Bagi Freya Aurelia, mahasiswi seni yang hidupnya penuh warna dan kebebasan, Istana Welas adalah labirin kuno yang membosankan. Namun, sebuah insiden "salah masuk kamar" menyeretnya ke dalam pusaran protokol kerajaan yang kaku.
Di sana ada Kaisar Welas, sang putra mahkota yang perfeksionis, dingin, dan kaku layaknya robot. Dua dunia yang bertolak belakang ini dipaksa bersatu saat titah Buyut menjodohkan mereka demi sebuah stabilitas tradisi.
Satu bulan. Itulah waktu yang mereka miliki untuk membuktikan bahwa perjodohan ini adalah sebuah kesalahan besar. Namun, di antara perang urat syaraf, noda saus sambal di kemeja mewah, dan pelarian ke warung mie ayam, garis-garis benci itu mulai memudar.
Dapatkah Freya mewarnai hidup Kaisar yang hitam-putih? Atau justru Freya yang akan terbelenggu dalam kaku-nya adab istana?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21
Matahari baru saja merangkak naik, menyinari pilar-pilar putih Istana Welas yang megah. Namun, keheningan pagi yang biasanya sakral di kediaman raja itu mendadak pecah oleh suara yang volumenya jauh melampaui batas protokol istana.
"ASPRIIIIIII!"
Freya berdiri di tengah koridor utama, tepat di bawah lampu kristal raksasa yang berkilauan. Penampilannya pagi ini adalah perpaduan yang unik; ia mengenakan dress selutut berwarna kuning mustard yang cerah pemberian Kaisar, namun di bahunya tersampir tas kanvas besar yang belepotan noda cat berbagai warna. Tangan kirinya memegang botol air mineral, dan tangan kanannya sibuk menunjuk-nunjuk ke arah lorong sayap kiri.
"ASPRI! BUDI! KHOLID! MANA SIH LO?!" teriaknya lagi, sama sekali tidak peduli pada para pelayan yang menunduk dalam sambil menahan senyum geli melihat tingkah calon permaisuri mereka.
Tak lama kemudian, Pangeran Kholid muncul dengan langkah terburu-buru. Wajahnya yang biasanya sombong kini tampak kusut. Ia mengenakan kemeja yang kancingnya belum rapi sepenuhnya, sambil menjinjing tas lukis cadangan dan tabung gambar milik Freya.
"Bisa tidak kau tidak berteriak seperti di pasar kaget?" gerutu Kholid sambil mengatur napasnya. "Ini istana, bukan bengkel senimu."
"Lelet banget sih! Kan gue udah bilang, sebelum gue siap, lo harus sudah standby di sini!" Freya berkacak pinggang, menatap tajam ke arah Kholid. "Sepuluh menit lo telat, itu artinya sepuluh menit masa depan karya seni gue terhambat. Buruan bawa ke mobil!"
"Kau benar-benar memperlakukanku seperti budak," desis Kholid, namun ia tetap melangkah maju karena tak punya pilihan—perintah Buyut masih berlaku mutlak.
Tepat saat Freya hendak berbalik menuju pintu keluar, sebuah suara tinggi dan dingin terdengar dari arah tangga besar.
"Ini masih pagi, tidak usah teriak-teriak. Kamu pikir ini rumah petak?"
Putri Sherena turun dengan anggun, mengenakan gaun pagi berbahan sutra yang sangat rapi. Matanya menatap Freya dengan pandangan merendah, penuh dengan ketidaksukaan yang sudah menumpuk sejak hari pertama.
Freya menghentikan langkahnya. Ia memutar tubuhnya perlahan, menatap Sherena dari ujung rambut sampai kaki, lalu kembali ke mata sang Putri.
"Masalah buat lo? Suka-suka gue dong!" balas Freya dengan nada menantang. "Gue teriak juga karena asisten gue lelet. Lagian, suara gue kan merdu, itung-itung buat bangunin orang-orang istana yang hidupnya terlalu kaku."
Sherena mendengus, melipat tangan di dadanya. "Adabmu benar-benar nol. Aku tidak mengerti kenapa Kak Kaisar bisa tahan dengan perempuan sepertimu. Kamu hanya merusak pemandangan di sini."
"Oh ya?" Freya melangkah mendekat, membuat Sherena sedikit mundur karena tidak menyangka Freya akan seberani itu. "Mungkin karena Kai bosen liat orang-orang yang kerjanya cuma dandan dan pasang muka manis tapi hatinya pahit kayak empedu. Dia butuh yang asli, kayak gue."
"Kamu—"
"Udah ah, gue sibuk. Jangan halangin jalan calon kakak ipar lo," potong Freya sambil memberikan kedipan mata yang sangat menyebalkan bagi Sherena, lalu ia melenggang pergi begitu saja.
Begitu sampai di area parkir, Freya langsung mencari-cari keberadaan mobil SUV hitam milik Kaisar. Biasanya, pria kaku itu sudah berdiri di sana, siap membukakan pintu dan memberikan ceramah singkat soal keselamatannya. Namun, hari ini hanya ada mobil sedan biasa dengan supir istana dan Kholid yang sudah memasukkan barang-barang ke bagasi.
"Mana si Robot?" tanya Freya pada salah satu ajudan.
"Mohon maaf, Nona Freya. Pangeran Mahkota sedang ada rapat darurat dengan dewan penasihat kerajaan mengenai urusan perbatasan. Beliau tidak bisa mengantar Nona pagi ini," jawab ajudan itu dengan sopan.
Freya terdiam sejenak. Ada rasa kosong yang tiba-tiba menyerang dadanya. Selama hampir tiga minggu ini, kehadiran Kaisar yang kaku dan posesif itu sudah menjadi bagian dari rutinitas paginya. Mendengar bahwa hari ini ia harus berangkat tanpa "pengawalan" sang Pangeran membuatnya merasa sedikit kurang bersemangat.
"Ciee, yang dicariin nggak ada," ledek Kholid yang sudah duduk di kursi depan mobil. "Kenapa? Berasa kehilangan pawangnya?"
"Diem lo, Aspri! Gue cuma... gue cuma seneng karena telinga gue nggak bakal panas dengerin ceramah dia soal 'aku-kamu' sepanjang jalan!" kilah Freya, meski tangannya sibuk merogoh tas mencari ponsel.
Baru saja mobil bergerak keluar dari gerbang istana, ponsel Freya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang dinamainya "Kai Robot".
Kai Robot: Maaf aku tidak bisa mengantarmu. Rapat ini mendadak. Jangan lupa sarapan biskuit yang ada di kantong kursi belakang. Dan ingat, jangan biarkan Kholid menyentuh paletmu jika tangannya belum bersih. Belajarlah dengan baik, Kamu.
Freya menatap kata "Kamu" di akhir pesan itu. Pipinya seketika menghangat. Ia segera mencari kantong di belakang kursi supir, dan benar saja, ada sekotak biskuit cokelat gandum favoritnya beserta botol jus jeruk segar.
"Dasar robot perhatian," gumam Freya pelan sambil membuka biskuitnya.
"Apa kau bilang?" tanya Kholid dari depan.
"Gue bilang, biskuit ini enak! Lo mau? Nggak boleh! Ini punya majikan!" sahut Freya kembali ke mode galaknya.
Sepanjang perjalanan menuju kampus, Freya terus menatap ke arah jendela. Ia menyadari sesuatu yang menakutkan bagi hatinya yang bebas: ia mulai terbiasa dilindungi. Ia mulai terbiasa dengan aturan-aturan kaku Kaisar yang ternyata adalah bentuk rasa sayang yang tersirat.
Namun, di sudut hatinya, ia juga tahu bahwa Putri Sherena dan Kholid tidak akan tinggal diam. Pagi yang berisik ini hanyalah awal dari hari yang mungkin akan menguji seberapa kuat posisinya sebagai "tunangan resmi" di mata dunia yang penuh intrik ini.