Kepulangan Andrea adalah hal yang paling Vhirel tunggu-tunggu. Hubungan mereka tidak pernah bisa di larang, selalu ada canda dan tawa meski kerap kali ada permusuhan yang pada akhirnya mereka saling mengerti bahwa sebuah perbedaan adalah sesuatu yang indah dalam sebuah hubungan. Namun sayangnya, status mereka hanyalah sebatas kakak beradik.
Lantas mengapa bisa mereka menganggapnya lebih dari sekedar itu?
Mereka bahkan tak pernah peduli jika keduanya telah menentang takdir Tuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Essa Amalia Khairina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PANIK
"Kamu cek sekali lagi data yang udah di rekap."
Suara Luna terdengar tegas saat menunjuk sebuah map yang sudah di bundel apik di atas meja karyawannya.
"Pastikan semuanya rapi dan gak ada yang terlewat." Sambung Luna. Ia kemudian melangkah ke meja lainnya, mendekati karyawan lain yang masih sibuk dengan layar laptopnya. "Sudah sampai mana, Vin?"
"Baru mau masukin rekapan yang kemarin, Bu." Jawab wanita berusia tiga puluh tahunan itu dengan nada setengah ragu. "Tapi saya janji akan selesai hari ini juga."
"Gak perlu janji," Tukad Luna. "Kamu bilang usahakan. Janji harus di tepati!"
Wanita itu mengangguk. "Siap, Buk."
Luna mengangguk. Di saat yang sama, ia terkesiap saat mendapati ponsel yang sedari tadi digenggamnya bergetar lembut. Matanya refleks menunduk ke layar—sebuah nama muncul dan membuat jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menarik napas, ragu sejenak sebelum menggeser layar itu ke samping dan melangkah masuk ke dalam ruang pribadi kantornya. “Halo, Tante?” suaranya tertahan, nyaris berbisik.
Luna menjatuhkan dirinya di badan sofa dan menyandarkan punggung, napasnya terhembus panjang seolah baru saja menyelesaikan lari jauh saat mendapati nama Maudi terpampang jelas di layar. Seketika itu juga, bayang Vhirel kembali menyelinap masuk ke dalam ingatannya.
"Halo, Luna. Gimana? Kamu udah antar makan siang untuk Vhirel?"
Luna tertegun. Suara Maudi yang terdengar begitu antusias dan penuh rasa penasaran terasa sangat kontras dengan kekacauan yang baru saja Luna lalui. Di saat ia berusaha membangun jembatan menuju Vhirel, Dea justru datang membawa badai—mengacaukan segalanya tepat sebelum Luna sempat melangkah lebih jauh.
"Sudah kok, Tante." Jawab Luna, menelan kekecewaannya yang baru saja berhasil ia lupakan.
"Gimana? Vhirel suka sama masakan kamu?"
"Lumayan, Tante. Tapi... lebih suka masakan Dea sepertinya."
"De-Dea gimana maksud, kamu?"
"Iya, Tante. Jadi tadi di kantor Mas Vhirel ada Dea juga bawa makan siang buat Mas Vhirel."
Hening.
"Halo, Tante?" Desak Luna pelan.
Hening itu merayap cukup lama, menciptakan ketegangan yang membuat Luna refleks menjauhkan ponsel dari telinganya hanya untuk memastikan sambungan telepon belum terputus.
"Tante?" panggil Luna sekali lagi, suaranya hampir menyerupai bisikan.
Terdengar helaan napas panjang di ujung telepon—berat dan sarat akan emosi yang sulit dibaca. Bukan suara tawa kecil atau godaan yang biasanya menyambut kabar tentang 'kedekatan' Vhirel dengan wanita, melainkan sebuah nada yang terdengar... dingin.
"Nak Luna, kamu harus sabar menghadapi Vhirel ya. Jangan bosan-bosan untuk menghadapi sikapnya. Tante yakin... seiring berjalannya waktu, Vhirel pasti akan menerima kehadiran kamu, sayang."
"Iya, Tante. Tapi..." Luna menghela udara dalam-dalam sambil memposisikan duduknya lebih nyaman. "... Dea sama Vhirel, kayaknya adik kakak yang sangat akrab sekali ya, Tante."
"Akrab? Oh ya... mereka memang sangat akrab. Dari kecil, teman main Dea itu Vhirel."
"Iya, Tante. Sampai-sampai... Mas Vhirel makan aja Dea yang suapin."
"APAAA?!"
Luna refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Maudi yang biasanya selembut sutra dan penuh keibuan, mendadak pecah—melengking tajam serupa gelas kaca yang sengaja dihempaskan ke lantai beton.
Hening kembali menyergap. Namun, di telinga Luna, gema suara pecah itu masih berdenging, menyisakan ruang hampa yang mendadak terasa sesak, bersamaan ingatannya kepada cara dea menyuapi Vhirel makan yang nampak lebih dari sekedar perhatian seorang adik kepada kakaknya.
"Luna," Kali ini suara Maudi yang memecah setengah lamunannya.
"Iya, Tante?"
"Tante akhiri dulu teleponnya, ya. Nanti kita ngobrol lagi."
"Ba-baik, Tante."
Tuuuuuut.
Panggilan itu akhirnya berakhir sepihak. Luna masih menempelkan ponsel di telinganya selama beberapa detik, seolah berharap ada suara lain yang muncul dari sana. Ia tahu, Maudi pun terkejut dengan ledakan emosinya sendiri tadi—sesuatu yang sangat jarang dilakukan oleh wanita sesempurna dia.
Kesunyian kini kembali menguasai ruang pribadinya itu, namun kali ini terasa lebih mengancam. Bayangan tentang Dea yang menyuapi Vhirel dan cara mereka saling menata, kini kembali melintas, kali ini terasa seperti potongan teka-teki yang mulai menemukan tempatnya. Jika Maudi sampai se-reaktif itu, berarti kecurigaan Luna bukan sekadar imajinasi liar.
"Enggak!" geleng Luna kemudian. "Mana mungkin, mereka..."
Kalimat Luna menggantung. Ia lalu menggeleng lagi. "Aaargh! ayolah, Lun. Itu cuma pikiran kamu aja. Yang jelas... aku harus yakin dengan ucapan Tante Maudi kalau Mas Vhirel pasti akan menerima aku. Ya. Ini hanya masalah waktu."
****
kekasih tetapi ingat sebagai kakak beradik,,,