NovelToon NovelToon
Sebelah Mata

Sebelah Mata

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dunia Masa Depan / Keluarga / Karir / Persahabatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: joekris

Di Desa Oetimu, Nusa Tenggara Timur, hidup adalah perjuangan melawan tanah merah yang retak dan matahari yang membakar. Jonatan, seorang pemuda cerdas namun miskin, tumbuh besar dalam bayang-bayang penghinaan. Di sekolah, ia dijuluki "Anak Tanah" dan dipandang sebelah mata oleh mereka yang berpunya. Namun, di balik seragamnya yang menguning, Jonatan menyimpan mimpi besar: memutus rantai kemiskinan keluarganya.

Kesempatan emas datang ketika ia diterima di sebuah universitas ternama di Jawa. Namun, mimpi itu menuntut harga yang sangat mahal. Demi tiket berangkat, ayahnya, Pak Berto, secara rahasia menggadaikan tanah warisan leluhur kepada rentenir kejam. Kepergian Jonatan pun berubah menjadi sebuah pertaruhan hidup-mati; jika ia gagal, keluarganya akan kehilangan segalanya.

Jakarta ternyata jauh lebih dingin daripada kemarau di NTT. Jonatan harus berjuang melawan diskriminasi dan rasa lapar yang mencekik. Di tengah rasa putus asa saat kiriman uang terhenti karena ayahnya jatuh sakit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon joekris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 29: URAT NADIA DAN PENGKHIANATAN

Dinginnya fajar di Oetimu tidak pernah terasa sesunyi ini. Jonatan berdiri di atas bukit batu, menatap potongan pipa PVC yang tersumbat semen sekeras beton. Di bawah cahaya senter yang mulai meredup, semen itu tampak seperti tumor yang menyumbat urat nadi desanya. Air, yang seharusnya mengalir untuk menyiram ladang jagung yang baru saja mulai bertunas, kini tertahan di balik dinding abu-abu itu.

"Ini bukan kerjaan orang luar, Jon," bisik Matheus. Napasnya beruap di udara pagi yang menggigit. "Orang luar tidak akan tahu titik junction mana yang paling vital. Orang yang melakukan ini tahu persis bahwa jika titik ini mati, seluruh aliran ke dusun bawah akan lumpuh total."

Jonatan terdiam. Kata-kata Matheus menghantam dadanya lebih keras daripada palu godam. Orang dalam. Pikiran itu terasa lebih pahit daripada air payau yang dulu biasa mereka minum. Selama ini ia percaya bahwa rasa haus yang sama telah mengikat mereka menjadi satu keluarga besar. Ternyata, uang Tuan Markus masih memiliki daya pikat yang lebih kuat daripada persaudaraan.

"Kita tidak punya waktu untuk mencari siapa pelakunya sekarang, Theus," Jonatan akhirnya bersuara, nadanya datar namun sarat akan tekanan. "Warga dusun bawah akan bangun dua jam lagi. Kalau mereka buka kran dan yang keluar hanya suara desis udara, kepanikan akan menghancurkan kepercayaan mereka pada koperasi."

Jonatan berlutut di tanah merah. Di atas kertas denah yang sudah kumal dan terkena tetesan oli, ia mulai menggambar garis-garis baru. Jika Tuan Markus pikir dengan menyumbat satu pipa utama ia bisa mematikan Oetimu, maka ia salah besar. Jonatan adalah seorang insinyur; ia tahu bahwa alam selalu punya jalan tikus, begitu pula dengan aliran air.

"Kita ganti strategi. Kita tinggalkan sistem jalur tunggal," ujar Jonatan. "Kita buat sistem mesh—jaringan jaring laba-laba. Kita akan pecah aliran utama menjadi enam jalur paralel yang lebih kecil. Kita gunakan pipa-pipa sisa dan selang-selang fleksibel yang ada di bengkel. Kita tanam di jalur-jalur yang tidak lazim: lewat bawah kandang babi, lewat celah-celah pohon asam, bahkan ada yang lewat bawah kuburan tua."

"Tapi itu akan butuh kerja dua kali lipat, Jon! Tekanannya akan turun," protes Matheus.

"Tekanan turun lebih baik daripada tidak ada air sama sekali. Dan yang paling penting," Jonatan menatap mata Matheus dengan tajam, "dengan enam jalur berbeda, si pengkhianat itu tidak akan tahu mana yang harus disumbat. Kalau dia sumbat satu, lima lainnya tetap mengalir. Kita buat urat nadi yang tidak bisa dibunuh hanya dengan satu tikaman."

Sepanjang hari itu, Oetimu menjadi medan konstruksi yang gila. Jonatan membagi warga menjadi beberapa kelompok kecil. Ia sengaja memberikan instruksi yang berbeda-beda kepada setiap kelompok. Kelompok A tidak tahu apa yang dikerjakan Kelompok B. Ini adalah taktik spionase yang ia pelajari dari buku sejarah perang, yang kini ia terapkan pada pipa air.

Sarah bertugas mengamati dari kejauhan. Dengan kamera saku dan catatan kecilnya, ia berkeliling bukan untuk mendata teknis, melainkan untuk mengamati gerak-gerik warga. Ia mencari mata yang terlalu sering melirik ke arah rumah besar Tuan Markus, atau tangan yang terlalu gemetar saat memegang sekop.

Di tengah teriknya siang, saat Jonatan sedang menyambung katup pengaman di dekat pemandian umum, Pak Adrian—kaki tangan Tuan Markus—datang dengan motor besarnya. Ia berhenti di pinggir jalan, membuka helm, dan tersenyum sinis melihat kesibukan warga.

"Masih mencoba, Jonatan?" teriaknya. "Pipa itu sudah mati. Alam tidak suka kalau dipaksa mengikuti kemauan manusia yang sombong."

Jonatan tidak menoleh. Ia terus memutar kunci inggrisnya hingga tangannya memerah. "Alam tidak pernah membenci manusia, Pak Adrian. Alam hanya membenci mereka yang mencoba mempagari apa yang seharusnya milik bersama."

"Kita lihat berapa lama napas kalian bertahan. Semen itu hanya permulaan. Hukum alam itu sederhana: yang kuat menghisap yang lemah," ujar Adrian sebelum memacu motornya pergi, meninggalkan kepulan asap hitam yang menyesakkan.

Malam kembali turun. Jalur paralel itu akhirnya selesai tersambung. Saat Jonatan membuka katup utama di bukit, suara air yang mengalir di dalam pipa-pipa kecil itu terdengar seperti bisikan ribuan malaikat. Satu per satu, kran di dusun bawah mulai mengeluarkan air. Tidak deras, hanya aliran sebesar jari kelingking, namun air itu konsisten.

Namun, Jonatan tidak ikut merayakan. Ia duduk di teras bengkelnya bersama Sarah. Di tangannya ada sebuah puntung rokok murahan yang ia temukan di lokasi sabotase tadi pagi—merek yang tidak pernah dihisap oleh Matheus atau warga inti lainnya.

"Aku tahu siapa orangnya, Jon," Sarah berbisik pelan. Ia menyerahkan sebuah foto yang ia ambil diam-diam tadi siang.

Dalam foto itu, terlihat salah satu pemuda desa bernama Beni—anak dari tetangga dekat Jonatan—sedang berbicara dengan Adrian di balik pohon jati yang gelap. Beni memegang sebuah bungkusan plastik yang tampak berat.

Hati Jonatan hancur. Beni adalah teman mainnya saat kecil. Beni juga yang ikut memanggul panel surya ke atas bukit dengan penuh semangat sebulan yang lalu.

"Jangan hadapi dia sekarang, Jon," Sarah menahan lengan Jonatan. "Kalau kau konfrontasi dia sekarang tanpa bukti semen yang ia bawa, warga akan terpecah. Keluarganya akan merasa terhina, dan Tuan Markus akan menggunakan kerusuhan itu untuk memanggil polisi lagi."

"Lalu aku harus diam saja? Dia hampir membunuh ladang kita semua!" desis Jonatan.

"Gunakan dia, Jon. Jadikan dia umpan," Sarah menatap mata Jonatan dengan kecerdasan yang dingin. "Tuan Markus pikir dia punya mata di sini. Berikan dia informasi yang salah lewat Beni. Katakan bahwa besok kita akan memasang filter utama di lokasi X, padahal kita memasangnya di lokasi Y. Biar Tuan Markus menghabiskan semennya untuk menyumbat pipa kosong."

Jonatan menatap Sarah lama, menyadari bahwa perjuangan ini telah mengubah mereka berdua. Mereka bukan lagi sekadar mahasiswa idealis; mereka telah menjadi pemain catur yang harus tega mengorbankan perasaan demi kemenangan rakyat banyak.

Keesokan harinya, Jonatan dengan sengaja berbicara keras-keras di dekat Beni tentang "rencana rahasia" pemasangan sensor tekanan baru di jalur timur. Ia melihat bagaimana Beni mencuri-curi dengar, wajahnya tampak gelisah namun tangannya sibuk mencatat sesuatu di pikirannya.

Tengah malam, Jonatan, Matheus, dan Sarah bersembunyi di balik semak-semak jalur timur. Benar saja, sesosok bayangan muncul dengan membawa karung kecil berisi semen dan sebotol air. Saat bayangan itu mulai menggergaji pipa (yang sebenarnya adalah pipa mati yang tidak tersambung ke mana pun), Matheus tidak tahan lagi. Ia melompat keluar.

"Beni! Kau keterlaluan!" teriak Matheus.

Beni terjatuh, gergajinya terlepas. Saat lampu senter Jonatan menyorot wajahnya, Beni hanya bisa menunduk, menangis tersedu-sedu. Uang kertas ribuan rupiah berhamburan dari sakunya—uang yang sudah ternoda oleh pengkhianatan.

"Kenapa, Ben?" suara Jonatan terdengar sangat lelah, bukan marah.

"Adikku, Jon... dia butuh operasi di Kupang. Tuan Markus bilang dia akan tanggung semua biayanya kalau aku bisa buat sumurmu mati sebulan saja," isak Beni. "Maafkan aku, Jon. Aku haus akan air, tapi keluargaku haus akan nyawa."

Jonatan tertegun. Inilah cara kerja Tuan Markus yang paling keji: dia tidak menyerang dengan senjata, tapi dia menyerang di titik paling lemah dari kemiskinan seseorang. Dia mengubah kemiskinan menjadi senjata untuk menghancurkan sesama orang miskin.

Jonatan mendekat, mengambil uang yang berhamburan itu, lalu memasukkannya kembali ke saku Beni.

"Pulanglah, Ben. Besok, bawa adikmu ke klinik yayasan. Sarah sudah mengurus asuransi kesehatan lewat koperasi untuk semua anggota," ujar Jonatan pelan. "Uang ini... simpan saja. Tapi beri tahu Tuan Markus kalau kau sudah menyumbat pipa utamanya. Biarkan dia senang sesaat."

Beni menatap Jonatan dengan tidak percaya. "Kau tidak lapor polisi? Kau tidak pukul aku?"

"Memukulmu tidak akan membuat air mengalir lebih deras, Ben. Tapi kehilangan teman sepertimu akan membuat Oetimu terasa lebih kering daripada musim kemarau," Jonatan membalikkan badan, berjalan menjauh.

Bab 29 ditutup dengan Jonatan yang berdiri di bawah rasi bintang Crux, menatap desanya yang kini memiliki urat nadi paralel yang rumit namun kuat. Ia belajar satu hal penting malam itu: kedaulatan air bukan hanya soal melawan musuh dari luar, tapi soal bagaimana merangkul kembali mereka yang tersesat di dalam kegelapan karena rasa lapar. Oetimu kini tidak hanya memiliki jaringan pipa, tapi memiliki jaringan hati yang mulai belajar memaafkan—meski luka pengkhianatan itu tetap akan meninggalkan bekas di pipa-pipa yang tersumbat semen.

1
Kustri
terharu qu😳
tanah outimu menanti perubahan & akan mendukungmu jon, 💪💪💪
Kustri
pa johan, smoga kebaikanmu membuat jon smakin bersemangat
Kustri
ya Allah... sepatu pinjaman, itu tetangga baik hati'a
Kustri
penasaran bawa sepatu gk dr oetimu
Kustri
sumpah, setiap baca sedih bgt😭
smoga keberuntungan sll menyertaimu 💪💪💪
joekris: Amin kak
total 1 replies
Kustri
💪💪💪jon
Kustri
merinding baca'a
kasian
Kustri: insya Allah, thor
total 2 replies
Prabu Hangku
Gila gila asoy bener cerita nya
sendi syam
Keren
🦊 Ara Aurora 🦊
thor gue mampir nih 😅 maaf terlambat mampir yah baru sekarang bisa 🙏
Rizky Rahmat
Alur cerita nya dari kisah nyata kah?
Tarno Hangku
Keren
sendi syam
Semoga bisa bawa nama ntt ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!