NovelToon NovelToon
Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Cinta Yang Lahir Dari Kekeliruan

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Hamil di luar nikah / Cinta Terlarang
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Pita Cantik

Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.

​Dialog Intens Liam kepada Olive
​"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11 TAKDIR DI BALIK CONE ES KRIM

​Minggu, 13 April 2025, Musim Semi

​Udara musim semi di Monte Carlo terasa begitu menyegarkan. Aroma bunga yang baru mekar bercampur dengan hembusan angin laut Mediterania yang sejuk. Hari ini adalah hari libur bagi Olivia Elenora Aurevyn. Namun, libur bagi seorang ibu tunggal berarti waktu sepenuhnya untuk sang putra. Sejak pagi, Leon Alexander atau Alex sudah merengek dengan wajah yang paling menggemaskan, meminta diajak ke taman kota yang sedang ramai diperbincangkan karena festival bunganya.

​"Mama, ayo! Nanti bunganya layu kalau kita tidak berangkat sekarang!" Alex menarik-narik ujung gaun tidur Olive.

​Olive terkekeh, mencubit hidung mancung anaknya. "Iya, Sayang. Mama siap-siap dulu."

​Olive melangkah ke lemari pakaian besarnya. Ia mengambil sebuah dress flora berbahan sutra ringan yang dulu dibelikan oleh Zee dan Vera saat mereka masih di Paris. Gaun itu belum sempat ia pakai karena peristiwa kabur lima tahun lalu. Saat ia mengenakannya, gaun itu melekat sempurna pada tubuh hourglass-nya, menonjolkan kaki jenjang dan kulit porselennya yang berkilau. Dengan rambut long layered yang dibiarkan tergerai dan see-through bangs yang membingkai wajah diamond-nya, Olive tampak seperti dewi musim semi.

​Karena merasa bosan jika hanya berdua, Olive menghubungi geng The Royal Lustre. Tak disangka, Zee, Vera, Kenzo, dan bahkan kakaknya, Brian, setuju untuk bergabung. Namun, sesampainya di taman, Olive justru merasa menyesal.

​"Kalian ke sini untuk piknik atau untuk pamer kemesraan?" gerutu Olive sambil menggendong tas kecil Alex.

​Di depannya, Brian tampak merangkul Vera dengan protektif, sementara Kenzo dan Zee sibuk berfoto dengan pose-pose romantis khas pasangan yang baru saja bertunangan. Olive merasa seperti obat nyamuk di tengah-tengah dua pasangan paling berpengaruh di Monako itu.

​"Makanya, Olive... jangan betah jadi janda muda sendirian. Lihat tuh, Alex butuh paman baru, eh maksudku papa baru," goda Zee sambil tertawa renyah, melirik ke arah Olive yang hanya bisa memutarkan bola matanya secara dramatis.

​"Aku bukan janda, Zee. Aku single," ralat Olive tajam, namun suaranya langsung tenggelam oleh tawa sahabat-sahabatnya.

​"Sama saja, Sayang. Intinya, kau sendirian seperti bunga mawar di tengah padang rumput," tambah Vera dengan nada tenang namun menusuk.

​BAB 11: DILEMA LEMARI PAKAIAN SANG MONARCH

​Di dimensi lain, di dalam walk-in closet mewah milik keluarga Valerius, suasana terasa sangat mencekam bukan karena ancaman keamanan, melainkan karena krisis busana sang Iron Monarch.

​Marcus berdiri tegak dengan wajah yang hampir meledak karena menahan tawa. Di depannya, Liam Maximilian Valerius sedang sibuk melempar kemeja-kemeja mahal ke atas ranjang. Pria setinggi 190 cm itu tampak sangat panik.

​"Marcus! Bukankah ini terlalu kaku?" Liam menunjukkan kemeja sutra hitamnya. "Aku akan ke taman, bukan ke pemakaman musuhku!"

​"Tuan, itu kemeja kasual terbaik Anda," jawab Marcus dengan suara bergetar menahan tawa.

​"Tidak, tidak. Bagaimana dengan polo ini? Apa perut sixpack-ku terlalu menonjol? Aku tidak ingin terlihat seperti sedang pamer otot di depan Alex," gumam Liam lagi sambil berkaca.

​Ia mencoba memakai kemeja linen berwarna biru muda dengan celana chino, lalu menggantinya lagi dengan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku. Liam tampak seperti remaja yang ingin pergi kencan pertama. Sang penguasa sistem keamanan global yang dingin itu kini tak berdaya di depan tumpukan pakaian.

​"Tuan, informan mengatakan mereka sudah di stan es krim. Jika Anda mengganti baju sekali lagi, mereka akan sudah pulang," tegur Marcus.

​Seketika Liam memakai kemeja linen putih dengan dua kancing teratas terbuka, menyemprotkan parfum wood and spice yang maskulin, lalu menyambar kunci mobilnya. "Ayo berangkat!"

​Sesampainya di taman, Liam bergerak dengan cekatan bak agen rahasia. Ia memarkirkan mobilnya agak jauh agar tidak mencolok, lalu berjalan cepat menuju stan es krim. Ia melihat Olive yang sedang sibuk mengelap sisa es krim di mulut Alex.

​Liam segera melipir ke stan minuman dingin di samping stan es krim, berpura-pura sedang mengantre. Strateginya berhasil. Saat Alex menoleh, mata jernih anak itu langsung menangkap sosok tinggi Liam.

​"Tuan Liam!" teriak Alex dengan antusias, melambaikan tangan kecilnya.

​Olive tersentak. Jantungnya seolah berhenti sesaat melihat pria yang beberapa hari lalu menciumnya secara paksa di ruang meeting kini berdiri di sana dengan gaya santai namun sangat tampan. Liam menoleh, memasang wajah "terkejut" yang sangat dibuat-buat.

​"Oh, Alex? Halo, Jagoan. Tidak menyangka bertemu kalian di sini," ucap Liam dengan suara hangat yang jarang didengar orang lain.

​"Tuan Liam, bergabunglah dengan kami! Mama beli es krim banyak!" ajak Alex tanpa dosa.

​Olive ingin menolak, namun melihat binar di mata Alex, ia hanya bisa menghela napas pasrah. "Bergabunglah, Tuan Valerius. Jika Anda punya waktu luang dari pekerjaan keamanan Anda yang 'sibuk' itu," sindir Olive halus.

​Liam tersenyum manis, mengabaikan sindiran tajam Olive. Mereka berenam tambah Liam berkumpul di bawah pohon ek yang besar. Suasana menjadi aneh. Brian menatap Liam dengan mata menyipit, Kenzo dan Zee saling lirik, sementara Vera hanya mengamati dengan senyum penuh arti.

​"Lihat! Alex menggambar sesuatu tadi!" Alex mengeluarkan kertas dari tasnya dengan bangga.

​Semua orang mendekat. Di kertas itu, Alex menggambar tiga sosok manusia. Seorang wanita cantik berambut panjang yang jelas adalah Olive, seorang anak kecil yaitu dirinya sendiri, dan seorang pria bertubuh tinggi besar dengan jas (meski agak mencong-mencong).

​"Ini Mama, ini Alex," Alex menunjuk gambarnya satu-satu. "Dan yang tinggi ini adalah Papa Liam!"

​Hening.

​Angin musim semi seolah berhenti berhembus. Brian hampir tersedak kopinya, sementara Zee dan Vera menahan napas. Mereka takut Liam akan marah besar karena identitasnya diseret oleh seorang anak kecil. Namun, reaksi Liam justru membuat semua orang ngeri.

​Liam berjongkok di samping Alex, mengusap kepala anak itu. "Gambar yang bagus, Alex. Tapi sepertinya ada yang kurang."

​"Apa yang kurang, Papa?" tanya Alex polos.

​Liam melirik Olive dengan tatapan intens yang seolah ingin menelanjangi wanita itu di sana juga. "Kurang adik kecil yang lucu. Bagaimana kalau di sini ditambahkan adik perempuan tiga, dan adik laki-laki tiga agar kau punya teman main bola?"

​Zee, Vera, Kenzo, dan Brian serentak menatap Olive dengan ekspresi ngeri sekaligus geli. Olive yang tadinya bersikap polos, langsung melotot. "Tiga? Enam anak?! Kau pikir aku pabrik bayi?"

​"Alex sangat ingin adik banyak, Ma! Biar ramai seperti festival!" seru Alex sambil melompat kegirangan.

​"Tuan Valerius, jangan memberi harapan palsu pada anak saya. Kita bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa," tegas Olive dengan bibir hatinya yang bergetar menahan malu.

​"Kenapa tidak punya hubungan? Mama dan Papa Liam menikah saja! Biar cepat-cepat buatkan adik untuk Alex!" goda Alex lagi dengan sangat berani.

​Olive tersedak ludahnya sendiri. "Alex! Satu saja sudah cukup membuat Mama pusing!"

​Namun, Liam justru menyambar dengan cepat. "Kurang," ucap Liam pendek sambil menatap Olive dengan smirk liciknya.

​"Iya, Ma! Kurang!" timpal Alex kompak dengan Liam.

​Olive terdiam, menatap dua pria di depannya yang satu versi mini dan yang satu versi dewasa yang sekarang tampak begitu kompak menyudutkannya. Ia merasa terjebak dalam jaring yang dibuat oleh Liam, dan entah kenapa, hatinya yang sekeras batu mulai merasakan getaran yang tidak seharusnya ada.

​"Kompak sekali kalian," gumam Olive pelan, membuang muka untuk menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipi porselennya.

​Tanpa Olive sadari, Brian dan Kenzo saling bertukar pandang. Mereka melihat sesuatu yang nyata: ikatan darah yang tak terbantahkan antara Alex dan Liam, meski rahasia itu masih tersimpan rapi dalam kegelapan.

1
Gibran AnamTriyono
bagus kak ceritanya
Butterfly🦋: makasih sudah membaca semoga suka ceritanya ya🤭😍
total 1 replies
Gibran AnamTriyono
mampir kak , semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!