Lima tahun pernikahan adalah pembuktian cinta bagi Haniyah Zahira dan Haris Abidzar. Tanpa tangis buah hati, mereka tetap bahagia dalam ketaatan. Namun, bagi sang ibu mertua, rahim Haniyah yang sunyi adalah sebuah kegagalan.
"Relakan Haris menikah lagi, atau biarkan dia menjadi anak durhaka karena menolak keinginan ibunya."
Ancaman itu menjadi duri yang Haniyah telan sendirian. Demi bakti sang suami pada ibunya, Haniyah mengambil keputusan nekat: Ia meminta Haris mencari wanita lain. Saat penolakan keras Haris tak kunjung luntur, Haniyah memilih cara paling menyakitkan. Ia pergi, meninggalkan surat cerai di atas bantal, dan menghilang ke pelosok desa yang jauh dari jangkauan.
Di tengah kesunyian desa dan hati yang hancur, sebuah keajaiban muncul. Di saat ia sudah melepaskan statusnya sebagai istri, Allah menitipkan detak jantung di rahimnya. Haniyah hamil. Di saat ia tak lagi memiliki sandaran, dan di saat Haris mungkin sudah menjadi milik orang lain.
Haruskah Haniyah kembali...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PELABUHAN TERAKHIR DI BALIK BADAI
Suasana di dalam helikopter medis itu begitu mencekam, hanya deru baling-baling yang membelah sunyi malam hutan belantara. Haris terus menggenggam tangan Haniyah yang terasa sedingin es. Keringat dingin membasahi pelipis istrinya, sementara wajah Haniyah semakin pucat pasi. Setiap guncangan kecil di udara membuat jantung Haris mencelos, ia terus membisikkan doa-doa keselamatan tepat di telinga istrinya yang setengah sadar.
"Farel, pastikan rumah sakit pusat sudah siaga! Aku tidak mau ada keterlambatan satu detik pun saat kami mendarat!" teriak Haris melalui interkom dengan nada penuh tekanan.
"Sudah, Bos. Tim dokter spesialis kandungan terbaik sudah menunggu di helipad gedung utama. Lima belas menit lagi kita sampai," jawab Farel dari radio komunikasi di darat.
Benar saja, tepat lima belas menit kemudian, lampu-lampu kota yang gemerlap menyambut kedatangan mereka. Helikopter mendarat dengan mulus di atap rumah sakit. Haris langsung melompat keluar begitu pintu terbuka, membayangi tandu Haniyah yang dilarikan menuju ruang instalasi gawat darurat.
Di depan lorong operasi yang tertutup rapat, Haris berdiri mematung. Pikirannya kacau balau, membayangkan kemungkinan terburuk yang bisa menimpa istri dan calon buah hatinya. Di tengah keputusasaannya, langkah kaki yang terburu-buru terdengar mendekat. Rosita datang dengan wajah yang tak kalah panik, napasnya tersengal karena berlari dari lobi.
"Haris! Apa yang terjadi? Mama mendapat kabar dari Nabila kalau Haniyah diculik. Bagaimana keadaannya sekarang?" tanya Rosita dengan suara bergetar.
Haris menoleh, matanya yang merah menatap sang ibu dengan penuh luka. Ia menarik napas panjang, memutuskan bahwa ini adalah saatnya mengakhiri semua sandiwara. "Ibu
"Mama, maafkan aku. Selama ini aku membohongimu tentang hasil medisku. Sebenarnya Akutidak mandul, Ma. Saat ini, dia sedang mengandung anakku."
Rosita tertegun, matanya membelalak tidak percaya. "Maksudmu... Haniyah hamil?"
"Iya, Ma. Tapi karena penculikan biadab tadi, dia mengalami kram perut hebat. Aku mohon, Ma, lupakan semua kemarahanmu. Tolong doakan menantumu. Doa seorang ibu itu sangat mujarab, doamu akan menembus langit tanpa halangan. Tolong mintakan keselamatan untuk cucumu," ucap Haris dengan air mata yang akhirnya tumpah dengan deras.
Mendengar kejujuran anaknya, pertahanan Rosita runtuh. Rasa bersalah yang amat dalam menghantam dadanya. Ia segera memeluk Haris, membiarkan kepala putranya bersandar di bahunya. "Sabar, Nak. Mama akan berdoa. Mama berjanji akan memohon pada Allah agar mereka berdua selamat. Maafkan Mama yang selama ini terlalu menekan kalian."
Dua jam berlalu seperti ribuan tahun bagi Haris. Pintu ruangan akhirnya terbuka, menampakkan seorang dokter spesialis yang tampak melepas maskernya dengan wajah lelah namun tenang. Haris dan Rosita langsung menghambur maju.
"Bagaimana istri saya, Dok? Anak saya?" tanya Haris dengan nada yang sangat tegang.
Dokter tersebut tersenyum tipis, sebuah isyarat yang membuat beban di pundak Haris terasa ringan seketika. "Alhamdulillah, masa kritisnya sudah lewat. Pendarahannya berhasil kita hentikan. Tapi kondisi janin masih sangat rentan, Nyonya Haniyah harus istirahat total dan tidak boleh banyak bergerak atau mengalami stres untuk beberapa minggu ke depan."
"Terima kasih, Dokter. Terima kasih banyak," bisik Haris penuh syukur.
Saat diizinkan masuk ke ruang rawat, Rosita melangkah paling depan. Ia memandangi wajah Haniyah yang masih terpejam lelap di bawah pengaruh obat. Ia mendekat, lalu dengan lembut mengusap punggung tangan menantunya yang dipasangi selang infus.
"Maafkan Mama, Hani. Maafkan lisan Mama yang dulu menyebut rahimmu sunyi sebagai sebuah kegagalan. Ternyata Allah sedang menyiapkan hadiah besar, dan Mama justru tidak sabar," bisik Rosita tepat di telinga Haniyah yang masih tak sadarkan diri.
Haris memperhatikan ibunya dari sudut ruangan. Ia merasa lega melihat gurat ketulusan di wajah Rosita. "Ma, aku ingin kita memulai semuanya dari awal. Jangan ada lagi tekanan untuk Haniyah."
"Mama janji, Haris. Mulai sekarang, Haniyah adalah anak kandung Mama sendiri. Besok pagi Mama akan datang lagi membawa sup bergizi untuknya dan cucu Mama. Sekarang, Mama pulang dulu agar kamu bisa menjaganya dengan tenang," ujar Rosita sebelum berpamitan dengan langkah yang lebih ringan.
Setelah ibunya pergi, Haris duduk di kursi sebelah tempat tidur. Ia menggenggam tangan Haniyah, menciumnya berkali-kali hingga akhirnya rasa lelah yang luar biasa membuatnya tertidur dengan posisi kepala bersandar di sisi tempat tidur istrinya.
🍃
Sementara itu, di dalam mobil jip yang membelah jalanan menuju ibu kota, suasana terasa sangat dingin, sedingin udara AC yang berembus di dalam kabin. Ratih sesekali melirik Farel yang tetap fokus pada kemudi tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
"Farel, bisakah kamu mengecilkan AC-nya? Aku merasa seperti sedang berada di kutub utara sekarang," keluh Ratih sambil memeluk dirinya sendiri.
Farel tidak menjawab, tangannya hanya bergerak kecil memutar tombol AC. Tak lama kemudian, ia menyodorkan sebuah bungkusan plastik kepada Ratih. Ratih menerimanya dengan binar mata bahagia, mengira itu adalah martabak atau makanan ringan karena perutnya sudah sangat lapar.
"Wah, kamu perhatian juga ya? Tahu saja kalau aku lapar," ucap Ratih ceria. Namun, setelah dibuka, senyumnya langsung lenyap. Isinya hanyalah jam tangan, gelang, dan bros yang ia jatuhkan di hutan tadi.
"Ini barang-barangmu. Jangan sampai hilang lagi, harganya mahal," ucap Farel pendek.
Ratih mendengus kesal. "Aku lapar, Farel! Bukan butuh barang-barang ini sekarang. Apa tidak ada makanan sedikit pun?"
Karena Ratih terus berkicau tentang rasa laparnya, Farel akhirnya membelokkan mobil ke sebuah restoran mewah di pinggir jalan raya. Namun, Ratih justru menggelengkan kepala. "Aku tidak mau makan di sana. Terlalu formal dan membosankan."
Farel mendengus kesal, ia kembali menginjak gas hingga mobil mereka melewati area pasar jajanan malam yang ramai di pinggiran kota. Ratih tiba-tiba berseru menyuruhnya berhenti di depan sebuah tenda sederhana.
"Berhenti di sini! Aku mau sate Madura dan mie pangsit itu!" seru Ratih sambil langsung melompat turun dari mobil.
Farel terpaksa ikut turun, meskipun ia tampak sangat kikuk berdiri di trotoar yang penuh dengan asap sate. Ia melihat Ratih dengan santainya duduk di bangku kayu panjang di antara para pengemudi ojek dan warga sekitar.
"Satu porsi sate dan satu porsi mie ayam, Pak! Pedas ya!" teriak Ratih penuh semangat. Ia menoleh ke arah Farel yang masih berdiri mematung. "Ayo duduk, Farel. Jangan berdiri di sana seperti tiang listrik."
"Saya tidak terbiasa makan di tempat terbuka seperti ini, Nona," jawab Farel jujur.
"Rugi besar kalau kamu tidak merasakannya. Makanan pinggir jalan itu punya rasa yang tidak bisa dibeli di hotel bintang lima," ujar Ratih sambil melahap mienya dengan sangat nikmat.
Farel memperhatikan Ratih dalam diam. Ia merasa heran. Di pengadilan, ia tahu Ratih adalah pengacara yang sangat tegas, berwibawa, dan sangat mahal bayarannya. Namun di sini, wanita itu tampak begitu sederhana, tidak gengsi sedikit pun makan di trotoar yang berdebu.
"Kenapa melihatku begitu? Apa aku terlihat semakin cantik saat sedang makan mie?" goda Ratih sambil mengedipkan sebelah matanya.
Farel segera membuang muka, mencoba menyembunyikan semburat merah di pipinya. "Saya hanya heran, Anda orang kaya tapi seleranya sangat merakyat."
"Kekayaan itu di hati, Farel, bukan di piring makanmu. Cepatlah pesan, atau aku akan menghabiskan bagianmu juga," canda Ratih.
Malam itu, di bawah temaram lampu jalanan pasar, Farel mulai menyadari bahwa di balik sifat bar-bar dan mulut pedas Ratih, tersimpan jiwa yang sangat hangat dan tulus. Sebuah perasaan asing mulai menyusup ke dalam hati sang asisten yang dingin, meski ia masih terlalu kaku untuk mengakuinya.
lanjut kak semangat 💪💪
🤣🤣
lanjut kak tetap semangat 💪💪