NovelToon NovelToon
Penguasa Yang Sesungguhnya

Penguasa Yang Sesungguhnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda
Popularitas:28.5k
Nilai: 5
Nama Author: Siti Marina

"Cepat cari cucuku, bagaimanapun caranya ,cucu perempuan ku harus berada disini ...." teriak kakek Suhadi pada pengawalnya...setelah mengetahui kebenarannya dan mimpi-mimpi yang selalu menghantuinya.... kemungkinan besar,ia memiliki seorang cucu perempuan yang tersembunyi.
Najwa...., sepupu Rukayyah, gadis belia yang baru lulus SMA dan lulusan terbaik seorang Hafizah ternyata seorang Cucu konglomerat... almarhumah ibunya, tidak mengatakan siapa ayah Najwa. Najwa di titipkan pada kyai Rahman dan istrinya saat Najwa baru di lahirkan, setelah ibunya menghembuskan nafas terakhirnya.bahkan, Ibu Najwa sendiri tidak mengatakan siapa ayah dari Najwa...namun satu yang perlu Najwa ketahui, ia bukan anak haram, ibunya sempat menikah sirih dan kabur setelah mengetahui bahwa suaminya ternyata menjadikannya istri kedua....





yuk...ikuti cerita nya Saat Najwa bertemu dengan kakek dan ayah kandungnya, serta kehidupan Najwa setelah hidup bersama keluarga ayahnya, sedangkan di sana ada ibu tirinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

ke-sepuluh

Alendra memang sengaja memberikan arah yang benar ke kelas, namun ia berharap Najwa akan dipermalukan oleh dosen paling killer di jurusan tersebut.

Najwa mengikuti instruksi kakaknya, karena memang dirinya sendiri masih terasa asing di tempat ini, ia melangkah menyusuri koridor gedung Fakultas Hubungan Internasional yang bergaya arsitektur modern. Langkahnya yang tenang menciptakan irama teratur, kontras dengan mahasiswa lain yang berlarian mengejar jam masuk.

Saat ia sampai di depan pintu kelas "Diplomasi Global", ia menarik napas panjang. "Bismillah..., ya Allah , lindungilah Aku dimanapun berada, " gumamnya dalam hati penuh harapan dan doa, walaupun terlihat tenang,tetap saja ia merasa sedikit gugup. Begitu ia membuka pintu, puluhan pasang mata langsung tertuju padanya. Ruangan itu seketika senyap.

"Wah, lihat siapa yang masuk... Ustazah nyasar?" celetuk seorang gadis berambut pirang hasil highlight, yang sedang duduk di meja paling depan sambil mengikir kuku.

Teman-temannya tertawa kecil. "Mungkin dia mau daftar jadi tenaga pembersih kelas kita, " sahut yang lain.

Najwa tidak terpancing. Ia berjalan menuju satu kursi kosong di barisan tengah. Namun, sebelum ia sempat duduk, seorang mahasiswa laki-laki dengan jaket mahalnya sengaja meletakkan kakinya di kursi itu.

"Kursi ini sudah dipesan untuk tas gue, cantik, bagaimana kalau duduk di pangkuan ku saja, kebetulan masih kosong nih ," ucapnya sambil menyeringai.

Teman-temannya yang lain tertawa, melihat gaya tengil si penguasa kelas itu,

Najwa menatap mahasiswa itu dengan tenang. "terimakasih atas tawarannya,tapi maaf , saya bukan benda mati yang seenaknya bisa duduk di pangkuan kakak, lagian Kursi di institusi pendidikan adalah hak setiap mahasiswa yang datang untuk belajar, bukan untuk benda mati. Jika Kakak merasa tas itu lebih butuh ilmu daripada saya, silakan biarkan dia duduk di sana..., atau lebih baik lagi, tas itu yang lebih membutuhkan pangkuan kakak."

Mahasiswa itu tertegun, wajahnya memerah karena jawaban tenang Najwa...ia sedikit terkejut, karena ada seseorang yang berani membalas perkataannya.

 Belum sempat ia membalas, pintu kelas terbuka dengan dentuman keras. Profesor Malik, dosen paling ditakuti di seluruh universitas, masuk dengan wajah sedingin es.

"Masuk dan tutup mulut kalian!" bentak Profesor Malik. Saat melihat mahasiswa yang baru datang di belakang dirinya. Ia meletakkan tas kulit tuanya di meja.

"permisi , aku mau duduk disini" bisik Najwa lembut.

Mahasiswa tadi segera menurunkan kakinya kembali, seolah-olah tersihir oleh ucapan lembut mahasiswi baru di sampingnya.

 "Hari ini adalah hari pertama untuk mahasiswa baru seperti kalian, tapi saya tidak peduli. Siapa yang tidak bisa mengikuti ritme saya, silakan keluar dari pintu yang sama saat kalian masuk tadi!"

Matanya yang tajam di balik kacamata tebal langsung tertuju pada Najwa yang masih berdiri.

"Kamu! Mahasiswi baru yang pakai kerudung putih," tunjuk Profesor Malik

"iya pak" jawab Najwa sopan, namun tegas.ia berdiri dengan tubuh tegap, seperti seorang paskibra saat dirinya Aliyah/SMA

"Siapa namamu?"

"Najwa Suhadi, Prof," jawabnya jernih. Seperti kata sang kakek, di manapun tempatnya,ia harus memakai nama besar nya, Najwa juga bukan gadis seperti di cerita-cerita yang lain yang ingin pura-pura terlihat miskin padahal anak orang kaya. bukannya ia sombong, tapi Najwa sendiri ingin mengemban nama baik kakeknya yang sudah rela memberikan nama besarnya.

"Suhadi? Cucu Pak Suhadi?" Profesor Malik tersenyum sinis. "Jangan pikir nama besarmu laku di kelas saya." ucapnya dengan tegas.profesor yang terkenal tegas itu , tidak pernah pandang bulu, mau kaya mau miskin, baginya , yang mau belajar menggunakan otaknya,akan ia terima.

" Sekarang, Jawab saya, Najwa. Dalam politik internasional, Jika kamu menjadi pemimpin, apakah kamu akan mengorbankan moral demi kepentingan negara?"

Seluruh kelas menahan napas. Ini adalah pertanyaan jebakan yang biasanya membuat mahasiswa semester awal menangis.

Najwa terdiam sejenak, bukan karena takut, tapi karena sedang menyusun argumennya. "Izin menjawab, Prof ... sebagai seorang muslimah dan calon diplomat, saya lebih memegang prinsip 'Keadilan melampaui kepentingan'. Kekuasaan tanpa moral adalah tirani. Dan tirani, dalam sejarah mana pun, tidak pernah bertahan lama karena ia akan keropos dari dalam."

"Teori yang manis! Tapi dunia ini kotor, Najwa!" potong Profesor Malik keras. "Bagaimana kamu mempertahankan negaramu kalau kamu terlalu sibuk menjaga tanganmu tetap bersih?"

Najwa tersenyum kecil, sorot matanya tajam namun teduh. "Seperti yang dikatakan dalam sebuah hadis dan juga prinsip hukum alam, 'Pemimpin adalah pelayan bagi kaumnya'. Jika saya harus mengotori tangan saya dengan kezaliman demi 'kepentingan negara', maka sebenarnya saya bukan sedang menyelamatkan negara, saya sedang menghancurkan fondasi kemanusiaan negara itu sendiri. Diplomasi yang kuat tidak lahir dari kelicikan, tapi dari integritas yang membuat lawan segan."

Keheningan di kelas itu terasa begitu pekat. Profesor Malik menatap Najwa cukup lama, seolah sedang menguliti pikiran gadis itu.

Tiba-tiba, Profesor Malik mengetuk meja dengan penggaris kayunya. "Duduk, Najwa. Setidaknya kamu punya isi di dalam kepala, bukan cuma gaya di depan kamera seperti teman-temanmu yang lain."

gadis tadi yang meremehkan Najwa dan gengnya tampak sangat kesal. Rencana mereka melihat Najwa dipermalukan gagal total...., ternyata otak nya tidak secupu penampilannya.. sedangkan mahasiswa yang duduk di samping Najwa semakin tertegun dengan kecerdasan anak baru itu .

Saat kelas berakhir, beberapa mahasiswa yang tadi hanya diam mulai mendekat. Seorang mahasiswi berkacamata tampak malu-malu menghampiri Najwa.

"Hai... namaku Sarah," bisiknya. "Hebat banget tadi kamu berani lawan Prof. Malik. Biasanya nggak ada yang berani jawab."

Najwa tersenyum ramah, kali ini senyumnya sangat hangat. "Hai, Sarah. Aku bukan melawan, aku hanya menyampaikan apa yang aku pelajari. Kita di sini sama-sama belajar, kan?"

Tiba-tiba gadis yang tadi meremehkan Najwa lewat dan sengaja menabrak bahu Najwa. "Jangan bangga dulu, anak baru. Ini baru hari pertama. Kita lihat berapa lama gaya sok suci kamu bertahan di fakultas ini."

Najwa hanya merapikan tasnya, menatap gadis itu yang menjauh dengan gaya angkuhnya. "Waktu akan menjawabnya, Kakak senior," ucapnya pelan namun terdengar penuh keyakinan...

kini Najwa duduk berbincang dengan teman barunya.

" jadi kamu adalah cucu tuan Suhadi yang tersembunyi?" tanya Sarah yang penasaran.

Najwa tersenyum mengangguk" bisa di bilang begitu " jawabnya ramah.

" bagaimana kalau sekarang kita ke kantin, aku akan menunjukkan semua sisi universitas ini jika kau mau" ucap Sarah ramah.

" tidak perlu, ini terlalu luas," jawab Najwa terkekeh...

para mahasiswa yang sedari tadi memperhatikan Najwa semakin terpesona, melihat gadis itu tertawa, wajah dingin yang tadi Najwa tunjukan kini hilang , berganti dengan gadis cantik yang ceria, sesuai dengan usianya yang memang masih belia.

1
juwita
pengabdian apa? yg ada malah ngehabisin harta mrk🤣🤣
@Mita🥰
wah yang nolong si Raisa cari mati
isnaini naini
kbenaran itu ibarat air sesulit apapun psti mbemukan jln...smngt njwa....
Dewi kunti
ILu ap thor
Dewi kunti: weeeeehhh 🤭
total 2 replies
Sri Supriatin
didikan harta n kebencian sdh me darah daging di badan Raisa 🤭 tks upnya Thor 🙏🙏
suti markonah
lanjut thorr💪💪💪💪💪👍👍👍👍👍👍
suti markonah
hal yg menegangkan akan terjadi lg..kini raisa merasa di atas krna ada ke kayaan ibu kandungnya..tp aku yakin najwa tidak akan pernah terkalahkan..sekali jari najwa menari di atas keyboad perusahan santi gulung tikar😂
irma hidayat
dikasih kesempatan selamat makin kotor hati dan niatmu raisa dasar udah tabiat setan
vivinika ivanayanti
Heemmmm bearti memang Hati Raisa itu yg sakit 🤭🤭
Mundri Astuti
pretlah afkar ..
kan..kan ..belom tau aja emak kandungnya Raisa, anaknya nggigit klo ditolong
Dewi kunti
lha pengabdian,ap yang dihasilkan 🤔🤔🤔🤔🤔
Mundri Astuti
jangan" org tuanya Raisa
Yuli Budi
waduh malah kecolongan 🤦
Yuyun Srie Herawati
apa ini yg di definisi mafia syariah thor
suti markonah
skrg dah bisa komen lg thorrr🤭..kmrn lg layat..maaf curhat
suti markonah
alendra dan adriansyah dapat kejutan bertubi tubi melihat sisi lain dr adiknya najwa yg seharusnya mereka lindungi..tp malah terbalek..malah adiknya yg pegang kendali keluarga suhadi..😂😂😂
suti markonah
mungkinkah raisa sengaja di persiapkan di buang di depan pagar rumah agar bisa masuk di keluarga suhadi oleh musuh ?hmmm penasaran
Sri Supriatin
tkd upnya 👍👍
irma hidayat
lah si iblis raisa ada yg menyelamatkan harusnya membusuk dipenjara
irma hidayat
yg sebenarnya perempuan iblis tu kamu raisa, karna iblis sombong seperti kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!