Empat tahun Kevin Haris menjadi suami yang sah. Namun tidak pernah sekalipun mendapat giliran sebagai pria yang dipilih.
Ia menikah demi taruhan, lalu bertahan demi cinta. Sayangnya, istrinya hanya menjadikannya rumah, bukan tujuan. Di balik satu pintu tertutup, Kevin akhirnya paham. Kesetiaan yang terlalu lama ditunggu hanya akan menghabiskan harga diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Kevin menurunkan pandangannya, ada rasa kecewa yang tak bisa ia sembunyikan. Bagaimana tidak, sosok Lidya yang selama ini terbentuk di kepalanya adalah wanita elegan, berkelas, tenang, dan penuh wibawa. Seseorang yang pantas mewarisi harta kakeknya sekaligus dijadikan syarat untuk kembali ke puncak. Namun kenyataan di hadapannya justru bertolak belakang.
Lidya berhenti tepat di depan meja Kevin.
Bukan setelan jas gelap seperti yang ia bayangkan, bukan pula langkah kaku penuh wibawa. Wanita itu mengenakan gaun pendek berwarna krem muda dengan potongan sederhana yang melekat pas di tubuhnya. Rambutnya diikat dua kiri dan kanan, memberi kesan muda yang mencolok.
Wajahnya cantik, terlalu cantik untuk disebut dingin atau berkarisma. Senyumnya santai dan manis, seolah dunia tidak pernah memberinya beban apa pun. Secara keseluruhan, Lidya lebih mirip gadis SMA yang baru lulus daripada wanita yang digadang-gadang sebagai pewaris dan calon istri demi ambisi besar keluarga.
“Kak Kevin?” sapa Lidya ringan, lalu duduk begitu saja di kursi depan meja tanpa sungkan.
Kevin mengerjap pelan. Tatapannya masih menimbang, seolah berharap ini hanya lelucon yang kelewat jauh.
“Kamu Lidya Azzahra?” tanyanya ragu, suaranya datar namun sarat ketidakpercayaan.
Melihat ekspresi Kevin, Lidya spontan menunduk, menilai penampilannya sendiri. Ia paham kenapa pria itu terlihat begitu heran. Sejujurnya, ia baru saja keluar dari sesi pemotretan dadakan. Salah satu model utama berhalangan hadir, sementara ia tidak ingin waktu terbuang percuma.
Keluarga Haris memiliki HK Group, perusahaan perhiasan besar yang setiap tahunnya meluncurkan majalah eksklusif sebagai media promosi. Hari itu, Lidya turun tangan langsung menggantikan artis yang absen, sesuatu yang sudah biasa ia lakukan tanpa banyak berpikir.
Ia tersenyum, hendak membuka mulut untuk menjelaskan. Namun Kevin lebih dulu menyela.
“Maaf,” ucapnya tanpa basa-basi, sorot matanya tajam. “Penampilan kamu seperti anak SMA baru lulus. Kamu yakin akan menikah?”
Senyum Lidya tertahan di bibirnya. Ada kilat kecil di matanya, bukan marah, melainkan geli dan sedikit tertantang. Ia pernah mendengar nama Kevin yang dulu sempat menggemparkan ibu kota. Dan sekarang, pria itu berdiri di hadapannya dengan tatapan yang menilai dari ujung rambut sampai kaki.
“Iya. Emang kenapa?” jawabnya ringan, seolah pertanyaan itu tidak penting.
Kevin menghela napas pendek. Tatapannya kembali turun, sama sekali tidak berusaha menyembunyikan penilaiannya.
“Penampilan kamu tidak sesuai bayanganku.”
Lidya menangkap jelas ketidakpercayaan itu. Usia Kevin memang lima tahun lebih tua darinya yang kini berusia 25 tahun. Sikap serius pria itu justru terasa menarik untuk ia goda.
“Tidak apa-apa kalau nggak sesuai,” katanya santai. “Tapi aku kasih tahu ya, yang muda biasanya lebih menantang.”
Jawaban itu membuat Kevin tersendak air liurnya. Rahangnya mengeras, rasa kesal yang sejak tadi ia tahan kini mulai membara. Kenapa ia harus dipertemukan dengan sosok Lidya yang bahkan dari cara bicara saja sudah terasa merepotkan?
“Lidya,” lanjut Kevin datar, “dengan gaya bicara seperti ini, kamu yakin siap menikah?” ulangnya meyakinkan.
Lidya justru terkekeh. Bukan malu, bukan tersinggung.
“Siap lah,” katanya enteng. “Nikah doang kan, bukan ujian skripsi.”
Kevin menatapnya tajam.
Lidya menyilangkan kaki, sikapnya semakin santai. “Lagipula aku nggak ngerti kenapa kamu ribet. Yang penting aku masih hidup, masih perempuan, dan masih bisa nikah.”
Ucapan itu membuat Kevin benar-benar terdiam.
“Tenang aja,” lanjut Lidya asal, “meski kelihatannya aku kayak anak SMA, soal bikin anak aku yakin bisa.”
Ia mengatakannya tanpa beban, tanpa malu, tanpa sadar betapa kalimat itu terdengar sembrono.
Kevin menahan napas. Di titik itu, satu hal menjadi jelas di kepalanya. Wanita ini jauh dari bayangan yang ia bangun selama ini dan pernikahan ini, jika benar terjadi, tidak akan berjalan seperti yang ia rencanakan.
"Kakek, ini bukan jalan keluar, tapi kamu menambah masalah baru untukku. Apa kamu sengaja membalas dendam," gumam Kevin.
Saat keduanya masih berbincang, dari kejauhan Vano yang berada di restoran yang sama tanpa sengaja menangkap sosok Kevin. Tatapannya menajam sejenak, memastikan apa yang ia lihat bukan kekeliruan.
“Iren, itu bukannya Kevin?” ucapnya pelan namun jelas.
Iren dan Fatwa serempak mengangkat wajah, mengikuti arah pandang Vano. Begitu sosok Kevin terlihat jelas sedang duduk berhadapan dengan seorang wanita muda, rahang Fatwa langsung mengeras.
“Benar,” dengusnya sinis. “Mantu tak berguna itu. Sudah jatuh miskin, sekarang malah duduk manis sama perempuan lain. Apa dia coba selingkuh?”
Wajah Iren seketika memerah. Dadanya naik turun menahan emosi yang langsung menyulut. Tanpa berkata apa pun, ia meletakkan sendok dan garpu dengan kasar lalu berdiri.
"Iren," Vano refleks berdiri dan berjalan di sampingnya. Tangannya terangkat, lalu merangkul bahu Iren dengan gerakan protektif. "Jangan langsung marah. Bisa jadi ini cuma salah paham.”
Iren tidak menyingkirkan tangan Vano. Ia tetap melangkah dengan rahang mengeras, membiarkan Vano di sisinya. Tatapannya lurus ke depan, tertuju pada Kevin.
Fatwa menyusul di belakang mereka, setelau menyuapkan makanan terakhir ke mulutnya.
Begitu sampai di meja Kevin, Iren berdiri tepat di hadapannya. Vano masih merangkul bahunya, posisinya jelas terlihat oleh siapa pun.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Iren dingin.
Kevin mengangkat wajahnya perlahan. Ekspresinya datar, tidak ada rasa terkejut sama sekali.
“Makan,” jawabnya singkat.
Lidya yang duduk berhadapan dengan Kevin sejak tadi memperhatikan. Sekilas saja, cukup untuk menangkap satu hal. Perempuan ini marah, tapi tidak sendirian.
Tatapan Lidya turun ke lengan Vano yang melingkar di bahu Iren, lalu kembali ke wajah Kevin. Senyum tipis terbit di bibirnya, bukan mengejek, melainkan penuh penilaian.
“Makan bareng perempuan lain?” lanjut Iren, suaranya menegang. “Kamu masih suamiku, Kevin.”
“Lalu kenapa?” jawab Kevin tenang, seolah tidak merasa ada yang perlu dipertanggungjawabkan.
Wajah Iren semakin merah. “Kenapa? Ini artinya kamu selingkuh.”
Kevin membuka mulut hendak menjawab, tetapi Vano lebih dulu melangkah maju setengah badan, rangkulannya pada Iren tidak dilepas.
“Kevin, kamu bikin Iren sedih,” ucap Vano dengan nada tertahan tapi jelas. “Kalau kamu sudah tidak sayang, tidak seharusnya balasannya seperti ini.”
Fatwa mendengus kasar. “Dasar pecundang. Berani main belakang tapi pura pura tenang.”
Ucapan itu sontak menarik perhatian pengunjung restoran. Beberapa kepala menoleh, bisik bisik mulai terdengar, tatapan sinis mengarah pada Kevin. Dalam hitungan detik, posisi Kevin berubah dari pria yang duduk tenang menjadi tertuduh di ruang publik.
Kevin menghela napas pelan. Tatapannya menyapu sekeliling, lalu kembali pada Iren, Vano, dan Fatwa. Namun, sorot matanya sempat beralih ke arah Lidya. Ada raut cemas yang tidak bisa ia sembunyikan. Ia khawatir Lidya akan syok menghadapi situasi ini, terlebih dengan sikap wanita itu yang menurutnya masih kekanakan dan terlalu spontan.
“Lagian ini cuma makan,” ucap Kevin akhirnya, nadanya tetap tenang meski rahangnya mengeras. “Apa yang sebenarnya kalian permasalahkan?”
Ia ingin mengakhiri tuduhan itu secepat mungkin sebelum situasi ini benar-benar menyeret Lidya ke dalam kekacauan yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Namun Fatwa jelas tidak berniat melepas Kevin begitu saja.
“Sudah selingkuh, tidak punya malu, sekarang mau menghindar,” hardiknya lantang. “Dasar mantu tidak berguna.”
Amarah lama yang selama ini dipendam Fatwa seolah menemukan panggungnya. Mengingat kejadian di rumah sebelumnya, ia justru melihat ini sebagai kesempatan emas untuk melampiaskan semuanya.
Tanpa peringatan, Fatwa mengangkat tangannya dan mengayunkannya ke arah wajah Kevin. Namun, sebelum tamparan itu mendarat, pergelangan tangan Fatwa ditangkap kuat di udara.
“Kamu!” seru Fatwa terkejut.