Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cerai?
Setelah mengantar si kembar ke tempat les, Karina berniat membelikan kado dasi baru untuk Agus. Karina berpikir, mungkin jika ia lebih perhatian, Agus akan tersentuh. Namun, saat melewati sebuah kafe mewah di kawasan Senopati, ia melihat mobil Mercedes Benz hitam milik suaminya terparkir di lobi.
Jantung Karina berdegup kencang, ia tahu Agus bilang ada rapat di kantor pusat yang letaknya jauh dari sini. Dengan tangan gemetar, ia meminta supir taksi berhenti dan melangkah masuk ke kafe yang bernuansa remang dan eksklusif itu, tempat di mana para sosialita dan pengusaha papan atas berkumpul.
Di pojok ruangan, di balik tanaman hias yang rimbun, Karina melihatnya. Agus sedang tertawa lepas, sebuah tawa yang sudah bertahun-tahun tidak pernah Karina dengar di rumah. Di sampingnya, seorang wanita muda, bukan Sabrina, melainkan wanita lain yang terlihat masih berusia awal dua puluhan, sedang manja menyandarkan kepala di bahu Agus dan wanita itu mengenakan gaun sutra pendek yang mengekspos kemolekan tubuhnya.
"Mas Agus, kapan kita ke Singapura lagi? Aku bosan di Jakarta terus," rengek wanita itu sambil memainkan jemari Agus yang mengenakan cincin kawin.
Agus mengecup kening wanita itu tanpa ragu, "Sabar, sayang. Bulan depan setelah urusan saham selesai, aku akan membawamu belanja sepuasnya. Istri tuaku di rumah sedang sibuk jadi pembantu ibuku, dia tidak akan curiga," jawab Agus.
Keduanya tertawa, tawa yang terdengar seperti suara petir di telinga Karina dan ini adalah kedua kalinya. Satu tahun lalu, Karina pernah memergoki Agus bersama seorang model di sebuah hotel, saat itu Agus berlutut dan menangis, memohon ampun demi anak-anak. Karina, dengan hati yang terlalu luas, memaafkannya dan mengira itu hanya kekhilafan sesaat.
Karina mematung di balik pilar marmer yang dingin, dunianya terasa berputar dan udara di sekelilingnya seolah menipis hingga ia sulit bernapas. Dasi sutra yang baru saja ia beli dan ia pilih dengan penuh kasih sayang sebagai simbol harapan untuk memperbaiki hubungan mereka terasa seperti jerat yang mencekik tangannya sendiri.
Karina tidak melabrak, ia tidak berteriak. Karina bukanlah wanita yang akan merendahkan harga dirinya dengan menciptakan keributan di depan publik, terutama di tempat di mana harga diri adalah segalanya. Dengan langkah gontai dan wajah pucat pasi, ia berbalik dan keluar dari kafe itu sebelum air matanya jatuh di depan orang asing.
Sepanjang perjalanan pulang, Karina hanya terdiam menatap jalanan Jakarta yang macet dan pikirannya melayang pada kejadian setahun lalu. Saat itu, ia menemukan pesan mesra dari seorang model di ponsel Agus, Agus bersimpuh di kakinya dan menangis tersedu-sedu bahkan membawa-bawa nama Ella dan Aisha, bersumpah demi Tuhan bahwa itu adalah kesalahan terakhirnya. Tentu saja Karina percaya, ia percaya bahwa pria yang ia cintai sejak nol masih memiliki nurani.
Namun kini, kenyataan menghantamnya lebih keras. Agus tidak pernah berubah, dia hanya menjadi lebih lihai dalam berbohong.
Malam harinya, rumah mewah itu terasa sangat sepi meskipun lampu-lampu kristal menyala terang. Ella dan Aisha sudah masuk ke kamar mereka setelah pulang dari les, Ibu Ratna sudah masuk ke kamarnya dan mungkin sedang menghitung uang saku bulanan yang diberikan Agus.
Pukul sepuluh malam, suara deru mobil Mercedes itu terdengar masuk ke garasi. Tak lama kemudian, Agus melangkah masuk dengan wajah cerah, bersiul pelan seolah hari-harinya penuh dengan kesuksesan tanpa dosa.
"Oh, kamu belum tidur?" tanya Agus santai saat melihat Karina duduk tegak di sofa ruang tengah.
Karina tidak menjawab dengan sapaan, ia menaruh kotak dasi yang ia beli tadi siang di atas meja kopi. "Aku melihatmu di Senopati tadi siang Mas," ucap Karina tanpa basa-basi.
Langkah Agus terhenti, ekspresinya berubah sekejap, dari ceria menjadi kaku lalu dengan cepat berubah menjadi topeng kemarahan untuk menutupi rasa bersalahnya.
"Lalu? Kamu memata-mataiku sekarang? Kamu sudah tidak ada kerjaan lain selain menjadi detektif amatir?" tanya Agus dengan membentak Karina.
"Aku berniat membelikanmu kado, aku ingin kita memperbaiki semuanya," suara Karina bergetar, namun ia berusaha tetap tegar.
"Tapi aku melihatmu dengan wanita lain, berapa banyak wanita yang kamu miliki di luar sana, Mas? Apakah kehadiran dan pengorbananku selama dua puluh tahun ini tidak cukup untuk membuatmu setia?" tanya Karina.
Agus melepaskan jasnya dan melemparkannya ke kursi dengan kasar, "Pengorbanan? Berhenti bicara soal pengorbanan, Karina! Aku muak mendengarnya! Kamu selalu mengungkit masa lalu seolah-olah aku berutang nyawa padamu. Dengar ya, sekarang aku adalah pengusaha sukses dan aku butuh hiburan, aku butuh wanita yang bisa membuatku merasa hidup, bukan wanita yang setiap hari hanya bicara soal tagihan listrik, menu makan malam dan keluhan ibu!" bentak Agus.
"Aku bicara soal itu karena itu adalah bagian dari mengurus rumah tangga kita! Aku mengurus ibumu, aku mendidik anak-anakmu, aku bahkan membantu membangun pondasi perusahaanmu! Setahun lalu kamu bersumpah akan berubah. Kamu bilang itu kekhilafan, ternyata kamu hanya pencitraan di depanku!" ucap Karina yang mulai meninggikan suaranya.
Agus tertawa, sebuah tawa kering yang terdengar sangat keji di telinga Karina dan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Karina bisa mencium aroma alkohol dan parfum wanita asing yang masih menempel di kerah kemeja suaminya.
"Pencitraan? Anggap saja itu strategi bisnis, Karina. Tahun lalu perusahaan sedang dalam masa kritis dan aku tidak bisa membiarkan berita perceraian atau skandal merusak citraku di mata investor. Aku butuh kamu tetap di sini sebagai pajangan istri setia agar sahamku stabil. Tapi sekarang? Perusahaanku sudah di puncak dan aku sudah tidak butuh aktingmu lagi," ucap Agus dengan nada mengejek.
Karina terhuyung setelah mendengar perkataan Agus, ia merasa seolah baru saja dihantam gada besi tepat di dadanya. "Jadi... semua air matamu tahun lalu, semua sumpahmu di depan anak-anak... itu semua hanya strategi bisnis?" tanya Karina.
"Tepat sekali dan sejujurnya, aku sudah muak berpura-pura," Agus merogoh tas kerjanya dan mengeluarkan sebuah map cokelat tebal lalu membantingnya ke atas meja tepat di samping kotak dasi yang tadi dibeli Karina.
"Ini surat cerai, aku sudah menandatanganinya dan sekarang giliranmu," lanjutnya.
Mata Karina membelalak ketika mendengar perkataan sang suami," Cerai? Tidak, Mas! Aku tidak mau bercerai!" tolak Karina.
"Kenapa? Kamu masih berharap aku akan mencintaimu lagi? Jangan naif, Karina. Lihat cermin, kamu sudah tua, wajahmu penuh kerutan karena terlalu banyak berpikir dan seleramu... Tuhan, dasi ini saja sudah menunjukkan betapa ketinggalan zamannya seleramu," ucap Agus dan menunjuk kotak dasi itu dengan jijik.
"Bukan karena aku mengharapkan cintamu yang sudah busuk itu!" teriak Karina, air mata akhirnya luruh membasahi pipinya.
"Aku memikirkan Ella dan Aisha! Mereka sedang di usia remaja, mereka butuh keluarga yang utuh! Aku tidak mau mereka hancur karena keegoisanmu! Aku menolak cerai demi masa depan anak-anak kita!" lanjut Karina.
.
.
.
Bersambung.....