NovelToon NovelToon
Selamat, Dan Selamat Tinggal

Selamat, Dan Selamat Tinggal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Awanbulan

Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Sudut Pandang Rina

​Begitulah yang terjadi. Kejadian Naya yang menerjangku di depan loker sepatu tadi benar-benar memalukan.

​Malamnya, seperti biasa, aku dan Rian makan malam bersama. Menunya sederhana tapi hangat: ikan bakar, masakan rebus, dan sayur bayam bening. Semuanya hasil masakanku. Yah, meskipun bumbunya beli jadi, bukankah tetap hebat ada siswi SMA yang repot-repot menyiapkan sayur bening yang segar?

​“...Bahkan saat makan siang pun, dia selalu menempel di sebelahku,” aku memulai cerita.

​“…………” Rian hanya diam, seolah sudah tahu arah pembicaraanku.

​Dipeluk cewek lain biasanya jadi mimpi buruk bagiku, tapi kalau itu Naya, aku tidak keberatan. Aku tidak membencinya, hanya saja... dia sedikit membuatku takut dengan agresivitasnya.

​“Jadi, Kak... bagaimana rasanya?” tanya Rian tiba-tiba.

​“Hah? Apanya?”

​“Dada Naya. Besar sekali, kan?”

​“BUFUFU!!”

​Aku tersedak dan menyemburkan sayur bayam bening yang sedang kunikmati. Rian menatapku dengan wajah datar seolah barusan hanya menanyakan cuaca.

​“Wow, langsung kena ya,” gumamnya.

​Aku buru-buru mengelap meja. Sayur bayam yang kubuat dengan penuh kasih sayang (dan bumbu toko) jadi berantakan gara-gara pertanyaannya.

​“R-Rian! Apa-apaan pertanyaan itu? Itu pelecehan seksual! Memangnya kamu sendiri pernah dipeluk olehnya?!”

​“Setiap kali kami bertemu, selalu saja begitu, Kak,” jawab Rian santai.

​“Serius?!”

​“Iya. Kami sudah beberapa kali makan siang bersama. Kadang setelah selesai makan, dia tidur siang di pangkuanku.”

​“...Serius?!” Aku mulai merasa panas karena cemburu.

​“Bukan cuma bantal pangkuan biasa. Kadang aku yang duduk di pangkuannya sebelum tidur.”

​“…………Serius?!”

​“Posisinya bahkan saling berhadapan.”

​“………………Serius?!”

​Aku menatap Rian curiga, tapi dia malah tertawa kecil. “Kakak mencurigakan sekali... Lagipula, buat apa aku membohongimu soal hal seperti itu?”

​Bayangkan saja, adik laki-lakimu dipeluk begitu intim oleh cewek lain. Aku merasa sangat cemburu, teringat masa kecil kami. Dulu saat SD, aku sering mendekam di tempat tidur seharian bersama Rian. Keinginanku untuk memanjakannya seperti itu sebenarnya tidak pernah berubah, bahkan sampai kami SMA.

​Aku mencoba memancingnya dengan motif tersembunyi.

​“...Ngomong-ngomong, bukan berarti aku ingin melakukannya, tapi... bagaimana menurutmu jika punya kakak perempuan yang selalu memelukmu setiap kali bertemu?”

​Rian menjawab tanpa ragu, “Hah? Menjijikkan sekali kalau kakak-adik melakukan hal seperti itu saat sudah SMA. Aku jelas tidak mau Kakak melakukannya padaku.”

​“...Begitu ya. Aku mengerti,” jawabku dengan hati yang sedikit hancur.

​Dibilang "menjijikkan" oleh adik sendiri itu rasanya pedih. Mungkin aku memang sudah terlalu lama tidak bisa mengobrol santai begini dengan Rian sampai pikiranku jadi aneh-aneh. Akhir-akhir ini, aku hanya ingin dimanja olehnya seperti dulu.

​“Tapi Rian, kamu harus berhenti berkomentar mesum soal ukuran dada cewek. Aku yakin kamu tidak mengatakannya langsung pada Naya, kan?”

​“Oh, aku mengatakannya kok.”

​“…………”

​Naya... apa sebenarnya yang kamu sukai dari adikku yang bermulut blak-blakan ini? Meski bingung, aku tetap menikmati sisa makan malam itu dengan perasaan campur aduk.

​Sudut Pandang Rian

​Setelah makan malam, aku mandi dan berbaring di tempat tidur untuk memeriksa ponsel. Aku jarang memakai ponsel kecuali hari libur, tapi malam ini ada sesuatu yang ingin kulihat.

​Ada notifikasi dari Naya, Andi, dan Sari. Aku langsung menghapus pesan dari Sari tanpa membacanya. Aku tidak memblokirnya karena aku merasa itu akan membuatnya merasa "menang". Aku hanya mengabaikannya sebagai orang asing.

​Mari mulai dengan pesan dari Naya.

​“Selamat malam, Rian! Aku senang kita bisa mengobrol lagi! Aku minta maaf karena sudah menyakitimu begitu dalam. Kamu bilang kamu tidak salah, tapi aku tidak setuju. Cara berpikirku yang egois hanya demi kebahagiaanku sendiri adalah sebuah kesalahan. Aku juga sudah menyakiti Andi dan sudah meminta maaf padanya. Aku akan membuktikannya lewat tindakanku. Dan satu hal terpenting: Aku mencintaimu, Rian. Perasaan ini tidak akan pernah berubah. Mungkin sekarang sudah terlambat, tapi aku akan sangat bahagia jika suatu hari nanti aku bisa mengatakannya langsung di depanmu! Aku mencintaimu!”

​Aku menatap layar ponselku lama sekali. Email yang sangat jujur, pikirku.

​Naya benar-benar sudah dewasa sekarang. Dia terasa jauh lebih perhatian dan penyayang. Naya yang sebenarnya adalah gadis yang baik. Rasanya, dia terlalu bagus untuk orang sepertiku yang masih terjebak dalam trauma.

​“Tidak, aku tidak boleh pesimis.”

​Aku harus berusaha sebaik mungkin. Aku harus menjadi pribadi yang lebih kuat agar bisa memenuhi harapan Naya suatu saat nanti. Aku yakin dia tidak akan pernah sengaja menyakiti siapa pun lagi. Sekarang tinggal tugasku: menguatkan diri agar aku bisa bicara langsung dengannya lagi tanpa rasa takut.

1
Awanbulan
bintang 5
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!