NovelToon NovelToon
Benang Merah Yang Patah

Benang Merah Yang Patah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Tamyst G

Dalam dunia bisnis kelas atas, pernikahan bukan tentang cinta, melainkan tentang penaklukan. Maximilian Alfarezel adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan melalui tekanan dan kalkulasi dingin. Namun, Vivien bukan sekadar pion yang mudah digerakkan. Di balik pembawaannya yang tenang dan aristokratis, Vivien menyimpan api dendam atas kematian misterius ayahnya yang ia yakini melibatkan keluarga Maximilian.

Tinggal dalam satu atap sebagai dua musuh, mereka terjebak dalam permainan psikologis yang berbahaya. Maximilian berusaha mematahkan harga diri Vivien dengan dominasi dan obsesi yang menyesakkan, sementara Vivien menggunakan kecerdasan mentalnya untuk memancing sisi kemanusiaan Maximilian yang paling rapuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tamyst G, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SALJU BERDARAH DI ALPEN

Suara alarm di kedalaman mansion Elena Von Zurich meraung seperti serigala yang terluka, memantul di dinding-dinding marmer yang dingin saat Maximilian Alfarezel merangkul bahu ayahnya, Arthur Alfarezel, untuk berdiri. Arthur tampak begitu rapuh; sosok yang dulunya merupakan raksasa industri kini hanyalah seorang pria tua yang ringkih dengan jemari yang gemetar hebat. Di ambang pintu baja ruang bawah tanah, Vivien Aksara berdiri dengan kaki yang kokoh, pistolnya mengarah ke lorong gelap yang mulai dipenuhi asap mesiu.

"Max, kita tidak punya waktu untuk reuni emosional!" teriak Vivien tanpa menoleh, suaranya parau namun penuh otoritas. "Gideon melaporkan melalui transmisi satelit bahwa unit taktis Phoenix sedang melakukan manuver menjepit di sayap timur mansion. Kita harus keluar dari lubang tikus ini sebelum mereka meledakkan struktur gedung untuk mengubur kita semua!"

Maximilian menatap ayahnya, matanya mencari sisa-sisa kekuatan di wajah Arthur. "Ayah, kau harus bertahan. Kita akan keluar dari sini. Kita akan kembali ke Jakarta, kembali ke Alaric."

Arthur terbatuk, darah sedikit menodai bibirnya yang pucat. "Max... dengar... Elena memasang alat pelacak biometrik di bawah kulit leherku. Jika aku melewati perimeter gedung ini tanpa dekode dari server pusat, sinyalnya akan memicu serangan udara dari drone peluncur. Kalian harus meninggalkanku."

"Tidak akan!" potong Maximilian tajam. Ia menoleh ke arah Bara yang baru saja masuk dengan seragam taktis yang robek di bagian bahu. "Bara, mana perangkat pengacau sinyal portabel? Pasang sekarang! Kita akan membungkam sinyal itu sampai kita mencapai titik evakuasi di Danau Zurich."

Bara bergerak dengan presisi militer, menempelkan cakram kecil berlampu biru ke tengkuk Arthur. "Sudah terpasang, Tuan. Tapi ini hanya solusi sementara. Baterainya hanya bertahan tiga puluh menit. Kita harus berlari!"

Mereka merangsek keluar melalui terowongan pembuangan air yang sempit dan licin, jalur rahasia yang dulunya digunakan untuk menyelundupkan emas ke dalam mansion. Udara Zurich yang membeku langsung menusuk paru-paru saat mereka keluar dari ujung terowongan dan melompat ke dalam kegelapan air danau yang hitam pekat. Suhu air mendekati titik beku, membuat napas Maximilian seolah terhenti seketika karena syok kardiak yang ringan. Ia merangkul ayahnya sekuat tenaga, menendang air menuju perahu nelayan tanpa lampu yang sudah menunggu di tengah kabut.

"Naik! Cepat!" seru tim pendukung Gideon saat mereka menarik tubuh-tubuh yang menggigil itu ke atas dek kayu.

Vivien merangkak naik, bibirnya membiru, namun matanya tetap tertuju pada mansion di pinggir danau. Tepat saat perahu itu menjauh, mansion megah Elena meledak dalam bola api raksasa yang menerangi langit malam Swiss. Lidah api oranye itu memantul di permukaan air yang tenang, menandakan bahwa Elena lebih memilih menghancurkan hartanya daripada membiarkan kebenaran melarikan diri.

"Apakah ini sudah berakhir, Max?" tanya Vivien dengan suara bergetar hebat saat Bara menyelimutinya dengan kain termal.

Maximilian menatap kunci emas dengan ukiran Phoenix sayap patah yang ia ambil dari ruang interogasi tadi. "Belum, Viv. Elena mungkin mengira sejarah sudah terbakar habis dalam ledakan itu, tapi dia tidak tahu kita membawa kunci menuju 'The Nest'. Kita tidak bisa ke bandara. Mereka sudah menutup semua jalur udara. Kita harus menuju utara, masuk ke jantung Pegunungan Alpen."

"Max, suhu di Alpen sedang badai salju," protes Bara sambil memeriksa radar. "Mendaki dalam kondisi seperti ini dengan Tuan Arthur yang terluka adalah bunuh diri."

"Justru itu alasan kita harus ke sana," sahut Maximilian dingin. "Mereka tidak akan menyangka mangsa yang kedinginan akan mendaki puncak gunung. Di sana, di ketinggian tiga ribu meter, tersimpan bukti fisik asli konspirasi Phoenix yang tidak bisa dihapus oleh peretas mana pun. Kita ambil bukti itu, atau kita mati di atas sana sebagai manusia merdeka."

Perjalanan dari Zurich menuju kaki pegunungan Alpen memakan waktu tiga jam dengan mobil sewaan yang sudah dimodifikasi. Di dalam mobil yang melaju menembus kabut, Arthur mulai menceritakan fakta yang lebih mengerikan.

"Max, Vivien... kalian harus tahu," suara Arthur terdengar lemah di antara deru angin yang menghantam mobil. "Aksara, ayahmu Vivien... dia tidak menyerah karena takut. Dia menyerah karena dia mencintaimu. Elena mengancam akan membunuhmu saat kau masih balita jika Aksara tidak mau mencuci uang dari perdagangan senjata ilegal. Setiap sen yang kau miliki di Jakarta adalah harga dari darah yang tertumpah di belahan dunia lain. Dia menanggung beban itu sendirian sampai jantungnya tidak kuat lagi."

Vivien menundukkan kepala, air mata hangat mengalir di pipinya yang masih dingin. "Jadi selama ini... Ayah melindungiku dengan cara mengotori tangannya?"

"Kita semua adalah bidak, Vivien," bisik Arthur. "Tapi Maximilian... kau adalah satu-satunya yang berani membalikkan papan catur ini."

Tepat saat fajar mulai menyingsing namun tertutup oleh awan hitam yang menggumpal di puncak Eiger, mereka tiba di dasar jalur pendakian sisi utara. Angin menderu seperti raungan monster, membawa butiran salju yang tajam seperti silet. Maximilian memimpin di depan, mengenakan perlengkapan pendakian gunung tingkat lanjut. Setiap langkah ke atas adalah perjuangan melawan gravitasi dan rasa lelah yang luar biasa.

"Max! Lihat ke atas!" teriak Vivien melalui interkom di helmnya.

Dari balik kabut, tiga helikopter hitam milik Phoenix muncul, lampu sorotnya menyapu lereng gunung. Elena tidak melepaskan mereka begitu saja.

"Bara, siapkan peluncur granat!" perintah Maximilian. "Vivien, jaga Ayah di celah es itu! Jangan biarkan mereka mendapatkan visual!"

Pertempuran pecah di lereng Alpen yang curam. Suara tembakan senapan mesin beradu dengan deru badai salju, menciptakan simfoni maut di atas ketinggian. Maximilian merangkak di antara dinding es, melepaskan tembakan presisi ke arah penembak runduk yang berada di helikopter. Salju yang tadinya putih bersih kini mulai ternoda oleh jejak sepatu taktis dan tetesan darah dari luka Arthur yang terbuka kembali.

"Kalian tidak bisa lari dari takdir!" suara Elena Von Zurich menggema melalui pengeras suara helikopter, terdengar seperti suara tuhan yang murka. "Kembalikan kunci itu, Maximilian! Jika tidak, aku akan memastikan anakmu, Alaric, menjadi yatim piatu dalam hitungan menit!"

"Jangan dengarkan dia, Max!" teriak Vivien sambil membalas tembakan. "Gideon sudah mengamankan Sentul! Dia hanya menggertak!"

Maximilian menarik napas panjang, paru-parunya terasa terbakar oleh udara tipis pegunungan. Ia menatap kunci emas di tangannya, lalu menatap helikopter Elena. Dengan gerakan nekat, ia melompat melintasi celah es yang dalam, mendarat di teras batu yang menuju pintu masuk bunker 'The Nest'.

"Vivien! Bara! Masuk sekarang!"

Mereka berhasil menyelinap ke dalam pintu baja berat tepat saat sebuah rudal dari helikopter menghantam lereng di atas mereka, memicu longsoran salju besar yang menelan seluruh jalur pendakian tadi. Di dalam bunker yang remang-remang dan penuh dengan aroma kertas tua, Maximilian menyandarkan ayahnya ke dinding.

"Kita di sini, Ayah. Kita di jantung mereka," ucap Maximilian napasnya terengah-engah.

Arthur menunjuk ke sebuah brankas kuno di ujung ruangan. "Gunakan kunci itu, Max. Buka fakta yang akan menghancurkan mereka selamanya."

Saat Maximilian memasukkan kunci emas itu ke dalam lubangnya, pintu brankas terbuka dengan suara berat, mengungkapkan deretan rekaman suara dan dokumen asli yang ditandatangani oleh para pemimpin dunia yang menjadi kaki tangan Phoenix. Inilah senjata nuklir informasi yang selama ini disembunyikan.

Pemandangan Maximilian dan Vivien yang berdiri di atas tumpukan dokumen tersebut, sementara di luar, badai salju Alpen semakin menggila, mengubur jejak-jejak pertempuran mereka. Salju di Alpen mungkin berdarah malam ini, tetapi kebenaran yang baru saja mereka temukan akan membakar seluruh dunia Phoenix mulai besok pagi. Maximilian menatap Vivien, memberikan janji tanpa kata bahwa mereka akan pulang untuk Alaric, sebagai orang tua yang akhirnya bersih dari utang masa lalu.

1
Panda%Sya🐼
Kebayang gimana gantengnya si Maximilian ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!