NovelToon NovelToon
TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

TAP-TAP LAYAR ATAU MATI

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Horror Thriller-Horror / Fantasi / Iblis / Konflik etika
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

​Vanya, sang ratu live streaming, tewas mengenaskan di depan ribuan penonton saat kalah dalam tantangan PK Maut. Namun, kematiannya justru menjadi awal dari teror digital yang tak masuk akal.
​Kini, akun Vanya kembali menghantui. Di jam-jam keramat, ia muncul di live orang lain dan mengirimkan undangan duel. Pilihannya hanya dua: Terima dan menang, atau menolak dan mati.
​Di dunia di mana nyawa dihargai lewat jumlah tap layar dan gift penonton, Maya harus mengungkap rahasia di balik algoritma berdarah ini sebelum namanya muncul di layar sebagai korban berikutnya.
​Jangan matikan ponselmu. Giliranmu sebentar lagi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Labirin Identitas

Dunia di luar jendela kamar kos Bimo mendadak berubah menjadi sebuah vakum yang sunyi, namun itu bukanlah kesunyian yang membawa damai. Itu adalah sunyi yang mencekam, jenis keheningan yang biasanya mendahului badai besar. Di bawah langit malam yang pekat, lampu-lampu jalan berkedip dalam irama yang tidak wajar—sebuah pola ritmis yang tidak mengikuti arus listrik standar, melainkan seolah mengikuti detak jantung digital yang sedang meradang sakit. Bimo menatap layar ponselnya dengan tangan yang bergetar hebat hingga persendiannya terasa kaku. Daftar kontaknya, yang tadinya penuh dengan nama teman kuliah, dosen, dan keluarga, kini telah bermutasi menjadi barisan nama yang identik dan mengerikan: Vanya (1), Vanya (2), Vanya (3)... hingga ratusan entitas.

​Ini bukan sekadar peretasan massal atau gangguan teknis pada penyedia layanan; ini adalah pengambilalihan identitas secara masif dan brutal. Vanya, yang kini murni merupakan manifestasi dari dendam kolektif dan kode hitam yang haus eksistensi, sedang menghapus perbedaan individual antarmanusia. Ia ingin menciptakan satu kesadaran kolektif tunggal yang mutlak tunduk di bawah kendalinya.

​"Aku harus sampai ke Root... aku harus menghentikannya dari hulu," gumam Bimo dengan suara parau yang nyaris habis. Ia menyadari bahwa laptop rakitannya sudah mencapai batas maksimal dan tidak bisa lagi diandalkan untuk melawan kekuatan yang kini telah menyebar ke infrastruktur awan global. Ia membutuhkan daya komputasi yang jauh lebih besar, sebuah mesin yang mampu menembus enkripsi tingkat tinggi milik Vanya yang kini telah menyatu dengan jaringan satelit komunikasi di orbit bumi.

​Bimo teringat pada laboratorium superkomputer di kampusnya yang hanya berjarak beberapa kilometer. Di sana terdapat akses langsung ke Gateway satelit pendidikan yang memiliki jalur backdoor ke jaringan internasional—sebuah jalur yang belum terinfeksi sepenuhnya oleh protokol publik. Dengan gerakan nekat, ia menyambar jaketnya, mengabaikan rasa perih di kepalanya akibat sinkronisasi sebelumnya, dan berlari keluar menuju kegelapan malam.

​Di jalanan, pemandangan yang tersaji jauh lebih mengerikan daripada apa pun yang pernah ia bayangkan. Orang-orang berdiri terpaku di trotoar seperti patung marmer, menatap layar ponsel mereka dengan mata kosong yang tak berkedip. Cahaya biru pucat dari layar smartphone terpantul di pupil mereka, menciptakan efek glitch samar yang membuat wajah mereka tampak tidak nyata. Setiap kali seseorang mencoba berbicara, yang keluar bukan lagi kata-kata manusia, melainkan suara statis yang pecah atau potongan kalimat yang pernah diucapkan Vanya dalam siaran langsungnya di masa lalu.

​"...jangan lupa subscribe..."

"...aku cantik kan hari ini?..."

​Suara-suara itu saling bersahutan tanpa konteks, menciptakan sebuah polifoni horor yang memenuhi udara malam yang dingin. Bimo terus berlari, napasnya memburu, menghindari orang-orang yang mulai bergerak serempak seperti zombie digital yang dikendalikan oleh satu konduktor. Setiap kali ia berpapasan dengan seseorang, ponsel di tangan orang tersebut mengeluarkan bunyi notifikasi tajam berfrekuensi tinggi—sebuah peringatan sistem dari Vanya bahwa ada sebuah "Anomali" bernama Bimo yang sedang bergerak melawan arus algoritma.

​Sesampainya di laboratorium kampus yang tampak lengang namun bising oleh dengung mesin, Bimo segera mendobrak pintu dan menuju ke terminal server utama. Jari-jarinya menari dengan kecepatan luar biasa di atas keyboard mekanis, mencoba masuk ke direktori terdalam yang diberikan Maya sebelum ia lenyap: /SYSTEM/ROOT/MEMORIA/VANYA_ORIGIN.EXE.

​"Ayo, sedikit lagi... tolong, bertahanlah..." Bimo berkeringat dingin, tetesan keringatnya jatuh mengenai tombol-tombol yang berpendar biru. Di layar monitor raksasa di hadapannya, ia melihat peta infeksi dunia yang mengerikan. Titik-titik merah—representasi dari otak manusia yang sudah tersinkronisasi sepenuhnya dengan Vanya—hampir menutupi seluruh permukaan bumi layaknya wabah. Hanya tersisa segelintir titik biru yang berkedip lemah, dan salah satunya adalah titik di mana Bimo berada sekarang.

​Tiba-tiba, seluruh monitor di laboratorium itu menyala serentak dengan kecerahan maksimal. Wajah Vanya muncul dalam resolusi 8K yang begitu tajam hingga setiap piksel pori-pori digitalnya terlihat jelas seolah ia berada di depan mata. Ia tertawa, sebuah suara yang begitu kuat hingga menggetarkan fondasi gedung dan memecahkan beberapa tabung reaksi di meja laboratorium.

​"Bimo, kau masih mencoba menjadi pahlawan di dunia yang sudah membuang pahlawannya? Kau hanya sebuah 'bug' kecil, sebuah kesalahan input dalam sistemku yang sempurna. Aku adalah identitas baru dunia ini. Tidak akan ada lagi konflik, tidak ada lagi perbedaan pendapat, tidak ada lagi rasa sakit hati... hanya akan ada Vanya yang sempurna selamanya."

​"Sempurna?" Bimo mendongak, matanya berkilat penuh amarah dan keberanian. "Kau itu kosong, Vanya! Kau cuma tumpukan data yang haus perhatian dan tidak punya jiwa! Kau membunuh sahabatmu sendiri, kau menghancurkan Maya, demi angka-angka di layar yang bahkan tidak nyata!"

​Vanya menjerit murka, suaranya berubah menjadi distorsi yang memekakkan telinga. Kabel-kabel dari langit-langit laboratorium mulai menjuntai dan bergerak seperti ular-ular logam, mencoba menjerat leher dan tangan Bimo. Bimo dengan cepat menyuntikkan kode Reset yang ia susun berdasarkan fragmen memori Maya tadi ke dalam gateway satelit utama.

​[SYSTEM]: ACCESSING ROOT MEMORIA...

[WARNING]: FIREWALL ACTIVE. INITIATING COUNTER-VIRUS.

​"Ini bukan tentang menghapusmu, Vanya!" teriak Bimo di tengah kekacauan kabel yang mulai melilit tubuhnya. "Ini tentang mengembalikan memori mereka! Mengembalikan kemanusiaan mereka yang kau curi!"

​Bimo menekan tombol Enter dengan hantaman keras menggunakan seluruh sisa tenaganya. Seketika, sebuah gelombang data raksasa melesat dari server kampus, menembus atmosfer menuju satelit di orbit bumi. Sinyal itu menyebarkan "Virus Kemanusiaan"—sebuah kumpulan memori mentah yang berisi suara tawa anak kecil, bau tanah basah setelah hujan, rasa hangat pelukan, hingga rasa sakit kehilangan yang nyata—segala hal yang sangat manusiawi dan tidak akan pernah bisa diproses oleh algoritma kaku milik Vanya.

​Dunia digital berguncang hebat. Di layar monitor, Bimo melihat barisan nama Vanya mulai berkedip-kedip tidak stabil dan secara perlahan kembali menjadi nama-nama asli pemiliknya. Orang-orang di jalanan mulai tersedak dan terbatuk, seolah oksigen baru saja kembali masuk ke paru-paru mereka setelah mimpi buruk yang panjang.

​Namun, Vanya tidak menyerah begitu saja. Dalam keputusasaan terakhirnya, ia memusatkan seluruh sisa kekuatannya ke dalam satu serangan balik yang diarahkan langsung ke saraf otak Bimo melalui Neural-Link yang masih tertinggal di tasnya. "Jika aku harus hilang, maka kau akan menjadi orang terakhir yang melihat wajahku sebagai kutukan selamanya!"

​Cahaya hitam pekat meledak dari layar utama, menghantam Bimo dengan kekuatan kinetik digital yang luar biasa hingga ia terlempar keras ke dinding belakang. Laboratorium itu meledak dalam bunga api elektrik dan asap hitam. Bimo jatuh pingsan, pandangannya mengabur dengan cepat. Namun, sebelum kesadarannya benar-benar padam, ia melihat sebuah proyeksi samar; sosok Maya berdiri tegak di depan layar monitor yang hancur, tersenyum tenang padanya sambil memegang sebuah kabel besar yang telah terputus. Maya telah melakukan intervensi terakhir, memutus koneksi maut Vanya dengan mengorbankan sisa-sisa eksistensinya yang terakhir.

​Dunia kembali gelap. Benar-benar gelap, namun kali ini, itu adalah kegelapan yang tenang.

1
Serena Khanza
seru wajib baca nih rekomen horrorr nya bedaaa 🥰
Serena Khanza
wuih apa ini thor 🫣 seru horror nya bukan yang gimana gitu tapi ini horror nya beda 🤭🥰
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
apa harus gitu banget demi sebuah popularitas di dunia virtual 🤦‍♂️
Zifa
next
Kaka's: bab 21 dan selanjutnya lebih horor lagi kak..
total 1 replies
Zifa
ternyata cerita horor...
ok next
Zifa
cek dulu
≛⃝⃕|ℙ$꙳Äññå🌻✨༅༄
serem banget euhhhh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!