NovelToon NovelToon
PENYESALAN SANG PENGUASA

PENYESALAN SANG PENGUASA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Romansa / Kaya Raya
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Sinopsis: Penyesalan Sang Penguasa

Aku terbangun di masa mudaku yang miskin tepat setelah Seeula pergi selamanya dalam penyesalan. Berbekal memori masa depan, aku bertekad membangun kembali kekaisaran bisnisku dari titik nol. Bukan sekadar harta, tujuanku adalah menjadi pria paling layak untuk melindungi istri yang dulu kusia-siakan. Sebelum menjemput cintaku, aku harus memenangkan perang bisnis yang kejam dan menghancurkan para musuh lama. Perjalanan penebusan dosaku dimulai sekarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Ancaman Kosong dan Kartu As di Balik Lengan

Mengancam singa dengan sepotong daging adalah kesalahan besar, tapi mengancamku dengan keselamatan Seeula adalah tindakan bunuh diri yang paling bodoh. Aku menatap layar ponselku dengan senyum yang lebih mirip seringai predator. Adrian pikir dia baru saja memenangkan posisi tawar, padahal dia baru saja menyerahkan leher keluarganya ke atas talenan yang sudah kupersiapkan.

Kalian mungkin berpikir aku akan panik, tapi di duniaku yang sekarang, rasa takut adalah barang mewah yang tidak mampu kubeli. Aku justru merasa sangat bersemangat.

Pukul sepuluh pagi tepat, aku berdiri di depan gedung Bank Artha Kencana yang menjulang tinggi. Aku tidak datang dengan pakaian lusuh seperti kemarin. Aku mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang pas di tubuh, memberikan kesan sebagai pria yang mampu membeli separuh saham gedung ini jika aku sedang suasana hati yang baik. Petugas keamanan di lobi bahkan tidak berani bertanya siapa aku; mereka hanya membukakan pintu dengan punggung yang membungkuk dalam.

"Tuan Yansya, Direktur Utama sudah menunggu Anda di lantai paling atas," sapa seorang sekretaris cantik yang tampak sangat kaku karena aura dominanku yang memenuhi ruangan.

Aku hanya mengangguk tanpa membalas sapaannya. Aku berjalan menuju lift khusus direksi dengan langkah yang mantap. Saat pintu lift terbuka di lantai tertinggi, aku langsung disambut oleh pemandangan Adrian yang sedang berdiri di samping meja ayahnya dengan tangan terlipat di dada. Dia tampak sangat bangga, seolah baru saja memenangkan lotre triliunan rupiah.

"Kau datang tepat waktu, Yansya. Aku pikir kau akan lari ke luar negeri setelah menerima pesanku semalam," cetus Adrian dengan nada bicara yang sangat meremehkan.

Aku mengabaikan keberadaan Adrian sepenuhnya. Mataku langsung tertuju pada pria tua yang duduk di kursi kebesarannya. Itu adalah Pak Hermawan, pria yang di masa depan akan menangis di depan kamera televisi karena skandal pencucian uang senilai ratusan triliun rupiah. Saat ini, dia masih terlihat sangat gagah dengan kacamata berlapis emas dan jam tangan yang harganya bisa membiayai ribuan panti asuhan.

"Silakan duduk, anak muda. Aku sudah mendengar banyak tentang caramu 'bermain' di pasar saham," ujar Pak Hermawan dengan suara yang berat namun penuh dengan tekanan.

Aku menarik kursi di depan mejanya tanpa menunggu dipersilakan. Aku menyandarkan punggungku, menunjukkan bahwa aku sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh jabatan atau kekayaan yang dia miliki.

"Waktu saya sangat mahal, Pak Hermawan. Jadi, mari kita lewati bagian basa-basi ini dan langsung ke intinya. Kenapa Anda menyuruh kurir bodoh ini untuk mengancam saya?" tanyaku sambil melirik Adrian dengan tatapan yang sangat menghina.

Adrian tampak ingin meledak, wajahnya memerah karena amarah yang tertahan. Dia baru saja akan memaki, namun ayahnya mengangkat tangan untuk menghentikannya.

"Kau sangat percaya diri, Yansya. Tapi kepercayaan diri tanpa kekuatan adalah kehancuran. Aku ingin kau menyerahkan tiga puluh persen saham Widowati Group yang kau miliki kepada bank kami sebagai jaminan atas 'keamanan' bisnismu ke depan," pinta Pak Hermawan dengan nada bicara yang seolah memberikan tawaran yang murah hati.

Aku tertawa pendek, sebuah suara yang terdengar sangat merdu di tengah keheningan ruang kantor tersebut. Mereka ingin merampokku di siang bolong dengan kedok perlindungan. Strategi perbankan yang sangat klasik dan sangat membosankan bagi seseorang yang sudah melihat keruntuhan ekonomi dunia.

"Jaminan keamanan? Dari siapa? Dari Anda?" timpalku dengan senyuman yang sangat provokatif.

Pak Hermawan memajukan tubuhnya, menatapku dengan mata yang menyipit. "Jangan bermain-main denganku. Aku bisa membekukan semua rekeningmu dan melaporkanmu atas dugaan manipulasi pasar dalam satu detik."

Aku tidak membalas ancamannya dengan gertakan balik. Aku justru mengeluarkan sebuah tablet dari tas kerjaku dan menggesernya ke arah Pak Hermawan. Di layar tersebut, terpampang barisan kode enkripsi dan data transaksi yang seharusnya terkubur sangat dalam di server rahasia mereka.

"Lihatlah folder 'Project X' di baris ketiga. Itu adalah data pengiriman uang ke rekening luar negeri yang tidak terdaftar di laporan pajak tahunan Anda. Jika saya menekan satu tombol saja di ponsel saya, data ini akan mendarat di meja Direktur Jenderal Pajak dan Komisi Pemberantasan Korupsi dalam waktu kurang dari satu menit," jelasku dengan nada suara yang sangat tenang, seolah sedang membicarakan cuaca.

Wajah Pak Hermawan yang semula tenang mendadak berubah menjadi sepucat kertas yang baru keluar dari mesin cetak. Tangannya yang memegang tablet itu mulai bergetar hebat. Dia menatap layar itu dengan mata yang hampir melompat keluar, sementara Adrian hanya berdiri kebingungan karena tidak mengerti apa yang sedang terjadi.

"Bagaimana... bagaimana kau bisa mendapatkan ini?!" bisik Pak Hermawan dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

"Sudah saya katakan pada putra Anda semalam, sistem keamanan bank Anda memiliki celah yang sangat lebar. Kalian terlalu sibuk mengejar keuntungan sampai lupa bahwa di duniaku, informasi adalah segalanya," jawabku sambil mengambil kembali tablet tersebut dengan gerakan yang sangat luwes.

Aku berdiri dari kursi, merapikan kancing jasku dengan sangat perlahan. Aku bisa merasakan kemenangan yang sangat manis merayap di dadaku. Pria yang tadi merasa sebagai penguasa kini tampak seperti kakek tua yang kehilangan arah.

"Sekarang, saya punya penawaran baru. Bank Artha Kencana akan memberikan fasilitas kredit tanpa bunga sebesar lima ratus miliar rupiah untuk perusahaan baru yang akan saya bangun. Dan sebagai tambahan, saya ingin Anda memastikan Madam Widowati kehilangan dukungan finansial dari bank mana pun di negeri ini," tuntutku dengan suara yang penuh dengan otoritas yang tidak bisa dibantah.

Pak Hermawan hanya bisa mengangguk pelan, seolah nyawanya baru saja ditarik keluar dari tubuhnya. Dia tahu bahwa satu langkah salah darinya akan menghancurkan dinasti keluarganya selamanya. Adrian yang menyadari ayahnya telah kalah telak, hanya bisa menundukkan kepala dengan wajah yang penuh dengan kehinaan.

Aku melangkah keluar dari ruangan itu tanpa mengucapkan kata perpisahan. Saat aku masuk ke dalam lift, aku menarik napas panjang. Satu musuh besar berhasil kubungkam, dan jalan menuju pembersihan Widowati Group kini terbuka lebar. Namun, pikiranku kembali tertuju pada Seeula. Aku harus menemuinya sebelum ibunya melakukan gerakan nekat untuk menjauhkannya dariku.

Saat aku sampai di lobi gedung, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Rian masuk dengan sangat cepat.

"Yansya, gawat! Madam Widowati baru saja mengumumkan pertunangan paksa Seeula dengan seorang anak pengusaha dari luar negeri hari ini!"

Rahangku mengeras. Ternyata wanita tua itu lebih licik dari yang kuduga. Dia lebih memilih menjual putrinya daripada kehilangan perusahaannya. Aku mempercepat langkahku menuju mobil, mataku berkilat dengan api amarah yang siap menghanguskan siapa pun yang berani menyentuh milikku.

"Kau benar-benar ingin bermain api denganku, Madam? Baiklah, akan kutunjukkan bagaimana rasanya kehilangan segalanya dalam satu hari," janjiku sambil menginjak pedal gas dengan kecepatan penuh.

1
ZasNov
Semangat Yansya, kalahkan mereka semua.. 💪😎
ZasNov
Semoga kali ini Yansya bisa benar2 melindungi Seeula..
ZasNov
Ga bisa nolak tuh kalau udah diancam begitu..
ZasNov
Madam Widowati udah kayak dijatuhkan dari gedung tinggi.. 🤭
ZasNov
Wah keren Yansya, dia datang menyerang dengan senjata rahasia yang tidak terduga.. 😂👍
ZasNov
Madam Widowati salah target ternyata 😂
ZasNov
Ayo tunjukan siapa dirimu Yansya, beri Madam Widowati pelajaran & selamatkan Seeula..
ZasNov
Nah lho, keadaan beneran berbalik. Bukan Pak Hermawan & Adrian lagi yang mengancam Yansya, sekarang Yansya yang menekan Pak Hermawan.. 😎👍
ZasNov
Ga nyangka banget kan Pak Hermawan, kalau Yansya punya kartu As yang bisa membalikan keadaan.. 😆
ZasNov
Mantap Yansya.. bisa tetap tenang, malah makin bersemangat menunjukkan taringnya.. 😎👍
Pipit Jambu
iya
ZasNov
Tuh kan, mulai banyak orang memanfaatkan nama Seeula untuk menekan Yansya.. 😖
ZasNov
Aduh, bagusnya Seeula sllu dalam perlindungan Yansya. Karena Darwin udah tau kelemahan Yansya itu Seeula..
ZasNov
Nyesel kan.. Udah telat. Kalau dikasih kesempatan kedua, jangan disia2in lagi ya
ZasNov
Selain penasaran sama rencana Yansya selanjutnya, kepo juga sama cara dia deketin Seeula.. 😄
ZasNov
Tanpa basa-basi langsung ditolak.. 😆👍
ZasNov
Hadeuh, Yansya.. Kamu bisa sukses juga berkat doa & usaha istrimu juga. Giliran ga diurusin, kamu juga bakalan berantakan..
Seeula
dari rawrrr ke aongg aonggg aongg🤣
Seeula
tamu2 tak diundang 😏
Seeula
gak gak ini mh kaya preman minta2 uang buncit gini mh😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!