NovelToon NovelToon
Dinikahi Duda Mandul!!

Dinikahi Duda Mandul!!

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Romantis / Janda / Duda / Romansa / Chicklit
Popularitas:39.6k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Kirana menatap kedua anaknya dengan sedih. Arka, yang baru berusia delapan tahun, dan Tiara, yang berusia lima tahun. Setelah kematian suaminya, Arya, tiga tahun yang lalu, Kirana memilih untuk tidak menikah lagi. Ia bertekad, apa pun yang terjadi, ia akan menjadi pelindung tunggal bagi dua harta yang ditinggalkan suaminya.

Meskipun hidup mereka pas-pasan, di mana Kirana bekerja sebagai karyawan di sebuah toko sembako dengan gaji yang hanya cukup untuk membayar kontrakan bulanan dan menyambung makan harian, ia berusaha menutupi kepahitan hidupnya dengan senyum.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31

Malam itu, setelah memastikan Kirana dan anak-anak sudah benar-benar tenang, Yuda pulang ke rumahnya dengan perasaan yang campur aduk. Tubuhnya lelah, tapi pikirannya jauh lebih lelah.

Usai mandi, Yuda duduk di tepi ranjang kamarnya. Rambutnya masih basah, handuk melingkar di leher, tapi ia tak segera berganti pakaian. Pandangannya kosong menatap lantai, sementara bayangan kejadian siang tadi terus berputar di kepalanya.

Yuda menghembuskan napas panjang, lalu mengusap wajahnya kasar.

“Kalau tadi aku telat sedikit saja…” gumamnya lirih, dadanya terasa sesak. “Kalau terjadi apa-apa sama Tiara…”

Ia menggeleng cepat, tak sanggup melanjutkan pikiran itu. Rasa bersalah menghantamnya tanpa ampun. Semua ini berakar dari masa lalunya dari kesalahannya memilih dan membiarkan Laura terlalu lama berada di hidupnya.

Yuda berdiri, melangkah ke depan cermin. Ia menatap pantulan dirinya sendiri. Pria tiga puluh tahun dengan rahang tegas, bahu bidang, tapi mata yang malam ini terlihat begitu lelah.

“Apa aku cukup pantas?” tanyanya pada bayangan sendiri. “Pantas buat jadi suami… pantas buat jadi ayah buat Arka dan Tiara?”

Tangannya mengepal.

Yuda duduk kembali di ranjang, menyandarkan punggung ke kepala ranjang. Ia mengambil ponselnya, membuka layar, menatap nama Kirana yang tersimpan rapi di sana. Jarinya sempat menggantung di atas layar, ragu untuk menekan.

Yuda berbaring telentang, menatap langit-langit kamarnya yang gelap. Lampu sengaja ia matikan, tapi pikirannya justru semakin terang terang oleh ketakutan yang berisik.

“Masih mau nggak ya dia sama aku…?” gumamnya lirih.

Bayangan wajah Kirana terus muncul. Tatapan matanya yang tadi dipenuhi syok dan ketakutan. Cara tubuhnya gemetar saat memeluk Tiara. Yuda menghela napas panjang, dadanya terasa berat.

“Apa aku sudah terlalu egois?” pikirnya. “Datang ke hidupnya, bawa rasa aman… tapi juga bawa bahaya.”

Ia membalikkan tubuh ke samping, meremas bantal.

Kepalanya penuh dengan kemungkinan terburuk.

Bagaimana kalau Kirana berubah pikiran?

Bagaimana kalau kejadian hari ini justru membuatnya mundur?

Bagaimana kalau Kirana menilai Yuda sebagai sumber masalah, bukan solusi?

“Aku bisa nerima mereka apa adanya,” gumamnya lagi.

“Aku bisa jaga mereka. Tapi… apakah itu cukup buat dia percaya sama aku?”

Yuda bangkit duduk, lalu menengadah.

“Ya Allah,” bisiknya, suaranya bergetar, “kalau dia memang bukan untukku, kuatkan aku buat ikhlas. Tapi kalau dia memang jodohku… tolong jaga hatinya, dan yakinkan dia bahwa aku sungguh-sungguh.”

.......

Yuda duduk di meja makan, secangkir kopi di depannya sudah dingin tak tersentuh. Tatapannya kosong, pikirannya masih berputar pada kejadian kemarin.

Lasma yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya angkat bicara.

“Kamu kenapa, Yud? Dari tadi ibu lihat kamu murung terus. Biasanya kalau libur malah bangun paling pagi.”

Yuda tersenyum tipis, tapi senyum itu tak sampai ke matanya. Ia menghela napas panjang, lalu menunduk.

“Bu…” suaranya pelan. “Kayaknya Yuda lagi banyak mikir.”

Lasma mematikan televisi, lalu duduk berhadapan dengan putranya. “Kalau cuma capek kerja, ibu pasti tahu. Ini bukan soal itu, kan?”

Yuda terdiam beberapa detik. Ada keraguan, tapi akhirnya ia mengangguk kecil.

“Iya, Bu.”

Ia lalu mulai bercerita. Tentang Laura. Tentang Tiara yang dibawa pergi. Tentang rasa takut yang menghantamnya saat membayangkan sesuatu terjadi pada anak itu. Dan tentang Kirana wanita yang kini benar-benar mengisi pikirannya.

“Yuda takut, Bu…” ucapnya jujur. “Takut Kirana berubah pikiran. Takut dia mikir kalo dekat sama Yuda itu malah bahaya buat anak-anaknya. Yuda niatnya baik, tapi kenyataannya… masa lalu Yuda ikut nyeret mereka.”

“Yuda,” ucap Lasma pelan tapi tegas, “hidup itu nggak pernah bersih dari masalah. Yang penting bukan masa lalu kamu, tapi bagaimana kamu berdiri hari ini.”

Lasma mendengarkan tanpa menyela. Wajahnya tenang, tapi matanya lembut. Setelah Yuda selesai, ia meraih tangan putranya, menggenggamnya erat.

“Kamu sudah melakukan hal yang benar. Kamu melindungi anak itu. Kamu bertanggung jawab. Itu bukan sifat lelaki yang membahayakan, itu sifat lelaki yang layak dipercaya.”

“Tapi kalo Kirana tetap takut, Bu?”

Lasma tersenyum tipis. “Kalau perempuan itu baik dan hatinya jernih, dia akan melihat usahamu, bukan ketakutanmu. Tapi kamu juga jangan cuma diam dan overthinking.”

Ia menepuk tangan Yuda pelan.

“Datang ke rumah Kirana.”

Yuda terkejut. “Sekarang, Bu?”

“Iya. Bukan buat maksa jawaban,” lanjut Lasma, “tapi buat nunjukkin kalo kamu ada. Kalo kamu bertanggung jawab. Kalo kamu serius, bukan cuma waktu senang, tapi juga waktu susah.”

Yuda terdiam, mencerna kata-kata ibunya. Ada rasa gugup, tapi juga sedikit keberanian yang perlahan tumbuh.

Lasma berdiri, menepuk bahu Yuda dengan lembut.

“Kalau niatmu baik, jangan takut melangkah. Ibu doakan dari sini.”

Yuda akhirnya melangkah keluar rumah dengan perasaan yang masih campur aduk, tapi tekadnya sudah bulat. Sebelum menuju rumah Kirana, ia menyempatkan diri berhenti di sebuah toko kue dan minimarket. Ia membeli beberapa jajanan kesukaan anak-anak roti manis, susu kotak, biskuit, juga beberapa buah.

“Yang penting niatnya,” gumamnya pelan, mengingat nasihat ibunya.

Tak lama kemudian, mobil Yuda berhenti di depan rumah Kirana. Ia menarik napas panjang sebelum turun, lalu melangkah menuju pintu pagar.

Belum sempat ia mengetuk, Arka sudah lebih dulu muncul dari dalam rumah.

“Om Yuda!” serunya riang.

Tiara menyusul di belakang kakaknya, wajahnya langsung berbinar. “Om Yudaaa!”

Yuda spontan tersenyum lebar. Semua kegelisahan di dadanya sedikit luruh melihat dua anak itu berlari menghampirinya.

“Eh, pelan-pelan dong,” ujarnya sambil berjongkok. “Ini Om bawa sedikit jajanan.”

“Makasih, Om!” Arka langsung membantu membawakan kantong plastik.

Tiara memeluk kaki Yuda sebentar, lalu mendongak manja. “Tiara suka roti.”

“Syukurlah,” Yuda mengusap kepala Tiara lembut.

Kirana keluar tak lama kemudian. Begitu melihat Yuda, ekspresinya sempat terkejut, lalu berubah canggung namun hangat.

“Mas Yuda… silakan masuk.”

Mempersilahkan Yuda masuk dengan pintu yang dibuka lebar-lebar.

“Makasih, Mbak,” jawab Yuda sopan.

Di ruang tengah, Arka dan Tiara sibuk membuka jajanan dengan penuh semangat. Kirana menyeduh teh, lalu duduk berhadapan dengan Yuda. Untuk sesaat, suasana terasa agak kikuk.

"Ngga kerja Mbak" tanya Yuda.

Kirana tersenyum kecil "Izin dulu mas, tiara ngga mau ditinggal"

“Gimana Tiara hari ini?” tanya Yuda

“Alhamdulillah sudah jauh lebih baik,” jawab Kirana. “Udah mau makan, udah nggak rewel. Cuma kadang masih gampang kaget.”

Yuda mengangguk, rasa bersalah kembali menyelinap. “Syukur… saya senang dengarnya.”

Kirana melirik Yuda sejenak. “Mas… terima kasih ya. Bukan cuma kemarin, tapi juga hari ini.”

Yuda tersenyum kecil. “Saya cuma ingin pastikan kalian baik-baik saja.”

Yuda menarik napas dalam, lalu melirik ke arah Arka dan Tiara yang kini asyik di lantai, tertawa kecil sambil berbagi biskuit. Ia kembali menatap Kirana, suaranya diturunkan, lebih hati-hati.

“Mbak Kirana… kalau Mbak kerja, Tiara sama Arka di rumah saya saja dulu,” ucapnya pelan. “Ibu juga di rumah. Saya janji mereka aman. Nanti sebelum kerja, saya sendiri yang jemput Mbak.”

Kirana terdiam sejenak, jelas terkejut dengan tawaran itu. Ia tersenyum kecil, tapi ada ragu di matanya.

“Terima kasih, Mas… tapi tidak usah dulu. Aku nggak enak ngerepotin. Lagipula Tiara biasanya sama Mbak Rita.”

Yuda mengangguk pelan. Ia tidak memaksa. “ya sudah mbak ....saya ngerti.”

Hening menyusup di antara mereka. Suara tawa kecil Arka dan Tiara menjadi satu-satunya pengisi ruang tamu. Yuda menautkan jemarinya, terlihat gugup. Dadanya terasa sesak, seolah ada sesuatu yang harus segera ia sampaikan sebelum keberaniannya runtuh.

Akhirnya, Yuda mengangkat wajahnya.

“Mbak Kirana…” panggilnya lirih.

Kirana menoleh, menatapnya penuh tanya.

“Sebelumnya… saya sudah bilang niat saya,” lanjut Yuda, suaranya bergetar tapi tegas. “Dan setelah semua yang terjadi kemarin, niat itu malah semakin kuat.”

Ia menelan ludah. “Saya ingin menikahi Mbak. Dalam waktu dekat.”

Kirana membeku. Matanya membesar sedikit, napasnya tertahan. Ia tidak menyangka Yuda akan mengatakannya secepat dan setegas itu, apalagi setelah kejadian menegangkan kemarin.

“Saya tahu ini bukan hal kecil,” Yuda melanjutkan, kini menatap Kirana tanpa menghindar. “Saya juga tahu Mbak pasti masih takut, masih mikir banyak hal. Tapi saya ingin Mbak tahu… niat saya serius. Bukan karena kasihan, bukan karena keadaan. Tapi karena saya memang ingin membangun hidup bersama Mbak, bersama Arka dan Tiara.”

1
Asyatun 1
lanjut
anita
waah bibi prnh jd pngantin baru
anita
kan dulu laura yg membuang yuda...knp skr mnjilat ludah sndr la suami dia yg kaya mn
checangel_
Begitulah kehidupan, terkadang ada kalanya kita harus mengalah walaupun itu salah 🤧
checangel_
Salut sama Kirana 👍
anita
knp laura maraah?
anita
nikah..ya..nikah lg aja
anita
sdh d anggap anak sndr mksudnya
anita
smngat kirana...nikah lg aja..demi anak2mu
anita
yudaaa yg ikhlas ya naasibmu kelak aka lbih bhagia dr mntan istimu
anita
crta yg sderhana q suka..lanjut thor
Erna Riyanto
lanjut pagi pertama Kirana dan Yuda
Asyatun 1
lanjut
Wanita Aries
bukannya rmh kontrakan di awal td gaji harus byr kontrakan.
Wanita Aries
si endang mah ngiri mending nganan deh
Wanita Aries
semoga bahagia yudha dan kirana
Wanita Aries
mnta di masukkan penjara aja biar kapok
Wanita Aries
berani jg kirana ini ninggalin anak tnp pengawasan, udh gtu rita yg jelas2 kluarga jg gk bs bntu jagain. memang dbuat kyk oon si kirana
Wanita Aries
nah lhooo cari masalah sih
Aidil Kenzie Zie
Yuda udah nggak tahan lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!