Satu malam.
Tanpa rencana.
Tanpa nama.
Tanpa masa depan.
Aluna tidak pernah berniat masuk ke dalam hidup pria itu. Ia hanya menggantikan sahabatnya yang sakit, mengenakan seragam hotel, dan berharap bisa pulang dengan selamat. Namun di balik pintu kamar hotel mewah, ia terjebak dalam situasi berbahaya—tarikan paksa, ketakutan, dan batas yang nyaris hancur.
Malam itu bukan tentang cinta.
Bukan tentang rayuan.
Melainkan tentang dua orang asing yang sama-sama terperangkap dalam keadaan salah.
Aluna melawan. Menolak. Tak pasrah.
Namun ketika segalanya berhenti di titik abu-abu, sebuah keputusan keliru tetap tercipta—dan meninggalkan luka yang tak langsung terlihat.
Ia pergi tanpa menoleh.
Tanpa tahu nama pria itu.
Tanpa ingin mengingat malam yang hampir menghancurkan dirinya.
Lima tahun kemudian, Aluna telah menjadi wanita tangguh—cantik, elegan, dan berdiri di atas kakinya sendiri. Ia membesarkan tiga anak kembar dengan kelebihan luar biasa, tanpa sosok ayah, tanpa cerita masa lalu. Bersa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurizatul Hasana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Pagi Setelah Luka
Pagi datang tanpa drama.
Cahaya matahari masuk pelan lewat jendela besar rumah Arka. Tidak terlalu terang, tidak terlalu hangat. Cukup untuk membuktikan bahwa malam benar-benar sudah lewat.
Aruna bangun lebih dulu.
Kebiasaan lama yang tak pernah hilang — bangun sebelum semua orang, memastikan rumah bernapas dengan tenang. Ia berjalan pelan ke ruang tamu.
Mira masih tertidur di sofa.
Selimut setengah jatuh. Boneka kecil masih dipeluk erat di dadanya. Wajahnya tampak lebih ringan… tapi bukan wajah orang yang sudah sembuh. Lebih seperti orang yang akhirnya diizinkan berhenti kuat sebentar.
Aruna tidak membangunkannya.
Ia hanya merapikan selimut… lalu pergi ke dapur.
Suara panci kecil, aroma kopi, dan langkah kaki kecil mulai mengisi rumah satu per satu.
Arkana yang paling dulu muncul.
“Bunda… Tante masih tidur?”
Aruna mengangguk.
“Biarkan ya. Tante capek.”
Arkana mengangguk serius seperti orang dewasa kecil.
“Aku bisa jaga pelan-pelan.”
Aruna tersenyum.
Beberapa menit kemudian Arven turun, rambut acak-acakan, masih membawa tablet.
“Papa udah bangun?”
“Di halaman belakang.”
Arven langsung jalan keluar tanpa banyak bicara. Kebiasaannya… kalau pikirannya berat, ia cari Arka dulu.
Di halaman belakang, Arka sedang menyiram tanaman. Kemeja rumahnya digulung sampai siku. Wajahnya tenang, tapi matanya jelas tidak benar-benar santai.
Arven berdiri di dekatnya tanpa bicara.
Beberapa detik.
Lalu berkata pelan, “Papa… orang dewasa juga bisa patah ya?”
Arka tidak langsung menjawab. Ia mematikan selang air, lalu duduk di bangku kayu.
“Bisa.”
Arven menatap tanah.
“Kalau patah… bisa disambung lagi?”
Arka menarik napas.
“Bisa. Tapi bentuknya kadang berubah.”
Arven mengangguk pelan.
“Mira bakal tinggal di sini lama?”
Arka tidak menenangkan dengan janji kosong.
“Selama dia butuh.”
Arven terlihat berpikir… lalu duduk di samping Arka.
“Rumah kita jadi tempat orang sembuh ya.”
Arka menepuk pelan kepala anak itu.
“Semoga begitu.”
—
Di dalam rumah, Mira mulai bangun perlahan.
Ia tidak langsung membuka mata. Ia hanya mendengar.
Suara sendok. Suara anak kecil. Suara kehidupan yang berjalan tanpa memaksanya ikut.
Dan itu… terasa aneh.
Ia membuka mata pelan.
Bukan kamar asing. Bukan rumah yang penuh kebohongan. Bukan tempat yang menuntutnya terlihat baik-baik saja.
Hanya ruang tamu hangat… dan bau roti panggang.
Aruna datang membawa segelas air hangat.
“Minum dulu.”
Mira duduk pelan. Tangannya masih sedikit gemetar saat menerima gelas.
“Aku nggak mimpi ya?”
Aruna tersenyum kecil.
“Nggak.”
Mira menatap sekeliling.
“Kenapa kamu baik banget… padahal hidupmu juga nggak mudah?”
Aruna duduk di sampingnya.
“Karena dulu aku juga pernah diselamatkan… bukan dengan solusi, tapi dengan ditemani.”
Mira menunduk.
“Aku takut mulai lagi.”
“Mulai nggak harus sekarang.”
Sunyi nyaman di antara mereka.
—
Saat sarapan, semua orang duduk bersama.
Tidak ada suasana canggung yang dipaksa normal. Semua bergerak hati-hati, tapi tulus.
Arsha duduk di samping Mira.
“Kalau Tante mau nangis lagi… nggak apa-apa ya. Di sini aman.”
Mira tersenyum kecil… senyum pertama yang benar-benar hidup sejak semalam.
Arka menaruh piring di depan Mira.
“Makan sedikit. Nggak perlu banyak.”
Mira mengangguk.
Suapan pertama terasa berat… tapi ia tidak berhenti.
Dan itu kemenangan kecil yang tidak dirayakan siapa pun — tapi dirasakan semua orang.
—
Siang hari, Aruna mengajak Mira keluar ke halaman.
Udara segar. Angin ringan. Tidak ada percakapan penting.
Hanya duduk berdampingan.
Mira bicara lebih dulu.
“Aku pikir kehilangan cinta itu yang paling sakit… ternyata kehilangan rasa percaya lebih parah.”
Aruna menatap langit.
“Percaya itu tumbuh lagi… tapi pelan. Dan bukan pada orang yang sama.”
Mira menoleh.
“Kamu percaya Arka sepenuhnya?”
Aruna terdiam sebentar.
“Aku percaya pada usahanya.”
Mira memahami. Itu jawaban jujur… bukan romantis.
—
Sore hari, Mira menerima pesan dari suaminya.
Permintaan maaf panjang. Penjelasan. Alasan. Janji berubah.
Tangannya gemetar membaca.
Ia tidak langsung menjawab.
Ia menutup ponsel.
Lalu menatap rumah yang kini dipenuhi suara anak-anak.
“Aku nggak mau balik ke tempat yang membuatku lupa siapa aku,” bisiknya pelan.
Aruna tidak menjawab.
Ia hanya menggenggam tangan Mira.
—
Malam datang lagi.
Tapi berbeda dari kemarin.
Mira tidak tidur di sofa.
Aruna menyiapkan kamar tamu sederhana. Tidak mewah. Tapi hangat.
Sebelum lampu dimatikan, Mira berkata pelan,
“Kalau aku jatuh lagi… kamu bakal tetap di sini?”
Aruna tersenyum lembut.
“Kita jatuh bareng… bangun bareng.”
Mira menutup mata.
Dan di rumah itu…
untuk pertama kalinya sejak hidupnya runtuh…
ia tidak takut menghadapi besok.
—
Di luar kamar, Arka berdiri di lorong.
Aruna keluar pelan.
“Mira mulai kuat,” katanya.
Arka mengangguk.
“Kita juga harus siap… dunia luar belum selesai.”
Aruna menatapnya.
“Kali ini… kita nggak sendirian.”
Arka menggenggam tangannya.
Rumah itu tidak sempurna.
Tidak tenang sepenuhnya.
Tapi satu hal berubah sejak semalam—
Mereka bukan lagi orang-orang yang bertahan sendiri-sendiri.
Mereka keluarga.
Dan keluarga… tidak membiarkan satu orang hancur sendirian.
---