Definisi takdir yang tidak bisa kita tebak.
Kehidupan terus berjalan, hanya bersama ketika bersekolah di sekolah menengah pertama, itupun menjadi musuh yang tidak berujung damai meskipun sudah lulus.
Lama tak jumpa, tanpa kabar, tanpa melihat sosial media, karena sama-sama merasa tidak perlu.
Suatu hari seperti biasanya, gadis bernama Kenzie itu pulang ke rumah ibunya karena libur akhir pekan, namun, kepulangannya kali ini justru berbeda, ia harus menerima pernikahan yang tidak ia inginkan, karena dijodohkan dengan musuhnya saat SMP.
Keduanya sama-sama memiliki kekasih, apa mereka menerima pernikahan tanpa cinta itu?
Kalaupun pernikahan itu terjadi, bagaimana kelanjutan hubungan mereka dengan kekasihnya masing-masing?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cimai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 : Kesepakatan Bersama
Tatapan tajam, suasana hati dan pikiran yang tegang membuat Kenzie dan Kenzo belum memulai berbicara setelah drama batuk karena asap.
Sementara di dalam rumah, mereka tidak bisa melihat apa yang terjadi di depan karena terhalang oleh mobil.
"Percaya deh, mereka pasti bisa jaga diri, nggak akan aneh-aneh." ujar Zaky meyakinkan dua wanita di sana.
Laras berusaha untuk tersenyum, meskipun di hatinya sangat khawatir. Mengenai masa depan memang tidak bisa ia jaminkan, sekalipun ia telah memberi kepercayaan itu pada Zaky dan Mia.
"Gue setuju kita menikah!" ujar Kenzo langsung mendapatkan tatapan tajam dari Kenzie.
Meskipun sempat akan menolak ketika melihat foto Kenzie, Kenzo kembali berpikir mengenai kesepakatan bersama orangtuanya dan juga beberapa hal yang akan direncanakannya saat pernikahan ini terjadi.
"Mabok kah ngomong begitu?!" balas Kenzie ketus.
"Ck! gue sadar sesadar-sadarnya," balas Kenzo.
Kenzie menghela napas kasar.
"Pasti ada alasan yang menguntungkan kamu 'kan?!" tebak Kenzie.
"Aku nggak mau menikah karena terpaksa!" lanjutnya.
Tentu saja Kenzie memiliki sebuah harapan yang besar tentang pernikahan. Bahkan sebuah janji yang pernah diucapkan oleh Vito pun terkadang masih membuatnya ragu, apalagi menikah dengan Kenzo yang sudah lama belum menemukan kata damai. Terutama cerita pernikahan kedua orang tuanya menoreh rasa trauma yang mendalam.
"Danang dan Laras disingkat DARA, nama yang disematkan pada nama anak-anaknya untuk mengikat kisah cinta mereka. Ternyata bubar juga!" bathin Kenzie kesal.
Berbeda dengan Kenzie yang sudah membahas tentang pernikahan dengan kekasihnya, Kenzo belum memikirkan pernikahan. Kenzo masih memiliki cita-cita yang ingin ia wujudkan sebelum memiliki istri. Selain itu, kekasihnya belum ingin menikah ketika ia mencoba untuk membahas tentang pernikahan.
"Kita buat perjanjian pernikahan, kesepakatan bersama kita berdua." ujar Kenzo.
Kenzie menoleh.
"Izinin gue ngomong dulu!" pinta Kenzo melihat raut wajah Kenzie yang galak.
"Hem!" jawab Kenzie.
Kenzo meletakkan rokok elektriknya sembari menegakkan duduknya. Kali ini ia sedang mode serius karena demi sebuah cita-cita. Berbicara dengan baik kepada Kenzie merupakan senjata utama.
"Sebelum datang ke sini, gue emang sudah tau bakal dijodohin, tapi, nggak tau dengan siapa akan dinikahkan. Bokap nyokap gue nggak nyebut nama dan gue juga males banget buat cari tahu."
"Jujur, gue juga shock pas tau ternyata perempuan itu adalah elu. Tadi gue juga mau nolak,"
"Tapi, nasib masa depan gue ada di pernikahan yang mereka mau ini, jadi, gue minta tolong banget." pinta Kenzo seketika membuat Kenzie terheran-heran.
"Apa hubungannya sama pernikahan? kenapa harus sama aku? kenapa nggak nikah sama pacarmu aja!" ujar Kenzie.
"Ya, itulah. Gue sudah sudah berusaha negoisasi soal itu, tapi, orangtua gue tetap kekeh sama kemauannya ini,"
Kenzie melirik tajam karena masih belum menemukan alasan yang jelas tentang perjodohan ini.
"Jadi, gue punya cita-cita besar, yaitu bikin arena balap motor trail. Bokap gue bakal support sampai jadi tanpa menghitung sebagai hutang asalkan setuju sama pernikahan ini,"
Kepala Kenzie terasa panas mendengar penjelasan Kenzo tentang alasan pernikahan ini. Ia yang tidak tau apa-apa harus ikut terlibat.
"Kamu 'kan bisa pinjam ke bank!" jawab Kenzie memberi ide dengan nada ketus.
Kenzo langsung menghela napas berat.
"Gue sudah mikir gitu,"
"Bahkan sebelum gue lontarkan niat itu, bokap gue sudah mengancam untuk jangan berani-berani mengambil pinjaman dari bank, atau gue bakal di coret dari KK."
"Intinya mereka sudah membuat keputusan ini, mereka tau masing-masing dari kita sudah punya pacar, tapi, mereka tetap mau kita menikah."
Dibenaknya langsung terbayang wajah Vito. Kenzie merasa bersalah jika harus menerima perjodohan ini. Bertahun-tahun lamanya tidak akan mudah untuk dilepaskan.
"Nggak semua mimpi bisa diwujudkan, kamu bisa menguburnya atau menunda sembari menabung pelan-pelan!" ujar Kenzie.
Kenzo langsung menatap Kenzie.
"Pliss, gue mohon!" pinta Kenzo.
"Kita buat perjanjian pernikahan ini hanya untuk mendapatkan support itu. Kita hanya menikah untuk formalitas saja, lu tetap bisa jalan bareng sama dia, gue juga gitu. Setelah arena balap itu selesai, kita sudahi semuanya."
"Gue nggak akan nyentuh lu! gue nggak akan macam-macam! bila perlu kita tetap tinggal ditempat kita masing-masing sekarang ini!"
"Kecuali ada mereka yang berkunjung, baru kita bisa pura-pura,"
"Satu lagi, gue pasti bakal kasih uang nafkah dengan layak sesuai status sebagai suami!"
Berbicara dengan cepat membuat Kenzie tidak memiliki kesempatan untuk memotong pembicaraan Kenzo. Namun, ia mendengar dengan jelas setiap kata.
"Kepalaku benar-benar mau pecah!" keluh Kenzie.
"Ini urusanmu, kenapa harus ada aku!" protes Kenzie.
Kenzo langsung menangkup wajahnya mendengar Kenzie menolak. Sedangkan impiannya itu benar-benar ingin ia wujudkan.
"Kenzie, tunggu ..,"
Kenzo menahan Kenzie yang hendak meninggalkannya, kemudian ia berlutut dihadapan gadis itu.
Sementara di dalam rumah, Mia dan Laras tengah mengobrol mengenai salon. Sedangkan Zaky sibuk mengontrol pekerjaan melalui ponselnya.
"Mereka itu hanya gengsi, nyatanya sudah sampai satu jam belum balik juga 'kan?" ujar Zaky tiba-tiba, sehingga Mia dan Laras menghentikan obrolannya.
Mia dan Laras saling menoleh kemudian mengangguk.
"Bagaimana kalau kenyataannya mereka nggak mau menerima perjodohan ini?" tanya Laras dengan rasa yang cemas.
"Yaa, berarti Kenzo sudah siap untuk mengubur mimpinya," jawab Zaky.
Suara langkah kaki itu membuat ketiganya kompak menoleh ke arah pintu. Mereka menatap Kenzie dan Kenzo masuk ke rumah.
"Pa, Ma, Tante ..,"
"Setelah kami mengobrol banyak, ternyata tidak seburuk itu. Kami sudah saling memaafkan di masa lalu dan kami setuju untuk menuruti apa yang kalian mau." ungkap Kenzo.
Kenzie masih menunduk dengan kedua tangannya menggenggam kuat, bahkan ia berdiri dengan memberi jarak hampir satu meter dari Kenzo.
Perkataan itu membuat Laras dan orangtua Kenzo saling memandang dengan keheranan yang disertai senyuman.
Zaky menatap pada Kenzie yang masih menunduk itu, "Kenzie, apa Kenzo mengancammu?" tanyanya.
Pertanyaan itu langsung membuat Kenzie mengangkat wajahnya dan langsung menggeleng cepat.
"Tidak Om, tidak ada ancaman kepada saya," jawab Kenzie membantah.
"Tapi, kami sepakat untuk menikah secara agama dulu." lanjut Kenzie takut.
Tiga orang tua itu kembali saling menatap karena harapan mereka tentu saja pernikahan mereka dilakukan secara resmi agama dan negara.
"Kalian duduk dulu," titah Laras.
Kenzo dan Kenzie langsung duduk.
"Menikah siri? apa kamu yakin, Kenzie?" tanya Zaky.
Kenzie mengangguk.
"Keputusan itu atas kesepakatan bersama, Om." ujar Kenzie.
"Kami memang sudah kenal di masa lalu, tapi, hubungan kami tidak baik. Jadi, kalau kalian menginginkan pernikahan ini, kami akan turuti. Tapi, tolong beri kami waktu masa pengenalan itu di dalam ikatan pernikahan." timpal Kenzo berbicara dengan sopan.
Mereka kembali saling diam seraya merenung di dalam hatinya masing-masing. Sesekali Kenzo dan Kenzie saling melirik dengan cemas.
klau kemaren sampek terjadi...aku pasti kecewa sama dia....
untung aja gagal...tapi aku gak suka kalau si kenzo masih nyium nyium si cewek itu.
sedang kenzi masih ori..belum tersentu...
Karena ada kendala dan saat itu author tidak bisa melanjutkan, akhirnya terpaksa dihapus dulu.
In syaa Allah nanti akan di update lagi, untuk saat ini sekalian mau direvisi dulu dan mau fokus ke judul ini dulu ya 🙏
Terima kasih 😍