Kasyaira Lawana (Aira) adalah seorang gadis "Punggelan". Dalam mitos Jawa, dia adalah anak bungsu yang ditakdirkan menjadi saksi kematian seluruh anggota keluarganya. Hidup mandiri di rumah tua yang sunyi, Aira tumbuh menjadi sosok samudera: menampung segala duka, bersikap dingin untuk melindungi diri, dan percaya bahwa mencintai berarti membunuh. Dia yakin dirinya memiliki Ain—sebuah pandangan "hasad" tak sengaja yang sanggup mendahului takdir untuk melenyapkan apa pun yang dia sayangi.
"Namaku Lawana, Kara. Samudera itu luas, tapi dia selalu sendirian di titik terdalamnya. Jangan datang, atau kamu akan kedinginan." — Aira
"Aku Bagaskara, Aira. Tugasku adalah bersinar. Kalaupun aku harus tenggelam di samuderamu, setidaknya aku pernah membuat airmu terasa hangat." — Kara
"Tuhan tidak sedang menghukummu dengan kehilangan. Dia hanya sedang mengosongkan tanganmu, agar kamu punya ruang untuk menggenggam tangan-Nya." — Pesan Sang Kiai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hayra Masandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gravitasi Matahari
Jika ada satu tempat di sekolah yang paling Aira cintai, itu adalah laboratorium biologi di lantai dasar. Tempat itu sunyi, berbau alkohol pembersih, dan penuh dengan benda-benda yang sudah mati namun diawetkan dengan rapi dalam toples kaca. Di sana, Aira tidak perlu berpura-pura hidup. Ia hanya perlu menjadi asisten yang teliti.
Namun, ketenangan itu terusik sore ini.
"Syaira, kamu tidak lupa kan kalau minggu depan ada akreditasi?" Pak Mulyono masuk dengan tumpukan berkas yang terlihat berantakan. "Saya sudah minta OSIS untuk bantu merapikan inventaris lab. Karena kamu yang paling paham letak alat-alatnya, saya minta kamu bimbing mereka."
Aira meletakkan mikroskop yang sedang ia bersihkan. "OSIS, Pak? Bukannya saya bisa kerjakan sendiri seperti biasanya?"
"Ini terlalu banyak, Syai. Dan lagi, saya sudah menunjuk penanggung jawabnya dari mereka. Dia sangat disiplin, kamu pasti cocok kerja sama dia."
Pintu laboratorium terbuka tepat setelah Pak Mulyono menyelesaikan kalimatnya.
Laki-laki itu masuk. Masih dengan seragam yang serapi tadi pagi, tanpa ada satu pun lipatan yang salah. Abyasa Raditya Bagaskara berdiri di sana, membawa papan klip dan sebuah pulpen yang terselip di telinga—pulpen yang sama dengan yang ia berikan pada Aira.
"Siap tugas, Pak Mulyono," ujar Yasa tegas. Ia kemudian menoleh ke arah Aira, memberikan anggukan kecil yang terasa seperti perintah tak kasat mata. "Halo, Syaira. Ketemu lagi."
Aira hanya bisa menghela napas pasrah. Ia benci bagaimana gravitasi seolah selalu menarik Yasa ke arahnya hari ini.
"Nah, Yasa, tolong bantu Syaira ya. Saya ada urusan di ruang kepala sekolah," Pak Mulyono melenggang pergi, meninggalkan kecanggungan yang langsung memenuhi ruangan kedap suara itu.
Aira kembali sibuk dengan rak kacanya. "Kamu bisa mulai dengan mencatat tabung reaksi di rak sebelah sana, Yasa."
"Panggil Kara saja," sahut Yasa sambil berjalan mendekat. Ia tidak pergi ke rak tabung reaksi, melainkan berdiri tepat di samping meja tempat Aira bekerja. "Di luar jam pelajaran, teman-teman dekat panggil saya Kara."
Aira tidak menoleh. "Kita sedang di sekolah. Dan kita bukan teman dekat."
Yasa terkekeh pelan. Suaranya terdengar renyah di tengah keheningan lab. "Kamu memang sedingin yang orang katakan ya, Kasya? Atau... Aira? Pak Mulyono tadi memanggilmu Syaira, tapi di daftar absensi lab ini, kamu menulis namamu K. Lawana."
Jari Aira berhenti bergerak. Nama Lawana adalah rahasia pribadinya. Nama yang hanya diucapkan oleh keluarganya yang sudah tiada. Mendengar nama itu keluar dari mulut Kara terasa seperti ada ombak yang menghantam dadanya.
"Jangan panggil aku dengan nama itu," ujar Aira tajam. Ia akhirnya menoleh, menatap Kara dengan tatapan peringatan.
Kara terdiam sebentar, matanya yang tajam seolah sedang membedah ekspresi Aira. Bukannya takut, ia justru tampak semakin penasaran. "Kenapa? Artinya bagus, kan? Samudera. Luas dan kuat."
"Samudera itu menenggelamkan, Kara. Dan dia penuh dengan hal-hal yang tidak seharusnya kamu sentuh," Aira berbalik, mencoba menjauh ke rak belakang.
"Tapi matahari tidak bisa tenggelam di laut, Aira. Dia hanya numpang lewat untuk menyinari permukaannya sebelum terbit lagi besok pagi," Kara mengikuti langkahnya. Langkahnya yang mantap terdengar beradu dengan lantai keramik lab. "Aku tidak takut pada airmu. Aku di sini untuk membantu, bukan untuk tenggelam."
Kara kemudian mulai bekerja. Ia sangat disiplin, persis seperti yang dikatakan orang-orang. Ia mencatat setiap nomor inventaris dengan tulisan tangan yang sangat tegak dan rapi. Sesekali ia bertanya tentang letak zat kimia tertentu, dan mau tidak mau, Aira harus menjelaskan.
Menjelang sore, cahaya matahari senja masuk melalui ventilasi lab, menciptakan garis-garis emas di antara rak-rak kaca. Aira sedang menjinjing tumpukan gelas ukur yang berat ketika tiba-tiba kakinya tersangkut kabel mikroskop yang menjuntai.
"Eh—!"
Aira limbung. Gelas-gelas di tangannya hampir meluncur bebas ke lantai. Namun, sebelum suara pecahan itu terdengar, sepasang lengan yang kuat menangkap bahunya, sementara tangan yang lain dengan cekatan menahan tumpukan gelas ukur itu agar tidak jatuh.
Aira membeku. Punggungnya menempel di dada Kara. Ia bisa merasakan kehangatan yang menjalar dari tubuh laki-laki itu—hangat yang sama seperti tadi pagi, namun kali ini terasa lebih nyata. Napas Kara yang teratur terasa di puncak kepalanya.
Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar. Tidak ada mitos, tidak ada duka, tidak ada kesunyian seperti di rumah nya. Hanya ada detak jantung yang berpacu kencang.
"Hati-hati," bisik Kara tepat di telinganya. Suaranya tidak lagi sekeras saat memimpin barisan di lapangan. Kali ini, suaranya lembut, seperti sinar matahari senja yang sedang menyentuh permukaan air. "Samudera sehebat apa pun tetap butuh pijakan yang stabil, kan?"
Aira segera melepaskan diri dengan gerakan canggung. Wajahnya terasa panas—sesuatu yang sangat jarang terjadi.
"Terima kasih," ujar Aira cepat, tanpa berani menatap Kara. Ia segera membereskan gelas ukur itu dan berjalan menuju wastafel.
Kara berdiri di tempatnya, menatap telapak tangannya sendiri yang baru saja menyentuh bahu Aira. Ia tersenyum tipis, sebuah senyum yang menyimpan tekad. Bagi Kara yang disiplin, tugasnya sore ini sudah bergeser—bukan lagi sekadar mencatat inventaris lab, tapi memastikan "samudera" di depannya ini tidak hancur sendirian.
"Aira," panggil Kara saat Aira sedang mencuci tangan.
"Apa lagi?"
"Besok aku bawakan jeruk. Tanganmu terlalu dingin untuk ukuran orang sehat. Matahari tidak suka melihat airnya membeku."
Tanpa menunggu protes Aira, Kara membereskan papan klipnya dan berjalan keluar laboratorium dengan langkah santai namun penuh kemenangan.
Aira berdiri terpaku di depan wastafel. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin kecil di atas wastafel. Pipinya merona kemerahan. Ia menyentuh bahunya yang tadi ditahan oleh Kara. Hangatnya masih tertinggal di sana, seolah menantang kutukan yang selalu ia bawa ke mana-mana.
"Jangan, Kara..." bisik Aira pada keheningan laboratorium. "Jangan buat aku merasa hidup, kalau akhirnya kamu juga akan pergi."
..
Aira mematikan keran air. Suara gemericik itu berhenti, menyisakan kesunyian yang tiba-tiba terasa menekan. Ia menatap tetesan air yang jatuh dari ujung jemarinya ke dalam wastafel. Dingin. Jemarinya memang selalu sedingin itu, seolah-olah seluruh kehangatan di tubuhnya telah diserap habis oleh palung luka yang ia jaga sendirian.
Namun, bagian bahu yang tadi disentuh Kara... di sana masih ada sisa panas yang aneh. Seperti bara api yang menolak padam meski sudah disiram air.
"Aira? Kamu belum pulang?"
Suara berat Pak Mulyono kembali terdengar dari pintu depan. Aira tersentak, segera menyeka tangannya ke rok seragamnya.
"Baru mau beres-beres, Pak," jawab Aira canggung.
Pak Mulyono masuk, matanya melirik papan klip yang ditinggalkan Kara di atas meja. "Yasa sudah pergi? Dia anak yang luar biasa, ya? Jarang ada siswa yang punya dedikasi seperti dia. Tertib, lurus, dan... entah kenapa, dia seolah selalu tahu apa yang harus dilakukan."
Aira hanya mengangguk kecil sambil melepas jas laboratoriumnya.
"Tapi kamu tahu, Syai," Pak Mulyono berjalan mendekat, suaranya merendah. "Orang yang terlalu terang seperti Yasa itu terkadang berbahaya kalau terlalu dekat dengan tempat yang gelap. Bukannya apa-apa, saya cuma ingat pesan orang tua dulu... cahaya yang terlalu kuat bisa bikin bayang-bayang jadi terlihat lebih menyeramkan."
Aira tertegun. Kalimat Pak Mulyono barusan seperti gema dari peringatan Mbok Darmi. Mengapa semua orang seolah melihat "bahaya" yang sama? Apakah nasibnya sebagai seorang Punggelan sudah terpancar jelas di wajahnya sehingga semua orang merasa perlu memperingatkan siapa pun yang mencoba mendekat?
"Saya tahu, Pak. Saya tidak berencana untuk dekat-dekat," sahut Aira pelan.
"Baguslah. Kamu anak pintar, Aira. Kamu tahu batasmu."
Aira keluar dari laboratorium dengan perasaan yang tidak menentu. Koridor sekolah sudah sepi, hanya menyisakan beberapa anak ekstrakurikuler di kejauhan. Saat ia berjalan menuju gerbang, matanya tak sengaja menangkap sosok Kara di parkiran.
Laki-laki itu sedang dikerubungi teman-temannya. Ia tertawa—tawa yang lepas dan penuh energi. Kara tampak sangat pas berada di sana, dikelilingi oleh tawa dan cahaya. Dia adalah pusat orbit. Semua orang ingin berada di dekatnya karena dia memberi kehangatan.
Aira mempercepat langkahnya, menundukkan kepala, dan berjalan melewati parkiran secepat mungkin. Ia merasa seperti debu yang tidak terlihat di tengah pesta cahaya itu.
Namun, tepat saat ia melewati gerbang, suara klakson motor terdengar di sampingnya. Kara berada di sana, di atas motor sport hitamnya yang mengkilap. Ia melepas helm, menampakkan rambut yang sedikit berantakan namun justru membuatnya terlihat lebih manusiawi, tidak sekaku saat menjadi ketua OSIS.
"Mau bareng?" tanya Kara.
"Tidak usah. Aku naik angkot," jawab Aira tanpa menoleh.
"Angkot jam segini lama, Aira. Dan langit sudah mulai mendung. Samudera nggak mau kehujanan, kan?" Kara menjajajaki kecepatannya dengan langkah kaki Aira.
"Aku suka hujan. Hujan temanku," balas Aira dingin.
Kara menghentikan motornya, membuat Aira terpaksa ikut berhenti karena Kara menghalangi jalannya. Laki-laki itu menatap Aira lurus-lurus. "Kamu itu keras kepala ya? Disiplinku bilang kalau aku lihat teman sedang kesulitan, aku harus bantu. Dan kamu... kelihatannya sedang sangat kesulitan membawa beban di kepalamu sendiri."
"Kamu tidak tahu apa-apa tentang beban di kepalaku, Kara! Jadi tolong, jangan ikut campur," suara Aira meninggi.
Kara terdiam. Bukannya marah, ia justru turun dari motornya. Ia melangkah mendekat, masuk ke dalam ruang pribadi Aira yang biasanya membuat orang lain segan.
"Mungkin aku memang belum tahu," ujar Kara dengan suara rendah yang menenangkan. "Tapi aku punya waktu untuk belajar. Besok, jam empat sore, kita lanjut inventaris lab lagi. Jangan telat. Aku benci ketidakteraturan."
Kara kembali naik ke motornya, memakai helm, dan melesat pergi meninggalkan kepulan asap tipis dan perasaan yang semakin berantakan di hati Aira.
Aira berdiri sendirian di trotoar. Mendung benar-benar datang, menutupi sisa cahaya matahari. Ia merapatkan tasnya ke dada. Di dalam sana, ada pulpen milik Kara. Benda kecil yang kini terasa seberat bongkahan batu.
Takdir baru saja melempar kailnya ke dalam samudera Aira, dan kali ini, ia takut sang Matahari benar-benar tidak akan mau melepaskan umpannya.
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰