NovelToon NovelToon
GERBANG YANG SAMA

GERBANG YANG SAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ghuci Shintara

Semua bermula dari hari pertama menjadi siswa SMK Pariwisata, dimana takdir mempertemukan mereka didepan gerbang yang telah tertutup rapat, mereka terlambat. Mereka berkenalan dan mereka terkejut karena mereka sama-sama jurusan yang sama dan sama-sama dikelas yang sama bahkan karena mereka terlambat, mereka hanya mendapatkan kursi kosong dipaling belakang dan mereka kembali sama-sama duduk di meja kelas yang sama. Seiring berjalannya waktu mereka sudah menjalin pertemanan dan hingga waktunya tiba kegiatan Study Tour yang menjadi program penting sekolah SMK Pariwisata untuk kelas 1 dan dari sanalah sebuah kesepakatan di bawah langit Bali terjalin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ghuci Shintara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 - Godaan Mantan Gebetan

Suasana di trotoar Malioboro mendadak mencekam. Isakan Nadia yang semakin kencang beradu dengan bisik-bisik penasaran dari para wisatawan dan pedagang kaki lima yang mulai berkerumun. Vanya, Yola, dan Vivi membentuk pagar betis manusia, memeluk dan membisikkan kata-kata penenang agar emosi Nadia tidak semakin meledak di depan umum.

Dion, yang sadar betul bahwa rombongannya sedang menjadi tontonan gratis, langsung mengambil kendali sebagai ketua kelas. "Kita nggak bisa di sini terus. Terlalu ramai. Ayo pindah ke tempat yang lebih sepi," instruksinya dengan nada rendah namun tegas.

Rombongan kecil itu mulai bergerak menjauh dari pusat keramaian Malioboro. Gery berjalan sedikit tertinggal di belakang. Ia menautkan kedua tangannya di belakang kepala, menatap langit malam Yogyakarta yang tertutup pendar cahaya kota. Pikirannya kalut; ia mencoba mencerna betapa brutalnya takdir mempertemukan Nadia dengan pengkhianatan itu di tempat yang seharusnya menjadi momen liburan.

Reno, yang sejak tadi mengamati kegelisahan sahabatnya, mempercepat langkah dan langsung merangkul bahu Gery dengan akrab.

"Ger, jangan terlalu dipikirin sampai segitunya. Kadang dunia emang sebercanda itu," ucap Reno, mencoba memecah kekakuan. "Gimana kalau kita cari tempat nongkrong yang agak masuk ke gang atau kafe kecil yang sepi? Kita butuh kopi buat ngetralisir suasana yang udah kepalang berantakan ini."

Gery menoleh, lalu mengangguk setuju. "Ide bagus, Ren. Gue butuh sesuatu buat mendinginkan kepala."

Gery kemudian melirik ke arah Dion yang berjalan di samping mereka. Dion tampak serius menatap layar ponselnya, jempolnya bergerak cepat mengetik balasan. "SMS dari siapa, Yon?" tanya Gery pelan.

"Sherly," jawab Dion singkat tanpa mengalihkan pandangan. "Dia nanya posisi kita. Rombongan jurusan Busana ternyata juga lagi di sekitaran sini. Gue bilang ke dia kalau kita lagi cari tempat buat nenangin Nadia sebentar."

Mereka terus berjalan menyusuri selasar, mencari celah di antara bangunan tua Malioboro yang menawarkan sedikit ketenangan. Di depan sana, Vanya masih merangkul erat Nadia, memastikan sahabatnya itu tidak terjatuh lagi. Kejadian barusan bukan hanya menghancurkan hati Nadia, tapi juga menyadarkan mereka semua bahwa dewasa itu ternyata menyakitkan.

Kopi pahit mungkin adalah satu-satunya hal yang bisa mengimbangi pahitnya kenyataan yang baru saja mereka saksikan.

Harapan mereka untuk menemukan kafe yang tenang di Malioboro pada malam hari ternyata hanyalah angan-angan. Malioboro tetaplah Malioboro; lautan manusia, suara klakson kendaraan, dan hiruk-pikuk wisatawan memenuhi setiap jengkal trotoar hingga masuk ke gang-gang kecil.

Lelah berputar-putar tanpa hasil, rombongan itu akhirnya menyerah dan berhenti di sebuah kios kelontong kecil yang terjepit di antara toko-toko besar.

Di bawah temaram lampu neon kios yang berkedip, mereka berkumpul. Tidak ada kursi empuk atau meja kafe, hanya aspal jalanan dan aroma tanah Jogja. Gery membeli beberapa botol air mineral dingin dan membagikannya, terutama untuk Nadia yang terlihat sangat dehidrasi setelah tenaganya terkuras habis untuk menangis dan berteriak.

Dion, yang sejak tadi tampak gelisah dengan ponselnya, akhirnya mengantongi perangkat tersebut. "Eh, semuanya, gue izin pamit bentar ya?" ucap Dion memecah suasana.

"Mau ke mana, Yon?" tanya Feri.

"Sherly nggak jauh dari sini, rombongan Busana lagi berhenti di depan benteng. Dia nanya keadaan kita terus, gue mau nyamperin dia bentar sekalian koordinasi biar nanti kita balik ke bus barengan," jelas Dion. Setelah mendapat anggukan dari yang lain, sang ketua kelas itu pun menghilang di balik kerumunan, menuju arah yang berlawanan.

Kini, grup itu terbagi menjadi dua kubu kecil di depan kios kelontong.

Para wanita—Vanya, Yola, dan Vivi—membentuk lingkaran pelindung di sekitar Nadia. Nadia sudah tidak menangis lagi, namun tatapannya masih kosong, sesekali ia meneguk air mineral pemberian Gery. Vanya menggenggam tangan Nadia erat, menunjukkan bahwa meski tadi ia "meminjamkan" Gery, sekarang ia kembali sebagai sahabat yang paling depan membela.

Di sisi lain, Gery, Reno, dan Feri berdiri bersandar pada tiang listrik di dekat kios, memulai diskusi kecil dengan nada rendah.

"Gila ya, Jogja nggak mau kalah dramatis sama Bali," bisik Reno sambil membuka sebungkus kacang atom. "Gue masih nggak habis pikir, kok bisa-bisanya itu cowok ada di sini, gandengan sama cewek lain lagi. Dunia sempit banget apa gimana?"

Feri menghela napas, "Mungkin itu cara Tuhan ngasih tahu Nadia lebih cepet, Ren. Daripada dia nunggu-nunggu di rumah, malah dikasih liat langsung di sini. Sakit sih, tapi ya... mau gimana lagi."

Gery hanya diam mendengarkan, namun matanya tetap tertuju pada Vanya dan Nadia. Ia memikirkan betapa kuatnya ikatan mereka. Ia melihat Vanya yang tadi begitu berani mengambil keputusan "aneh" dengan menyuruhnya menjaga Nadia, kini justru menjadi orang yang paling tenang menenangkan sahabatnya.

"Kita jagain mereka aja dulu," ucap Gery pendek. "Jangan biarin Nadia lepas dari pandangan kita lagi. Jogja malam ini agak beda hawanya."

Malam itu, di depan kios kelontong sederhana, mereka belajar bahwa terkadang tempat paling nyaman bukan kafe mewah atau hotel bintang empat, melainkan kehadiran sahabat yang tetap berdiri di samping kita saat dunia sedang tidak berpihak.

Waktu seolah berlari lebih cepat di bawah lampu-lampu jalan Malioboro. Jam digital di ponsel Gery sudah menunjukkan angka yang mepet dengan batas waktu kumpul. Sebagai wakil ketua kelas, Gery tahu mereka tidak boleh telat atau satu Bus 4 akan kena tegur Pak Bambang.

Gery segera merogoh ponselnya dan men-dial nomor Dion.

"Yon, lo langsung ke parkiran bus aja ya? Kita udah mulai jalan ke arah Abu Bakar Ali nih. Takut telat," ucap Gery singkat begitu sambungan telepon terhubung. Setelah mendapat konfirmasi dari Dion yang rupanya juga sudah bergerak bersama Sherly, Gery mengisyaratkan rombongannya untuk mulai melangkah.

Perjalanan kembali ke bus terasa jauh lebih sunyi dibandingkan saat mereka berangkat tadi. Nadia berjalan di antara Vanya dan Yola, langkahnya gontai namun sudah jauh lebih terkendali. Tidak ada lagi teriakan, hanya sisa-sisa kelelahan emosional yang terpancar dari wajahnya yang pucat.

Begitu mereka sampai di area parkir dan menaiki anak tangga Bus 4, hawa dingin AC bus menyambut mereka. Dion ternyata sudah sampai lebih dulu dan duduk di kursi paling belakang sambil mengatur napas setelah mengantar Sherly ke bus rombongan jurusan Busana.

Saat rombongan mulai mencari posisi duduk, sebuah pergerakan tak terduga kembali terjadi. Nadia, yang seharusnya duduk di barisan depan bersama Yola sesuai "formasi darurat" tadi, tiba-tiba menarik ujung baju Vanya. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Vanya dan membisikkan sesuatu yang cukup pelan, namun Gery yang berada tepat di belakang mereka masih bisa menangkap intonasinya.

"Van... boleh nggak kali ini aja, gue duduk di belakang sama Gery lagi? Gue masih butuh tenang, dan cuma dia yang bikin gue nggak ngerasa sendirian sekarang," bisik Nadia lirih.

Vanya terdiam sejenak. Ia melirik Gery, lalu beralih menatap mata Nadia yang masih kemerahan. Sebagai "pacar" dalam kontrak, Vanya punya hak untuk menolak. Namun, sebagai sahabat yang melihat hancurnya hati Nadia di depan matanya sendiri tadi, egonya luruh.

Vanya mengangguk pelan sambil tersenyum tipis. "Iya, Nad. Duduk aja sama Gery. Biar gue sama Yola di sini."

Vanya kemudian menoleh ke arah Gery, memberikan isyarat dengan kepalanya agar Gery mengikuti Nadia ke barisan belakang. Gery hanya bisa menghela napas panjang—campuran antara rasa kasihan pada Nadia dan kekaguman pada kedewasaan Vanya yang di luar nalar.

Kini, di barisan belakang Bus 4 yang remang-remang, Gery kembali duduk bersisian dengan Nadia. Bus mulai perlahan meninggalkan kawasan Malioboro. Nadia menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, menatap keluar jendela melihat keramaian Jogja yang perlahan menjauh.

"Makasih ya, Ger... udah mau direpotin terus hari ini," bisik Nadia pelan tanpa menoleh.

Gery tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil, menyadari bahwa malam terakhir di Yogyakarta ini akan menjadi perjalanan paling panjang bagi mereka semua. Di barisan depan, Vanya bersandar pada Yola, sesekali melirik ke arah belakang melalui celah kursi, memastikan bahwa "misinya" untuk menjaga kewarasan sahabatnya berjalan dengan baik.

Lampu-lampu jalanan Yogyakarta yang berpijar kuning keemasan menari-nari di kaca jendela bus yang melaju stabil. Di barisan belakang yang remang, suasana begitu sunyi, hanya deru mesin bus yang menemani kebisuan antara Gery dan Nadia.

Nadia, yang hatinya baru saja hancur berkeping-keping di aspal Malioboro, perlahan menggerakkan kepalanya. Secara sadar dan penuh keyakinan, ia menyandarkan kepalanya di bahu Gery. Gery sempat menegang, namun ia membiarkan bahunya menjadi tumpuan bagi gadis itu.

"Ger..." suara Nadia terdengar sangat lirih, nyaris teredam suara AC bus. "Sejujurnya... Vanya itu beruntung banget punya lo duluan. Gue iri sama dia."

Gery tertegun. Kalimat itu menghujam tepat ke jantungnya. Ia hanya bisa terdiam, menatap lurus ke arah lorong bus yang gelap. Pikirannya melayang ke masa lalu, saat ia hanya bisa menatap Nadia dari kejauhan. Dulu, ia memiliki perasaan yang sangat dalam untuk gadis ini, namun karena saat itu Nadia masih memiliki pacar, Gery memilih untuk memendam semuanya rapat-rapat. Ia tidak ingin menjadi pengganggu, dan sekarang, ironi itu terasa sangat nyata.

Nadia menghela napas panjang di bahu Gery, lalu bertanya kembali dengan nada yang lebih serius. "Ger, hubungan lo sama Vanya itu... sebenarnya mau dibawa ke mana? Mau seperti apa ke depannya?"

Gery terdiam cukup lama. Ia harus sangat berhati-hati. Nadia hanya tahu bahwa ia dan Vanya sudah resmi jadian, tanpa tahu "kontrak" dan alasan rumit di baliknya. Gery tidak ingin membongkar rahasia itu, namun ia juga tidak ingin berbohong sepenuhnya.

"Gue... gue cuma mengikuti alurnya Vanya aja, Nad," jawab Gery akhirnya dengan suara rendah. "Selama hubungan ini nggak mempengaruhi nilai akademis gue, gue masih akan melanjutkannya."

Jawaban itu terdengar sangat praktis dan logis, khas seorang Gery. Namun, di balik itu, ada keraguan yang menyelimuti hatinya. Ia terdiam karena merasa bersalah; ia berada di antara dua perempuan yang sama-sama memiliki tempat di hatinya, namun dengan status yang saling tumpang tindih dalam ketidakpastian.

Nadia tidak menanggapi lagi. Ia hanya semakin merapatkan sandarannya, seolah jawaban Gery sudah cukup untuknya saat ini. Ia tidak tahu bahwa pria yang ia jadikan sandaran ini sedang menyimpan rahasia besar tentang status hubungannya dengan Vanya.

Di barisan depan, Vanya mungkin sedang tertidur atau berpura-pura tidur, memberikan ruang bagi Gery dan Nadia untuk menyelesaikan "urusan" perasaan mereka malam itu. Bus terus melaju, membawa mereka kembali ke hotel, namun membawa beban perasaan yang jauh lebih berat dari saat mereka berangkat tadi pagi.

Bus semakin mendekati area hotel, namun suasana di barisan belakang justru semakin memanas dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga. Nadia, yang sepertinya sudah mulai mendapatkan kembali keberaniannya, memberikan pertanyaan pamungkas yang membuat jantung Gery seakan berhenti berdetak.

"Ger," panggil Nadia, suaranya sedikit lebih jelas sekarang. "Dulu kata Vanya, lo suka ya sama gue?"

Gery mendadak menoleh, lehernya terasa kaku. Ia mendapati Nadia masih bersandar di bahunya, namun kini gadis itu sedikit mendongak, melirik langsung ke wajah Gery. Tatapan mereka bertemu di tengah keremangan bus. Nadia justru tersenyum melihat raut wajah Gery yang terpaku karena terkejut.

"Kenapa saat lo cerita ke Vanya kalau lo suka sama gue, lo nggak ngejar gue, Ger?" lanjut Nadia, menatap Gery dengan rasa ingin tahu yang dalam.

Gery merasa serba salah. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencari kata-kata yang tepat. "Ya... dulu kan lo masih punya pacar, Nad. Nggak mungkin banget gue mengganggu hubungan orang. Gue bukan tipe cowok kayak gitu."

Nadia terkekeh kecil, lalu dengan gemas mencolek hidung Gery. Gery yang merasa canggung langsung membuang muka, kembali menatap ke arah lorong bus yang kosong. Namun Nadia belum selesai.

"Kalau sekarang... lo mau nggak ngejar gue kayak dulu?" tanya Nadia lagi, kali ini dengan nada yang lebih menggoda.

BUKK!

Sebuah bantal leher berbahan empuk melayang tepat mengenai kepala Nadia. Sontak mereka berdua menoleh ke arah depan. Vanya, yang sejak tadi disangka tertidur pulas, ternyata sudah berdiri di atas kursinya dengan wajah yang dibuat cemberut maksimal.

"Nadia! Ih, jahat banget lo ya! Teman macam apa lo mau nikung di depan mata!" seru Vanya dengan nada protes yang dibuat-buat, namun matanya berkilat jahil.

Nadia langsung meledak dalam tawa. Ia melepaskan sandarannya dari bahu Gery dan memegangi perutnya yang geli. Tawa renyah itu pecah, membelah keheningan malam di dalam bus dan menarik perhatian beberapa teman di barisan depan.

"Gue bercanda, Van! Hahaha... Aduh, habisnya Gery lucu banget kalau lagi panik," ucap Nadia sambil mencoba mengatur napasnya. Keceriaan yang tadi hilang di Malioboro seolah kembali lagi berkat aksi "penyerangan" bantal leher dari Vanya.

Vanya mendengus, namun kemudian ikut tertawa. "Awas ya lo! Gery ini aset berharga gue selama di Jogja!"

Gery hanya bisa menghela napas lega, meski sisa-sisa kegugupan masih tertinggal di dadanya. Ia sadar, Vanya sengaja melakukan itu bukan karena benar-benar marah, melainkan untuk mencairkan suasana agar Nadia tidak terus-menerus tenggelam dalam kesedihan. Di balik drama cinta segitiga yang aneh ini, Gery melihat betapa hebatnya cara mereka berdua untuk saling menyembuhkan.

Bus akhirnya perlahan membelok memasuki lobi hotel. Malam yang penuh air mata itu akhirnya ditutup dengan tawa yang lepas, setidaknya untuk sementara waktu.

1
Shintara
iya 👍
only siskaa
pertama Thor jngn lupa mmpir ke karya aku juga yaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!