NovelToon NovelToon
JANJI CINTA SELAMANYA

JANJI CINTA SELAMANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Teen Angst / Romansa / Slice of Life / Konflik etika
Popularitas:699
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Vanya adalah putri kesayangan Hendra, seorang pria kaya yang memuja status sosial dan kasta di atas segalanya. Hidup Vanya terjepit dalam aturan emas ayahnya yang kaku, hingga sebuah tabrakan di pasar mengubah dunianya selamanya.

Arlan adalah pemuda liar, mandiri, dan hanya berbakti pada ibunya, Sujati. Sebagai seorang peternak dan penjual susu, Arlan dianggap "sampah" oleh Hendra. Namun, Arlan tidak pernah menundukkan kepala. Ia justru menantang dunia Vanya yang palsu dengan kejujuran dan cinta yang membara.

Saat cinta mulai tumbuh di antara perbedaan kasta, Hendra menyiapkan rencana keji untuk memisahkan mereka. Perpisahan tragis, pengorbanan nyawa, hingga munculnya Rayhan, seorang tentara gagah yang menjadi bagian dari cinta segitiga yang menyakitkan, akan menguji janji mereka.

Ini bukan sekadar cerita cinta biasa. Ini adalah tentang janji yang ditulis dengan air mata. Apakah Arlan dan Vanya bisa memenuhi Janji Cinta Selamanya mereka di tengah badai kasta dan rahasia masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: PENGKHIANATAN DI LORONG SUNYI

BAB 11: PENGKHIANATAN DI LORONG SUNYI

Malam di rumah sakit pusat Simla terasa semakin dingin. Suara detak jam di dinding lorong rumah sakit seolah beradu dengan detak jantung Vanya yang tak menentu. Di hadapannya, Arlan sedang menyantap makanan yang dibawakan Vanya dengan lahap, namun tetap terlihat waspada. Ini adalah momen kedamaian yang sangat rapuh, sebuah oase di tengah padang pasir penderitaan yang mereka lalui beberapa hari terakhir.

"Pelan-pelan, Arlan," bisik Vanya sambil mengusap peluh di kening Arlan. "Kau tampak seperti orang yang tidak makan selama berhari-hari."

Arlan berhenti sejenak, menelan rotinya, lalu menatap Vanya dengan tatapan yang dalam. "Bekerja di pasar induk membuatku menyadari bahwa tenaga manusia itu ada batasnya, Vanya. Tapi memikirkanmu... itu adalah satu-satunya hal yang membuat batas itu hilang."

Vanya tersenyum kecil, namun matanya tetap menyiratkan kekhawatiran yang mendalam. "Ayah sudah mulai merencanakan pembangunan hotel di tanahmu. Dia ingin menghapus segala hal tentangmu dari kota ini. Aku takut, Arlan. Aku takut jika suatu saat nanti, aku bangun dan kau benar-benar tidak ada lagi di sini."

Arlan memegang tangan Vanya, jari-jarinya yang kasar bersentuhan dengan kulit Vanya yang halus. "Selama pegunungan Simla masih berdiri, aku tidak akan pergi. Ayahmu bisa mengambil tanahku, tapi dia tidak bisa mengambil langit yang kita tatap bersama."

Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Di ujung lorong yang remang-remang, suara langkah sepatu bot yang berat mulai terdengar. Suara itu bergema, memecah kesunyian rumah sakit. Arlan seketika berdiri, instingnya sebagai pria yang terbiasa hidup keras langsung menyala. Ia menarik Vanya ke belakang tubuhnya.

"Ada yang datang," desis Arlan.

Pintu ganda di ujung koridor terbuka dengan kasar. Gani muncul dengan wajah penuh kebencian, diikuti oleh empat orang pria berbadan tegap yang mengenakan seragam safari hitam—para tukang pukul kepercayaan Hendra. Di tangan Gani, sebuah ponsel digenggam erat, memperlihatkan foto Vanya dan Arlan yang baru saja diambil oleh informan mereka beberapa menit lalu.

"Bagus sekali!" Gani berteriak, suaranya menggelegar membuat beberapa perawat keluar dari ruangan dengan wajah ketakutan. "Nona besar keluarga Kashyap, sedang duduk di lantai kotor rumah sakit bersama seekor tikus pengantar susu! Benar-benar pemandangan yang menjijikkan!"

"Gani! Apa yang kau lakukan di sini?" Vanya maju selangkah, mencoba menghadang kakaknya. "Ini rumah sakit! Ibu Sujati sedang kritis di dalam!"

Gani tertawa mengejek, langkahnya semakin mendekat. "Aku di sini untuk menjemputmu, Adikku tersayang. Dan untuk memberi pelajaran terakhir pada temanmu ini sebelum dia benar-benar membusuk di jalanan Simla."

"Pergi dari sini, Gani," ucap Arlan dengan nada rendah namun penuh ancaman. "Jangan buat keributan di depan ruang ICU. Hormatilah orang yang sedang berjuang nyawa di dalam."

"Hormat?" Gani meludah ke lantai. "Keluarga kami tidak punya rasa hormat pada sampah sepertimu. Seret dia keluar!" perintah Gani pada anak buahnya.

Perkelahian tidak terelakkan. Dua orang pria bertubuh besar menerjang Arlan. Meskipun tubuh Arlan lelah dan punggungnya masih penuh luka, ia tidak menyerah begitu saja. Ia menghalau pukulan pertama dengan lengannya, lalu membalas dengan hantaman keras ke ulu hati lawan. Namun, Arlan kalah jumlah.

Vanya menjerit, mencoba menahan tangan Gani. "Hentikan! Aku mohon, Gani! Aku akan ikut pulang, tapi jangan sakiti dia!"

Gani mencengkeram lengan Vanya dengan kasar, menariknya hingga Vanya terjatuh. "Kau akan pulang, tapi setelah kau melihat bagaimana kami menghancurkan mainan kesayanganmu ini!"

Salah satu pengawal memukul punggung Arlan dengan tongkat besi tepat di bekas luka cambukannya. Arlan tersungkur ke lantai, mengerang kesakitan. Darah mulai merembes kembali dari kemeja kotornya.

"Arlaaaan!" Vanya meronta, namun Gani memeganginya dengan sangat kuat.

Arlan mencoba bangkit, tangannya gemetar meraih kaki meja untuk tumpuan. Matanya menatap Gani dengan api yang membara. "Kau bisa memukulku seribu kali, Gani... tapi kau tidak akan pernah bisa membuatku melepaskan Vanya. Kalian hanya pengecut yang bersembunyi di balik uang ayah kalian!"

Gani semakin murka. Ia mengambil tongkat dari anak buahnya dan bersiap menghantam kepala Arlan. Namun, tepat saat tongkat itu melayang, pintu ruang ICU terbuka. Seorang dokter senior keluar dengan wajah tegang.

"BERHENTI! APA YANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!" teriak sang dokter. "Ini rumah sakit, bukan tempat sampah untuk ego kalian! Keamanan! Panggil keamanan sekarang!"

Gani terhenti sejenak. Ia melihat sekeliling, beberapa pasien dan suster mulai merekam kejadian itu dengan ponsel mereka. Gani sadar, jika video ini tersebar di Simla, reputasi Hendra yang sedang membangun hotel mewah bisa terancam.

"Sialan," gerutu Gani. Ia menoleh ke arah Arlan yang masih tergeletak di lantai dengan napas memburu. "Hari ini kau selamat karena tempat ini. Tapi besok, kau tidak akan punya tempat sembunyi lagi."

Gani menarik Vanya dengan paksa. "Ayo! Ayah sudah menunggumu. Dan kau..." Gani menunjuk Arlan, "Jika kau berani mendekati adikku lagi, aku akan memastikan mesin napas ibumu di dalam sana berhenti berdetak."

Vanya diseret paksa menyusuri lorong. Ia terus menoleh ke belakang, menatap Arlan yang sedang berusaha duduk dengan sisa kekuatannya. Mata mereka bertemu untuk terakhir kalinya malam itu. Vanya memberikan isyarat dengan bibirnya: "Maafkan aku."

Arlan hanya bisa menatap bayangan Vanya yang menghilang di balik pintu lift. Ia mengepalkan tangannya ke lantai rumah sakit hingga buku jarinya berdarah. Rasa sakit di punggungnya tidak sebanding dengan rasa sakit di hatinya karena melihat Vanya diperlakukan seperti barang.

Setelah lorong sepi, Arlan merangkak menuju kursi tunggu. Ia terengah-engah, mencoba mengatur napasnya. Dokter yang tadi membubarkan keributan mendekatinya dengan iba.

"Nak, kau perlu diobati. Lukamu terbuka lagi," ucap sang dokter sambil menyentuh bahu Arlan.

"Tidak apa-apa, Dok," jawab Arlan parau. "Bagaimana keadaan ibu saya? Apakah keributan tadi mengganggunya?"

Dokter itu menghela napas. "Beruntung tidak. Tapi kau harus tahu, biaya perawatan ibumu akan semakin membengkak karena komplikasi pendarahan. Kau harus menyiapkan dana tambahan jika ingin dia tetap dirawat di sini."

Arlan terdiam. Tantangan demi tantangan terus menghantamnya. Ia menatap jeriken susu kosong yang dibawanya tadi, lalu menatap tangannya yang penuh lecet akibat bekerja di pasar.

Malam itu, di kediaman Kashyap, Hendra berdiri di depan Vanya yang baru saja sampai. Tanpa bicara sepatah kata pun, Hendra mengambil kunci dan mengunci Vanya di dalam kamar yang semua jendela-jendelanya kini dipasangi terali besi tambahan.

"Kau sudah memilih jalanmu, Vanya," ucap Hendra dari balik pintu. "Mulai besok, kau akan mulai mempersiapkan pertunanganmu dengan Rayhan. Tidak ada lagi keluar rumah, tidak ada lagi selendang pelayan, dan tidak ada lagi Arlan. Anggap saja dia sudah mati."

Vanya berteriak, memukul-mukul pintu hingga tangannya memar, namun Hendra tetap melangkah pergi dengan dingin.

Di sisi lain Simla, di bawah lampu jalan yang remang di depan rumah sakit, Arlan berdiri menatap langit. Ia tidak menangis. Pria yang dulunya ceria itu kini telah hilang. Yang ada hanyalah seorang pejuang yang sedang mengasah pedangnya di tengah kegelapan.

"Kau ingin bermain dengan nyawa, Tuan Hendra?" gumam Arlan pelan. "Maka aku akan memberikanmu sebuah permainan yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidupmu."

Arlan berjalan kembali menuju pasar induk. Ia tidak akan tidur. Ia akan bekerja dua kali lebih keras. Ia akan mengumpulkan setiap koin di Simla untuk menghancurkan orang yang menganggap uang adalah Tuhan.

1
falea sezi
mending bawa pergi jauh deh arlan
falea sezi
ksian bgt arlan knp semua novel mu isinya sedih teros kapan bahagia nya q baca semua nya tp isinya menderita trs jd g mood baca pdhl mau ksih hadiah jd males
falea sezi
menyimakkk
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!