Tak pernah mendapatkan cinta dari siapapun termasuk ibu kandungnya, Cinderella Anesya seorang gadis yang biasa di sapa Ella itu berharap ada setitik cinta dari tunangannya.
Sayangnya pria yang menjadi tunangannya itu tak pernah menganggapnya ada dan lebih cenderung pada adik tirinya yang selama ini selalu di sayang oleh keluarganya.
Merasa ketulusannya di khianati, Ella akhirnya menerima pinangan pria yang selama ini diam-diam mencintainya..
Akankah hidupnya berubah setelah bersama pria itu? Atau justru sebaliknya??
•••••
"Berjanjilah untuk selalu mencintaiku.." Cinderella Anesya
"Aku akan selalu mencintaimu, Baik sekarang, Nanti dan selamanya.." Davin Anggara Sanjaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon El Viena2106, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinderella Berhak Bahagia
"Kamu tidak lelah?" Davin bertanya pada sang istri barang kali wanitanya itu merasa lelah karna tidak duduk sama sekali sejak tadi. Davin khawatir saja pada Ella takut istrinya itu kenapa-kenapa. Pasalnya tamu undangan yang datang tidak sedikit.
"Aku tidak lelah, Tapi aku hanya haus.." Davin mengangguk. Pria itu melihat pelayan yang lewat lalu memanggilnya.
"Saya Tuan..
"Tolong ambilkan minuman untuk istriku.. Katanya dia haus.. " Pelayan pria itu mengangguk kemudian pergi. Tak lama pelayan tersebut kembali dengan membawa minuman, Tak lupa di sertai sedotan juga.
Davin mengambil gelas yang berisikan minuman itu lalu memasukan sedotannya ke dalam gelas.
"Ayo diminum dulu.." Dengan penuh perhatian Davin memegang gelasnya untuk sang istri. Ella mulai minum, Sungguh dia haus sekali.
"Sudah.." Ella menghabiskan minuman tersebut sampai setengah. Wanita itu tersenyum, Perlakuan manis ini membuat Ella terharu dan bahagia sekali.
"Kenapa?
"Tidak apa-apa.." Davin tak lagi bicara, Yang ada pria itu justru meminum bekas dari istri nya.
"Heeh..
"Kenapa memangnya?
"Itu.. Minuman bekasku.." Davin melihat gelasnya dan tersenyum.
"Minum memakai bekas gelas istri.. Bukankah tidak apa-apa?" Ella mengangguk samar, Dia duduk di sofa yang memang telah di sediakan.
Adegan tadi tak luput dari mata orang-orang. Mereka angkat bicara tentang Davin yang selama ini terkenal dengan dingin dan anti wanita itu ternyata bisa romantis juga.
"Apa-apa pria kalau udah ketemu sama pawangnya, Pasti lah romantis.. Nurut juga.." Ucap salah satu tamu. Melihat perlakuan Davin pada Ella membuat mereka baper.
"Dan katanya, Dekorasi ini adalah impian istrinya loh.. Sungguh pria pengertian..
"Mendapatkan jodoh keturunan Abraham dan Sanjaya itu adalah sebuah keberuntungan.. Bayangkan saja, Masih dalam kandungan mereka semua sudah di warisi harta. Hidupnya akan terjamin.. Dan satu lagi, Keluarga mereka tidak pernah memandang apapun. Baik itu status dan kasta.. Rata-rata setia semua loh..
"Mungkin karena mereka semua orang baik.. Tuhan semakin meninggikan derajat mereka. Bukannya semakin berkurang yang ada hartanya semakin bertambah..
Banyak orang yang membicarakan ini. Ella adalah salah satu orang yang beruntung itu. Di cintai oleh pria seperti Davin yang akan di jamin segalanya.
Baik itu cinta, Perilaku, Kasih sayang, Perhatian dan juga hartanya nya. Dan Ella sendiri tidak akan pernah menyia-nyiakannya. Jika Davin bisa mencintainya, Itu Artinya Ella juga harus bisa mencintai pria itu.
"Hari ini, Mereka semua menyaksikan kalau kita akan selalu bersatu.. " Davin genggam tangan itu, Ella tersenyum dan membalas genggaman tangan sang suami.
"Aku tidak bisa berjanji, Tapi aku akan terus berusaha agar bisa mencintaimu, Mas.. Bantu aku untuk menata hati yang patah ini ya.. Karena aku sendiri sepertinya tidak mungkin sanggup menatanya sendirian.." Ella mencium punggung tangan Davin. Dia harus bisa menata hatinya kembali dan hidup bahagia bersama suaminya ini.
"Akan Mas lakukan semua demi kamu sayang..
...****************...
"Nenek, Wulan??" Ella yang tengah duduk bersama Davin di pelaminan itu melihat Nenek Cahya datang bersama Wulan. Ella beranjak begitupun dengan Davin.
"Nak.. Selamat ya, Maaf Nenek baru datang.. " Ella meraih tangan Nenek Ella lalu mencium punggung tangan Wanita tua itu. Hal yang sama juga di lakukan oleh Davin.
"Gapapa kok Nek.. Malah Ella senang banget loh Nenek akhirnya bisa datang..
"Kan Nenek takut kalau kamu marah.." Kata Nenek Cahya dengan gurau.
"Andai Nenek tidak datang pun, Ella gak akan marah Nek..
"Nak.." Nenek Cahya memeluk Ella. Andai Araka tidak jahat, Mungkin saat ini yang berdiri bersama Ella adalah Araka cucunya, Bukan Davin.
Tapi mau bagaimana lagi, Sejak kecil Ella sudah menderita. Dan kebahagiaannya ternyata Allah takdirkan bersama Davin, Bukan dengan cucunya.
"Selamat ya El.. Akhirnya kamu nikah juga.." Wulan ikut memberikan selamat. Teman masa kecil Ella itu pun memeluk Ella dengan erat.
"Akhirnya kamu mendapatkan pria yang lebih baik dari si badjingan itu.." Bisik Wulan, Ella hanya terkekeh saja mendengar bisikan temannya yang setia itu.
"Nenek dan Wulan kok bisa barengan, Janjian?
"Enggak.. Nenek datang di anter sama supir.. Aku datang sendiri.. Kita ketemu di depan.." Jawab Wula tersenyum.
"Ohya, Nenek udah mau pulang.. Ini Nenek punya hadiah buat kamu. Jangan lupa di buka ya..." Sebelum pulang, Nenek Cahya memberikan sebuah hadiah untuk Ella. Entah apa isinya Ella sendiri juga tidak tahu.
Sebelum pulang Nenek Cahya di berikan sebuah souvenir. Wanita tua itu memanggil sang supir untuk meletakkan souvenir yang cukup besar itu di bagasi. Baru saja hendak melangkah keluar..
"Loh? Nyonya Cahya.." Nenek Cahya menoleh, Wanita yang tak lagi muda itu terkejut saat melihat dokter andalannya mendekat.
"Dokter Alea.. Masha Allah.." Keduanya saling berpelukan seolah melepas rindu karena telah lama tidak bertemu.
"Nyonya apa kabar?" Tanya Oma Alea..
"Alhamdulillah, Kabar saya selalu baik Dok. Dokter sendiri?
"Sama Alhamdulillah, Kabar kami semua baik dan sehat.. Masha Allah.. Nyonya datang sendiri kesini?" Tanya Oma dari Davin itu.
"Iya.. Saya cuma berdua sama supir. Ya sudah ya? Saya mau pulang dulu, Maklum sudah tua.. " Candanya. Oma Alea tertawa..
"Baiklah.. Udah dapat Souvenir?
"Sudah...
"Tunggu sebentar.." Oma Alea memanggil seseorang lalu berbisik. Tak lama seorang wanita muda datang dengan membawa sebuah paperbag ukuran kecil.
"Ini tambahan souvenir dari saya, Semoga suka ya Nyonya.." Oma Alea memberikan paperbag kecil itu pada Nenek Cahya yang langsung di terima dengan baik oleh Nenek dari araka itu.
"Saya terima, Kalau begitu saya permisi ya, Dok.. Assalamualaikum..
"Waalaikum salam, Hati-hati..
"Iya...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nenek Cahya turun dari kendaraan roda empatnya setelah sang supir membukakan pintu. Wanita yang tak lagi muda itu namun masih ada kesan anggun tersebut memerintahkan supirnya untuk membawa barang yang berada di dalam bagasinya.
Nenek Cahya masuk ke dalam rumahnya di ikuti oleh Supir.
"Kau bawa ke dalam, Letakkan saja disana.." Titah Nenek Cahya.
"Baik Nyonya besar.." Sang supir pun membawa sebuah televisi dengan ukuran besar itu ke dalam kamar majikannya.
"Ibu beli tv?" Tanya Bina pada ibu mertuanya. Kebetulan semua sedang berada ruang tamu. Heran saja tiba-tiba wanita tua itu memerintahkan supirnya membawa sebuah tv.
"Enggak.. Ibu gak beli. Itu Tv dapat souvenir dari pernikahan Ella dan suaminya.." Jawab Nenek Cahya seolah tanpa dosa. Araka dan Bina cukup terkejut, Tidak seperti Riski yang hanya geleng-geleng kepala saja.
"Ibu datang ke pernikahan Ella cuma dapat TV doang?" Tanya Bina dengan nada meremehkan. Sebenarnya dalam hati dia juga ingin mendapatkan Tv itu, Jarang-jarang souvenir pernikahan mendapatkan Tv apalagi kalau dari merk nya yang bukan kaleng-kaleng. Dan yang pasti jangan tanya harganya..
"Meski hanya TV, Tapi harganya lebih mahal dari Tv yang ada di rumah ini. Dan kamu lihat ini.." Nenek Cahya menunjukkan sebuah souvenir dari Oma Alea tadi. Sebuah gelang emas berlian yang sangat cantik.
"Ibu juga di kasih gelang. Cantik kan?" Bina membuka bibirnya hendak bicara akan tetapi Nenek Cahya sudah lebih dulu pergi.
Nenek Cahya masuk ke dalam kamarnya dan duduk di sisi ranjang. Matanya tak lepas memandang gelang berlian itu.
"Emang kalo souvenir orang kaya itu lain daripada yang lain.." Nenek Cahya membuka kotak tersebut lalu memakai gelangnya.
"Nek.." Nenek Cahya melirik tajam Araka yang tiba-tiba saja masuk tanpa Permisi. Wanita tua itu memutar bola matanya malas.
"Mau apa kamu kesini?
"Nenek datang ke pernikahan Ella?" Bukannya menjawab, Araka justru kembali bertanya.
"Iyalah.. Orang Nenek di undang." Jawab Nenek Cahya ketus. Araka duduk di sebelah sang Nenek yang masih sibuk dengan gelangnya itu.
"Nek, Nenek tahu kalau Ella keluar dari perusahaan, Tagu kalau dia ngundurin diri..
"Ya, Terus kenapa??
" Masalahnya kenapa Nenek kasih izin?" Nenek Cahya menghela nafas panjang menatap cucunya.
"Ya iyalah di kasih izin.. Sebelum resign kan Ella bilang dulu ke Nenek. Lagian sekarang Ella itu udah nikah sama pria kaya. Udah jadi Nyonya besar konglomerat. Iya kali masih kerja sama manusia jadian-jadian kayak kamu" Araka mendadak kesal mendengar ucapan Neneknya.
"Nenek kenapa sih? Nenek itu kayak dendam banget ke Araka.." Nenek Cahya menatap judes cucunya itu.
"Nenek itu emang dendam ke kamu.. Bukan karena kamu batal nikah sama Ella tapi karena kamu itu bodoh.. Tahu gitu dulu mending kamu gak usah sekolah deh..
"Kok gitu Nek...
"Iya, Gak sekolah akan jadi orang bo-doh. Kamu, Sekolah tinggi-tinggi sampai keluar negeri tambah jadi orang bo-doh.. Gampang di tipu sama cewek gampangan. Bukannya tambah pinter malah tambah dungu tuh otak..." Araka mengatupkan bibir dan tak mampu menjawab ucapan Neneknya. Kalau sudah begini dia mending diam saja daripada ngerembet kemana-mana.
•
•
•
TBC