David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
(Episode 26) Musuh bebuyutan
Suasana pesta itu masih tampak bergejolak. Sementara Laila yang belum terbiasa bahkan tidak kenal siapapun disana, hanya terduduk diam seraya mengamati David di kejauhan.
Pria itu kelihatan sibuk mengobrol. Ia berdiri angkuh di tengah-tengah kerumunan para pengusaha dan pejabat tersebut. Dengan penampilan elegan, tubuh tinggi tegap, serta aura dingin yang kuat, ia bagaikan bintang utama di manapun ia berada.
Orang-orang tertawa mendengar ucapannya. Beberapa bahkan tampak sangat menghormatinya.
David berbicara santai sambil memegang gelas minuman, seolah pesta ini adalah wilayah kekuasaannya.
Laila sudah lama menatapnya. Sebenarnya, ia mulai bosan dan mengantuk. Namun dia enggan untuk mengganggu.
Laila menghela napas pelan. "Haa..."
Ia menunduk sedikit sambil memainkan ujung gaunnya.
"Kapan ini akan selesai?" batinnya.
Sejujurnya, ia merasa sangat canggung. Sebab semua orang tampak asing. Ia juga segan untuk menimbrungi percakapan mereka, takut dikira sok kenal. Laila merasa seperti tamu yang tersesat di dunia orang-orang besar.
Semuanya mengenal David. Tetapi tidak seorang pun menganggapnya ada. Seolah ia benar-benar hanya pendamping.
"Kenapa aku malah bersedih sih?" batinnya menggeleng cepat.
"Untuk apa aku memikirkan semua ini? Toh aku cuman wanita yang menjalin kontrak dengan David selama satu tahun saja, dan akan pergi setelahnya."
Di sisi lain aula yang lebih gelap, seseorang sedang memperhatikan Laila. Sesosok pria yang berdiri bersandar pada pilar marmer, memegang gelas sampanye. Matanya menyipit. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum licik.
Pinggir matanya menghitam dan sorot tatapannya sayu, tampak seperti orang yang jarang tidur.
Pria itu memutar gelasnya perlahan. Lalu dari saku dalam jasnya, ia mengeluarkan sebuah kapsul kecil.
Dengan gerakan sangat halus, ia memecahkan kapsul itu di atas gelas sampanye. Serbuk putih yang hampir tidak terlihat larut dalam cairan emas itu. Ia mengaduknya perlahan. Senyumnya semakin lebar.
Kemudian ia berjalan menghampiri Laila. Langkahnya santai. Percaya diri.
Laila yang menatap lantai tidak menyadari bahwa seseorang mendekat, sampai suara pria itu terdengar.
"Nyonya Laila Mendoza?"
Laila tersentak. Ia mendongak cepat. Pria asing berdiri di depannya, tersenyum ramah sambil mengulurkan segelas sampanye.
Laila mengerutkan kening. "Anda siapa?"
Pria itu tertawa kecil. "Oh iya..."
Ia menepuk dahinya pelan. "Saya baru ingat kalau ini adalah pertemuan pertama kita."
Sebelum Laila sempat bereaksi, pria itu meraih tangan Laila dengan lembut. Ia membungkukkan badan. Sesudahnya mengecup punggung tangan wanita itu dengan sopan.
"Perkenalkan." Ia mengangkat kepalanya.
Ia tersenyum sengir. "Saya Mario Eltocuyo."
Tatapan matanya berubah tajam. "Teman lama David Mendoza."
Laila terhenyak. Refleks ia menarik tangannya kembali. Mario tidak terlihat tersinggung. Ia justru tetap tersenyum.
"Sayang sekali." Mario memandang ke arah kerumunan tempat David berada.
"Lihatlah..."
Di kejauhan, David masih sibuk berbicara dengan para tamu penting. Mario mendekat sedikit. Di bibirnya masih tersungging senyum yang sulit dibaca.
"Di acara sepenting ini..."
Ia menatap Laila dari atas ke bawah. "Istri secantik Anda malah dijadikan pajangan saja oleh David Mendoza."
Laila terdiam. Kalimat itu menusuk dan terasa menekan dadanya. Ia tidak menjawab. Mario menatapnya beberapa detik. Lalu tertawa kecil.
"Apa Anda tahu tujuan dari jamuan makan ini, Nyonya?"
Laila menggeleng.
Mario mengangguk pelan. Ia lalu menaruh gelas sampanye ke tangan Laila.
"Ini adalah jamuan makan yang digelar setahun sekali."
Laila memegang gelas itu tanpa sadar.
Mario mulai menjelaskan dengan nada santai. "Yang menghadiri acara ini bukan sembarang orang."
Ia menunjuk sekeliling aula.
"Ada pengusaha besar."
"Selebriti."
"Pejabat pemerintah."
"Hingga orang-orang dari lembaga keamanan."
Laila menyimak dengan seksama. Mario melanjutkan dengan suara lebih rendah.
"Selain untuk bersenang-senang..."
"Acara ini sebenarnya hanyalah kedok."
Tatapan Laila berubah. "Kedok?"
Mario mengangguk. "Kedok untuk urusan bisnis."
Ia berbisik pelan. "Dan yang paling utama..."
Senyumnya berubah tajam. "Jamuan ini dimanfaatkan para konglomerat untuk menjalin relasi dengan mafia... Gangster... Kartel... dan Organisasi bawah tanah."
Laila membeku.
Mario terus berbicara. Ia menunjuk beberapa orang di ruangan. "Semua orang di sini punya wajah yang berbeda."
"Mulai dari wajah bisnis hingga pembunuh."
Bulu kuduk Laila meremang.
Mario mendekat ke telinganya. "Aku kasih contoh. Misalnya seperti suamimu. David Mendoza."
Ia menatap ke arah pria itu di kejauhan. "Yang menghabisi banyak nyawa orang, bersama para anak buah organisasinya."
"Semua dia lakukan demi uang dan kedudukan tentunya."
Laila terperangah. Ia memang tahu David bukan orang biasa. Melainkan pria kejam, yang kejahatannya sering terdengar dimana-mana.
Tetapi, mendengar kenyataan itu dari orang asing yang penampilannya lebih seram dari David, membuatnya tubuhnya merinding dan merasa seperti baru saja melihat sisi lain dari dunia orang-orang berkuasa.
Mario menatapnya puas.
Di pojok lain aula, David yang sedang berbicara dengan beberapa pengusaha besar, menolehkan pandangan karena perasaannya tidak enak.
Matanya bergerak memastikan tempat Laila terduduk. Dan saat itu juga, matanya langsung membelalak.
Mario Eltocuyo. Pemimpin Dark Wings, sebuah organisasi bawah tanah yang merupakan musuh bebuyutannya. Ia dan pria itu telah melalui intrik yang cukup panjang. Sehingga keduanya menjadi dua insan yang saling membenci.
Dia tampak sangat dekat dengan Laila. Wajah David langsung berubah.
"Sialan..." Batinnya menegang.
"Orang itu... kenapa harus muncul sekarang?"
Tanpa berpikir panjang, David langsung menghentikan percakapan. Ia bahkan tidak peduli dengan para tamu yang memanggilnya.
Langkahnya panjang. Cepat. Matanya tajam seperti predator. Beberapa detik kemudian, ia sudah memasang badan di depan Laila, menghalau pandangan Mario terhadap istrinya itu.
Tanpa bicara sepatah kata pun, David merenggut gelas sampanye dari tangan Laila dan meneguknya habis.
Mario langsung terkejut. Matanya membola. "Sial. Kenapa dia datang? Padahal tadi dia kelihatan sibuk, sehingga terkesan tidak mempedulikan istrinya sedikitpun."
Mario segera mengontrol ekspresinya. Ia tersenyum santai. "Wah. David Mendoza ternyata. Kukira tadi siapa," ujarnya.
David menatapnya dingin. Dengan suara rendah ia berkata, "istriku tidak ingin diganggu."
Matanya memicing sinis. "Terutama oleh lalat sepertimu."
Perkataan tersebut menancap mulus ke Mario. Pria itu terdiam sejenak lalu sesudahnya, ia mengangkat kedua tangan dengan santai.
"Hei, hei..."
Ia menyeringai. "Tenanglah. Aku tidak berniat mengganggu istrimu."
"Aku hanya kasihan saja melihatnya sendirian, seolah cuma dijadikan barang pameran yang bersejarah," bisiknya tersenyum picik.
Mata David memerah. Amarahnya mulai naik. Tetapi sebelum ia bereaksi, Mario menapak bahunya ringan sembari berkata, "aku pergi dulu. Maaf telah mengganggu."
Ia menghentikan langkah sejenak. Menoleh dan berucap, "sampai bertemu kembali."
Lantas, Mario pun berjalan pergi. Menghilang di antara kerumunan tamu. David berdiri kaku. Tangannya mengepal kuat. Urat di lehernya menegang.
Tiba-tiba—
KRAK!
Gelas di tangannya pecah. Pecahan kaca jatuh ke lantai. Laila terkejut. Mukanya langsung pucat.
"De… Dev…"
Ia menunjuk tangan David. "Tanganmu…"
David seakan tidak merasakannya. Ia malah memegang kedua bahu Laila. Tatapannya penuh kekhawatiran. "Katakan padaku. Apa dia telah menyentuhmu?"
Laila tersentak.
Ia segera menggeleng. "Tidak."
Jawaban itu membuat bahu David sedikit turun. Ia menghela napas panjang dengan lega. Tanpa diduga, ia menarik Laila ke dalam rengkuhannya sembari menguntaikan, "Lain kali... Aku akan lebih memperhatikanmu."
Laila terpaku. Ia bingung dengan kata-kata tersebut. Anehnya, pelukan David terasa hangat, aman dan damai. Laila memang tak membalas pelukannya, tapi juga tidak menolaknya.
Di tengah pesta penuh ketegangan itu, Laila akhirnya merasa tidak sendirian.
Namun, yang terjadi selanjutnya lebih mencengangkan. Karena mendadak, David semakin mengencangkan pelukannya dengan nafas terengah-engah.
"Hah... Hah..." suhu tubuh David memanas. Seperti air yang mendidih. Wajahnya lebih merah dari tomat matang.
Laila keheranan. Ia ikut gerah juga, sebab pelukan erat David membuatnya pengap dan hampir sesak.
"Dev... Anda kenapa?" lenguhnya cemas.
"Laila... Sepertinya aku..." lirih David yang ia lanjut dengan, "telah berbuat kesalahan."
Deggg.
"Maksud anda?" kening Laila berkedut.
"Aku... membutuhkan bantuanmu."