NovelToon NovelToon
Menantu Cenayang

Menantu Cenayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Action / Harem
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sean Sensei

🔖 SINOPSIS :

Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.

​Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.

Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.

🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 23 | Prediksi Wall Street

...----------------🍁----------------🍁----------------...

Lantai bursa New York Stock Exchange (NYSE) adalah sebuah katedral kapitalisme yang bising, berbau keringat kecemasan, dan dipenuhi oleh dengung ribuan monitor yang berkedip. Dari galeri pengamat di lantai atas, aku menatap ke bawah. Kerumunan pialang yang berteriak-teriak itu tampak seperti koloni semut yang memperebutkan remah-remah gula. Mereka mengandalkan algoritma, grafik historis, dan rumor murah.

Mereka buta. Mereka tidak melihat benang-benang takdir yang melilit gedung ini.

"Wall Street," gumam ku, suara ku bergema dingin di dalam kepala ku sendiri. "Kalian menyebut tempat ini jantung dunia. Tapi bagi ku, ini hanyalah sebuah organ yang sudah tersumbat. Kalian bermain dengan angka seolah itu adalah realitas, padahal realitas adalah apa yang akan ku ciptakan dalam sepuluh menit ke depan."

Aku merasakan denyut panas yang akrab di balik pelipis ku. Cahaya lampu neon di ruangan ini mulai terdistorsi, berubah menjadi spektrum warna yang hanya bisa kulihat. Aku mengaktifkan kekuatan cenayang ku pada kapasitas 70%.

Seketika, dunia melambat. Suara teriakan para pialang berubah menjadi geraman frekuensi rendah. Di depan ku, udara tidak lagi kosong. Ia dipenuhi oleh aliran data berwarna biru dan merah, aliran uang digital yang mengalir masuk dan keluar dari server-server raksasa di bawah Manhattan.

Namun yang lebih penting, aku melihat Garis Kausalitas. Aku melihat sebuah perusahaan bernama Nexus-Tech, sebuah perusahaan rintisan kecil yang hampir bangkrut. Di mata dunia, mereka hanyalah sampah dot-com yang gagal. Tapi di mataku, garis nasib mereka adalah satu-satu nya benang emas yang membentang menuju masa depan dekade berikutnya. Mereka memiliki algoritma koneksi sosial yang akan mengubah cara manusia berinteraksi.

"Tuan Satya, posisi kita sudah siap," bisik Lin Xia di samping ku. Dia mengenakan headset khusus, jemari nya menari di atas tablet terenkripsi. "Kita memiliki modal cair 12 miliar Dollar yang tersebar di lima puluh akun cangkang. Jika Anda memberi perintah, kita bisa mengguncang pasar dalam hitungan detik."

Aku tidak menoleh. Mata ku terkunci pada indeks Dow Jones yang sedang stabil. "Belum, Xia. Tunggu sampai benang merah itu bersilangan dengan saham energi milik The Sovereign. Aku ingin mereka merasakan jantung mereka berhenti berdetak sebelum mereka menyadari siapa pembunuh nya."

Aku melihat nya. Sebuah benang merah besar, mewakili konglomerat finansial milik organisasi elit Barat, mulai bergerak naik secara tidak wajar. Mereka sedang memompa harga untuk menjebak investor kecil.

"Sekarang," perintah ku.

"Eksekusi Protokol Blackout," Lin Xia memberikan instruksi lewat sistem komunikasi rahasia kami.

Dalam sekejap, di bawah perintah batin ku, aku menarik salah satu benang kausalitas di pasar. Aku tidak meretas komputer; aku mengubah probabilitas. Aku memicu sebuah kesalahan kecil pada algoritma perdagangan otomatis terbesar di bursa.

TIIIIIIIIIIT!

Alarm di lantai bursa berbunyi nyaring. Di layar raksasa, angka-angka hijau berubah menjadi merah darah dalam hitungan milidetik. Indeks saham energi tiba-tiba terjun bebas 15%.

"Apa yang terjadi?!" teriak seorang pialang di bawah sana, wajahnya pucat pasi. "Jual! Jual semua nya sekarang!"

Kepanikan menyebar seperti api di hutan kering. Itulah sifat dasar manusia: ketakutan selalu lebih cepat daripada logika.

"Satya, indeks jatuh 400 poin!" seru Detektif Chen yang berdiri di dekat pintu keluar, tangan nya memegang radio komunikasi. "Kerumunan di luar mulai histeris. Kita harus pergi jika ini menjadi kerusuhan!"

"Tetap di posisi mu, Chen," jawab ku tenang. Aku melangkah ke tepi pagar galeri, menatap kehancuran itu dengan kepuasan yang dingin. "Kekacauan adalah tangga, dan hari ini, aku akan menginjak anak tangga terakhir."

Lantai bursa berubah menjadi neraka. Para pialang saling dorong, kertas-kertas berhamburan, dan jeritan keputusasaan memenuhi ruangan. Di tengah badai itu, aku memfokuskan pandangan ku pada satu target: Nexus-Tech. Harga saham mereka yang tadi nya rendah kini hancur total, menjadi hampir nol karena efek domino.

"Xia, beli seluruh saham Nexus-Tech. Sekarang juga. Gunakan semua akun cangkang kita. Jangan biarkan satu lembar pun tersisa di pasar," perintah ku.

"Tapi Tuan, harga nya sedang jatuh bebas! Kita bisa kehilangan miliaran!" Xia ragu-ragu sejenak.

Aku menoleh pada nya. Kilatan emas di mata ku membuat Xia tersentak mundur. "Kau meragukan ku?"

"M-maaf, Tuan! Melaksanakan perintah!" Xia dengan cepat menekan tombol eksekusi.

Dalam waktu kurang dari dua menit, Samantha Holdings secara diam-diam telah menjadi pemilik tunggal dari perusahaan teknologi paling revolusioner di abad ini dengan harga sepeser pun.

Tiba-tiba, seorang pria berpakaian jas abu-abu mahal dengan pin emas berbentuk mahkota ular di kerah nya muncul di galeri pengamat. Dia di dampingi oleh empat pengawal bertubuh raksasa. Ini lah perwakilan The Sovereign di New York.

"Tuan Samantha," pria itu menyapa, suara nya mengandung amarah yang tertahan. "Kau baru saja menghancurkan kestabilan pasar yang kami bangun selama lima puluh tahun. Kau tahu apa konsekuensi nya?"

Aku berbalik perlahan, mematikan efek perlambatan waktu namun tetap mempertahankan kekuatan cenayang ku. Aura kekuasaan yang ku pancarkan membuat para pengawal nya secara insting mundur satu langkah.

"Kestabilan kalian hanyalah perbudakan yang rapi," jawab ku. "Kalian membangun pasar ini di atas kebohongan. Aku hanya menunjukkan kepada dunia betapa rapuhnya kebohongan itu."

"Kau pikir kau bisa memiliki Nexus-Tech?" pria itu tertawa sinis. "Kami akan membekukan asetmu. Kami akan menuntut mu di pengadilan internasional atas manipulasi pasar."

Aku berjalan mendekati nya. Tekanan di ruangan itu meningkat. Aku bisa merasakan keringat dingin mulai mengalir di dahi pria itu saat ia menatap pola emas di mata ku.

"Kau bicara tentang hukum seolah itu masih berlaku bagi ku," bisik ku tepat di depan wajah nya. "Coba periksa ponsel mu. Sekarang."

Pria itu gemetar, mengambil ponsel nya. Wajah nya berubah dari merah menjadi putih seperti kertas. "Tidak... ini tidak mungkin. Dewan Direksi kami... mereka baru saja mengundurkan diri? Dan semua utang kami dibeli oleh bank yang tidak dikenal?"

"Aku tidak hanya membeli perusahaan teknologi itu," kata ku, senyum tipis yang kejam tersungging di bibir ku. "Aku sudah membeli nasib organisasi mu di New York. Saat kau masuk ke ruangan ini, kau adalah orang berkuasa. Saat kau keluar, kau hanyalah seorang pria tanpa pekerjaan dengan hutang yang tidak akan lunas dalam tujuh turunan."

"Kau... kau iblis!" teriak nya, mencoba menerjang ku.

Chen dengan sigap mengunci lengan pria itu dan menjatuhkan nya ke lantai. "Jaga bicara mu, Tuan. Anda sedang bicara dengan orang yang baru saja membeli kota ini."

Aku kembali menatap lantai bursa yang kini mulai sunyi karena perdagangan dihentikan sementara (trading halt).

"Nexus-Tech," gumam ku sambil mengepalkan tangan. "Dalam sepuluh tahun, orang-orang tidak akan lagi memuja emas atau minyak. Mereka akan memuja perhatian. Mereka akan hidup di dalam platform yang ku bangun. Aku baru saja membeli kunci untuk mengendalikan pikiran miliaran manusia."

Aku merasakan kelelahan yang luar biasa menghantam otak ku. Penggunaan kekuatan cenayang pada skala makro seperti ini menuntut bayaran yang mahal. Aku bisa merasakan setetes darah hangat mengalir dari hidung ku.

Lin Xia segera mendekat, menyeka darah itu dengan saputangan sutra. Wajah nya dipenuhi kecemasan yang mendalam. "Tuan, Anda harus beristirahat. Kekuatan ini... ia memakan Anda dari dalam."

"Istirahat adalah kemewahan yang belum bisa ku beli, Xia," kata ku sambil mengambil saputangan itu. "The Sovereign masih memiliki kepala di London dan Swiss. New York hanya lah salah satu tentakel nya."

Aku menatap langit Manhattan yang mulai mendung melalui jendela kaca besar. Di sana, di antara awan hitam, aku melihat penglihatan masa depan lain nya: sebuah dunia di mana Samantha Holdings adalah satu-satunya entitas yang berdiri tegak di atas puing-puing negara-bangsa.

"Xia, siapkan perjalanan ke London," kata ku. "Dan pastikan Meiling membawa Savannah Sterling. Kita butuh pengaruh minyak Texas untuk mematikan sirkuit keuangan di Eropa."

"Baik, Tuan Satya," jawab Xia patuh.

Aku melangkah keluar dari galeri NYSE. Setiap langkah ku terasa berat, namun setiap langkah ku mengubah arah sejarah. Pialang-pialang yang tadi berteriak kini menatap ku dengan ketakutan dan pemujaan saat aku melewati mereka. Mereka tidak tahu siapa aku sebenarnya, mereka hanya tahu bahwa hari ini, penguasa baru telah lahir di Wall Street, seorang penguasa yang tidak meminta doa, melainkan menuntut kepatuhan mutlak.

"Satu kota jatuh," batin leluhur di dalam diri ku menggeram puas. "Satu dunia lagi untuk ditaklukkan."

Saat aku masuk ke dalam limusin hitam yang menunggu di luar, aku melihat pantulan mata ku di kaca spion. Pola mahkota emas itu semakin kompleks, menelan warna cokelat mata ku yang asli. Aku menyadari bahwa semakin banyak takdir yang aku ubah, semakin sedikit Satya yang tersisa di dalam diri ku. Tapi bagi ku, itu adalah harga yang adil untuk menjadi penguasa dari realitas yang baru.

...----------------🍁----------------🍁----------------...

1
Panda
Zhao Wei itu pemeran putri Huan zhu 😏

inspirasi yeee
Syh.Mutiara
Ada ada aja, deh😄
Serena Khanza
duh takut 🫣 gimana nih sama satya
Hunk
anjay posesif banget nih cewe.
Hunk
Masih hidup mantan istrinya? aku kira udah mati.
LOL #555
Wihh,ini mereka bakal jadi pasangan atau cuman rekan kerja biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
jadi, kekuatan mata super itu diketahui banyak orang yang Thor?
Serena Khanza
wuih wang meiling pocecip 🤭 biasanya kan cowok yang pocecip ya 🫣
Panda
cukup oke cuma wang itu terlalu telling dan kebanyakan narasi emosi dibanding "show" emosi
Syh.Mutiara
waduh gak cukup tuh untuk hidup dalam seminggu
LOL #555
emas murni sama jam tangan ? 200k? pengen ditendang ni bapak satu
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
kelazzz cuyyy, ijin copas 🤭
Hunk
Keren banget bagian ini. Ketegangan dan urgensinya kerasa nyata, apalagi saat keputusan ekstrem seperti jual Yuan dan pakai leverage besar langsung dieksekusi. Dialognya tegas dan punya power, bikin karakter MC terasa dominan dan berani ambil risiko.👍
Serena Khanza
wow adegan nya panas thor
Hunk
/Applaud/Aww terlalu dekat🤭
Serena Khanza
tinggi bener 88 lantai ya buset 😭
Alexanderia
ceritanya bagus 👍👍
Syh.Mutiara
benar jugaa ya🤔 Dunia ini akan berubah seiring waktu
LOL #555
Satrya ,kalau udah kaya di Shanghai sana , ingat ya ,aku adikmu 🤣
LOL #555
Berarti nanti anak Satya fak bakal bisa cenayang ya?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!