NovelToon NovelToon
Rewind: Side B

Rewind: Side B

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Teen Angst / Teen School/College / Romantis / Fantasi / TimeTravel
Popularitas:345
Nilai: 5
Nama Author: Vorlagh

17 Agustus 1996.
Bagi Julian "Lian" Pratama, hari ini seharusnya menjadi titik akhir. Di balik senyum sempurna sang Ketua OSIS, jiwanya telah lama kosong. Ia menaiki rooftop sekolah, siap untuk pergi selamanya.

Namun, alih-alih keheningan, yang terdengar hanya bunyi "KLIK" dari sebuah Walkman tua.

Lian terbangun kembali di pagi yang sama. Upacara yang sama. Kebosanan yang sama. Terjebak dalam loop waktu yang tak berujung, dunia Lian perlahan memudar menjadi hitam-putih. Hingga ia menemukan satu anomali: Kara Anjani.

Gadis pecinta musik grunge itu adalah satu-satunya yang tetap berwarna di mata Lian. Anehnya, setiap kali hari berulang, ada detail kecil pada Kara yang tidak ikut terhapus.

Apa hubungan Kara dengan putaran waktu ini? Dan jika Lian berhasil menekan tombol Stop pada kaset misterius itu, apakah ia akan bebas... atau justru kehilangan segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vorlagh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lagu Terakhir

Suara statis.

Kresek... krak...

Lalu, melodi intro Champagne Supernova dari Oasis terdengar samar, beradu dengan suara penyiar radio yang terlalu bersemangat.

"Selamat pagi, Bandung! Sabtu, 17 Agustus 1996. Merdeka! Jangan lupa hari ini upacara bendera, ya, Anak Muda. Siapkan topi kalian, rapikan dasi kalian..."

Tangan Julian Pratama bergerak otomatis memukul tombol snooze di jam beker analog berbentuk robot di samping kasurnya. Bunyi detak jam itu berhenti, tapi suara di kepalanya tidak.

Lian—begitu dunia memanggilnya—duduk di tepi kasur. Kakinya menyentuh lantai ubin yang dingin. Dia menatap cermin lemari kayu di depannya. Seorang remaja laki-laki menatap balik. Rambut belah tengah yang tertata rapi, wajah bersih tanpa jerawat, tubuh atletis. Sempurna.

Itu Julian si Ketua OSIS. Julian si Kapten Basket. Julian yang selalu tersenyum.

Lian menghela napas panjang, lalu menarik sudut bibirnya ke atas secara manual dengan kedua telunjuknya.

"Latihan terakhir," bisiknya pada bayangan di cermin. "Cuma tinggal hari ini. Bertahanlah."

Hari ini adalah hari kemerdekaan untuk negara ini.

Dan sore nanti, Lian berencana menjadikannya hari kemerdekaan untuk dirinya sendiri.

...----------------...

Sekolah Menengah Atas Merah Putih riuh rendah.

Suara pengeras suara yang memekakkan telinga mengumandangkan lagu-lagu nasional, bercampur dengan tawa siswa-siswi yang berlarian mengejar lomba balap karung dan makan kerupuk.

Panas matahari menyengat kulit, tapi Lian merasa dingin. Dingin itu datang dari dalam tulang rusuknya.

"Lian! Woy, ngelamun aja!"

Tepukan keras mendarat di bahunya. Lian menoleh, refleks memasang "topeng"-nya. Senyum lebar, mata menyipit ramah. Itu Riko, sahabatnya, yang sedang memegang kamera analog.

"Siap-siap, woy! Giliran lo pidato penutupan abis lomba tarik tambang," ujar Riko sambil mengokang tuas kamera. Cekrek. "Senyum dong, Pak Ketua. Muka lo pucat amat kayak mayat hidup."

Emang, batin Lian.

"Gue cuma kurang tidur, Rik. Begadang ngurus rundown," jawab Lian santai. Suaranya terdengar normal. Terlalu normal untuk seseorang yang diam-diam menyelipkan silet di saku celana abu-abunya.

"Yaudah, abis ini kita ke warung Pak Asep. Gue traktir es limun," kata Riko lalu berlari menjauh, mengejar adik kelas yang lewat.

Lian melihat punggung sahabatnya menjauh. Ada rasa bersalah yang menusuk, setipis jarum tapi dalam. Maaf, Rik. Besok lo nggak akan bisa neraktir gue lagi.

Dunia di sekitar Lian bergerak dalam gerakan lambat (slow motion). Bendera merah putih yang berkibar. Siswi-siswi dengan rok selutut dan kaos kaki putih tinggi yang berbisik-bisik saat dia lewat. Segelas es teh plastik yang diikat karet gelang di tangan mereka.

Semuanya tampak seperti foto lama yang warnanya mulai memudar. Monokrom. Abu-abu.

Lian terus berjalan membelah keramaian, tapi dia tidak merasa menjadi bagian dari mereka. Dia seperti hantu yang gentayangan sebelum waktunya.

...----------------...

Pukul 17.00.

Sekolah sudah sunyi. Matahari mulai turun, melukis langit Bandung dengan warna oranye tua yang seolah-olah berdarah.

Lian berdiri di pinggir rooftop gedung sekolah lama—gedung yang jarang dipakai kecuali untuk gudang kursi rusak.

Angin sore menerpa seragam putihnya yang kini sudah kusut dan keluar dari celana. Dia melepas dasi, membiarkannya jatuh ke lantai semen yang berdebu.

Di tangannya, dia menggenggam sebuah Walkman tua berwarna perak.

Tadi pagi, dia menemukan walkman ini di lokernya. Tanpa nama pengirim. Hanya ada secarik kertas lusuh bertuliskan: "Untuk yang lupa caranya pulang."

Di dalamnya sudah terpasang kaset pita tanpa label (mixtape).

Lian memasang earphone. Tangannya yang gemetar menekan tombol PLAY.

Roda kaset berputar pelan.

Lagu itu aneh. Bukan lagu populer. Hanya denting gitar akustik yang sumbang, disusul suara hujan, dan... suara seseorang bernapas? Tidak ada lirik. Hanya instrumen melankolis yang membuat dadanya sesak tapi nyaman.

Dia memejamkan mata. Kakinya melangkah maju. Ujung sepatu Warrior-nya kini menggantung di bibir gedung.

Dia menunduk ke bawah. Tiga lantai. Aspal keras di bawah sana tampak mengundang.

"Nggak sakit," gumam Lian meyakinkan diri. "Cuma sebentar."

Air mata menetes, bukan karena sedih, tapi karena lega. Dia akhirnya bisa istirahat dari kelelahan menjadi sempurna. Dia lelah pura-pura bahagia ketika isi kepalanya berisik meminta mati setiap hari.

Satu langkah lagi.

Lian menarik napas dalam-dalam, menghirup aroma debu dan sisa pembakaran sampah.

Dia melepaskan pegangannya pada pagar besi.

Tubuhnya condong ke depan.

Gravitasi menyambutnya.

Saat kakinya benar-benar meninggalkan pijakan, lagu di kaset itu mencapai detik terakhirnya.

Terdengar suara tombol mekanik yang keras.

KLIK.

Lalu sunyi.

Bukan sunyi kematian. Tapi sunyi statis.

Suara angin menghilang.

Rasa jatuh menghilang.

Gelap menelannya bulat-bulat, tapi kemudian... cahaya menyilaukan menusuk kelopak matanya.

...----------------...

Kresek... krak...

"Selamat pagi, Bandung! Sabtu, 17 Agustus 1996..."

Mata Lian terbuka lebar. Jantungnya berdegup kencang, menghantam rusuk seolah ingin menjebol dada.

Dia terengah-engah, serakah menghirup oksigen.

Lian menyentuh lehernya. Utuh. Tidak patah.

Dia menyentuh wajahnya. Hangat.

Dia menoleh panik.

Jam beker berbentuk robot.

Lemari kayu tua.

Cahaya matahari pagi yang menerobos celah gorden kamarnya.

Suara penyiar radio itu melanjutkan kalimatnya dengan nada yang persis sama, dengan intonasi yang persis sama, seperti rekaman yang rusak.

"...Merdeka! Jangan lupa hari ini upacara bendera, ya, Anak Muda. Siapkan topi kalian, rapikan dasi kalian..."

Tangan Lian gemetar hebat saat meraih kalender duduk di meja belajarnya.

17 AGUSTUS 1996.

Dia masih di sini.

"Nggak mungkin," bisik Lian, suaranya pecah menahan tangis horor. "Gue... gue harusnya sudah mati."

Di atas bantalnya, Walkman perak itu tergeletak bisu. Tombolnya sudah kembali ke posisi awal. Siap untuk diputar ulang.

1
Adhiefhaz Fhatim
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!