NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8 Janji yang tak terucap

Semburat cahaya matahari pagi disambut Aluna dengan senyum lebar. Ia bangun lebih awal dari biasanya, seolah seluruh energi positif di dunia sedang berpihak padanya. Dengan gerakan gesit, ia bersiap-siap, tak lupa memastikan kotak kecil berisi gelang couple itu sudah tersimpan aman di dalam tasnya.

"Haduh, aku gak sabar banget buat kasih gelang ini ke Bara!" ucapnya penuh semangat sambil menatap pantulan dirinya di cermin yang tampak jauh lebih ceria.

Namun, semangat yang meluap itu mendadak luluh lantak, saat Aluna menginjakkan kaki di kelas. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, namun bangku di sebelahnya masih tetap kosong, sedingin kemarin. Aluna berdiri gelisah di depan pintu, matanya terus berpindah-pindah ke arah gerbang sekolah melalui jendela.

"Aluna, kamu cari siapa?" tanya Brian heran melihat kegelisahan Aluna.

"Eh, Brian... ini lho, Bara dari kemarin kok belum masuk sekolah ya? Kira-kira dia ke mana ya?" tanya Aluna cepat, suaranya tak bisa menyembunyikan rasa khawatir.

"Oh, Bara? Katanya sih dia lagi demam, Lun. Jadi dia gak berangkat sekolah. Ini dia kirim surat izin," jawab Brian sambil menunjukkan sepucuk surat yang baru saja ia terima.

Jantung Aluna seolah berhenti berdetak sesaat. "Apa? Jadi Bara sakit, Brian?"

"Iya, emang kenapa?" Brian mengerutkan kening, merasa heran dengan reaksi Aluna yang tampak sangat syok.

"Nggak... nggak papa kok," sahut Aluna lirih, mencoba mengalihkan pandangannya agar Brian tidak melihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

Aluna duduk di kursinya dengan tubuh yang terasa lemas. Semangatnya yang tadi pagi meluap kini menguap tak berbekas. Rasa bersalah mulai menggerogoti hatinya.

Bayangan malam itu kembali berputar. Andai saja malam itu dia tidak menuruti egonya, andai saja dia membiarkan Bara masuk sebentar untuk berteduh, mungkin saat ini Bara sedang duduk di sampingnya.

"Ini semua gara-gara aku," batin Aluna perih.

Di dalam tasnya, kotak gelang itu terasa begitu berat. Janji untuk memberikan kado itu hari ini pupus, menjadi janji yang tak terucap. Aluna menunduk dalam, memegangi dadanya yang sesak.

*******

Begitu bel sekolah berbunyi, Aluna berlari seolah sedang mengejar nyawanya sendiri. Ia tidak peduli pada Brian yang memangil

namanya, tidak peduli pada peluh yang mulai membasahi dahinya. Di dalam tasnya, kotak gelang itu terguncang-guncang, seolah ikut berdegup kencang bersama jantungnya yang penuh harapan.

Namun, harapan itu mati seketika saat ia tiba di depan rumah Bara.

Pagar besi itu terkunci rapat dengan gembok besar. Keheningan yang menyambutnya terasa begitu mencekam.

"Bara! Bara! Ini aku Aluna, Bara...!" Aluna menggedor pagar besi itu hingga tangannya memerah.

"Bara, kamu di dalam, kan? Tolong jangan marah lagi, aku bawa sesuatu buat kamu!"

Ia berteriak sampai suaranya serak, tapi hanya deru angin yang menjawab. Aluna merosot, berjongkok di depan pagar. Di genggamannya, ia meremas kotak gelang itu. "Bar, jangan kayak gini... aku takut," bisiknya lirih, air matanya mulai jatuh satu per satu ke atas aspal.

Saat Aluna hampir putus asa dan hendak melangkah pergi meninggalkan rumah itu, seorang wanita paruh baya dengan tentengan belanjaan dari pasar datang menghampirinya. Beliau adalah asisten rumah tangga di rumah Bara.

"Eh, maaf Dek, Adek cari siapa?" tanyanya dengan suara bergetar.

Aluna berdiri dengan cepat, matanya yang sembab menatap penuh harap. "Bu, saya cari Bara. Baranya di mana? Kenapa rumahnya dikunci?"

Wanita itu menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca. "Oh, Gusti... Den Bara, Dek. Tadi pagi kondisinya kritis. Badannya panas sampai dia kejang-kejang dan nggak sadar. Tuan sama Nyonya langsung bawa ke rumah sakit, dan sampai sekarang belum kasih kabar."

Dunia Aluna seolah runtuh saat itu juga. Lututnya terasa lemas sampai ia harus berpegangan pada pagar besi yang dingin.

"Rumah sakit mana, Bu? Kasih tahu saya!" Aluna memohon, suaranya pecah menjadi isakan.

Wanita itu menggeleng lemah. "Saya kurang tahu ya Dek, soalnya Nyonya belum kasih kabar lagi ke saya."

Aluna terdiam. Seluruh tubuhnya mendadak terasa lemas. Penyesalan yang ia bawa sejak pagi kini berubah menjadi beban yang sangat berat.Ia teringat hujan deras semalam. Ia teringat wajah Bara yang memucat saat ia usir.

"Ini salah aku..." tangis Aluna pecah di depan rumah Bara. "Dia sakit karena aku..."

"Sabar ya, Dek. Oiya ibu lupa, Adek ini siapa?"

"Saya Aluna, Bu," jawab Aluna dengan suara yang nyaris hilang. "Saya orang paling jahat yang sudah bikin Bara kayak gini."

"Nak Aluna, ayo bangun. Jangan menangis di sini. Kita doakan saja semoga Den Bara baik-baik saja ya," ucap asisten rumah tangga itu dengan suara keibuan. Beliau mengelus pundak Aluna yang masih bergetar hebat. "Ayo, Ibu antar masuk dulu. Ibu bikinkan kamu teh hangat supaya kamu tenang ya?"

Aluna menurut saja. Tubuhnya terasa mati rasa, seolah kakinya hanya bergerak mengikuti tarikan tangan wanita itu. Ia melangkah masuk ke dalam rumah yang kini terasa begitu sunyi dan hampa.

"Nah, kamu tunggu di sini dulu ya, Luna. Ibu mau ke dapur buat teh," ujar beliau lembut setelah mempersilakan Aluna duduk di ruang tamu yang dingin.

"Iya, Bu," sahut Aluna nyaris berbisik.

Saat duduk sendirian di ruang tamu, mata Aluna yang sembab tak sengaja menangkap sebuah pintu yang sedikit terbuka di ujung lorong. Aluna bangkit dan berdiri. Ia melangkah ragu, namun hatinya menuntunnya untuk masuk.

Begitu pintu terbuka lebih lebar, napas Aluna seolah terhenti.

Di sana, di dalam ruangan yang beraroma parfum khas Bara yang lembut, Aluna melihat pemandangan yang tak pernah ia bayangkan. Dinding kamar itu tidak dipenuhi poster band atau pemain bola, melainkan foto-foto dirinya.

Disana ada foto Aluna, yang sedang tertawa saat makan es krim, foto Aluna yang sedang merengut karena kesal, bahkan foto Aluna yang diambil dari jauh saat ia sedang membaca buku di perpustakaan. Semuanya tertata rapi, seolah setiap sudut kamar ini adalah saksi bisu betapa Bara sangat mengagumi Aluna, dalam diam.

Aluna melangkah mendekati meja belajar Bara. Di sana, di bawah lampu meja, terdapat sebuah foto mereka berdua saat SMP. Di balik bingkai foto itu, ada coretan tangan Bara yang sangat tipis:

aku cuma bisa jaga kamu dari jauh, karena aku takut kalau terlalu dekat, aku malah bikin kamu sedih. Ternyata, aku memang gagal,ya Luna.

Tangis Aluna yang tadi sempat reda, kini pecah kembali. Ia menutup mulutnya dengan tangan, berusaha meredam isak tangis yang sangat menyakitkan. Gelang couple di dalam tasnya seolah ikut bergetar.

"Kamu bohong, Bara... Kamu nggak gagal jaga aku," isak Aluna di tengah kamar yang sunyi itu. "Aku yang gagal jadi teman kamu. Aku yang bikin kamu sakit..."

Bersambung......

Jangan lupa like dan vote ya kakak ♥️ 🙏 Terimakasih semoga rezekinya lancar dan sehat selalu amin 🤲 🤲 🙏 😁 😁

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!