Bagi Syren Fauzana, nasib sial itu bentuknya nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang "kelihatan butek", dan dengan berani menuduh pria itu penipu.
Syren pikir urusannya selesai setelah ia memaki pria itu. Namun, dunianya runtuh saat ia masuk ke ruang wawancara dan menemukan pria "penipu" yang sama duduk di kursi CEO dengan senyum menyeringai.
Satu jam tangan rusak, utang seratus juta, dan sebuah kontrak kerja paksa tanpa gaji. Syren terjebak. Ia tidak tahu bahwa menjadi sekretaris Julian Aldrin bukan sekadar soal melunasi utang, tapi awal dari drama panjang yang akan mengubah seluruh hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Sabrina Rasmah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sial di pagi hari
✨ [ SEKERTARIS TANPA GAJI] ✨
Halo para pembaca terbaik! 😊
Cerita ini sebelumnya sudah saya bagikan sebagian di platform Fizzo dan belum terikat kontrak dengan manapun, jadi sekarang saya ingin berbagi juga di sini di NovelToon buat kalian semua!
Bagi Syren Fauzana, nasib sial benar-benar nyata: menabrak pria angkuh di lobi kantor, merusakkan jam tangannya yang kelihatan mahal, bahkan menuduhnya sebagai penipu. Ia pikir urusannya selesai setelah memaki pria itu, tapi dunianya runtuh saat menemukan sosok itu adalah CEO Julian Aldrin yang akan mewawancarainya. Akibatnya, Syren harus menanggung utang seratus juta dan terjebak dalam kontrak kerja paksa tanpa gaji. Padahal, menjadi sekretaris Julian bukan hanya tentang melunasi utang - ini adalah awal dari drama yang akan mengubah hidupnya secara total.
Untuk yang sudah baca di Fizzo, jangan khawatir ya, di sini akan ada bagian baru yang belum pernah saya bagikan! Bagi yang baru pertama kali tahu, silakan simak dari awal. Semoga kalian suka dengan kisahnya dan jangan lupa dukung dengan like, komentar, dan simpan cerita ini!
Terima kasih sudah mau baca dan mendukung 🤗
[ Nur Sabrina Rasmah]
..............
Matahari Jakarta sudah mulai menyengat, tapi di dalam kamar yang masih berantakan, Syren Fauzana masih asyik bergelut dengan mimpinya. Gadis itu tidur dengan posisi melintang, sama sekali lupa kalau hari ini adalah hari paling menentukan dalam hidupnya.
"SYRENNNNN BANGUN UDAH JAM 7 KATANYA MAU INTERVIEW!" teriak Dewi, ibu Syren, dari arah dapur sambil sibuk menyiapkan sarapan. Suaranya melengking menembus pintu kamar.
Mendengar teriakan ibunya, bukannya bangun, Syren malah menarik selimut lebih tinggi. Belum sempat dia nyenyak lagi, pintu kamarnya digedor kencang dari luar.
"MBAK CEPETAN BANGUN AE LAH TIDUR AJA KAYAK BABI GIMANA MAU PUNYA PACAR!" sahut adiknya, Ardi, yang sudah rapi dengan seragam SMA-nya. Ardi tertawa puas setelah berhasil mengganggu kakak kesayangannya itu.
"Lima menit lagi," gumam Syren dengan suara serak khas orang bangun tidur. Nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
"Terserah kamu, Mama mau ke pasar, adik kamu juga udah mau berangkat," balas ibunya pasrah, malas berdebat lebih panjang.
Ya, begitulah suasana rumah itu setiap pagi. Selalu berisik, penuh teriakan, dan ejekan dari Ardi yang hobi banget cari perkara.
Syren baru benar-benar tersentak bangun ketika ponsel di samping bantalnya bergetar hebat. Di layarnya muncul nama Gaby Ceret. Dengan mata setengah tertutup, Syren mengangkat telepon itu.
"Ren, lo udah berangkat belum?" suara Gaby di seberang sana terdengar panik bercampur emosi.
"Hee... gue baru bangun," jawab Syren enteng sambil mengucek mata.
"Astaga, lo gila? Ini udah jam 8 kocak!" teriak Gaby yang nyaris membuat telinga Syren budek.
"Astaga, yang bener aja?!" Syren langsung melotot. Dia menjauhkan ponsel dari telinganya dan melihat angka digital di layar. Benar saja, waktu sudah menunjukkan jam 8 lebih 5 menit.
Syren langsung loncat dari kasur sampai hampir terjungkal. "Ya udah, gue mandi sekarang!"
Syren melempar ponselnya ke kasur dan lari tunggang-langgang ke kamar mandi, mengabaikan handuknya yang hampir jatuh karena saking paniknya.
Syren buru-buru berdiri di depan cermin. Dengan gerakan cepat, dia mengikat rambutnya tinggi-tinggi—gaya ponytail yang paling praktis buat orang yang lagi dikejar waktu. Dia menyambar kemeja berwarna soft blue dan setelan celana hitam panjangnya. Setelah memastikan penampilannya tidak terlalu berantakan, Syren memoles sedikit lipstik biar nggak pucat-pucat amat.
"Fyuhh... oke, aman!" gumamnya berusaha menenangkan diri.
Syren menyambar kunci sepeda Scoopy hitamnya yang tergantung di dekat pintu, lalu segera tancap gas membelah jalanan Jakarta. Beruntung dewi fortuna masih sedikit berpihak padanya; dia sampai di gedung Aldrin Group sekitar jam 9 kurang sedikit. Sambil setengah berlari dari parkiran, dia menelepon Gaby.
"Gue udah sampai, Geb! Nggak telat kan?" tanya Syren dengan napas yang masih tersengal.
"Mungkin... makanya kalau tidur tuh jangan lama-lama, oot!" sahut Gaby dari seberang telepon dengan suara cemprengnya yang khas.
"Ya elah, ya udah kali! Udah ya, gue masuk nih!" Syren langsung mematikan teleponnya sepihak.
Syren merapikan map cokelat di pelukannya. Matanya sibuk memperhatikan arah lobi sambil sesekali melirik jam di tangan. Karena terlalu fokus pada tujuan di depan, dia tidak menyadari ada sesosok pria tinggi dengan aura sangat dominan sedang melangkah dari arah berlawanan.
Brukk! Planggg!
Syren merasa seperti menabrak tembok beton. Tubuhnya terpental ke belakang, mapnya nyaris terbang, dan suara denting logam yang menghantam lantai marmer terdengar sangat nyaring di lobi yang sunyi itu.
"Aduh!" Syren meringis, memegang dahinya yang terasa nyut-nyutan.
Dia menunduk dan melihat sebuah jam tangan dengan strap kulit tergeletak tak berdaya di lantai. Kacanya retak seribu. Syren buru-buru memungutnya dengan perasaan bersalah yang hanya bertahan sedetik.
"Waduh, Mas! Maaf ya, saya beneran nggak sengaja. Saya lagi buru-buru mau interview," ucap Syren sambil mendongak. Di depannya berdiri Julian Aldrin, menatap jam di tangan Syren dengan tatapan yang bisa membekukan air laut.
"Kamu tahu apa yang baru saja kamu rusak?" tanya Julian dengan suara rendah dan dingin.
Syren memutar-mutar jam itu di tangannya, lalu mengerutkan kening. Jamnya kelihatan sangat simpel, tidak ada emas atau berliannya. "Ya saya tahu ini jam, Mas. Tapi Mas juga sih, jalan kok di tengah-tengah begini. Ya udah, saya ganti deh. Berapa? Dua ratus ribu cukup kan? Ini jamnya juga udah kelihatan butek begini, Mas beli di pasar mana sih?"
Tepat saat itu, Leo datang dengan wajah pucat pasi. "Dua ratus ribu?! Nona, jam itu harganya seratus juta rupiah!"
Syren terdiam sejenak, lalu tawanya malah pecah. "Hah?! Seratus juta?! Mas, jangan nipu saya ya! Muka Mas ganteng-ganteng ternyata sindikat penipu kantor ya? Jam jelek begini seratus juta, mending saya beli motor Scoopy lima biji!"
Julian menatap Syren dengan intens. "Siapa nama kamu?" tanyanya dengan nada yang tak terbaca.
"Syren Fauzana!" jawab Syren ketus sambil berkacak pinggang. "Kenapa? Mas mau cari-cari saya? Mau minta ganti rugi ke orang tua saya gitu? Mas... Mas jangan macem-macem ya!"
Julian tidak membalas omelan Syren. Dia hanya menatap gadis itu dengan dingin lalu berucap singkat, "Terserah kamu."
Melihat pria itu pergi begitu saja, Syren mendengus kesal dan langsung berlari menuju ruangan manajer. Napasnya tersengal-sengal saat masuk ke ruangan.
"Kenapa bisa telat? Padahal ini baru tahap interview, Nona Syren," tegur sang Manajer HRD sambil melihat jam dinding.
"Maaf Bu, maaf banget. Tadi di depan ada insiden dikit," kata Syren sambil berusaha merapikan rambutnya yang mulai berantakan lagi.
Tiba-tiba, ponsel di meja sang manajer berbunyi. Manajer itu terdiam sejenak membaca pesan yang masuk. Wajahnya langsung berubah heran. Pesan itu dari CEO mereka: Suruh Syren Fauzana ke ruangan saya sekarang.
Manajer itu menatap Syren dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan bingung. "Kamu... ada urusan apa sama Pak CEO?"
"Hah? CEO? Nggak ada, Bu. Saya aja nggak tahu CEO-nya yang mana," jawab Syren polos.
"Kamu diminta CEO ke ruangannya sekarang. Ini lokasinya, di lantai paling atas," ucap sang manajer sambil memberikan kartu akses.
Syren membeku. Jantungnya serasa mau copot. "Ha... ba... baik, Bu."
Sepanjang jalan menuju lift, Syren komat-kamit berdoa. Mampus gue. Apa jangan-jangan penipu tadi lapor ke CEO? Atau jangan-jangan penipu tadi saudaranya CEO? Duh, Syren... kenapa mulut lo nggak bisa disaring sih!
Begitu pintu lift terbuka di lantai paling atas, Syren melangkah dengan kaki gemetar. Dia melihat sebuah pintu kayu besar dengan plat nama berlapis emas. Begitu masuk, dia melihat punggung pria yang tadi dia tabrak sedang berdiri membelakangi meja kerja besar.
Pria itu berbalik, dan Syren nyaris pingsan saat melihat Julian sedang duduk santai sambil menaruh
jam tangan "butek" yang pecah itu di atas meja.
denger kelrg mu bangkrut,, lgsg g drestui