Di sebuah mansion megah di perbukitan Bel-Air, nama Leonor Kaia hanyalah sebuah bisikan yang memudar, sebuah kesalahan statistik dalam silsilah keluarga Gonzales yang terobsesi dengan Anak Laki-laki.
"Kau lihat dia, Leonor?" suara dingin itu menghentikan langkah Leonor di bordes tangga.
Sang Ayah, David Gonzales berdiri di sana, menyesap wiskinya. Pria itu adalah pengusaha terkaya nomor empat di Los Angeles, namun di mata Leonor, dia hanyalah pria tua yang jiwanya telah membusuk oleh patriarki.
"Ethan adalah masa depan perusahaan. Dia adalah apa yang seharusnya kau jadikan cermin."
David Gonzales tidak pernah memanggilnya putriku. Baginya, Leonor adalah pengingat akan kegagalan kedua. Setelah istri pertamanya hanya memberikan seorang anak perempuan, David mengira menikahi "gadis miskin yang dia pungut" begitu istilah kejam keluarga besarnya, akan memberinya keberuntungan berbeda. Namun, Leonor lahir. Seorang bayi perempuan dengan mata yang terlalu mirip ibunya, lembut, namun tajam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#27
Matahari mulai meninggi di langit Beverly Hills, namun di dalam kamar utama Edgar, suasana masih terbalut keheningan yang kental. Setelah pura-pura meminum obat herbal pekat yang disiapkan kepala pelayan, Leonor merasa tubuhnya benar-benar lemas karna Drama. Ditambah rasa nyeri yang masih berdenyut di rahimnya, membuat Leonor dilarang keras oleh Isabella untuk turun dari ranjang.
Edgar, yang hari ini resmi membolos dari seluruh jadwal kuliah dan rapat penting perusahaan, duduk setia di sisi ranjang. Ia melepaskan kemejanya, hanya mengenakan kaos dalam tipis, dan dengan telaten memijat pinggang Leonor yang terasa pegal luar biasa.
"Sakit sekali, ya?" bisik Edgar lembut, matanya menatap Leonor dengan penuh simpati.
Leonor hanya mengangguk lemah. Namun, ketenangan itu hancur saat ponsel Leonor yang tergeletak di nakas bergetar hebat.
Nama "David" tertera di sana.
Jantung Leonor mencelos. Dengan tangan gemetar, ia menggeser tombol hijau dan menyalakan loudspeaker agar Edgar juga bisa mendengar.
Tidak ada sapaan "Halo", tidak ada tanya "Kau di mana?". Suara bariton David Gonzales yang dingin langsung menusuk telinga.
"Aku sudah membebaskan mu, Leonor. Tidak perlu kembali ke mansion ini lagi," ucap David tanpa basa-basi. "Tapi dengar satu hal, jangan sampai tingkah liar mu di luar sana menghancurkan nama keluargaku. Kalaupun kau akhirnya hamil karena pergaulan bebas mu, menikahlah diam-diam dan bilang saja kau anak yatim. Jangan pernah bawa-bawa namaku!"
Leonor membeku. Air mata mulai menggenang di sudut matanya.
"Dua minggu tidak pulang... kau mungkin sudah menjadi jalang di luar sana, menjual tubuhmu demi kemewahan sesaat," lanjut David dengan nada jijik yang sangat kentara. "Dasar anak yang tidak menguntungkan sama sekali. Kau hanyalah noda yang seharusnya tidak pernah ada."
Pip. Sambungan diputus secara sepihak.
Pertahanan Leonor runtuh seketika. Isakan yang sejak tadi ia tahan kini pecah menjadi tangis yang menyayat hati. Bahunya berguncang hebat. Kata-kata jalang dan anak tak berguna dari mulut ayahnya sendiri terasa lebih tajam daripada pisau mana pun.
Selama ini ia tahu ia tidak diinginkan, tapi mendengar pengusiran secara resmi dan tuduhan kotor itu di depan suaminya membuat harga dirinya hancur berkeping-keping.
Edgar, yang sejak tadi mendengar setiap kata makian David, merasakan rahangnya mengeras karena amarah. Namun, melihat Leonor yang hancur, kemarahannya berubah menjadi rasa pilu yang dalam. Ia segera menarik Leonor ke dalam dekapannya, membiarkan istrinya itu menumpahkan seluruh air matanya di dada bidangnya.
"Tenang, Sayang... Tenang," bisik Edgar, suaranya parau menahan emosi. "Dengar aku. David Gonzales baru saja melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya dengan melepaskanmu."
Edgar menjauhkan sedikit tubuh Leonor, menghapus air matanya dengan ibu jarinya. "Kau bukan anak yatim. Sekarang kau punya Daddy Julian yang tegas, punya Mommy Isabella yang penyayang, dan kau punya aku. Satu ayah yang melepaskanmu, sekarang sudah digantikan oleh tiga orang yang sangat mencintaimu."
Edgar kemudian menurunkan tangannya, meraba perut Leonor yang masih tertutup selimut dengan gerakan sangat lembut, seolah-olah memang ada kehidupan yang baru saja hilang di sana. "Dan jangan lupa... kau punya bayi kita di sini. Meskipun dia pergi pagi ini karena drama kita, dia adalah bukti bahwa kau adalah wanita yang berharga."
Edgar menatap mata Leonor yang sembab, mencoba mengalihkan kesedihan istrinya dengan kembali masuk ke mode drama penyesalan agar Leonor tidak terus memikirkan kata-kata David.
"Maafin Daddy ya, Sayang..." ucap Edgar dengan nada yang sangat menyesal. "Kalo saja Daddy bisa nahan nafsu semalam dan tidak memberikan guncangan yang terlalu hebat, ini semua tidak akan terjadi. Bayi kita pasti masih ada di sini. Daddy benar-benar pria yang buruk karena terlalu menggebu-gebu mencintaimu."
Leonor yang mendengar itu hampir saja ingin memprotes, namun kalimat terakhir Edgar itu ternyata didengar oleh seseorang yang baru saja hendak masuk membawakan handuk hangat.
"Oh, Edgar... Astaga..."
Isabella Martinez berdiri di ambang pintu dengan air mata yang sudah mengalir di pipinya yang cantik. Ia mendengar pengakuan Edgar tentang guncangan hebat dan nafsu yang tak tertahan. Hati Isabella hancur sekaligus iba melihat menantunya yang tampak begitu menderita.
Isabella segera mendekat, menyingkirkan Edgar dari sisi Leonor. Ia memeluk Leonor dengan penuh kasih sayang, ikut terisak.
"Sabar, Leonor sayang... Sabar, Nak," ucap Isabella sambil mengelus rambut Leonor. "Mommy berjanji akan melakukan apa saja untukmu. Mommy akan mencari suplemen terbaik di dunia, kalsium paling mahal, dan obat-obatan herbal dari Cina yang bisa membuat kandunganmu pulih kembali dengan cepat."
Isabella menoleh pada Edgar dengan tatapan tajam yang mematikan. "Jangan kecewa ya, Sayang. Maafin Edgar. Dia memang pria yang tidak sabaran, persis seperti ayahnya dulu. Tapi Mommy berjanji, Mommy akan memastikan kau bisa hamil lagi secepat mungkin setelah rahimmu bersih."
Leonor hanya bisa terdiam, terkubur di dalam pelukan hangat Isabella. Ia merasa sangat bersalah karena membohongi wanita sebaik ini, namun di sisi lain, ia merasa sangat terlindungi. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu takut pada dunia, karena ia memiliki ibu yang akan bertarung demi dirinya.
"Mommy akan menjagamu, Leonor," bisik Isabella lagi. "Jangan pikirkan apa pun. Fokus saja pada pemulihan mu. Biarkan Edgar yang mengurus semua kebutuhanmu sebagai bentuk hukumannya."
Edgar berdiri di pojok kamar, menatap kedua wanita itu. Ia merasa lega sekaligus geli melihat betapa sempurnanya drama yang ia ciptakan. Meski harus menanggung nama buruk sebagai pria bernafsu besar, ia tidak peduli. Baginya, melihat Leonor merasa disayangi dan aman di bawah perlindungan keluarganya adalah kemenangan terbesar.
Malam itu, Leonor tertidur di bawah pengawasan ketat Isabella dan pijatan lembut Edgar. Ia menyadari satu hal, David Gonzales mungkin telah membuangnya, namun ia justru mendarat di pelukan sebuah keluarga yang siap memberikannya cinta yang selama ini ia cari. Dan bagi Leonor, kebohongan tentang anak ini perlahan-lahan mulai ia amini dalam hati sebagai harapan bahwa suatu saat nanti, drama "Daddy dan Mommy" ini akan benar-benar menjadi nyata tanpa perlu ada darah di atas sprei putih lagi.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear 😍