Qing Lizi, seorang yatim piatu berprofesi sebagai dokter militer genius yang menguasai banyak hal. Selain cantik, ia juga memiliki dedikasi tinggi pada tugasnya.
Gadis berusia 30 tahun yang gemar akan tantangan, memilih bergabung dengan pasukan militer negara setelah mendapat lisensi kedokterannya.
Saking geniusnya, Qing Lizi sudah meraih gelar dokter specialis diusia dua puluh empat tahun.
Kariernya berjalan mulus, bermacam misi telah ia jalani, hidup mapan, banyak teman, digandrungi puluhan pria.
Sayangnya Qing Lizi tak berumur panjang. Ia harus kehilangan nyawa saat bertugas dinegara berkonflik bersama tentara perdamaian.
Namun bukannya pergi kesurga atau neraka, jiwa Qing Lizi malah pindah keabad kuno, menempati tubuh seorang gadis berusia sepuluh tahun.
Suatu hari, Qing Lizi mendapat anugerah sebuah cicin ajaib yang memberinya banyak keutungan.
Bagaimanakah kisah perjalanan Qing Lizi dikehidupan keduanya ini..?
Apa fungsi cincin ajaib yang melingkar dijari manis Qing Lizi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Delia Ata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghasilkan Uang
Setelah berlatih beladiri dan sarapan, proses mengolah sirup Raisin dilakukan begitu Huang Feng dan Jang Jiayi datang membawa dua karung rami berisi jagung.
Semua jagung itu direndam dalam air hangat larutan Dextrose yang Qing Lizi dapat dari apotek dialam dimensi jiwanya.
Pati Konjac ditiriskan, lalu dijemur bersama bahan lainnya.
Lilin madu dikeluarkan dari bambu kemudian dibagi rata. Masing-masing mendapat lima belas batang berukuran besar dengan panjang satu jengkal tangan Huang Feng.
"Menunggu gula jagung masih dua hari lagi, takut nanti malah Shan Zha layu. Ayo, kita kumpulkan akar alang-alang untuk membuat Tanghulu sekalian memanen Kastanya, Kenari dan Almond." usul Qing Lizi.
"Oke...!"
Ketiga sekawan kembali berkelana menggali akar ilalang lalu mejelajahi hutan, setelah merendam Shan Zha dalam air larutan Dextrose.
Untuk urusan pengentalan sari Raisin diserahkan pada Guo Jia.
Berlatih pedang dan panahan juga sekalian mereka lakukan.
Hanya perlu waktu tiga jam guna mengumpulkan banyak akar dan kacang-kacangan.
Membuat sirup dari akar ilalang sangat muda,sama seperti Raisin.
Untuk hasil sirup yang jernih transparan, Qing Lizi menambahkan Dextrose.
Setelah kental, tiga per empat bagian sirup dituang kedalam baskom perunggu untuk didinginkan. Sisanya tetap dibiarkan hangat guna membuat Tanghulu.
Qing Lizi mengambil madu dari apotek, lalu menambahkan sepuluh sendok pada sirup akar ilalang.
Kenapa mengambil madu dari alam dimensi jiwa padahal mereka kemarin mendapatkan dari hutan..?
Alasannya simple, jika dari apotek bisa diisi ulang, tak akan pernah habis.
Biar yang diperoleh kemarin untuk dikonsumsi ibu dan nenek saja.
Sate buah Shan Zha yang sudah dicelupkan pada sirup hingga semua bagian terlapisi merata, ditaruh menggantung rebahan dinampan.
"Jika menjualnya sekarang keIbukota Nanmu apa masih keburu..?" tanya Qing Lizi melihat Tanghulu yang berjajar rapi dihadapannya.
Ada delapan puluh tusuk Tanghulu, yang lima puluh akan dijual sedangkan sisanya dibagi-bagi.
"Tentu saja masih bisa, Ibukota selalu ramai sampai jam malam diberlakukan." jawab Huang Feng.
"Kalau begitu, ayo kita bersiap...!" ajak semangat Qing Lizi.
Ketiga sekawan mandi, memakai busana bersih dan paling bagus yang mereka miliki meski berbahan linen kasar serta sedikit pudar.
Cuma perlu dua puluh menit berjalan kaki bagi ketiganya sampai dipusat Ibukota Nanmu.
Mereka mencari tempat berdagang, sampai akhirnya mendapatkan disebelah lapak dadakan penjual asesoris rambut.
Patung jerami berkaki empat Huang Feng pasang.
Qing Lizi dan Jang Jiayi menancapkan Tanghulu pada patung tersebut.
Warnanya yang merah merona berkilau, menarik perhatian para pengguna jalan.
"Tanghulu,Tanghulu manis, cukup lima sen saja...!" teriak Qing Lizi renyah.
Jang Jiayi ikut berteriak nyaring, para pengguna jalan sebagian menoleh penasaran.
Tusukan panjang berisi enam buah Shan Zha seharga lima sen, yang benar saja..?
Seorang anak berpakain satin halus menunjuk, merengek pada ibunya.
Mereka mendekat, sang ibu bertanya.
"Pemanisnya terbuat dari apa...?"
"Gula dan madu nyonya.."
Para pejalan kaki yang semula mencibir, memandang skeptis, sontak menghentikan langkah.
Lima sen dengan pemanis gula dan madu, itu tergolong murah.
Seorang wanita kisaran tiga puluhan mendekat "kau yakin ini terbuat sari gula dan madu..?"
Qing Lizi tersenyum, memgambil satu tusuk tanghulu, lalu mencopot sebutir buah.
"Silahkan nyonya cicipi sendiri..!"
Qing Lizi juga memberikan tester pada bocah lelaki beserta ibunya tadi.
"Yaa, ini sungguh manis gula, ada aroma madunya juga." pekik wanita tiga puluhan.
"Berikan aku lima tusuk..!" kata wanita itu, mengambil kantong uang lalu membayarnya.
Jang Jiayi bersemangat membungkus pesanan.
"Nona, berikan aku enam..!" kata ibu yang datang bersama anaknya.
Lambat laun kerumunan kecil tercipta, satu persatu orang membeli dengan jumlah lebih dari dua tusuk.
Cuma butuh waktu tiga puluh menit, lima puluh tanghulu habis terjual.
Lima puluh dikurangi satu tusuk yang tadi untuk tester, jadi mereka menjual empat puluh sembilan tusuk dan menghasilkan dua ratus empat puluh lima sen.
Lizi dan Jiayi terpekik senang, mereka tak berlama-lama dipusat Ibukota. Begitu habis ketiganya bergegas pulang.
Saat memasuki desa, teriakan panik terdengar dari rumah kepala desa. Beberapa warga tergopoh-gopoh berlari kesana.
Tiga sekawan saling bertukar tatapan, lalu bergegas menuju kerumah kepala desa.
Disana penduduk sudah banyak berkumpul sampai memenuhi beranda. Tangis pedih menyayat terdengar dari dalam rumah.
Huang Feng maju, melongok kedalam.
Disana terlihat kepala desa terbujur diatas dipan kayu. Disisi kiri ada sang istri, dikanan tabib desa.
Disekitaran ada putra, putri, cucu dan menantu yang juga terisak tergugu.
Qing Lizi dan Jang Jiayi membelah kerumunan bersama Huang Feng untuk melihat lebih dekat.
"Apa yang terjadi..?" tanya Huang Feng pada paman Jang.
"Tidak ada yang tahu pasti, tapi katanya tadi kepala desa tidak apa-apa. Mengeluh sakit kepala dan leher, sesak nafas lalu tak sadarkan diri."
Qing Lizi mengamati dengan alis menukik tajam. Wajah kepala desa perlahan memutih, diselimuti aura kematian, tubuhnya kadang berkedut pelan.
Tabib menghela nafas berat, lalu menggeleng.
"Tidak, suamiku...!"
"Ayah...!"
"Kakek...!"
Wajah semua orang suram sedih karena sang kepala desa telah pergi. Hanya satu orang yang bereaksi lain, matanya mendelik sempurna.
Apa-apaan ini...?
"Kakak Feng bantu aku untuk berjaga..!" seru Qing Lizi.
Belum juga Huang Feng sempat membuka mulut, Lizi sudah menerobos kedepan mengambil alih tugas tabib.
"Hei, apa yang kau lakukan bocah..?" pekik tabib karena dibuat terjengkang kelantai.
Istri kepala desa Gu termangu, begitu juga anggota keluarga lain serta para penduduk
Qing Lizi memeriksa denyut nadi, lalu membuka kerah baju tuan Gu. Dengan ritme teratur Lizi mulai menekan dada pria paruhbaya itu.
"Sialan, bocah kurang ajar..!" teriak tabib desa menarik bahu Qing Lizi.
Putra pertama Gu juga ingin bertindak, namun dicegah oleh Huang Feng.
Qing Lizi menghempaskan tangan tabib desa "diam...!" teriaknya meninggi.
Anak-anak, istri dan tabib desa kontan saja mematung.
Qing Lizi kembali melakukan resusitasi jantung paru. Huang Feng dan Jang Jiayi berjaga agar tak ada yang mengganggu tindakannya.
Tak lama tarikan nafas kasar dilakukan oleh kepala desa.
Qing Lizi menghentikan aksinya, memeriksa denyut nadi yang telah kembali.
Selanjutnya Lizi berpindah, mengangkat kaki kepala desa lalu menekan pada sendi lutut bagian belakang.
Kepala desa meringis lalu terbatuk.
"Apa...!"
"Hei, kepala desa hidup lagi..!"
"Bagaimana bisa..?" pekik tabib desa melotot.
Hampir semua mata penduduk yang berkumpul terbelalak lebar, nyaris menggelinding keluar dari sarang.
Istri serta anggota keluarga tuan Gu tercengang dengan mulut menganga.
Semua orang kompak menatap Qing Lizi yang sedang menghela nafas lega dengan guratan seribu pemikiran.
Uhuk Uhuk
Batuk itu menyadarkan setiap insan disana.
Mata kepala desa terbuka, jerit tangis bahagia istri, anak dan para cucu membahana.
Ucapan syukur menggaung dari bibir penduduk desa.
Jiayi dan Feng menatap bangga pada sang sahabat tercinta.
Hanya satu yang mendelik kesal, dengan tinju terkepal erat penuh kedengkian. Menatap Qing Lizi dengan siratan keji membunuh.