di pelupuk matanya, mencetak kecemasan yang luar biasa hingga tangannya terasa dingin.
“Data karyawan atas nama Hanif audit berjalan sesuai rencana Anda, Pak.”
Alea meremas tali tasnya kuat-kuat, mencoba meredam gemuruh di dadanya. Kepalanya mendadak berisik oleh ribuan spekulasi yang saling tumpang tindih. Ia tahu betul siapa pria di sampingnya ini. Aksa adalah puncak dari rantai makanan di Pratama Group, sosok yang satu goresan pulpennya bisa menentukan nasib ribuan orang. Dan ia juga tahu, Hanif, pria yang dulu pernah menghancurkan mentalnya hingga berkeping-keping hanyalah satu dari ribuan butiran debu di divisi regional perusahaan raksasa itu.
Namun, fakta bahwa Aksa secara spesifik memerintahkan sebuah rencana terhadap Hanif membuat bulu kuduk Alea meremang. Ada perbedaan besar antara menjadi CEO dan menjadi seseorang yang memburu masa lalu bawahannya.
“Aksa,” panggil Alea pelan. Suaranya sedikit bergetar, meski ia berusaha sekuat tenaga untuk menutupinya dengan nada datar.
Aksa tidak langsung menoleh. Ia tetap fokus pada jalanan di depan yang mulai basah karena sisa embun, namun ia menurunkan volume musik instrumen yang sedang mengalun lembut di kabin mobil. “Ya? Ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu?”
“Kenapa kamu harus repot-repot mengurusi audit devisi regional di cabang barat secara pribadi?” Alea menjeda sejenak, mengumpulkan seluruh sisa keberaniannya untuk menatap profil samping wajah Aksa yang tampak sangat kaku di bawah remang lampu jalanan. “Secara spesifik, kenapa kamu mengawasi Hanif sampai sejauh itu? Kamu CEO, Aksa. Kamu punya manajer, direktur, dan ribuan staf HR untuk melakukan itu.”
Laju mobil mendadak melambat. Aksa melepaskan satu tangannya dari setir hanya untuk membetulkan letak kacamatanya, sebuah gerak-gerik yang bagi Alea tampak seperti taktik untuk menarik napas dan menyusun benteng pertahanan di balik kata-katanya.
“Aku punya ribuan karyawan di bawah Pratama Group, Alea. Memastikan setiap divisi berjalan sesuai prosedur tanpa ada celah kecurangan adalah tugasku sebagai pemimpin perusahaan. Itu hal yang biasa dalam dunia bisnis,” jawab Aksa tenang. Suaranya terdengar sangat profesional, namun di telinga Alea, itu terdengar seperti naskah yang sudah dipersiapkan dengan sangat rapi.
“Jangan gunakan jawaban korporat itu sama aku, Aksa. Kita berdua tahu itu bukan prosedur biasa,” potong Alea cepat, nada bicaranya naik satu oktav. “Seorang CEO tidak akan meminta laporan audit spesifik satu nama karyawan rendahan kalau tidak ada alasan yang sangat personal di baliknya. Aku lihat pesan di layar tadi. Aku bukan orang bodoh. Apa yang sedang kamu rencanakan sebenarnya? Apa kamu sengaja memakai kekuasaanmu untuk menyudutkan dia karena kamu tahu dia mantanku?”
Aksa akhirnya menginjak rem perlahan dan memarkir mobilnya di pinggir jalan yang agak sepi, jauh dari keramaian halte. Ia mematikan mesin, membuat suasana kabin mendadak senyap total, hanya menyisakan suara detak jantung Alea yang terasa memburu. Aksa memutar tubuhnya sepenuhnya menghadap Alea. Tatapannya yang biasanya teduh dan menenangkan saat mereka berada di sela-sela rak buku, kini berubah total. Tatapan itu dingin, tajam, dan penuh dominasi, tatapan yang mungkin biasa ia gunakan untuk mengintimidasi lawan bisnis di meja perundingan.
“Aku tidak sedang menyudutkan dia tanpa alasan yang jelas, Alea,” ucap Aksa dengan nada rendah yang berwibawa namun mengandung getaran yang menakutkan.
“Aku hanya sedang memastikan bahwa orang yang pernah membuatmu menangis setiap malam, orang yang pernah menghancurkan rasa percayamu pada dunia, tahu betul bahwa dia sekarang sedang bernapas dan mencari makan di bawah pengawasanku.”
Alea terkesiap. “Tapi kenapa sekarang? Kenapa kamu harus ikut campur sedalam ini ke dalam urusan hidupnya?”
“Karena dia belum benar-benar berhenti, Alea!” Aksa mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Alea, sorot matanya mengunci pandangan perempuan itu hingga Alea merasa sesak. “Kamu pikir aku tidak tahu kalau pengintai yang sering muncul di depan tokomu itu masih punya hubungan dengannya? Kamu pikir aku akan diam saja melihat dia mencoba masuk lagi ke hidupmu lewat cara-cara kotor seperti itu? Aku tidak akan membiarkan dia punya celah sedikit pun untuk mengusikmu lagi. Dan cara terbaik untuk membuat anjing berhenti menggonggong adalah dengan memegang rantai makanannya. Di duniaku, itu disebut mitigasi risiko. Aku sedang mengamankan asetku.”
Alea tertegun. Kata aset itu berdenging di telinganya. Di satu sisi, ada rasa haru yang aneh karena ada seseorang yang bersedia melakukan hal sejauh itu demi melindunginya. Namun di sisi lain, rasa ngeri yang lebih besar merayap di tengkuknya. Ia menyadari satu hal yang selama ini ia abaikan, Aksa bukan sekadar pelindung yang baik hati, tapi pria yang sanggup memanipulasi nasib hidup orang lain seperti bidak catur demi kepuasannya sendiri.
“Kamu sengaja membiarkan dia tetap bekerja di sana, membiarkan dia merasa aman, hanya supaya kamu bisa menarik tali lehernya kapan pun kamu mau?” bisik Alea dengan suara serak yang penuh kekecewaan.
“Itu cara yang paling efisien agar dia tetap berada dalam jangkauan radarku, Alea. Lebih baik musuhmu berada di tempat yang bisa kamu awasi daripada dia berkeliaran di luar sana tanpa kendali,” jawab Aksa tanpa ada sedikit pun gurat penyesalan di wajahnya. “Dan tolong, jangan bertanya lebih jauh lagi soal bagaimana aku menjalankan perusahaanku atau caraku menangani bawahanku. Itu adalah batas yang tidak seharusnya kamu lewati jika kamu masih ingin merasa tenang di dekatku.”
Alea merasakan sebuah tembok raksasa yang dingin baru saja dibangun di antara mereka. Aksa baru saja menegaskan bahwa meski mereka bisa mengobrol hangat tentang kurir surat dan buku-buku lama, di luar pintu toko, Aksa adalah pemegang kendali mutlak yang tak tersentuh.
Kehangatan yang baru saja mulai tumbuh dan membuat Alea merasa manusiawi kemarin, seolah menguap begitu saja, digantikan oleh kesadaran pahit bahwa ia sedang berurusan dengan seseorang yang sanggup bertindak seperti diktator bagi masa lalunya.
“Aku cuma nggak mau kamu berubah jadi orang yang mengerikan hanya karena alasan melindungiku, Aksa. Kalau kamu melakukan itu, apa bedanya kamu dengan orang-orang yang kamu anggap monster?” bisik Alea lirih, air mata mulai menggenang di sudut matanya karena rasa lelah batin yang luar biasa.
Aksa tidak menjawab pertanyaan itu. Wajahnya kembali menjadi topeng porselen yang keras dan tanpa emosi. Ia kembali menyalakan mesin mobil tanpa berkata apa-apa lagi. Perjalanan sisa menuju kost Alea terasa sangat jauh, sangat sunyi, dan sangat dingin. Tidak ada lagi percakapan tentang buku atau mimpi-mimpi kecil.
Saat mobil berhenti di depan gerbang, Alea turun dengan terburu-buru, bahkan sebelum Aksa sempat bergerak untuk membukakan pintu. Ia tidak menoleh lagi. Malam itu, Alea menyadari satu kebenaran yang pahit: batas yang dijaga Aksa bukan hanya untuk melindungi Alea dari dunia luar, tapi untuk menutupi seberapa gelap sisi pria itu saat dia sedang terobsesi pada sesuatu. Aksa memang hadir sebagai pelindung, tapi pelindung itu kini terasa seperti penjara yang sangat luas.
Mungkin besok, toko buku akan terasa berbeda. Mungkin besok, Alea tidak akan lagi menemukan kenyamanan yang sama pada kursi kayu di sudut meja kasirnya. Karena kini ia tahu, pria yang duduk di sana bukan hanya membaca buku, tapi sedang mengawasi seluruh dunia Alea dengan cara yang tidak pernah ia minta.