di bawah umur di larang membaca.
Rina adalah definisi dari "anak muda zaman now"—ekspresif, jahil, dan sedikit re-og. Baginya, dunia sosial adalah tempat bermain untuk menggoda siapa saja, termasuk seorang pria misterius di aplikasi HelloTalk yang ia panggil dengan sebutan "Mas Arab". Rina mengira ia sedang memegang kendali, sampai akhirnya takdir membawanya bertemu langsung dengan sosok tersebut.
Ternyata, "Mas Arab" adalah Rohman, seorang Ustadz muda yang kaku, alim, namun memiliki tingkat kesabaran setebal kamus bahasa Arab. Pertemuan pertama mereka langsung meledak dengan kekonyolan Rina yang mencoba mengetes iman sang Ustadz.
Namun, Rina salah besar. Di balik sikap tenangnya, Rohman adalah tipe pria "sat-set" yang tidak suka membuang waktu. Saat Rina terus-menerus menguji batasan kesabarannya, Rohman justru membalas dengan sebuah langkah skakmat: Mempercepat akad nikah sore itu juga!
Kini, Rina terjebak dalam status sebagai istri sah. Niat
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Rina seolah tersambar petir di siang bolong. Tubuhnya mendadak kaku, jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat. "Apa?! Jadi pria 'budek' yang gue marahi tadi itu... Ustadz Rohman?!"
Wajah Rina yang tadi sudah merah padam karena mengejar Salsa, kini semakin memanas hingga ke telinga. Ia membayangkan kembali betapa galaknya ia tadi, meneriaki pria itu "budek" dan "orang aneh" tepat di depan mukanya.
"Ganteng sih, tapi sayang budek dan nyebelin! Amit-amit gue punya suami kayak dia!" cerocos Rina dengan volume suara yang tidak sadar meninggi. Ia menyilangkan tangan di dada, mencoba menutupi rasa malunya dengan kekesalan yang dibuat-buat.
Salsa langsung membekap mulut Rina dengan panik. "Rin! Jaga mulut lo! Itu orangnya masih di sana sama Kyai Ibrahim!" bisik Salsa sambil melirik ke arah koridor.
Benar saja, saat Rina memberanikan diri menoleh sedikit, ia mendapati Ustadz Rohman sedang menatap ke arah mereka. Bukan tatapan marah, melainkan tatapan teduh dengan sudut bibir yang sedikit terangkat—pria itu jelas-jelas mendengar teriakan "amit-amit" dari Rina barusan.
"Mampus gue, Sal! Ayo cabut!" Rina menarik tangan Salsa sekuat tenaga, hampir menyeret sahabatnya itu keluar dari area masjid.
Sepanjang jalan pulang, napas Rina masih memburu. Pikirannya kacau. "Gila ya, kenapa dunia sempit banget sih? Kenapa harus dia? Kenapa dia nggak pakai sorban kumal atau baju yang nggak pas gitu biar gue gampang nolak? Kenapa dia harus setinggi dan sekeren itu?" batin Rina merutuk.
Sesampainya di depan rumah, Rina melihat motor Imron sudah terparkir rapi. Ia masuk dengan tergesa-gesa, bermaksud langsung mengurung diri di kamar. Namun, langkahnya terhenti di ruang tengah.
"Eh, baru pulang Dek?" tanya Imron yang sedang asyik ngopi. "Gimana? Sudah ketemu sama 'kunci' masa depan?" goda Imron sambil menaik-turunkan alisnya.
"Cak! Jangan mulai deh! Pokoknya Adek nggak mau nikah sama pria Jawa Tengah itu!" seru Rina ketus.
Bunda keluar dari dapur membawa piring berisi gorengan. "Lho, kok gitu? Padahal tadi Bunda lihat dari jauh kalian sudah 'kenalan' di masjid. Katanya Ustadz Rohman tadi sempat cerita kalau ada gadis kecil yang baik hati mengembalikan kuncinya, meskipun sedikit... galak."
Rina hampir saja terjungkal. "Bunda! Dia ngadu?! Tuh kan, bener kata Adek, dia itu cowok tukang ngadu! Nggak gentle!"
"Siapa yang nggak gentle, Dek?" sebuah suara bariton yang sudah sangat dikenal Rina sejak kejadian di masjid tadi terdengar dari arah teras.
Rina mematung. Pelan-pelan ia membalikkan badan. Di sana, berdiri Ustadz Rohman bersama Ayah, baru saja masuk ke rumah. Pria itu tampak jauh lebih tinggi di bawah naungan atap rumah Rina.
"Assalamu'alaikum, Rina," ucap Rohman tenang, matanya menatap tepat ke manik mata Rina yang sedang melotot tak percaya.
"Wa'alaikum salam, ngapain lo ke sini hah!!" ucap Rina ketus, matanya menyipit penuh permusuhan.
Ayah yang berdiri di samping Rohman langsung terbelalak. "Rina! Jaga lisanmu, Nak! Tamu itu harus dimuliakan, apalagi ini Nak Rohman jauh-jauh datang."
"Dek, sopan dikit," bisik Imron sambil menyenggol lengan adiknya, mencoba mengingatkan bahwa ada Ayah yang harga dirinya sedang dipertaruhkan di depan tamu.
Rina bukannya luluh, malah semakin meradang. "Cacak kenapa coba belain dia, hah?!" ucap Rina galak. Tanpa peringatan, ia mengangkat kaki dan—PLAK!—menginjak kaki Imron sekuat tenaga dengan sandal rumahnya yang empuk tapi bertenaga.
"Aduhh! Sakit, Dek!" Imron meringis, langsung memegangi kakinya yang baru saja menjadi korban kaki mungil namun mematikan milik adiknya. Ia berjingkat-jingkat menahan perih.
"Mampusss! Suruh siapa udah nggak sayang sama Adek, itu karmanya! Ayok Salsa, ikut aku ke kamar, aku ngantuk ini!" seru Rina tanpa memedulikan tatapan shock Ayah dan Bunda. Ia menarik paksa tangan Salsa yang sedari tadi hanya bisa menunduk malu karena kelakuan ajaib sahabatnya itu.
Saat Rina melewati Rohman di ambang pintu menuju ruang dalam, langkahnya sedikit terhenti karena bayangan tinggi pria itu menutupi jalannya. Rina mendongak sebentar, memberikan death glare paling tajam yang ia punya.
Rohman, bukannya tersinggung atau marah, justru tetap tenang dengan kedua tangan tertaut di depan. "Selamat istirahat, Rina. Semoga mimpinya tidak tentang kunci mobil lagi," ucap Rohman sangat pelan, hanya cukup didengar oleh Rina.
Suara bariton itu terdengar seperti ejekan halus di telinga Rina. Ia mendengus kasar, "Dih, pede banget!" lalu berlari masuk ke kamar dan membanting pintu. BRAKK!
Di ruang tamu, suasana mendadak hening. Salsa yang tertinggal di depan pintu kamar hanya bisa nyengir kuda ke arah Ayah dan tamu agungnya. "Maaf Om, Ustadz... Rina mungkin lagi... PMS," ucap Salsa asal sebelum akhirnya menyelinap masuk ke kamar Rina.
Ayah menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan telapak tangan. "Nak Rohman, maafkan putri bungsu saya. Dia memang keras kepala kalau kemauannya tidak dituruti. Harap maklum, dia terlalu lama sekolah sampai lupa tata krama Madura-nya."
Rohman tersenyum tipis, sebuah senyuman yang sulit diartikan. Ia menoleh ke arah pintu kamar Rina yang tertutup rapat. "Tidak apa-apa, Pak RT. Justru wanita yang jujur dengan perasaannya seperti Rina itu jarang ditemukan. Saya lebih suka yang apa adanya daripada yang manis di depan tapi aslinya terpaksa."
Imron yang masih memijit kakinya mendongak. "Wah, Ustadz Rohman sabar juga ya. Kalau saya jadi sampeyan, sudah saya tinggal pulang ini anak."
"Ilmu sabar itu kan praktik, Imron. Dan sepertinya Rina adalah guru praktik yang sangat bagus," jawab Rohman tenang, membuat Ayah dan Imron akhirnya tertawa kecil, sedikit mencairkan suasana yang tegang.
Di Dalam Kamar Rina:
Rina melemparkan dirinya ke kasur, wajahnya terbenam di bantal. "Salsaaaa! Kenapa dia harus denger gue bilang 'amit-amit' sih?! Mau ditaruh di mana muka gue?!"
Salsa yang baru duduk di kursi belajar Rina cuma geleng-geleng. "Lagian lo sih, Rin. Galaknya nggak kira-kira. Tapi jujur ya, kalau gue jadi lo, gue nggak bakal nolak. Itu ustadz modelan apa? Gantengnya kayak aktor-aktor di Twitter, suaranya... beuh, bikin adem."
"Bodo amat! Mau ganteng kek, mau suaranya kayak malaikat kek, kalau ujung-ujungnya bikin gue berhenti kuliah, tetep aja dia musuh nomor satu gue!"