Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.
Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menghancurkan Dinding Tak Kasat Mata
Dua bilah pedang itu segera memperlihatkan warna aslinya. Hitam pekat dan gelap seperti jurang tanpa dasar.
Permukaan pedang itu tidak memantulkan cahaya. Sebaliknya, cahaya di sekitarnya justru tampak ditelan, membuat bilahnya terlihat semakin dalam dan menakutkan. Garis-garis samar berwarna abu tua mengalir di sepanjang permukaan baja seperti urat makhluk hidup.
Sha Nuo memutar kedua pedang itu di tangannya dengan gerakan santai, seolah beratnya tidak berarti apa-apa. Namun siapa pun yang memiliki persepsi energi dapat merasakan tekanan mengerikan yang berdenyut dari keduanya. Kemudian… ia mengangkat kedua pedang itu sejajar.
Klik.
Suara logam bertemu logam terdengar. Dalam satu gerakan halus, kedua pedang itu saling mengunci. Struktur tersembunyi pada pangkal bilah saling berpaut, membentuk senjata baru, pedang ganda. Dua bilah berada di atas dan di bawah, sementara pegangan berada tepat di tengah, memungkinkan serangan memutar yang tidak lazim.
Para siluman menahan napas. Bahkan naga hijau dan naga merah muda menyipitkan mata.
Sha Nuo menggenggam pegangan tengah itu dengan satu tangan. Senjata aneh itu berputar ringan di tangannya, menghasilkan suara desir rendah yang membuat bulu kuduk meremang.
Lalu ia berhenti. Tatapannya jatuh pada mulut goa di depannya. Keheningan menyelimuti area itu.
Aura berwarna hitam di sekitar tubuh Sha Nuo perlahan berputar, terkumpul pada pedang ganda di tangannya. Tanah di bawah kakinya mulai menghitam. Rumput-rumput kecil layu hanya karena terpapar gelombang energi yang mengalir keluar.
Sha Nuo menarik napas panjang. Kemudian…ia mengeluarkan jurus miliknya.
“Naga Menggulung Langit.”
Suaranya rendah, namun menggema seperti bisikan dari jurang. Pedang ganda itu berputar. Satu putaran. Dua putaran. Tiga putaran.
Setiap putaran menciptakan pusaran energi hitam yang semakin besar. Udara tersedot ke pusat gerakan itu. Daun-daun beterbangan. Debu terangkat dari tanah. Kemudian… pedang itu berhenti.
Dalam sekejap, energi hitam yang terkumpul meledak keluar.
Rwarrrrgggg!!!!
Sebuah siluet naga hitam raksasa tercipta di udara. Tubuhnya panjang dan berkelok, sisik bayangannya tersusun dari gelombang energi pekat. Mata naga itu bersinar merah redup, memancarkan aura kehancuran.
Para siluman terperangah. Dua naga suci membeku. Siluet itu terasa nyata. Terlalu nyata untuk sekadar jurus.
Tanpa menunggu satu detik pun, naga hitam itu bergerak. Meluncur. Cepat, brutal, dan tak terbendung. Tubuhnya yang berkelok memotong udara seperti badai hidup, lalu menghantam mulut goa.
Boommm!!!
Suara benturan yang tercipta begitu keras hingga tanah bergetar hebat. Gelombang kejut menyapu keluar, mengguncang pepohonan raksasa.
Namun naga hitam itu tidak berhenti. Ia terus mendorong. Tubuh energinya melilit, menekan, menggulung, mencoba merobek sesuatu yang tidak terlihat di depan goa. Gelombang energi hitam menghantam berulang kali, menghasilkan suara dentuman yang berlapis-lapis seperti badai petir.
Para siluman menatap dengan mata lebar, rahang terbuka. Mereka bisa merasakan satu hal dengan jelas. Serangan itu… luar biasa.
Jika diarahkan ke hutan, bukan hanya area di sekitar mereka yang akan hancur. Jalur panjang pepohonan akan rata. Vegetasi akan mati. Tanah akan terkoyak. Serangan itu adalah bencana berjalan.
Naga hitam itu terus menekan. Suara berderit mulai terdengar.
Krek…
Krek…
Krek…
Boqin Changing menyipitkan mata. Kemudian retakan mulai muncul. Di udara kosong di depan goa, garis-garis tipis mulai terlihat. Seperti kaca transparan yang retak akibat benturan keras.
Mata naga hijau membelalak. Naga merah muda menahan napas. Retakan itu nyata.
Namun sebelum retakan sempat meluas,
Boommmm!!!
Tubuh naga hitam tiba-tiba pecah. Energinya runtuh, hancur menjadi serpihan cahaya gelap yang menghilang di udara. Keheningan langsung jatuh. Hanya sisa gelombang energi yang masih bergetar pelan.
Kini… di depan mulut goa… retakan itu tetap ada. Garis-garis halus seperti kaca pecah menggantung di udara kosong.
Keringat dingin muncul di sisik naga hijau. Naga merah muda menelan ludah. Orang itu…adalah orang yang baru saja mereka lawan. Bayangan kemungkinan langsung terlintas di benak mereka. Andaikan pertarungan sebelumnya berlanjut…kematian mereka hampir pasti.
Di depan goa, Sha Nuo menatap hasil serangannya. Ekspresinya menunjukkan kekecewaan tipis. Namun sorot matanya tidak padam. Ia melihat retakan itu. Itu berarti satu hal. Dinding itu… bisa dilukai.
Energi mulai kembali berkumpul di sekitar tubuhnya. Ia bersiap. Namun tepat saat itu, retakan di udara bergetar. Lalu… perlahan…menghilang.
Garis-garis retak itu memudar seperti ilusi yang ditarik kembali. Dalam beberapa detik saja, permukaan tak kasat mata itu kembali utuh. Tidak ada bekas. Tidak ada cacat. Seolah serangan barusan tidak pernah terjadi.
Sha Nuo terdiam. Aura di sekitarnya mereda sedikit. Tatapannya tetap tertuju ke depan, namun kini ada sesuatu yang berbeda di matanya. Ketertarikan.
Sementara di belakangnya… para siluman, dua naga suci, dan bahkan udara hutan itu sendiri… terasa semakin sunyi. Karena mereka semua menyadari satu fakta yang sama.
Jika serangan seperti itu saja tidak mampu menembus goa ini… Lalu… apa sebenarnya yang tersembunyi di dalamnya?
Sha Nuo masih berdiri menghadap mulut goa ketika serpihan energi hitam terakhir benar-benar menghilang dari udara. Hutan kembali sunyi, hanya suara dedaunan yang berdesir pelan akibat sisa gelombang kejut sebelumnya.
Ia melirik ke arah belakang. Tatapannya jatuh pada Boqin Changing.
“Aku merasa…” gumam Sha Nuo sambil menghela napas pendek, “jika kau ikut menyerang bersama denganku, dinding itu pasti hancur.”
Nada suaranya bukan memancing, bukan pula meremehkan. Itu hanyalah penilaian jujur seorang pendekar yang baru saja mengerahkan jurus pamungkasnya.
Boqin Changing tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat. Langkahnya tenang, tanpa tekanan aura, tanpa fluktuasi energi yang mencolok. Namun justru ketenangan itulah yang membuat para siluman menahan napas tanpa sadar.
Boqin Changing berdiri tepat di depan mulut goa. Tangannya terangkat perlahan… lalu meraba udara kosong. Tidak ada apa-apa di sana.
Namun jari-jarinya berhenti. Ia menekan pelan. Ekspresinya berubah sedikit.
“Menarik,” gumamnya.
Sha Nuo menyipitkan mata. Para siluman saling berpandangan. Mereka tidak melihat apa pun, tetapi jelas Boqin Changing sedang menyentuh sesuatu.
Setelah beberapa saat, Boqin Changing menarik tangannya.
“Bahkan jika kita menyerang bersama,” katanya santai, “tidak ada jaminan dinding ini akan hancur.”
Sha Nuo menggaruk kepalanya.
“Lalu bagaimana kita masuk kalau begini?”
Pertanyaan itu mewakili semua makhluk di sana. Naga hijau, naga merah muda, para siluman, semuanya menatap Boqin Changing.
Boqin Changing tersenyum lebih lebar.
“Mungkin… ada cara lain.”
Kebingungan langsung memenuhi wajah mereka. Namun Boqin Changing tidak menjelaskan. Ia justru melangkah setengah langkah ke depan, berdiri tepat di depan dinding tak kasatmata itu.
Kemudian, ia mulai melafalkan mantra. Suaranya pelan. Begitu pelan hingga hampir tenggelam dalam desir angin hutan. Namun setiap suku kata terasa berat, seperti memanggil sesuatu dari tempat yang sangat jauh.
Tangannya terangkat. Cahaya muncul di telapak tangannya. Bukan cahaya terang. Bukan pula energi murni seperti qi biasa. Cahaya itu terasa… asing. Lalu simbol pertama muncul. Sebuah garis melengkung bercabang tiga, berputar di udara seperti tulisan kuno. Para siluman mengerutkan kening.
Simbol kedua muncul. Simbol ketiga. Keempat. Kelima. Semakin banyak.
Simbol-simbol itu melayang di udara. Bentuknya aneh, tidak mengikuti sistem segel, ataupun formasi yang pernah mereka lihat.
Naga hijau menatap tanpa berkedip.
“Aku… belum pernah melihat itu…”
Naga merah muda hanya menggeleng perlahan.
Simbol-simbol terus bertambah. Semakin banyak. Semakin rumit.
Boqin Changing terus melafalkan mantra itu.
Menit pertama.
Menit ketiga.
Menit kelima.
Udara di sekitar mereka berubah hening sepenuhnya. Tidak ada makhluk yang berani bersuara. Bahkan angin seolah menahan diri.
Boqin Changing menutup mata. Namun mantra tidak berhenti. Simbol-simbol kini memenuhi ruang di depan goa, berlapis-lapis seperti jaring yang perlahan menutup sesuatu yang tidak terlihat.
Sepuluh menit berlalu. Lima belas menit. Saat itu, mata Boqin Changing terbuka.
Matanya kini berwarna keemasan. Pupilnya berubah menjadi lingkaran emas terang yang berdenyut seperti mata dewa.
Dalam detik berikutnya, semua simbol bergerak.
Srrrttt!!
Mereka melesat serempak, menempel pada permukaan tak kasatmata itu. Cahaya langsung meledak.
Brraaaaaa!!
Sinar terang terbentuk di udara kosong, memetakan bentuk dinding transparan itu untuk pertama kalinya. Permukaannya seperti kaca raksasa berlapis ribuan segel.
Para siluman refleks menutup mata. Naga hijau memalingkan kepala. Naga merah muda menundukkan wajah.
Cahaya itu bertahan beberapa detik yang terasa sangat lama. Lalu…lenyap.
Keheningan kembali. Ketika semua membuka mata, segalanya tampak normal. Tidak ada cahaya. Tidak ada simbol. Tidak ada retakan. Hanya mulut goa yang sunyi.
Sha Nuo berkedip beberapa kali.
“Apa yang terjadi?”
Boqin Changing menguap kecil.
“Aku sudah menonaktifkan sementara dinding tak terlihat itu.”
Sha Nuo menatapnya datar.
“Jangan bercanda.”
Boqin Changing tertawa pelan.
“Kau boleh mencobanya.”
Sha Nuo menunduk, mengambil batu kecil di bawah kakinya. Ia menimbangnya sebentar. Lalu melemparkan batu itu ke arah mulut goa.
Semua mata mengikuti lintasan batu itu. Batu itu meluncur. Mendekati titik yang sebelumnya memantul, dan…masuk. Batu itu bergulir di dalam goa tanpa hambatan.
Sha Nuo membeku. Para siluman terpaku. Naga hijau menahan napas.
Sementara Boqin Changing hanya berdiri santai, menatap kegelapan goa yang kini terbuka. untuk pertama kalinya sejak mereka tiba, mulut goa itu tidak lagi terasa seperti penghalang. Melainkan undangan menuju sesuatu yang jauh lebih misterius di dalamnya.