🔖 SINOPSIS :
Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.
Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.
Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.
🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 | Budak Bertanda Naga
...----------------{🔖}----------------...
Angin pagi di tepian Sungai Kuning membawa aroma lumpur dan kematian yang anyir. Aku memacu kudaku, si Putih Salju, melewati padang ilalang yang masih basah oleh embun. Di belakang ku, suara derap kaki kuda para pengawal istana terdengar seperti guntur yang tertahan. Perang melawan pemberontak Suku Pegunungan baru saja berakhir kemarin, meninggalkan ribuan nyawa terkubur di bawah lumpur sungai ini.
"Dunia ini hanyalah sebuah panggung besar yang haus akan darah," gumam ku, sembari menarik tali kekang kuda ku saat kami tiba di pesisir sungai yang dangkal. "Ayahanda Kaisar menginginkan kuil yang megah untuk menenangkan para dewa, namun ia tidak peduli berapa banyak nyawa yang harus dikorbankan untuk mengangkat satu batu fondasi."
Aku turun dari kuda, membiarkan jubah sutra putih ku terseret di atas tanah yang becek. Para pengawal segera membentuk lingkaran perlindungan, namun mata ku tertuju pada sesuatu yang tidak biasa di antara tumpukan mayat dan rongsokan kereta perang.
Di sana, tergeletak di atas pasir sungai yang kelabu, ada seorang pria.
"Putri, jangan mendekat! Dia mungkin penyusup yang masih hidup!" teriak Jenderal Zhao, tangan nya sudah memegang hulu pedang perunggu nya.
Aku mengabaikan peringatan itu. Ada sesuatu yang menarik ku ke arah pria itu, sebuah daya tarik yang tidak masuk akal. Saat aku berdiri di samping nya, aku terpaku. Pria ini mengenakan pakaian yang belum pernah ku lihat selama tujuh belas tahun hidup ku di Kekaisaran Hao. Kain nya berwarna hitam pekat, ditenun dengan sangat halus sehingga tampak seperti kulit ular yang mengkilap, namun kini sudah koyak-koyak dan menghitam seperti habis disambar petir.
"Pakaian apa ini?" gumam ku pelan. Aku berlutut di samping nya, mengamati fitur wajah nya yang tegas. Dia tidak terlihat seperti orang-orang Suku Pegunungan yang kasar, tidak juga seperti bangsawan Hao yang manja.
Tiba-tiba, pria itu terbatuk. Cairan hitam keluar dari mulut nya.
"Ugh... Meiling... Xia..." dia meracau dalam bahasa yang asing, namun nada nya dipenuhi keputusasaan yang begitu dalam hingga dada ku terasa sesak mendengar nya.
"Siapa mereka? Siapa kau?" tanya ku, meski tahu dia tidak bisa menjawab.
Saat itulah aku melihat nya. Di leher nya, di bawah rahang nya yang keras, terdapat memar yang aneh. Bukan memar biasa karena hantaman tumpul, melainkan sebuah pola emas yang merambat di bawah kulit nya, membentuk spiral yang rumit seperti mahkota atau naga yang sedang melingkar.
"Tanda ini..." jantung ku berdegup kencang. Aku teringat pada gulungan bambu kuno di perpustakaan terlarang istana. "Pria dengan naga di leher nya akan membawa jatuh matahari dan membangunkan api yang tidur."
"Kapten!" aku berseru tanpa mengalihkan pandangan. " Ikat dia. Bawa dia ke kamp budak di tambang batu utara. Jangan biarkan dia mati."
"Tapi Putri, dia terlihat seperti dukun terkutuk! Tanda di leher nya adalah pertanda buruk!" protes seorang prajurit.
Aku berdiri, menatap prajurit itu dengan dingin. "Sejak kapan seorang budak memiliki hak untuk menentukan nasib orang lain? Laksanakan perintah ku, atau kau yang akan menggantikan nya di tambang!"
Tambang Batu Utara – Tiga Hari Kemudian
Matahari membakar kulit siapa pun yang berani berdiri di bawah nya. Suara denting palu yang menghantam batu granit bergema seperti detak jantung kematian di lembah yang gersang ini. Aku berdiri di atas panggung pengamatan, memegang kipas cendana, menatap deretan budak yang dirantai kaki mereka.
Mataku mencari pria itu. Satya setidak nya itulah nama yang ku dengar dia bisikkan saat para penjaga menyiram nya dengan air dingin di penjara.
Dia berdiri di sana, di antara pria-pria bertubuh raksasa yang sudah terbiasa dengan kerja paksa. Namun Satya tampak berbeda. Dia terlihat sangat lemah. Tubuh nya terus bergetar, wajah nya pucat pasi, dan keringat dingin bercucuran meski dia tidak melakukan pekerjaan berat.
"Dia tidak akan bertahan sampai sore, Putri," Jenderal Zhao berdiri di samping ku, suara nya mengandung nada ejekan yang tipis. "Pria itu aneh. Dia terus menghirup udara seolah-olah dia sedang tenggelam di daratan. Dia bahkan tidak bisa mengangkat palu itu."
Aku tidak menjawab. Aku memperhatikan Satya. Dia mencoba menghirup napas dalam-dalam, namun setiap kali dia melakukan nya, dia meringis kesakitan.
"Apa yang terjadi pada mu?" pikir ku. "Apakah udara di kekaisaran kami terlalu beracun bagi mu, atau kau berasal dari tempat di mana udara nya semurni embun surga?"
Tiba-tiba, seorang mandor tambang yang bertubuh tambun mendekati Satya. Dia marah karena Satya hanya diam mematung menatap telapak tangan nya sendiri.
"Hei! Budak aneh! Kenapa kau tidak bekerja?!" Mandor itu melecutkan cambuk kulit nya ke punggung Satya.
CETARRR!
Kain hitam aneh di punggung Satya terbelah, memperlihatkan luka merah yang meradang. Satya jatuh berlutut, namun dia tidak berteriak. Dia hanya menatap mandor itu dengan mata yang... aneh.
Untuk sesaat, aku melihat kilatan emas muncul di pupil nya. Cahaya yang begitu murni, begitu berwibawa, hingga mandat langit terasa sedang mengalir di sana. Mandor itu tersentak mundur, seolah-olah dia baru saja melihat hantu.
Namun, kilatan itu segera padam. Satya terbatuk darah lagi dan ambruk ke tanah yang panas.
"Bawa dia ke tenda ku!" perintah ku spontan, membuat Jenderal Zhao terperanjat.
"Putri! Ini melanggar tradisi! Seorang budak tidak boleh masuk ke dalam tenda kerajaan!"
"Tradisi dibuat oleh pemenang, Jenderal," kata ku sembari melangkah turun dari panggung. "Dan saat ini, aku ingin tahu apa yang disembunyikan oleh pria ini sebelum maut menjemput nya."
Di dalam tenda yang sejuk, Satya dibaringkan di atas tikar jerami yang dilapisi kain linen halus. Aku menyuruh semua pengawal keluar, menyisakan kami berdua. Tabib istana telah memberi nya ramuan penenang, namun kondisi nya tetap tidak stabil.
"Udara... terlalu tebal..." Satya bergumam dalam tidur nya. Tangan nya mencengkeram kain linen itu dengan kaku. "Oksigen... murni... tubuh ku... tidak sanggup..."
Aku mengerutkan kening. "Oksigen? Apa itu jenis tanaman obat?"
Aku duduk di samping nya, mengambil kain basah dan menyeka dahi nya. Saat tangan ku menyentuh kulit nya, aku merasakan sengatan listrik kecil. Sangat lemah, namun nyata. Tanda di lehernya mulai berpendar samar, seolah-olah sedang mencoba menyerap energi dari sekeliling nya.
Tiba-tiba, Satya membuka mata nya.
Mata itu tidak lagi berwarna cokelat biasa. Ada lingkaran emas yang berputar lambat di dalamnya. Namun, lingkaran itu tampak retak, tidak sempurna. Dia menatap ku, dan untuk pertama kali nya, aku merasa seperti aku yang menjadi budak di bawah tatapan nya.
"Kau..." suara nya serak, penuh dengan nada otoritas yang tidak seharusnya dimiliki oleh pria yang baru saja dicambuk. "Putri dari... tempat ini?"
"Aku Putri Lian dari Kekaisaran Hao," jawab ku, berusaha mempertahankan ketenangan ku. "Kau berada di tambang batu utara. Kau adalah budak ku sekarang. Katakan, dari mana kau berasal? Pakaian mu, bahasa mu, dan tanda di leher mu... semua nya tidak masuk akal."
Satya mencoba untuk duduk, namun dia kembali terjatuh karena lemas. Dia tertawa pahit, sebuah suara yang terdengar seperti gesekan logam tua.
"Budak..." dia mengulangi kata itu dengan jijik. "Aku... yang memegang ekonomi dunia... yang menentukan nasib negara... kini menjadi budak di zaman perunggu ini?" kata nya terdengar sangat asing di telinga ku, namun aku menangkap kemarahan yang luar biasa di sana.
"Tubuh ku..." dia menatap tangan nya yang gemetar. "Udara di zaman ini... terlalu murni. Konsentrasi energi di atmosfer ini... bertabrakan dengan sirkuit energi. Aku... sedang mengalami overload."
Aku tidak mengerti satu pun istilah yang dia gunakan, namun aku bisa merasakan penderitaan nya. "Tabib ku bilang kau akan mati jika kau tidak mulai makan dan minum."
"Makanan kalian tidak akan menolong ku, Lian," dia memanggil nama ku tanpa gelar, sebuah kelancangan yang seharusnya aku balas dengan hukuman mati, namun aku justru merasa tertantang. "Aku butuh waktu untuk... adaptasi. Tubuh ku harus belajar memproses udara ini tanpa menghancurkan sel-sel ku sendiri."
Dia menatap langit-langit tenda dengan pandangan jauh. "Katakan pada ku, Putri. Di tahun berapa kita sekarang? Siapa yang memimpin dunia?"
"Ini adalah tahun kesepuluh masa pemerintahan Kaisar Hao yang Agung. Ayahanda ku memimpin seluruh daratan tengah. Tidak ada yang lebih berkuasa dari nya," jawab ku dengan bangga.
Satya tersenyum sinis. "Hao... sejarah yang belum pernah ku dengar, atau sejarah yang telah dihapus? Tak peduli. Aku akan membangun kembali kekuasaan ku di sini. Mulai dari debu tambang ini."
"Kau sangat sombong untuk seorang budak," kata ku, meski dalam hati aku merasa kagum. "Apa yang bisa dilakukan oleh seorang pria yang bahkan tidak bisa mengangkat palu?"
Satya menatap ku, dan lingkaran emas di matanya bersinar sedikit lebih terang. "Aku tidak butuh palu untuk menghancurkan batu, Putri. Aku hanya butuh waktu agar aku bisa memahami hukum alam di zaman ini. Saat itu terjadi... kau akan melihat bahwa gelar Putri yang kau banggakan tidak lebih bernilai dari pasir di kaki ku."
Aku merasa wajahku memanas karena marah, namun juga ada getaran aneh di hati ku. Keberanian nya, kegilaan nya, dan misteri yang menyelimuti nya seolah-olah menjadi candu yang baru bagi ku.
"Jika kau ingin membuktikan nya, maka hiduplah," kata ku sambil berdiri. "Aku akan member imu posisi sebagai pelayan pribadi ku. Aku ingin melihat bagaimana kau akan meruntuhkan dunia ini dari posisi yang paling rendah."
Satya memejamkan mata nya kembali, napas nya mulai sedikit lebih teratur. "Terima kasih... atas kesempatan nya, Lian. Kau tidak akan menyesal, tapi kau akan takut. Sangat takut."
Aku melangkah keluar dari tenda, disambut oleh langit malam yang bertabur bintang. Jenderal Zhao segera mendekat.
"Putri, apa yang harus kita lakukan dengan pria itu? Apakah dia berbahaya?"
Aku menatap ke arah tambang yang gelap, lalu kembali ke tenda ku. Di dalam sana, berbaring seorang pria yang mengaku berasal dari masa depan, yang memiliki tanda naga di leher nya, dan mata yang menantang dewa.
"Dia bukan budak biasa, Jenderal," bisik ku pada angin malam. "Dia adalah badai yang kita undang masuk ke dalam istana. Dan aku... aku ingin melihat dunia ini terbakar di bawah mata nya."
"Satya Samantha," nama mu terasa seperti mantra terlarang di bibir ku. "Aku akan menjaga mu tetap hidup, bukan karena aku kasihan, tapi karena aku ingin tahu: apakah kau benar-benar sang penghancur matahari, atau hanya seorang pria gila yang tersesat di aliran waktu?"
Aku tahu, mulai malam ini, takdir Kekaisaran Hao tidak akan pernah sama lagi. Di dalam sana, orang yang aku anggap gila sedang beradaptasi, belajar menghirup udara zaman kami, bersiap untuk melepaskan cakar nya yang akan merobek sejarah yang kami kenal.
...----------------{🔖}----------------...
Udh diusahakan, diperjuangkan penuh cinta malah begini balasannya?!😓.
Emosii ak🙏😭
inspirasi yeee