Dominic Vance bukan sekadar CEO; dia adalah monster korporat yang menghancurkan perusahaan demi olahraga. Kejam, paranoid, dan tak tersentuh.
Hanya satu orang yang berani menatap matanya tanpa gemetar: Harper Sloane, sekretaris eksekutifnya yang berhati dingin. Harper membereskan kekacauan Dominic, memegang semua rahasia gelapnya, dan menjadi satu-satunya wanita yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Namun, saat Harper mengajukan pengunduran diri untuk membalas dendam masa lalunya, Dominic tidak memecatnya. Dia mengunci pintu. Baginya, Harper bukan sekadar aset. Dia adalah obsesi.
"Kau bisa lari ke ujung dunia, Harper. Tapi aku akan membeli tanah tempatmu berpijak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Mata-mata Korporat
"Tutup pintumu, Dom. Kau mengganggu pemandanganku," balas Harper tajam. Wanita itu memungut penghapus papan tulis yang baru saja dilempar Dominic, lalu melemparnya balik ke arah sang bos dengan kecepatan penuh.
Dominic menghindar dengan cepat. Penghapus itu membentur kusen pintu dan jatuh ke lantai karpet.
"Kau berani melempar bosmu?!" raung Dominic tidak terima.
"Kau yang mulai duluan! Dan aku sedang membalas email penting dari klien, bukan cuma tersenyum pada ponsel!" bantah Harper sambil kembali mengetik di komputernya. Padahal, dia baru saja selesai mengirim balasan berupa stiker kucing lucu kepada Ryan.
Dominic mendengus kasar, lalu memutar tubuhnya dan membanting pintu ruang kerjanya hingga tertutup rapat. Pria itu berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya seperti macan yang sedang dikurung. Pikirannya dipenuhi oleh nama 'Ryan si dokter hewan'. Siapa pria itu sebenarnya? Berani-beraninya dia mendekati aset paling berharga milik Vance Corp.
Dominic berhenti melangkah. Dia menatap layar televisi raksasa yang masih terhubung dengan ruang server. Ide gila langsung melintas di otak bisnisnya yang licik.
Pria itu menekan tombol interkom di mejanya. "Herman! Kau masih di sana?!"
"Masih, Pak Dominic! Kami sedang membersihkan sisa-sisa cache dari serangan tadi," jawab Herman cepat dari seberang saluran.
"Tinggalkan itu sebentar. Aku punya tugas khusus untukmu. Sangat rahasia dan harus selesai dalam sepuluh menit."
"Tugas apa, Pak? Melacak peretasnya?"
"Bukan!" sergah Dominic kesal. "Aku mau kau meretas ponsel Harper Sloane sekarang juga!"
Hening melanda saluran interkom itu selama beberapa detik. Herman terdengar menelan ludah dengan susah payah.
"M-meretas ponsel Nona Harper? Tapi Pak, tingkat keamanan perangkat Nona Harper pasti setara dengan dinding pertahanan Pentagon. Kami tidak mungkin bisa menembusnya tanpa ketahuan."
"Aku tidak peduli bagaimana caramu melakukannya! Pakai semua sumber daya divisi IT! Aku mau kau menyadap aplikasi kencan bernama TemanKencan di ponselnya! Aku butuh semua riwayat obrolannya dengan seorang pria bernama Ryan!" titah Dominic mutlak.
"Pak, itu pelanggaran privasi tingkat berat. Nona Harper bisa menuntut perusahaan kita..."
"Lakukan atau kau kupecat hari ini juga, Herman!" ancam Dominic kalap. "Pria bernama Ryan itu adalah ancaman potensial bagi keamanan data perusahaan kita! Harper adalah sekretaris utamaku, dia memegang semua rahasia bisnis Vance Corp. Bagaimana kalau dokter hewan itu ternyata mata-mata dari perusahaan saingan yang menyamar?!"
Dominic menciptakan alasan fiktif yang terdengar sangat masuk akal demi menutupi rasa cemburunya yang memalukan. Herman, yang masih trauma dengan ancaman pemecatan, akhirnya terpaksa mengiyakan perintah bosnya yang otoriter itu.
"B-baik, Pak. Kami akan mencoba menyusup lewat jaringan Wi-Fi kantor yang sedang dia gunakan."
Dua puluh menit kemudian, sebuah pesan masuk ke email pribadi Dominic. Herman berhasil mengirimkan tangkapan layar obrolan antara Harper dan Ryan. Dominic langsung membuka lampiran tersebut dengan jantung berdebar kencang. Matanya menyapu deretan teks yang berisi percakapan ringan, saling lempar lelucon, dan pujian-pujian manis yang membuat Dominic merasa ingin muntah.
Tatapan Dominic mendadak terkunci pada satu pesan terakhir dari Ryan.
Aku sudah memesan meja di La Bella Vita, Sabtu jam 7 malam. Jangan terlambat ya.
La Bella Vita. Restoran Italia bintang lima yang paling romantis di pusat kota. Tempat di mana pria-pria biasanya melamar kekasih mereka.
Dominic menggeram tertahan. Otaknya langsung berputar cepat menyusun strategi penghancuran.
Pria ini benar-benar serius mengajak sekretarisnya kencan romantis. Dominic tidak bisa membiarkan ini terjadi.
QDia tidak akan membiarkan Harper keluar dari jangkauannya, apalagi bersenang-senang dengan pria lain.
Tanpa berpikir dua kali, Dominic menekan tombol interkom yang langsung terhubung ke meja Harper.
"Harper, masuk ke ruanganku sekarang. Bawa tablet jadwalmu," perintah Dominic dingin.
Semenit kemudian, Harper masuk ke dalam ruangan. Wajahnya kembali sedatar papan ujian. "Ada apa lagi? Jadwalmu hari ini sudah bersih setelah rapat dengan dewan direksi nanti sore."
"Aku mau kau mengecek jadwalku untuk hari Sabtu ini," kata Dominic sambil bersandar di kursinya, memasang wajah tanpa dosa.
Harper menggeser layar tabletnya. "Sabtu ini jadwalmu kosong. Kau menolak semua undangan main golf dan makan malam bisnis."
"Ubah jadwalku," titah Dominic. "Aku mau terbang ke Paris akhir pekan ini. Ada urusan mendadak dengan calon investor dari Eropa."
Harper menaikkan sebelah alisnya, sedikit curiga. "Investor Eropa? Sejak kapan? Semua divisi kita sedang fokus pada pasar Asia bulan ini. Lagi pula, terbang ke Paris secara mendadak akan memakan biaya operasional yang sangat besar."
"Itu urusanku. Tugasku mencari uang, tugasmu mengatur jadwal. Pesankan tiket kelas satu untuk penerbangan hari Sabtu pagi. Dan jangan lupa, kau harus ikut denganku sebagai asisten utama," ucap Dominic dengan nada paling datar yang bisa dia buat.
Harper membelalakkan matanya lebar-lebar. "Aku ikut? Ke Paris? Di hari Sabtu?"
"Tentu saja. Siapa lagi yang akan mencatat hasil rapatku dan memastikan supirku tidak tersesat di jalanan kota sana?" Dominic menatap Harper dengan tatapan menantang. "Kenapa? Kau keberatan bekerja di akhir pekan? Kau kan sekretaris yang selalu haus akan uang lembur."
Harper mencengkeram tablet di tangannya dengan kuat. Dia tahu betul bahwa ini bukan urusan bisnis. Ini adalah bentuk sabotase tingkat lanjut dari sang bos. Dominic sengaja memberinya tugas perjalanan dinas mendadak agar dia tidak bisa pergi kencan dengan Ryan.
"Aku tidak bisa pergi hari Sabtu ini, Dom," tolak Harper tegas. "Aku sudah punya rencana pribadi yang sangat penting."
"Oh, ya? Rencana apa? Mengurus kucing jalanan bersama dokter hewan miskinmu itu?" sindir Dominic sinis.
"Itu bukan urusanmu! Aku akan meminta asisten cadangan, Klara, untuk menemanimu ke Paris. Dia pasti bersedia."
"Klara tidak tahu cara menyusun jadwal harianku! Aku maunya kau!" bantah Dominic keras kepala.
"Tidak, Dom! Aku punya hak untuk menolak lembur di akhir pekan!"
"Kalau begitu kau melanggar kontrak kerja!"
Mereka berdua saling bertatapan dengan kilatan permusuhan yang sangat tajam. Aura di dalam ruang kerja raksasa itu kembali terasa panas dan menegangkan. Harper sama sekali tidak mau mengalah, dan Dominic juga tidak akan pernah membiarkan wanita itu menang.
"Baiklah," ucap Dominic tiba-tiba dengan nada yang anehnya terdengar sangat tenang. Pria itu mengedikkan bahu pelan. "Kalau kau memang tidak mau ikut, aku akan membatalkan penerbangan ke Paris itu. Urusan bisnisnya biar diurus divisi lain saja."
Harper menatap bosnya dengan curiga tingkat tinggi. Dominic Vance yang dia kenal tidak pernah menyerah semudah ini. Pasti ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh otak licik pria itu.
"Kau membatalkannya begitu saja?" tanya Harper tidak percaya.
"Ya. Kau boleh pergi kencan dengan tenang, Harper. Selamat menikmati akhir pekanmu," ucap Dominic sambil menyunggingkan senyum misterius yang membuat bulu kuduk Harper meremang.
Harper akhirnya keluar dari ruangan itu dengan perasaan waspada yang luar biasa. Dia yakin seratus persen Dominic sedang merencanakan sesuatu yang sangat buruk.
Dan tebakan Harper sama sekali tidak meleset.
Di dalam ruangannya, Dominic kembali menekan layar komputernya. Senyum licik terukir tajam di bibir pria itu.
"Kau pikir kau bisa bersenang-senang dengan pria lain di belakangku, Harper? Kita lihat saja nanti siapa yang akan tertawa paling akhir."
Kalo emnk km tertarik dg Harper tggal ngomong baik2 gx perlu ngrendahin org lain ,,
Dominic kasih liburan dlu deh ,,
biar fresh jiwa dn raga ny ,,
gx usah jauh2 ,,
kirim k Amazon aj laa ,,
bikin rusuh trus soalny🤭🤭🤣🤣🤣