NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Komedi / Action / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi / Enemy to Lovers
Popularitas:33.7k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Francisco menghela napas pelan, sudah bisa menebak. “Tubuhmu bereaksi lagi?”

Alecio mengangguk singkat. “Setiap kali dia dekat.”

Francisco mengusap dagunya, berpikir keras. “Menarik sekali.”

Alecio menatapnya tajam. “Jangan hanya bilang menarik. Cari tahu kenapa ini bisa terjadi kepadaku?”

Francisco berdiri tegak. “Baik. Kita lakukan uji coba sederhana.”

Alecio mengerutkan kening. “Uji coba apa?”

Francisco menoleh ke pintu. “Patrick!”

Beberapa menit kemudian, Patrick masuk dengan ekspresi bingung.

Francisco langsung memberi instruksi. “Bawa ke sini beberapa wanita yang memiliki kemiripan dengan Sandrina. Mau itu wajah, tinggi, atau bentuk tubuh.”

Patrick terdiam sesaat, lalu mengangguk. “Oke, Francisco.”

Alecio menyilangkan tangan, tampak tidak sabar. Tidak lama kemudian, sepuluh wanita cantik masuk satu per satu ke ruangan medis.

Mereka memiliki berbagai tipe. Ada yang tinggi dan ramping, Ada yang berdada montok dan bokong berisi, Ada yang berwajah lembut khas wanita Asia. Bahkan ada yang mengenakan pakaian sederhana mirip gaya Sandrina.

Mereka berdiri berjajar di hadapan Alecio dan Francisco. Alecio duduk kaku di kursinya. Francisco memperhatikan reaksi Alecio dengan sangat teliti.

Wanita pertama melangkah maju dan tersenyum manis. Tidak ada reaksi.

Wanita kedua mendekat dengan sikap anggun. Masih tidak ada reaksi.

Satu per satu wanita bergantian berdiri di depan Alecio. Tidak ada perubahan apa pun.

Francisco menghela napas panjang. “Rupanya tidak satu pun memicu respons.”

Alecio menatap kesal. “Sudah kubilang.”

Patrick berdiri agak jauh, menggaruk kepala. “Bos, sepertinya bukan soal fisik semata.”

Alecio terdiam, tatapannya kosong.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. Max masuk membawa Sandrina.

Wanita itu tampak kesal, jilbabnya rapi, tetapi wajahnya cemberut luar biasa. “LEPAS! Aku bisa jalan sendiri!” gerutu Sabrina.

Max mengangkat tangan. “Tenang, Nona. Bos ingin bertemu denganmu.”

Sandrina melangkah masuk, matanya langsung menangkap sosok Alecio.

“Kenapa lagi?!” seru Sandrina tanpa basa-basi. “Kamu tidak biarkan aku pergi, sekarang mau apa lagi?!”

Alecio menatapnya tanpa menjawab.

Begitu Sandrina melangkah lebih dekat, Francisco langsung mengamati Alecio dengan seksama.

Dan saat itu terjadi. Alecio tanpa sadar menegakkan tubuhnya, napasnya berubah sedikit, ekspresinya menegang, bukan marah, tetapi jelas ada sesuatu yang berbeda.

Francisco langsung melangkah mendekat. Dengan sikap profesional, ia mengarahkan pandangannya ke arah tubuh Alecio, khususnya bagian yang sejak tadi menjadi sumber masalah.

Sandrina mengerutkan kening. “Dokter, kenapa kamu lihat-lihat begitu?”

Francisco tidak menjawabnya. Matanya justru menyipit, semakin penasaran.

Alecio menggeram pelan. “Jangan dilihat.”

Francisco menghela napas panjang, lalu menatap Sandrina. “Menarik sekali.”

Sandrina memiringkan kepala. “Apa yang menarik? Aku atau dia?”

Francisco menatap Alecio lagi. “Dia tidak melakukan apa-apa, tidak menggoda, tidak mendekat berlebihan, tetapi tubuhmu tetap bereaksi.”

Alecio menutup mata sejenak, tampak frustrasi. “Itu yang membuatku gila!”

Sandrina berdiri dengan tangan di pinggang. “Tunggu. Kalian sedang menguji aku, ya?!”

Patrick menahan senyum. Max menatap langit-langit, pura-pura tidak terlibat.

Sandrina menunjuk Alecio. “Kamu ini aneh! Dari kemarin terus saja mempersulit hidupku!”

Alecio menatapnya tajam, tetapi entah kenapa sudut bibirnya hampir terangkat.

Francisco bersedekap, tampak puas. “Kesimpulannya jelas. Bukan bentuk tubuh atau wajah yang memicu reaksi, tetapi Sandrina sendiri.”

Sandrina mengerutkan kening. “Maksudnya apa?”

Alecio menghela napas panjang, menatapnya lekat. Entah mengapa, dalam kebingungan dan kekesalannya, ada perasaan lain yang perlahan tumbuh, sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan dengan logika.

Francisco menepuk bahu Alecio pelan. “Kau mungkin tidak hanya membutuhkan dokter, tetapi juga kesabaran.”

Sandrina mendengus. “Aku butuh tiket pulang, bukan jadi bahan eksperimen!”

Patrick hampir tertawa. Kali ini Max menunduk takut tidak bisa menahan tawanya.

Alecio menatap Sandrina dalam diam. Di dalam hatinya, ia mulai bertanya-tanya ada satu hal yang mengganggu sekaligus menggetarkan dirinya.

“Jangan mimpi kamu bisa pergi begitu saja dari sini,” ucap Alecio dan Sandrina mengeram kesal.

***

Angin malam berembus tajam dari arah laut, membawa bau garam, karat, dan bahaya. Pantai itu tampak tenang dari kejauhan, gelap, sunyi, hanya ditemani suara ombak yang menghantam batu karang. Namun, siapa pun yang tahu dunia bawah tanah Italia paham, ketenangan itu hanyalah ilusi.

Alecio berdiri di tepi tebing rendah, jas hitamnya berkibar tertiup angin. Matanya menatap lurus ke arah dua gua laut besar di ujung pantai. Dari dalam gua itu, cahaya redup lampu-lampu ilegal terlihat berpendar seperti mata binatang buas di kegelapan.

Patrick berdiri di sampingnya, memegang teropong kecil. “Bos, mereka ramai malam ini.”

Alecio tidak menjawab. Rahangnya mengeras.

Di dalam gua, tampak kapal-kapal kecil berlabuh, lalu-lalang orang-orang bersenjata, peti-peti kayu diturunkan, dan bayangan transaksi gelap bergerak cepat seperti sarang semut yang diganggu.

Itu adalah markas pasar gelap milik Kelompok Serigala Abu-abu dipimpin oleh Benio, pria yang dikenal licik, brutal, dan tidak kenal ampun.

Patrick menurunkan teropongnya perlahan. “Tempat ini sudah lama menjadi jantung bisnis mereka. Kalau kita hancurkan, mereka tidak akan diam.”

Alecio menoleh sedikit, tatapannya dingin seperti baja. “Justru karena itu harus hancur.”

Di belakang Alecio dan Patrick, beberapa anak buah Serigala Hitam sudah siap berdiri tersebar di balik batu-batu besar, wajah tegang, tangan mengepal, menunggu satu kata dari bos mereka.

Alecio menggenggam cincin perak di jarinya cincin milik ayahnya, Alexander. Bayangan wajah sang ayah terlintas di benaknya. Dua puluh tahun lalu, malam yang sama kelamnya. Darah. Api. Pengkhianatan.

Alecio menarik napas panjang. “Patrick,” ucapnya pelan, tetapi berat.

“Ya, Bos?”

Alecio menatap gua laut itu dengan sorot penuh amarah yang terkendali. “Jika kelompok Serigala Abu-abu benar-benar yang membunuh ayahku, maka malam ini mereka akan membayar.”

Patrick terdiam. Ia tahu betapa dalam luka itu.

Tiba-tiba, salah satu anak buah mereka, berbisik panik, “Bos, ada pergerakan!”

Dari dalam gua, beberapa anggota Serigala Abu-abu mulai berteriak, seperti menyadari sesuatu yang tidak beres. Lampu sorot ilegal tiba-tiba menyala, menyapu area pantai.

“Sepertinya mereka mencium sesuatu,” gumam Patrick.

Alecio justru tersenyum tipis, dingin, nyaris menyeramkan. “Bagus. Biar mereka tahu siapa yang datang.”

Dan saat itulah malam berubah menjadi neraka.

BOOM!

Suara dentuman menggema di ujung pantai. Air laut memercik tinggi, batu karang bergetar, burung-burung malam terbang panik.

Teriakan, bentakan, dan suara gaduh pecah di udara. Anak buah Serigala Hitam bergerak seperti bayangan, menyusup dari berbagai sisi pantai. Anggota Serigala Abu-abu membalas dengan teriakan marah dan kegaduhan total.

Pertempuran pun meledak di antara batu karang.

Di tengah kekacauan itu, Alecio melangkah maju dengan tenang, senyap, tetapi mematikan. Setiap gerakannya terukur, tatapannya tajam, auranya membuat siapa pun yang berhadapan dengannya merasa gentar.

Patrick berlari di sampingnya, sesekali berteriak memberi aba-aba. Namun, di tengah situasi serius itu, ia masih sempat menggerutu.

“Kenapa tempat jahat selalu di pantai?! Licin, dingin, dan banyak batu! Kalau aku jatuh, ini bukan karena musuh, tapi karena lantainya sialan!”

Alecio meliriknya sekilas, nyaris tersenyum mendengar orang kepercayaannya ngomel-ngomel seperti Sandrina.

Di dalam gua pertama, suara peti tempat barang-barang ilegal berjatuhan terdengar mengerikan. Peti-peti kayu pecah, cahaya lampu berkilauan di air laut, bayangan orang-orang berlarian.

Di gua kedua, suasana bahkan lebih kacau. Beberapa kapal kecil mulai bergerak panik, tali-tali tambatan terputus, dan suara mesin meraung bercampur dengan teriakan.

Di tengah semua itu, Benio muncul. Pria itu berdiri di mulut gua, wajahnya keras, tatapan dingin penuh kebencian.

Alecio berhenti.

Mereka saling menatap dari jarak beberapa meter. Dua serigala yang sudah lama ditakdirkan untuk saling berhadapan.

1
Nar Sih
sdh bisa di pasti kan nih alecio bnr ,,udah jatuh cinta
Cindy
lanjut
Sugiharti Rusli
dan apakah cinta Alecio bisa terbalas dengan tingginya tembok yang akan menghalangi mereka bersatu dalam ikatan
Sugiharti Rusli
apa nanti Alecio akan memenuhi janjinya mengurus dokumen Sandrina dan membiarkan dia pulang ke Indonesia,,,
Sugiharti Rusli
terkadang pertengkaran bukan jadi sesuatu yang meresahkan, tapi sesuatu yang bahkan dirindukab di kala salah satu jauh atau sakit,,,
Sugiharti Rusli
meski Sandrina awalnya adalah gadis biasa yang tersesat di sarang mafia, dan Alecio yang sudah lama ga pernah kenal kata cinta sama perempuan manapun bisa saling tertarik sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang yah istilah Jawa, 'witing tresno soko kulino' itu memang benar adanya yah
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
kenapa Alecio tidak coba untuk ikut sandrina pulang ke indo
Lilis Yuanita
👍
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya bakalan nikah yah 🤭
ken darsihk
Fix lah kalean jadian ajaaa , dan di resmikan di Indonesia 👏👏👏
Naufal Affiq
nikah aja sama alicio sandrina,biar kau bisa mudik,sebentar lagi kita lebaran lho
🌸Santi Suki🌸: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
ken darsihk
Alecio kebanyakan drama inti nya ya Alecio ngajak maried Sandrina 😂😂😂
Sugiharti Rusli
padahal kan bisa saja kalo si Alecio mau, si Sandrina diantarkan ke kedutaan Indonesia di Italia,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan tentang dokumen si Sandrina yang hilang juga bisa dia manfaatkan dengan sangat baik sih yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang belum Sandrina ketahui adalah kenyataan kalo seorang Alecio bisa jatuh cinta padanya karena tingkahnya yang unik dan cerewetnya😝😝😝
Sugiharti Rusli
bahkan mana ada dalam pikirannya kalo dia jadi tawanan seorang mafia di negara asing yah😅😅😅
Sugiharti Rusli
memang ajaib sih yah apa yang terjadi sama si Sandrina sekarang😅😅😅
gaby
Kasih lah mudik si Sandrina, tp kawal sampai tujuan. Lamar di dpn ortunya. Emang sampai kapan Alecio sanggup menahan sesak di dada & di celana stiap berdekatan dgn Sandrina. Segera halalkan biar lega dr rasa sesak itu😄😄
Aditya hp/ bunda Lia
kesempatan dalam kesempatan 🤭
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!