NovelToon NovelToon
Cinta Masa Kecil

Cinta Masa Kecil

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Cintapertama / Duda
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: RJ Moms

“Pokoknya kakak harus nikah sama aku. Jangan sama yang lain.” “Iya, iya. Bawel banget jadi anak. Lagian masih sd udah ngerti nikah nikahan dari mana sih? Nonton tuh Doraemon, jangan nonton sinetron.” “Janji dulu,” Ayunda mengulurkan jari kelingking. “Janji.” Ikrar mereka saat masih kecil, menjadi pegangan untuk ayunda sampai dia remaja. Hanya saja, saat ayunda remaja, Zayan sudah bukan lagi anak kecil seperti dulu. Perjalanan hidupnya mengantarkan Zayan pada banyak kisah. Akankah kisah tentang janji pernikahan itu masih dipegang oleh Zayan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RJ Moms, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CMK#8

“Apa?” Herman terkejut bukan main. Wajahnya merah, urat lehernya nampak lebih menonjol dari biasanya. Tangannya mengepal seolah sedang mengalirkan seluruh tenaga dalamnya di sana.

“Jangan main-main, Zayan. Pikirkan perasaan Yunda. Dia mencintai kamu lebih dari setahun dua tahun. Papa sudah berjanji pada orang tuanya akan menjodohkan kalian. Kamu bahkan tidak menolak.”

“Maaf, Pa. Tapi aku ingin melanjutkan kuliah. Aku ingin mengambil spesialis anak.”

“Menikah dulu, baru lanjut kuliah.”

“Nggak bisa. Fokus aku terbagi nantinya. Kalau ayunda mau, tunggu sampai aku lulus.”

“Tega kamu, Zayan. Mama juga perempuan, mama tahu bagaimana perasaan ayunda jika mendengar penolakan kamu untuk bertunangan dengannya.”

“Bukan aku yang berjanji tapi kalian.”

“Kurang ajar! Berani kamu mempermalukan kami di depan orang tuanya?”

Zayan hanya bisa diam menerima amarah dari kedua orang tuanya. Sementara Arkan hanya diam memperhatikan adiknya. Dia meras aneh dengan sikap Zayan saat ini. Arkan tahu pasti jika Zayan memiliki perasaan untuk ayunda.

“Jangan teriak, Pa. Tetangga bisa dengar. Lebih baik diskusikan ini dengan tenang tanpa emosi.”

“Gimana papa gak emosi? Kalau memang dia gak mau, dari dulu aja bilang. Sekarang wayahnya tunangan malah bilang ingin melanjutkan kuliah. Gak apa-apa sok kalau mau kuliah, tapi tunangan dulu sama ayunda.”

“Kuliah ambil spesialis itu gak mudah, Pa. Dia butuh konsentrasi yang tinggi agar bisa lulus dengan baik.”

“Bela terus adikmu itu.”

Herman meninggalkan ruang keluarga. Meninggalkan kedua anak dan istrinya yang masih menangis.

“Ma, aku minta maaf.”

“Minta maaf sama ayunda. Bukan sama mama.” Ratna berbicara ketus sambil berlalu.

“Ada apa sebenarnya, Zay? Kenapa tiba-tiba kamu menolak pertunangan ini? Apa kamu gak merasa kalau sikap kamu ini terlalu kejam untuk ayunda? Dia kamu gantung dong ya selama bertahun-tahun ini.”

Zayan hanya bisa diam tanpa bisa menjelaskan apapun pada Arkan.

...***...

“Iya, gak apa-apa kok. Aku gak apa-apa semisal kakak gak mau kita bertunangan. Tapi, kalau harus menunggu lagi kayaknya aku gak bisa.”

“Spesialis itu hanya sebentar, Yunda.”

“Takut nanti kak Zayan minta kuliah lagi tante. Kan akunya jadi kecewa dua kali.”

Ayunda nampak tegar, tapi matanya tidak bisa berbohong jika dia kini terluka. Bibir nya bergetar berusaha menahan agar dia tidak menangis. Tangannya terus menggenggam erat bantal sofa yang ada di pangkuannya.

“Aku tahu kok sejak awal cinta aku bertepuk sebelah tangan. Aku juga sadar kak Zayan selama ini bersikap dingin sama aku. Kak Zayan baik karena ingin menghormati hubungan Papa sama Om. Lebih baik bicara terus terang begini gak sih, daripada nanti menikah tapi akunya dianggurin. Hahahah.”

Tawa ayunda terdengar sengau. Jelas ada getar sakit di sana.

Setelah keluarga bicara panjang lebar, akhirnya mereka sepakat untuk membatalkan perjodohan dan pertunangan mereka.

“Aku di sini sebentar, Ma.” Ucap Zayan saat keluarganya hendak pulang.

“Jangan banyak tingkah. Ayo pulang sama kami.”

“Sebentar, Pa.”

Tanpa basa basi, Herman menarik kerah baju anaknya dan menyeret dia ke dalam mobil.

Ayunda hanya bisa diam melihat Zayan diperlakukan seperi itu. Meski dia sedikit syok dan kaget, tapi tidak ada yang bisa dia perbuat selain diam.

“Abang pulang, ya.” Arkan mengusap kepala ayunda.

“Iya, Bang. Hati-Hati ya di jalan.”

Arkan mengangguk pelan.

Deru mobil Herman terdengar menderu saat dia menginjak gas begitu dalam. Mereka tahu jika pria itu benar-benar sangat marah.

“Ayu—“

“Aku ke kamar ya, Ma.”

Tanpa mendengar apa yang akan diucapkan Pak Mul, ayunda segera pergi ke kamarnya.

Dia duduk di depan meja belajar yang menghadap jendela sambil memeluk lututnya erat. Tubuhnya mulai bergetar seiring dengan isak tangis yang begitu pilu.

Satu jam berlalu, dua jam sampai tiga jam ayunda masih berada di tempat yang sama. Matanya jauh menatap keluar melihat hijaunya pepohonan.

Tangisannya sudah tidak terdengar namun air matanya tidak bisa berhenti menetes. Matanya sudah mulai membengkak dan wajahnya merah.

Dia bahkan tidak peduli pada dering ponsel yang entah berapa puluh kali berbunyi.

Hari mulai gelap. Hijaunya dedaunan mulai berganti warna. Ayunda baru beranjak dari kursi saat azan magrib berkumandang.

Di atas sajadah, ayunda kembali menangis. Tangan nya menengadah namun tak satu baris pun doa yang dia panjatkan. Hanya isak tangis yang terdengar.

Tubuhnya pun luruh. Tangisan itu kembali pecah dengan posisi tubuh meringkuk. Hingga ayunda pun tertidur. Bahkan saat matanya terpejam pun, air matanya masih menetes sesekali.

Rasa dingin yang menggerogoti tubuhnya membuat Ayunda terbangun. Kepalanya terasa pusing hingga dia bangun secara perlahan.

“Ya Allah, udah jam sebelas.”

Gadis itu kembali salat setelah mengambil air wudu. Dia ingat belum melaksanakan solat isya. Saat hendak menyimpan mukena nya di atas meja, ayunda melihat ada sepiring nasi yang ditutupi. Dia juga melihat ponselnya yang berdering sejak tadi.

Calon imamku

“Halo, Kak.”

Akhirnya ayunda menerima panggilan video dari Zayan.

“Ada apa? Mau bilang apa lagi? Mau lihat kondisi aku bagaimana? Nih kakak perhatiin baik-baik. Aku nangis, iya nangis entah sudah berapa lama. Kakak bisa lihat bagaimana mataku sampai bengkak kaayak gini. Udah puas? Ada yang mau disampaikan lagi? Oh, atau mungkin mau bilang kalau kakak punya pacar di kota? ITS oke. Gak apa-apa. Salah aku kok. Akunya aja yang aneh dan gak waras udah cinta sama orang sekian lama padahal tahu orang itu gak cinta sama aku. Dan—“

“Aku cinta sama kamu.”

Ayunda terdiam sejenak lalu tertawa. Tawa yang diringi dengan deraian air mata.

“Lucu banget sih pacarnya orang.”

“Ay, aku serius. Dan kamu harus tahu kalau apa yang aku lakukan saat ini demi kamu juga.”

“Aku memang bodoh, Kak. Tapi jangan terlalu banget membodohi akunya. Maksudnya kalau udah menjatuhkan aku sampai ke dasar jurang, jangan angkat aku ke atas dengan harapan kosong. Aku gak siap kalau harus kembali jatuh. Luka aku belum sembuh dan mungkin gak akan sembuh. Jangan menambah luka baru.”

“Ay, aku—“

“Apapun alasan kakak hari ini, bagiku ini adalah sebuah akhir. Akhir dari perjalanan aku mencintai kakak. Aku akan berusaha sekuat mungkin untuk mengubur rasa ini. Jadi, aku mohon jangan pernah lagi muncul dalam hidup aku.”

“Aku memang tidak bisa menjelaskannya saat ini, tapi yang harus kamu tahu bahwa aku melakukan ini semuanya demi kamu.”

“Yang aku tahu saat ini, rasanya sakit banget. Dada aku rasanya sesak, Kak.” Tangisan ayunda pecah di keheningan malam.

“Maaf, Ay.”

“Aku akan maafin kakak asal kakak jangan pernah kembali dalam hidup aku.”

“Ay—“

Berakhir sudah kisah cinta ayunda bersama dengan berakhirnya panggilan video mereka.

Gadis itu kini menyadari bahwa cintanya selama ini adalah penyakit yang memang sudah ada sejak lama. Hanya saja dia enggan berobat karena berobat pun akan membuat rasa sakitnya semakin parah.

1
Sit Tiii
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!