NovelToon NovelToon
From Turis To Will You Marry Me

From Turis To Will You Marry Me

Status: tamat
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ws. Glo

David Mendoza adalah pria paling menakutkan dan problematik di Sao Paulo, Brazil. Selain karena ia seorang Chief Executive Officer (CEO) perusahaan minyak dan gas terbesar kedua di negara itu, David merupakan ketua kartel kelas kakap. Sehingga membuatnya amat diwaspadai, baik di dunia bawah tanah maupun dalam pergulatan bisnis. Tidak ada yang berani menyentuhnya.
Sampai pada suatu hari, Laila Cakrawala yang merupakan seorang turis asal Indonesia, membuatnya terpana. Sejak saat itu, David terobsesi untuk mendapatkan Laila yang ternyata sudah menikah.
Tetapi, hubungan rumit itu jelas memancing banyak tantangan, baik soal perasaan maupun alur kehidupan mereka, meski sekalipun David berhasil menjerat Laila dengan kedok uang pinjaman sebesar lima ratus juta!
Akankah ini semua bakal berakhir bahagia? Atau malah, sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ws. Glo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Episode 31) Jalur kehidupan tiga insan

Esok hari, dimana pagi menyambut dengan sangat senang hati, Laila berada di dalam perpustakaan yang sering menjadi tempatnya menghabiskan waktu, entah sekedar membaca buku dan novel ataupun duduk termenung selama seharian penuh.

Di sana, ia merasa tenang. Tidak ada tatapan menilai maupun tekanan sosial, seperti yang ia alami di pesta-pesta kalangan elit. Hanya ada buku, keheningan, dan pikirannya sendiri.

Laila duduk di kursi kayu panjang di dekat meja baca besar. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, sementara sebuah buku tebal tentang manajemen perusahaan terbuka di hadapannya. Alisnya berkerut halus saat ia mencoba memahami diagram rumit tentang struktur organisasi perusahaan.

Namun keheningan itu tidak berlangsung lama. Pintu perpustakaan terbuka perlahan.

Cekretttt.

Langkah kaki terdengar mendekat. Laila menoleh. Leo masuk sambil membawa beberapa map tebal di kedua tangannya. Ekspresinya tenang seperti biasa. Tanpa berkata apa-apa, ia berjalan ke arah meja.

Lalu—

Brakk.

Tumpukan demi tumpukan map yang menggunung, dijatuhkan di hadapan Laila. Meja besar itu kini dipenuhi berkas-berkas tebal yang ditata bertumpuk seperti menara kecil.

Laila membeku. Matanya melebar.

"Ini adalah file-file penting yang harus Anda pelajari mengenai ODM Company, Nyonya Laila," ucap Leo dengan nada profesional.

Beberapa detik berlalu. Laila masih diam. Kemudian ia bertanya dengan mata yang terbelalak, "sebanyak ini?!"

Leo mengangguk santai. Senyuman kecil yang tampak seram, terlukis di wajahnya. Sementara Laila, hampir tersedak ludahnya sendiri.

Leo pun membuka salah satu map dan menunjuk beberapa halaman. "Disini adalah laporan keuangan di lima tahun terakhir."

Ia membuka map lain. "Lalu yang ini struktur kepemimpinan perusahaan."

"Kemudian bagian sini, tentang jaringan bisnis global ODM Company."

Laila ternganga melihat tumpukan yang bagaikan gunung Everest itu. Lagi-lagi, ia meneguk air liurnya dengan kasar.

Ruang perpustakaan yang tadi terasa damai sekarang terasa menakutkan. Tetapi tidak berlangsung lama ketika beberapa waktu kemudian, ekspresi wajahnya berubah.

Matanya yang tadi panik perlahan menjadi teguh. Ia mengepalkan tangannya.

"Tak masalah..." batin Laila. "Semua demi gaji tujuh ratus lima puluh juta!"

"Sebab kemewahan yang kudapat dari David sekarang, hanya bersifat sementara. Setelah kontrak pernikahan ini berakhir, semua itu pasti akan kembali menjadi miliknya lagi."

Kobaran api seolah menyala di kedua bola mata Laila. Sehingga membuat Leo menatapnya dengan ekspresi kebingungan.

"Untuk itu…" Laila berdiri dari duduknya. Memukul meja dan lanjut berkata, "aku harus berjuang!"

Duing.

Leo tersentak karena tiba-tiba Laila bertindak demikian. Seperti panglima perang, yang hendak mengikrarkan perang.

Selang seperkian detik, Leo tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya sejak mengenal Laila, ia akhirnya dapat melihat tekad yang sesungguhnya di mata wanita itu.

Ia pun berkata pelan, "saya akan selalu membantu anda, Nyonya."

Hari demi hari berlalu. Apa yang awalnya hanya satu hari belajar berubah menjadi rutinitas panjang. Yang mulanya cuma satu hari jadi seminggu, lalu berminggu-minggu.

Ruang perpustakaan itu langsung menjadi markas Laila. Setiap hari ia duduk di sana. Membaca laporan keuangan, mempelajari grafik saham, memahami strategi pemasaran global.

Kadang-kadang, Leo duduk di depannya sambil memberi penjelasan dan seringkali memberikan pertanyaan mendadak. Awalnya Laila hanya bisa terbata-bata menjawab. Namun seiring waktu, jawabannya semakin jelas dan matang.

Di sisi lain, David juga menjalani hari-hari yang tidak kalah sibuk. Pagi hari dimulai dengan rapat. Siangnya, ia turun langsung ke lapangan meninjau proyek serta mengawasi pembangunan hingga menjelang sore. Malam hari, pekerjaannya tetap berlanjut. Ia masih harus memantau aktivitas organisasi bawah tanah yang berada di bawah kendalinya.

Sejak kepulangan Mario Eltocuyo ke Brazil, David menjadi jauh lebih waspada. Mario bukan orang yang bisa diremehkan. Pria itu ambisius dan licik. Ia pasti akan melakukan apapun demi membalaskan dendamnya. Satu kesalahan kecil saja bisa menjadi celah baginya untuk menyerang David Mendoza.

Karena itu, David memperhatikan semuanya. Detail sekecil apa pun. Baik di perusahaan maupun di organisasinya. Hari-harinya penuh tekanan.

Tetapi di tengah semua itu, ada satu hal yang selalu membuatnya tersenyum, yaitu keberadaan Laila.

Beberapa hari terakhir, mereka memang jarang menghabiskan waktu. Namun ada satu hari dimana mereka kentara bersama. Misalnya pada suatu pagi, di ruang makan.

Meja panjang itu dipenuhi berbagai hidangan mewah. Ada roti panggang, telur, dan buah-buahan segar.

Laila duduk di salah satu kursi, yang bertepatan disebelah David. Tapi bukannya fokus pada makanan, ia malah membaca buku tebal tentang strategi bisnis.

Satu tangannya memegang buku, sedangkan satunya lagi untuk menyuapkan makanan ke dalam mulut.

Sejak duduk di meja makan, David tidak mengalihkan pandangannya dari wanita itu. Ia kelihatan fokus dan serius, sampai-sampai alisnya berkerut. Meski begitu, mulutnya tetap mengunyah makanan tak peduli masuk ke mulut atau lobang hidung.

David tersenyum tipis.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya David.

Laila mengangguk sambil mengunyah. "Iya." Matanya kembali ke buku.

David memperhatikan wajahnya beberapa detik. Wanita itu benar-benar kelihatan serius, hingga terkesan mengabaikannya yang berada disitu.

"Dia sangat bersemangat sekali," batin David melebarkan senyum puas. Tatapannya menjadi sedikit hangat.

"Itu baru wanitaku," lanjutnya dalam hati dengan seringai kecil yang muncul di sudut bibirnya. Ia tidak mengatakan apa-apa lagi, dan memilih untuk melanjutkan sarapan paginya, sambil memandangi wanita cantik yang ada di depan matanya.

Terkadang pada malam hari ketika David pulang kerja, ia mengunjungi kamar Laila. Disaat ia membuka pintu perlahan–seperti yang ia duga, Laila tertidur.

Ranjang besar itu penuh dengan buku, lembaran catatan, pulpen serta Laptop yang masih menyala. Laila sendiri, tertidur di tengah lautan kertas tersebut.

David menghela napas kecil. Ia berjalan menghampiri. Dengan hati-hati, ia memindahkan buku-buku itu. Mengumpulkan kertas-kertas. Menutup laptop. Menata semuanya di meja.

Setelah kamar kembali rapi, ia duduk di tepi ranjang. Menatap wajah Laila yang tertidur pulas. Rambutnya menutupi sebagian pipinya. David menyibakkannya perlahan. Tatapannya teduh.

Beberapa detik ia hanya memandang. Setelahnya, ia menunduk sedikit dan mengecup kening wanita itu.

Chuppp.

"Bodoh," gumamnya pelan.

**********

Waktu terus berjalan. Tanpa terasa, beberapa minggu telah berlalu.

Di tempat lain, di gedung Miu Corp yang berdiri megah di tengah kota Jakarta. Berlokasi di lantai paling atas di ruang CEO, Bella tampak duduk di balik meja kerjanya seperti biasa.

Di depannya berdiri seorang pria, yang siapa lagi kalau bukan Dio Hardi. Sudah sebulan pria itu mengabdikan diri di Miu Corp. Dan hari ini, Bella selaku yang punya wewenang tinggi di perusahaan itu, membawa kabar baik untuknya.

"Selamat, Pak Dio..." ucap Bella menutup map di tangannya seraya tersenyum sumringah.

Dio menahan napas.

"Usaha Anda terbayarkan." Senyum Bella semakin lebar. "Berkat kerja keras Anda, produk perusahaan kita berkembang pesat."

Dio menunduk hormat. "Terima kasih..."

Bella lalu berkata, "Ini menandakan bahwa Anda berhak ke Brazil."

Dio terkejut. "Be–benarkah, Bu CEO?

Bella mengangguk. "Sabtu ini kita akan berangkat Sao Paulo, untuk mempersiapkan dan mengikuti rangkaian acara pembukaan kantor cabang Miu Corp di sana."

Ia menatap Dio serius. "Dan Anda akan menjadi salah satu karyawan, yang mewakili perusahaan untuk menghadiri acara pembukaannya."

Mata Dio langsung berbinar. Ia hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Terima kasih, Bu CEO!"

Ia membungkuk dalam-dalam. Peluang ini sangat besar. Kariernya bisa melonjak jauh, dan jalannya untuk bertemu Laila semakin dekat. Dio sudah tidak sabar.

Di pikirannya, takdir akan segera mempertemukannya kembali dengan wanita yang berharga dalam hidupnya. Seseorang yang kini telah menjadi istri pria lain, tanpa sepengetahuannya.

Dan di dunia yang luas ini, jalur kehidupan mereka bertiga... perlahan mulai bergerak menuju satu titik yang sama. Hanya tinggal menunggu waktu, dimana saat itu akan tiba.

1
M
/Determined/
Wssshh🐳: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣💪
total 2 replies
Masha 235
maaf ya author yg nulis cerita ini ..maaf kalo sekiranya ada kata kataku yg menyinggung🙏🙏ini secara tidak langsung cerita ini kn perselingkuhan ,1 wanita punya 2 suami..maaf nggak repect🙏🙏
M: yaudah kan tinggal gausah baca kak🙏 novel modelan begini juga banyak kali😂 anda datang-datang cuma ngasih komen begini. ngotorin karya orang aja😍🙏 pelit like dan cuma numpang baca aja banyak omong😍 hargai author. minimal sebagai pembaca ada etikanya🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!