Hero dan Awan adalah dua sisi mata uang yang berbeda. Hero begitu hangat dan penuh kasih, sementara Awan sedingin es dan tak tersentuh. Namun, maut merenggut Hero terlalu cepat, meninggalkan Jasmine yang sedang hamil muda dalam kehancuran.
Sebelum napas terakhirnya, Hero menitipkan "warisan" yang paling berharga kepada Awan: istri dan calon anaknya.
Kini, Jasmine harus terjebak satu atap dengan pria yang paling ia hindari. Awan yang ketus, kaku, dan sudah memiliki kekasih matre bernama Celine. Bagi Awan, menjaga Jasmine adalah beban wasiat yang menyebalkan. Bagi Jasmine, melihat wajah Awan adalah luka yang terus terbuka.
Di tengah duka dan tuntutan harta, mampukah Awan menjalankan wasiat kembarannya? Ataukah kebencian di antara mereka justru berubah menjadi benih cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Pagi itu, kediaman Pramoedya tampak berbeda. Tidak ada dekorasi megah, tidak ada tenda yang menutupi halaman, bahkan tidak ada janur kuning yang melengkung di depan gerbang. Sesuai kesepakatan, pernikahan ini dilangsungkan secara khidmat dan tertutup di ruang tengah rumah mereka. Hanya ada penghulu, dua orang saksi dari kerabat jauh yang masih setia pada Awan, serta Suster Lastri yang menggendong Shaka.
Jasmine tampil anggun dengan kebaya putih sederhana berbahan brokat halus. Wajahnya dipoles riasan tipis, namun binar matanya jauh lebih cerah daripada mutiara yang melingkar di lehernya. Di sisi lain, Awan tampak sangat gagah dengan setelan jas hitam formal dan kemeja putih bersih. Meski wajahnya tetap terlihat kaku dan judes, kegelisahan di tangannya yang terus merapikan jam tangan menunjukkan betapa berartinya momen ini baginya.
"Gak usah liatin gue terus. Gue tau gue ganteng," ketus Awan saat menyadari Jasmine memperhatikannya sejak tadi.
Jasmine tertawa kecil. "Dikit-dikit judes. Hari ini kan hari besar kita, Wan."
Awan hanya berdeham, mencoba menetralkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia menatap Shaka yang tampak lucu dengan tuksedo mungil buatan khusus. "Demi kalian," bisik Awan dalam hati.
Acara dimulai dengan suasana yang sangat emosional. Saat Awan menjabat tangan penghulu, ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar suara detik jam dinding dan embusan angin dari arah taman.
"Saya terima nikahnya Jasmine Aurora binti Ahmad dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
Suara Awan terdengar lantang, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun. Kata "Sah" yang diucapkan para saksi seolah menjadi beban yang terangkat dari pundak Jasmine. Ia kini resmi menjadi istri dari pria yang selama ini menjadi pelindungnya. Awan melingkarkan cincin ke jari Jasmine, lalu mencium kening istrinya dengan lembut—sebuah ciuman yang terasa seperti janji perlindungan seumur hidup.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit setelah doa penutup dibacakan.
BRAKK!
Pintu depan didorong dengan kasar. Suara sepatu bot yang berat berderap masuk ke dalam rumah. Jasmine tersentak kaget dan langsung merapat ke sisi Awan.
Paman Wijaya melangkah masuk dengan senyum penuh kemenangan yang menjijikkan. Di belakangnya, berdiri empat orang petugas kepolisian berseragam lengkap dan seorang pria berkacamata yang membawa map merah.
"Paman?! Apa-apaan ini?!" raung Awan. Ia berdiri di depan Jasmine dan Shaka, wajahnya memerah padam karena amarah yang memuncak.
"Selamat atas pernikahannya, Awan. Sayang sekali, resepsinya harus berakhir lebih cepat," ucap Paman Wijaya dengan nada mengejek. Ia menoleh ke arah polisi. "Pak, ini orangnya. Dan di sana adalah bayi yang kami maksud."
Salah satu petugas polisi maju ke depan. "Maaf, Pak Awan Pramoedya. Kami membawa surat perintah penggeledahan dan penjemputan paksa atas anak bernama Arshaka Hero Pramoedya berdasarkan laporan dugaan penelantaran dan lingkungan yang tidak sehat bagi anak di bawah umur."
Jasmine memeluk Shaka erat-erat, air matanya mulai tumpah. "Enggak! Kalian nggak boleh bawa Shaka! Shaka anak saya!"
Awan melangkah maju satu langkah, menatap langsung ke mata petugas polisi tersebut. Aura kepemimpinannya keluar begitu kuat hingga petugas itu sempat ragu sesaat.
"Surat perintah itu dikeluarkan berdasarkan laporan siapa?" tanya Awan, suaranya rendah dan sangat berbahaya.
"Laporan dari wali sah keluarga, Bapak Wijaya," jawab petugas itu.
Awan tertawa sinis, tawa yang membuat Paman Wijaya sedikit mengernyit. "Wali sah? Paman, sepertinya informasi lo ketinggalan zaman. Polisi sekalian, lihat dokumen di meja itu."
Awan menunjuk ke arah meja tempat penghulu baru saja menandatangani berkas.
"Setengah jam yang lalu, Jasmine Aurora resmi menjadi istri sah gue. Dan secara otomatis, menurut wasiat mendiang kembaran gue, Hero Pramoedya, jika Jasmine menikah dengan anggota keluarga Pramoedya yang sah, maka seluruh hak asuh dan perwalian jatuh sepenuhnya kepada kami sebagai orang tua yang legal," tegas Awan.
Awan mengambil akta nikah yang masih basah tintanya dan menyodorkannya ke depan wajah Paman Wijaya. "Lo mau gugat moralitas? Istri gue sekarang tinggal di rumah suaminya yang sah. Apa ada yang salah dengan itu di mata hukum?"
Paman Wijaya gemetar, wajahnya pucat pasi. "Ini... ini pasti manipulasi! Kalian cuma menikah kontrak!"
"Terserah lo mau bilang apa, tapi hukum mengakui ini," balas Awan judes. Ia berbalik ke arah polisi. "Pak, silakan periksa kelengkapan dokumen kami. Tapi kalau Bapak tetap memaksa membawa anak saya tanpa dasar hukum yang lebih kuat dari akta nikah ini, saya pastikan pengacara saya akan menuntut kalian atas penculikan anak."
Para petugas polisi saling berpandangan. Setelah memeriksa dokumen nikah yang ditunjukkan Awan, kepala petugas itu mengangguk. "Maaf, Pak Wijaya. Dokumen ini sah. Secara hukum, Bapak Awan dan Ibu Jasmine adalah orang tua yang sah. Laporan Anda tidak lagi relevan."
Setelah polisi dan Paman Wijaya diusir keluar dengan cara yang sangat tidak terhormat oleh tim keamanan Awan, rumah itu kembali sunyi. Namun, suasana haru masih menyelimuti.
Jasmine terduduk lemas di sofa, masih memeluk Shaka yang mulai menangis karena kaget dengan keributan tadi. Awan berlutut di depan Jasmine, mengambil Shaka dari pelukannya dan menenangkan bayi itu di pundaknya.
"Udah, jangan nangis. Mereka nggak bakal berani balik lagi," ucap Awan pelan.
Jasmine menatap Awan dengan tatapan penuh syukur. "Makasih, Wan. Kalau nggak ada kamu..."
"Berhenti bilang 'kalau nggak ada gue'," potong Awan. Ia meletakkan tangannya di pipi Jasmine, menghapus sisa air mata istrinya. "Lo istri gue sekarang. Tugas gue emang jagain lo sama Shaka sampai napas terakhir gue. Mengerti?"
Jasmine mengangguk sambil tersenyum. Awan kemudian berdiri, ia mencium kening Shaka lalu beralih mencium kening Jasmine cukup lama.
"Sekarang, ganti baju lo. Kita nggak jadi makan di sini. Gue udah pesen restoran paling mahal di Jakarta buat ngerayain kemenangan kita atas tua bangka itu," ucap Awan, kembali ke mode judesnya yang khas.
"Beneran, Wan? Romantis lagi nih?" goda Jasmine.
Awan mendengus sambil berjalan menuju tangga. "Gak usah banyak tanya! Buruan, atau gue tinggal lo sama Shaka di sini!"
Jasmine tertawa. Ia tahu, meskipun Awan tetaplah pria yang kaku dan penuh omelan, tapi di bawah jas hitam itu terdapat hati yang sangat luas untuknya dan Shaka. Pernikahan mereka mungkin diawali dengan badai, tapi Jasmine yakin, matahari akan selalu bersinar selama Awan ada di sisinya.