NovelToon NovelToon
Sendiri Di Tengah Ramai

Sendiri Di Tengah Ramai

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: frj_nyt

Kalau kamu pikir pertemanan itu selalu hangat, penuh tawa, dan saling ngerti, kamu salah. Kadang, yang paling dekat sama kita justru bikin capek. Kadang, kita tersenyum di tengah keramaian tapi tetap merasa sendiri.

Aku—Naya—sering berada di posisi itu. Selalu ada, selalu bergerak, tapi jarang disebut. Aku bantu semua orang, tapi yang diingat cuma orang lain. Aku ketawa supaya terlihat aman, padahal di dalam, capeknya nggak ketulungan.

Novel ini bukan tentang keajaiban atau penyelesaian dramatis. Ini cerita tentang hari-hari yang panjang, keputusan kecil yang bikin greget, dan hubungan yang tetap ada tapi nggak lagi sama. Tentang bagaimana rasanya ikut bergerak di tengah orang-orang yang nggak selalu peduli, dan belajar bertahan sambil menahan rasa bingung dan lelah.

Kalau kamu pernah merasa tersisih meski berada di tengah keramaian, atau tersenyum padahal capek banget, cerita ini mungkin bakal terasa familiar.

Selamat membaca. Jangan kaget kalau....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon frj_nyt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 Satu Meja, Dua Kepala

Aku duduk di bangku paling kiri baris ketiga. Dari kelas sepuluh sampai sekarang kelas dua belas, bangku itu nggak pernah berubah. Kalau ada yang pindah tempat duduk, aku tetap di situ. Bukan karena aku keras kepala. Lebih ke karena nggak pernah kepikiran pindah.

Di sebelahku, Rara. Kami satu meja sudah lama. Bahkan sebelum benar-benar akrab, sebelum orang-orang mulai mikir kami satu tim. Awalnya cuma kebetulan. Lama-lama jadi kebiasaan. Dan kebiasaan itu yang bikin orang lain berpikir kami selalu sejalan.

Padahal nggak juga. Pagi itu pelajaran Matematika. Bu Santi berdiri di depan, nulis rumus panjang di papan. Suaranya datar, khas orang yang sudah hafal kelasnya bakal ngapain. Beberapa anak nyatet, beberapa cuma mantengin papan tanpa benar-benar ngerti. Aku buka buku tulis. Tanganku jalan sendiri. Aku sudah tahu pola pelajarannya. Aku tahu kapan Bu Santi bakal berhenti nulis, kapan bakal nanya, dan siapa yang kemungkinan besar bakal jawab. Dan benar saja, belum lima menit, Rara angkat tangan.

“Iya, Rara?” suara Bu Santi langsung berubah lebih ramah.

Rara berdiri setengah, jawabannya rapi. Aku dengerin. Jawaban itu benar. Tapi aku juga tahu, bagian awalnya masih mentah waktu semalam kami bahas. Aku yang bantuin ngerapihin. Tapi ya sudah. Bu Santi senyum, “Bagus. Perhatikan jawaban Rara.”

Beberapa anak nengok ke arah kami. Ada yang manggut-manggut, ada yang cuma melirik sekilas. Aku tetap nunduk. Nulis. Nggak ada yang salah. Aku nggak merasa dirugikan. Atau setidaknya aku mencoba meyakinkan diri sendiri begitu. Pelajaran lanjut. Rara duduk lagi. Dia nyenggol lenganku pelan.

“Kamu ngerti, kan?” bisiknya.

Aku angguk. “Ngerti.”

“Oke.”

Selesai. Nggak ada “makasih”.

Nggak ada “tadi idemu kepake”.

Aku nggak nunggu itu juga. Waktu istirahat, Rara langsung berdiri. “Ke kantin?” Aku masih nutup buku. “Nanti. Kamu duluan aja.”

Dia angkat bahu. “Ya udah.”

Dia pergi bareng Devina dan Vella. Suara mereka ketawa sampai ke lorong. Aku lihat sekilas, lalu balik fokus ke buku. Kadang aku mikir, Rara itu sebenarnya nggak jahat. Dia cuma terbiasa jadi yang paling depan. Dan aku terbiasa ada di belakangnya. Yang bikin aneh, aku nyaman dengan posisi itu.

Beberapa menit kemudian aku keluar kelas buat ke toilet. Di lorong, aku ketemu Tara. Dia nyender di tembok, rokok disembunyiin di balik tangan, matanya kosong.

“Kamu nggak ke kantin?” tanyaku.

Dia geleng. “Nggak laper.”

Aku angguk. Kami berdiri bareng beberapa detik tanpa ngomong. Tara bukan tipe yang banyak tanya. Aku juga nggak suka ditanya.

“Ada rapat sore ini?” katanya akhirnya.

“Ada.”

Dia senyum kecil. “Capek ya.”

Aku ketawa pelan. “Lumayan.”

Dan entah kenapa, cuma dari dua kata itu, dadaku agak lega. Balik ke kelas, Rara sudah ada. Dia lagi cerita ke Devina soal tugas kimia. Aku duduk, buka tas, keluarin pulpen. Aku ikut dengerin tanpa ikut nimbrung.

“Nay,” panggil Rara tiba-tiba.

“Hm?”

“Kamu udah kerjain yang nomor tiga belum?”

“Udah.”

“Boleh lihat?”

Aku geser buku ke arahnya. Dia baca cepat. “Oh, gitu.”

“Iya.”

Dia langsung nyalin di bukunya. Cepat. Rapi. Seolah itu idenya sendiri. Aku nggak keberatan. Atau aku nggak mau keberatan. Hari itu berjalan cepat. Pelajaran berganti, bel istirahat berbunyi, bel pulang juga datang. Tapi aku nggak langsung pulang.

Sore ini ada rapat kecil pramuka. Aku ganti baju, pakai seragam lapangan. Aula belum penuh. Aku datang duluan, seperti biasa. Aku susun kursi, buka map, siapin daftar hadir.

Satu per satu datang. Ada yang nyapa, ada yang langsung duduk. Rara datang agak telat. Rambutnya masih rapi, ekspresinya santai.

“Kamu udah siapin?” tanyanya.

“Udah.”

“Oke.” Aku geser kertas ke tengah. Rapat dimulai. Aku jelasin beberapa poin. Soal jadwal, soal pembagian tugas. Suaraku biasa aja. Nggak terlalu keras, nggak terlalu pelan. Beberapa orang dengerin. Beberapa main HP. Rara nambahin. “Iya, jadi nanti kita fokus ke bagian ini dulu.” Nada bicaranya lebih tegas. Orang-orang otomatis nengok ke dia. Ada yang angguk-angguk. Aku diem sebentar, nunggu suasana tenang lagi, lalu lanjut.

Rapat selesai tanpa ribut. Semua terlihat beres. Tapi ada satu hal kecil yang aku sadari. Setiap ada keputusan, orang-orang lebih sering nanya ke Rara. Padahal aku yang nyiapin catatannya. “Naya, nanti gimana soal ini?” tanya salah satu adik kelas. Aku buka mulut, tapi Rara lebih dulu jawab, “Nanti kita atur.” Aku tutup mulutku lagi.

Setelah rapat, aku beresin aula. Tinggal aku dan satu anak lagi. Yang lain sudah pulang. “Nay,” panggil Rara dari pintu.

“Hm?”

“Kamu pulang bareng aku nggak?”

Aku lihat jam. “Aku masih beresin ini.”

“Oh. Ya udah.” Dia pergi. Aku berdiri sendirian di aula. Lampu sudah dimatiin setengah. Kursi rapi. Semua kelihatan selesai. Tapi entah kenapa, aku ngerasa ada yang menggantung. Di parkiran, aku pakai helm pelan-pelan. Aku lihat motor Rara sudah nggak ada. Jalanan mulai sepi. Langit gelap.

Di perjalanan pulang, aku mikir. Tentang satu meja. Tentang dua kepala. Tentang bagaimana orang melihat kami sebagai satu paket, padahal isinya beda. Aku capek. Tapi bukan capek fisik. Lebih ke capek mikir.

Sampai rumah, aku taruh tas sembarangan. Duduk di kasur. HP-ku bunyi. Notifikasi dari grup pramuka. Pesan dari Rara.

Rara: Nay, nanti kamu yang urusin ya bagian itu.

Aku balas singkat.

Aku: Iya.

HP kutaruh lagi. Aku tiduran, natap langit-langit kamar. Aku masih merasa ini normal. Aku masih merasa nggak ada yang salah. Aku masih bisa ketawa besok pagi. Aku belum sadar, kebiasaan kecil ini pelan-pelan bikin aku nggak kelihatan. Dan aku belum tahu, capek ini baru awal.

1
@fjr_nfs
makasih yaaa... kamu jugaa...
Zanahhan226
kamu merasa semuanya harus sempurna, tapi juga ogah ribet. mirip aku, pen ada di setiap detail spya gk ada yg kelewatan. tapi lama" emg kerasa capeknya. bukan krna kerjaannya, tp krna dianggap nggak ngaruh.
Zanahhan226
dulu juga ijut pramuka, tpi bukan siapa" dan bukan apa"..
hanya anggota biasa..
🙂🙂🙂
Zanahhan226
aku baca ini karna agak relate sama judulnya, entah ceritanya nanti ada yg relate juga atau enggak..
semoga authornya sehat selalu dan tetap semangat, ya..
Zanahhan226
tulisannya lebih rapi dari novel yg kubaca seblumnya..
semangat trs utk berkarya, yah..
Zanahhan226
aku tim datang mepet pokoknya..
🤭🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!