NovelToon NovelToon
Pedang Penakluk Langit

Pedang Penakluk Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

di Benua Roh Azure, kekuatan adalah segalanya. Ye Yuan, seorang murid luar dari Sekte Pedang Surgawi, ditakdirkan menjadi sampah seumur hidup karena Dantian-nya yang direbut kembali. Saat ia didorong ke dalam keputusasaan dan dibuang ke Lembah Kuburan Senjata, ia mendengar panggilan. Bukan dari pedang suci yang berkilauan, melainkan dari sebilah pedang besi hitam yang patah dan berkarat. Pedang itu bukan sekedar rongsokan; ia adalah pecahan dari "Penyegel Langit" yang dulu digunakan oleh Dewa Perang kuno untuk memenggal bintang. Dengan pedang patah di tangan, Ye Yuan bersumpah:"Jika Langit menindasku, akan kubelah Langit itu. Jika Dewa menghalangiku, akan kupatahkan leher Dewa itu!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Kemurkaan di Depan Nisan

Langit malam di atas Desa Batu Kapur seakan runtuh.

Sebuah meteor hitam jatuh dari bukit, menghantam tanah tepat di antara kerumunan warga desa yang ketakutan dan para bandit yang menyandera mereka.

DUARRR!

Tanah bergetar hebat. Gelombang kejut menyapu alun-alun desa, menerbangkan debu, kerikil, dan beberapa bandit yang berdiri terlalu dekat.

Ketika debu perlahan menipis, sesosok pemuda berdiri di dalam kawah kecil. Lututnya sedikit menekuk, satu tangan menumpu pada tanah, sementara tangan lainnya mencengkeram gagang pedang hitam yang memancarkan aura kematian.

Rambut panjangnya berkibar liar ditiup angin panas. Matanya yang menyala ungu menatap lurus ke depan, menembus kegelapan.

"Ye... Ye Yuan?" suara gemetar Kepala Desa Zhang terdengar dari barisan sandera.

Para warga desa nyaris tidak mengenali anak yatim piatu yang dulu kurus dan sering membantu mereka memanggul kayu bakar. Pemuda di depan mereka ini memancarkan aura yang lebih mengerikan daripada bandit manapun.

"Siapa kau?!" teriak salah satu bandit, seorang pria botak dengan kapak besar. "Berani mengganggu 'Kelompok Serigala Besi'? Cari mati!"

Ye Yuan perlahan bangkit berdiri. Dia tidak menoleh pada bandit itu. Matanya terkunci pada sosok raksasa di atas bukit makam: Si Jagal Besi.

"Kalian..." suara Ye Yuan rendah, namun setiap suku katanya terdengar seperti gesekan logam berkarat. "Kalian mengotori tanah ini dengan napas kalian."

"Bunuh dia!" perintah bandit botak itu.

Enam bandit di sekitar Ye Yuan menerjang maju serentak. Mereka semua adalah kultivator tingkat rendah (Tingkat 4-5), cukup kuat untuk menindas warga biasa, tapi di hadapan Ye Yuan saat ini? Mereka hanyalah rumput liar.

Ye Yuan tidak menggunakan teknik. Dia hanya mengayunkan pedang patahnya membentuk setengah lingkaran.

WOOSH!

Angin hitam menderu.

Tidak ada jeritan.

Dalam sekejap mata, enam bandit itu terpotong di pinggang. Tubuh bagian atas mereka terpisah dari kaki, jatuh berdebum ke tanah dengan ekspresi bingung yang membeku di wajah mereka. Darah menyembur serentak, menciptakan hujan merah di alun-alun desa.

Para warga desa menjerit histeris, menutup mata anak-anak mereka.

Ye Yuan mengibaskan pedangnya. Darah tidak menempel di bilah hitam itu; darah itu terhisap ke dalam logam.

"Siapa lagi?" tanya Ye Yuan datar.

Sisa-sisa bandit di alun-alun mundur ketakutan. Kaki mereka gemetar. Satu tebasan membunuh enam orang? Itu bukan level mereka!

"Minggir, sampah-sampah tidak berguna!"

Sebuah suara berat menggelegar dari atas bukit.

Si Jagal Besi melompat turun dari area makam. Tubuh raksasanya mendarat dengan dentuman keras yang membuat tanah retak lebih parah daripada pendaratan Ye Yuan.

Dia berdiri setinggi dua setengah meter, otot-ototnya seperti bongkahan batu yang dililit rantai besi. Di tangannya, dia memegang Sekop Raksasa—senjata aneh namun mematikan yang beratnya setidaknya tiga ratus kilogram.

Aura Setengah Langkah Pembentukan Fondasi menyapu desa, membuat warga desa sesak napas dan jatuh pingsan satu per satu.

"Jadi kau Ye Yuan?" Jagal Besi menyeringai, memamerkan gigi emasnya. Dia menatap Ye Yuan dari atas ke bawah. "Kecil. Lemah. Tetua Li bilang kau berbahaya? Cuih! Kau cuma tikus yang kebetulan dapat pedang bagus."

Ye Yuan menatap Jagal Besi. Tatapannya kemudian beralih ke sekop raksasa di tangan pria itu. Ujung sekop itu... ada tanah liat basah yang menempel. Tanah dari makam gurunya.

Amarah dingin meledak di dada Ye Yuan.

"Kau menggali makam guruku," kata Ye Yuan.

"Oh, orang tua bangka itu?" Jagal Besi tertawa, memukulkan sekopnya ke tanah. "Ya! Aku bahkan sudah melihat peti matinya. Kayu murahan! Aku berniat membukanya dan memberikan tulang-tulangnya pada anjing liar kalau kau tidak datang. Tapi karena kau sudah di sini..."

Jagal Besi mengangkat sekopnya dan menunjuk Ye Yuan.

"...aku akan meremukkan kepalamu dulu, baru mengencingi tulang gurumu!"

BOOM!

Kesabaran Ye Yuan habis.

Tanpa peringatan, Ye Yuan melesat maju. Langkah Hantu Asura diaktifkan maksimal. Tubuhnya menghilang, berubah menjadi garis hitam yang menuju leher Jagal Besi.

"Cepat!" batin Jagal Besi kaget. Tapi dia adalah veteran pertempuran. Reaksinya instan.

Dia tidak menghindar, tapi mengayunkan sekop raksasanya sebagai perisai.

TRAAANG!

Pedang patah Ye Yuan menghantam permukaan lebar sekop besi itu. Percikan api sebesar kembang api meledak di udara.

Dampaknya mengerikan. Ye Yuan terpental mundur tiga langkah, tangannya mati rasa. Jagal Besi hanya mundur setengah langkah, tapi matanya melotot.

Di permukaan sekop bajanya yang tebal... ada retakan dalam.

"Senjata macam apa itu?!" teriak Jagal Besi. "Sekopku terbuat dari Baja Bintang Dingin!"

Ye Yuan tidak menjawab. Dia menerjang lagi.

Clang! Clang! Clang!

Ye Yuan bertarung seperti orang gila. Dia tidak peduli dengan pertahanan. Dia menyerang, menyerang, dan menyerang. Setiap benturan membuat retakan di sekop Jagal Besi semakin lebar.

"Bocah setan!" Jagal Besi mulai panik. Kekuatan fisik Ye Yuan tidak masuk akal untuk ukuran Tingkat Delapan. Dan pedang itu... setiap kali berbenturan, Jagal Besi merasa Qi-nya tersedot sedikit demi sedikit.

"Mati kau! Teknik Penghancur Bumi: Longsoran Besi!"

Jagal Besi meraung. Otot-ototnya membesar dua kali lipat. Dia mengangkat sekopnya tinggi-tinggi, Qi berwarna cokelat menyelimuti senjata itu, menciptakan ilusi sebuah gunung kecil yang jatuh.

Ini adalah serangan area. Tidak bisa dihindari.

Ye Yuan mendongak. Tekanan udara mengunci tubuhnya. Tanah di bawah kakinya amblas.

"Asura tidak mundur," bisik Ye Yuan.

Alih-alih bertahan, Ye Yuan memegang pedang patahnya dengan kedua tangan, ujungnya mengarah ke langit. Dia mengalirkan seluruh energi Darah Iblis yang dia serap dari Li Feng, ditambah energi darah dari para bandit tadi.

Pedang patah itu meraung. Bayangan merah darah menyelimuti tubuh Ye Yuan.

[Sutra Hati Pedang Asura - Bentuk Pertama: Pembalik Langit!]

Ye Yuan menebas ke atas, menyongsong "gunung" yang jatuh itu.

BLAAARRRR!

Ledakan energi mengguncang seluruh desa. Rumah-rumah di dekat alun-alun runtuh atapnya. Warga desa yang pingsan terlempar berguling-guling.

Di tengah debu tebal, terdengar suara logam patah yang nyaring.

Krak!

Debu menipis.

Pemandangan yang terlihat membuat sisa bandit yang masih hidup menjatuhkan senjata mereka.

Jagal Besi berdiri kaku. Sekop raksasa kebanggaannya... terbelah menjadi dua bagian. Potongan atasnya jatuh menancap di tanah.

Dan di dada bidang Jagal Besi, terdapat garis merah tipis yang memanjang dari bahu kanan hingga pinggang kiri.

"Ba... Bagaimana..." Jagal Besi terhuyung. Darah mulai merembes keluar dari mulutnya. "Aku... Setengah Langkah Pembentukan Fondasi..."

Ye Yuan berdiri di depannya, terengah-engah. Wajahnya pucat, darah mengalir dari hidung dan telinganya akibat dampak benturan tadi. Tangan kanannya gemetar hebat, kulit telapak tangannya robek total.

Tapi matanya... matanya masih menyala, lapar, dan dingin.

"Kau kuat," kata Ye Yuan serak. "Tapi kau membuat satu kesalahan fatal."

"Apa..."

"Kau membangunkan pedang ini di depan makam pemilik aslinya."

Ye Yuan menunjuk ke arah bukit makam di belakang mereka.

Tiba-tiba, Jagal Besi merasakan sesuatu. Pedang patah di tangan Ye Yuan berdengung, beresonansi dengan... tanah makam?

Seolah-olah ada sisa Kehendak Pedang (Sword Intent) purba yang tertidur di dalam makam tua itu, yang kini terbangun dan meminjamkan kekuatannya pada Ye Yuan sesaat.

"Tidak mungkin... Orang tua itu... siapa sebenarnya gurumu..." Jagal Besi menyadari sesuatu yang mengerikan di detik-detik terakhir hidupnya. Orang yang dia gali kuburnya bukan sekadar pengembara miskin.

Ye Yuan tidak memberinya jawaban.

"Enyahlah."

Ye Yuan mengayunkan pedangnya sekali lagi secara horizontal.

Kepala Jagal Besi terbang ke udara. Tubuh raksasanya ambruk, menimbulkan getaran terakhir di tanah Desa Batu Kapur.

Aura merah dari mayat Jagal Besi—seorang kultivator kuat—langsung disambar oleh pedang patah itu. Kali ini, Ye Yuan merasakan aliran energi yang begitu besar hingga dia merasa Dantian-nya akan meledak.

Retak!

Dinding penghalang di dalam tubuhnya hancur.

Ranah Pengumpulan Qi Tingkat Sembilan!

Ye Yuan jatuh berlutut, menahan lonjakan kekuatan yang menyakitkan sekaligus nikmat itu. Dia menggunakan pedangnya sebagai penopang agar tidak rubuh.

Sisa-sisa bandit melihat pemimpin mereka mati. Mereka menjerit ketakutan dan lari kocar-kacir ke dalam hutan.

"Lari! Dia iblis!"

"Jangan kembali ke sini!"

Ye Yuan tidak mengejar mereka. Dia tidak punya tenaga lagi. Lagipula, mereka hanya kroco yang akan menyebarkan teror nama "Ye Yuan" ke dunia luar.

Perlahan, suasana desa kembali sunyi, hanya terdengar isak tangis warga dan gemeretak api yang membakar sisa reruntuhan.

Ye Yuan memaksakan diri berdiri. Dia tidak menghampiri warga desa. Dia takut penampilannya yang berlumuran darah akan membuat mereka semakin trauma.

Dia berjalan tertatih-tatih mendaki bukit, menuju makam gurunya.

Tanah makam itu berantakan. Nisan batunya hancur. Namun, peti matinya masih utuh, meski sedikit terlihat karena galian Jagal Besi.

Ye Yuan menjatuhkan pedangnya, lalu jatuh berlutut di depan peti mati itu. Dia menggunakan tangan kosongnya untuk mengeruk tanah, menimbun kembali makam gurunya dengan hati-hati. Air mata bercampur darah dan debu menetes dari wajahnya.

"Guru... murid tidak berbakti ini terlambat," bisik Ye Yuan, suaranya pecah. "Maafkan aku... maafkan aku..."

Dia menepuk-nepuk tanah yang sudah dia rapikan.

"Mereka mengira ada harta di sini," Ye Yuan tertawa getir. "Mereka tidak tahu... harta terbesar Guru sudah Guru berikan padaku sejak dulu."

Ye Yuan menyentuh dadanya. Di sana, di balik bajunya, tergantung sebuah liontin batu giok kusam—satu-satunya benda yang ditinggalkan gurunya selain gubuk reot.

Tiba-tiba, Kepala Desa Zhang dan beberapa warga desa naik ke bukit dengan obor. Mereka melihat Ye Yuan yang sedang bersujud di depan makam.

"Ye Yuan..." panggil Kepala Desa pelan.

Ye Yuan segera menghapus air matanya. Dia berdiri, membelakangi mereka, mengambil kembali pedang patahnya. Wajah "Asura" kembali terpasang.

"Kepala Desa," kata Ye Yuan tanpa menoleh. "Ambil harta milik Jagal Besi dan bandit-bandit itu. Ada banyak emas dan Batu Roh di kantong mereka. Gunakan untuk membangun kembali desa dan lumbung."

"Tapi... kau mau kemana, Nak? Pulanglah, bibimu akan memasakkan bubur..."

Ye Yuan menggeleng.

"Aku tidak bisa tinggal. Selama aku di sini, bencana akan datang lagi. Orang yang menginginkan nyawaku... dia memiliki kekuasaan besar."

Ye Yuan menoleh sedikit, memperlihatkan profil wajahnya yang tegas di bawah sinar bulan.

"Katakan pada semua orang... Ye Yuan yang dulu sudah mati. Yang ada sekarang hanyalah seorang pendosa yang berjalan di jalan pedang."

"Dan jika ada orang dari Sekte Pedang Surgawi yang datang bertanya..." mata Ye Yuan berkilat dingin. "...katakan pada mereka, aku sedang dalam perjalanan untuk menagih hutang kepala Tetua Li."

Tanpa menunggu jawaban, Ye Yuan melompat ke dalam kegelapan hutan. Dia menghilang seperti hantu, meninggalkan legenda baru di desa kecil itu.

Namun, Ye Yuan tidak kembali ke Sekte. Dia tahu dia belum cukup kuat untuk membunuh Tetua Li secara langsung. Dia butuh tempat untuk menyempurnakan terobosannya ke Tingkat Sembilan, dan mungkin... mencari petunjuk tentang asal-usul pedang patah ini.

Di dalam hutan, pedang di punggungnya bergetar pelan, seolah menunjuk ke arah Timur. Ke arah Pegunungan Binatang Buas, tempat paling berbahaya di wilayah ini.

"Kau ingin ke sana?" tanya Ye Yuan pada pedangnya.

Pedang itu berdengung setuju.

"Baiklah. Mari kita berburu."

[Bersambung ke Bab 12]

1
Nanik S
pergi ke Benua Timur
Nanik S
Ronde dua pembantaian
Nanik S
Sial benar mereka berdua
Nanik S
apakah Ye Yuan dan Mu Bingyun bisa lolos dari mereka
Nanik S
Mu Bingyun peka sekali
Nanik S
Ye Yusn licin seperti belut
Nanik S
Bisakah Yuan selamat
Nanik S
Mu Bingyun... apakah Ye Chen akan pulang bersama Mu Bingyun
Nanik S
Kenapa tidak diambil cincin Komandan Zhu
Nanik S
Ye Chen.... jangan biarkan mereka membunuh Kakek Gu dan Jin Jinoi
Nanik S
Akirnya pedangnya yang patah kini telah utuh
Nanik S
Maaantap
Nanik S
Yuan ada saja.. ngakak main petak umpet di Neraka 🤣🤣🤣
Nanik S
Ternyata kota itu adalah Kuburan para Dewa dan Iblis
Nanik S
Perjalan baru di reruntuhan kuno
Nanik S
Harusnya menemui Tetua Mu
Nanik S
Mantap Tor... 👍👍👍
Nanik S
Semua masuk jebakan Yuan
Nanik S
Makin seru Tor
Nanik S
Shiiiip
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!