Vania selebgram terkenal dengan cantik yang berasal dari keluarga kaya. Hidupnya bergelimang harta sedari dia kecil, meski begitu ia tidak pernah kekurangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ketika usianya sudah cukup untuk menikah, dia bertemu dengan laki-laki idamannya. Dia baik dan penyayang, semua kehidupannya nyaris sempurna. Tapi kayaknya pepatah manusia tidak ada yang sempurna. Kehidupan sempurnanya berubah seratus delapan puluh derajat begitu kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan. Ia hidup sendirian, di saat dia berkabung sanak keluarganya malah sibuk mengurus harta benda dan menelantarkan dirinya. Kekasihnya yang menjadi harapan satu-satunya pergi meninggalkannya dan memilih bersama wanita lain. Hidupnya berada di ujung tanduk, ketika hidupnya berada di titik terendah. Takdir mempertemukannya dengan duda menyebalkan beranak satu. Demi kelangsungan hidupnya ia terpaksa menerima pinangan duda beranak satu itu. Lalu bagaimana kehidupan Vania selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jaena19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4
Vania duduk di depan kamera dengan senyum yang merekah di wajahnya, matanya berbinar penuh antusiasme. Hari ini, dia akan mereview cushion yang sedang viral di media sosial. “Hai, semuanya! Selamat datang kembali di channel aku. Kali ini aku punya sesuatu yang sangat menarik untuk dibagikan ke kalian semua,” ucap Vania dengan nada ceria.
Dia mengeluarkan cushion dari kotaknya dan memperlihatkannya ke kamera. “Tadaa! Ini dia cushion yang lagi hits banget!” Vania memulai dengan menjelaskan kemasannya yang elegan dan menawan. Kemudian, dengan gerakan yang terampil, dia mulai mengaplikasikan cushion tersebut ke wajahnya. “Oke, guys, aku coba aplikasikan ya. Wow, teksturnya itu loh, ringan banget di kulit!” Vania berdecak kagum.
Setelah beberapa saat, dia memeriksa hasilnya di cermin dan wajahnya semakin berseri. “Kalian lihat ini? Coverage-nya sempurna! Kulitku langsung terlihat lebih flawless dan glowing!” Vania tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dia terus berbicara tentang kelebihan produk tersebut, membandingkannya dengan produk lain yang pernah dia coba. Wajahnya selalu tersenyum, membuat siapa saja yang menonton menjadi ikut terbawa suasana cerianya.
“Jadi, buat kalian yang lagi cari cushion yang bagus, aku sangat recommend ini!” Vania menutup reviewnya dengan penuh semangat. “ Sampai jumpa di video selanjutnya!” Vania melambaikan tangan ke arah kamera sebelum akhirnya mematikannya, masih dengan senyum yang tak kunjung hilang dari wajahnya.
Sebagai seorang gadis yang mempunyai wawasan soal kecantikan, Vania tidak hanya pandai berias diri, tapi juga mengulas setiap produk kecantikan yang aman dan bagus untuk para pengikutnya.
Pekerjaannya yang setiap harinya berhadapan dengan kamera, Vania harus menyembunyikan sedih dan kecewa terhadap Deo. Ia juga harus bersikap profesional menampilkan keramahan dan keceriaan.
Vania menghembuskan napas agar tetap terlihat tegar. Di studio khusus untuk membuat konten merias diri seperti rumah mewah, tempat Vania berkerja.
Gadis itu sejenak menggulung rambutnya yang panjang lalu diikat. Ia bergegas duduk di sofa sambil menikmati sejuknya pendingin ruangan. Diambilnya ponsel di meja dan jemarinya berjelajah ke akun sosial medianya. Vania terbelalak melihat deretan pemberitahuan dari warganet media sosialnya yang mengomentari soal Deo di podcast.
@uknown229
Seriusan, Deo ngomong kayak gitu di podcast tadi malam? Kak @Vaniaofficial tolong klarifikasi dong.
@wownetizen
Wajar sih kalau orang tua Vania meminta mahar yang lumayan fantastis ke Deo. Bisa jadi orang tua Vania mau ngeliat keseriusan Deo untuk Vania. Apalagi Vania anak satu-satunya, Deo ini kayaknya agak keberatan sama maharnya.
@neyixen
Deo si keliatannya suka banget ngukur hubungan serius, justru disini gue ngeliat cuma Vania yang serius. Yaelah padahal cuma mahar doang bro. Lo kan banyak duit, masa gak bisa ngasih mahar lebih buat calon istri Lo sendiri?
@Deolover
Ada-ada aja, mau nikah tinggal nikah. Gak perlu nungguin mahar, keliatan banget keluarganya matre.
"Yang diomongin Deo bener gak si?" tanya seorang wanita yang bekerja di manajemen Vania.
Vania terlihat sedang menahan marah tapi hanya bisa mendengus." Mbak percaya sama orang tuaku atau Deo?"
Wanita yang Vania panggil mbak itu terkesiap karena Vania balik bertanya." Ya, orangtuamu lah. Aku cuma tanya itu bener atau enggak?"
"Gak lah, kami bahas mahar aja belum. Deo udah koar-koar soal mahar."
"Ya ampun, Deo bohong dong."
"Demi konten mungkin, biar bisa naik namanya."
"Kamu pasti kecewa banget, ya."
"Pasti lah, mbak. Belum lagi aku dapat kiriman foto dia tebar pesona ke cewek-cewek yang datang ke kafe-nya. Gak nyangka aja si, selama ini Deo tuh memperlakukan aku dengan baik, aku pikir dia pantas jadi suami yang baik buat aku, tapi nyatanya..." Vania tak sanggup lagi melanjutkan perkataannya.
----
Karena kemarin Vania lupa tidak membawakan jajanan untuk dua asistennya, sekarang mereka duduk di sebuah kafe sambil menikmati cemilan dan minuman dingin. Meski siang ini sangat terik, tenggorokan mereka yang tadinya gersang menjadi sejuk karena minum es kekinian. Berbincang sambil menikmati cemilan bersama teman juga bisa mengembalikan suasana hati jadi stabil. Kadang-kadang, tanpa di sadari mereka bisa habis dia gelas es dan tambah cemilan.
"Pantas saja matamu sembab, Vania. Di depan kamera, kamu seperti bertransformasi, memiliki dualitas yang menakjubkan. Lalu, bagaimana nasib hubungan kalian berdua ke depannya?" tanya asistennya dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
Vania menarik napas dalam, berusaha memisahkan duri emosional dari profesionalitasnya. "Aku memilih untuk tidak mencampuradukkan masalah pribadi dengan pekerjaan. Tapi nantikan saja, ketika Deo datang nanti, segalanya akan terungkap," jawabnya dengan nada berat.
Asistennya itu kembali menekan, "Jadi, apa kamu akan mengakhiri segalanya dengan Deo saat dia tiba?"
Vania mengangguk perlahan, seraya berkata, "Mungkin. Kami akan mencoba menyelesaikannya dengan cara kekeluargaan. Tapi sungguh, aku terkejut. Aku merasa telah salah menilai Deo. Selama ini aku pikir dia baik padaku hanya karena butuh konten untuk dirinya."
"Ya, hubungan jarak jauh memang sering kali rapuh dan mudah retak," sahut asistennya mencoba menenangkan.
Vania mendesah, "Aku sempat curiga, mungkin semua kebaikan Deo hanyalah topeng semata."
"Sulit memang membedakan yang tulus dengan yang hanya sekedar bersikap manis untuk formalitas semata. Saat ini, perasaanku benar-benar campur aduk," ucap Vania lalu terkekeh pahit, sebuah tawa yang menyimpan luka.
Di tengah obrolan Vania dan dua asistennya, tiba-tiba seorang anak perempuan merengek di depan kasir sembari menarik-narik jaket seorang pria. Semua orang jadi terkejut dan tentu anak perempuan itu jadi pusat perhatian. Sementara pria itu berusaha membujuk anak perempuan itu agar tidak merengek. Namun sayangnya anak perempuan yang memakai seragam TK itu justru menghentakkan kakinya berkali-kali.
Awalnya Vania hanya cuek dan pura-pura tidak mendengar rengekan bocah itu. Tapi lama-lama telinganya makin panas sebab anak perempuan itu semakin teriak-teriak karena permintaannya tidak di turuti. Suasana hati Vania yang tadinya stabil berubah menjadi kesal. Gadis itu beranjak lalu menghampiri anak perempuan itu.
"Duh, kenapa ini? Kamu bisa berhenti menangis? Saya tidak tahan mendengar tangisan anak kecil," Vania merengut kesal.
Mata anak perempuan itu berbinar ketika melihat Vania, "Oh, Tante cantik ada di sini? Aku bisa ditraktir oleh Tante dong," katanya penuh harap.
Alis Vania berkerut dalam ketidakpercayaan ketika anak itu memanggilnya 'Tante'.
Suasana berubah mendadak ketika seorang pria berjaket mendekat dengan wajah pucat pasi. "Dia beneran tante kamu?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Ya, Om. Tante ini, pacarnya Papah aku," balas gadis kecil itu dengan polosnya.
Mendengar itu, Vania tersentak, teringat sebuah video viral tentang penculikan anak yang tengah ramai diperbincangkan di media sosial. "Oalah, kamu ini, kok bisa bersama Om ini?" tanyanya sambil menatap tajam ke arah pria tersebut.
"Masnya disuruh sama Papahnya, ya?" Vania bertanya dengan nada curiga.
Wajah pria itu semakin panik, warna darahnya seakan menghilang. "Euh, tidak, Mbak. Maaf, saya permisi dulu." Dia kemudian bergegas menjauh, meninggalkan Vania dan gadis kecil itu di tengah kebingungan dan ketakutan.
Vania terus memperhatikan gelagat pria yang sangat mencurigakan itu hingga keluar dari kafe. Kemudian Vania merangkul anak perempuan itu agar merasa aman.