NovelToon NovelToon
Penjara Cinta

Penjara Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Dark Romance
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Patriciaaaa

​"Kamu aman di sini, Aura. Dunia luar itu jahat, hanya saya yang tidak akan pernah menyakitimu."

​Kalimat itu adalah mantra sekaligus kutukan bagi Aura. Di usia 21 tahun, Arfan seharusnya menjadi pelindung, tapi baginya, Arfan adalah bayangan yang menelan kebebasannya. Setiap langkah Aura diawasi, setiap napasnya harus berizin.

​Aura terjebak di antara dua pilihan, mencintai pria yang rela mati demi menjaganya, atau membenci pria yang perlahan membunuh jiwanya dalam sangkar emas bernama kasih sayang.

​Ketika rahasia di balik sikap posesif Arfan mulai terkuak, sanggupkah Aura melarikan diri? Atau justru ia akan selamanya terkunci dalam Penjara Cinta yang ia bangun sendiri?

​"Sebab bagiku, kehilanganmu adalah satu-satunya dosa yang tidak bisa kumaafkan." — Arfan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Patriciaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 - Dia Datang Lalu Pergi

Bima tidak tahan lagi. Setiap kali matanya melirik seragam Aura yang memerah seketika perutnya terasa mual. Bukan karena jijik, tapi karena darah itu adalah pengingat abadi bahwa tadi ia tidak ada di sana.

"Gue pergi sebentar," gumam Bima tanpa menoleh pada Bunda maupun Aura. Ia langsung melangkah pergi dengan langkah lebar, menghilang di balik pintu otomatis rumah sakit.

Setengah jam kemudian, Bima kembali. Ia menenteng sebuah kantong plastik berisi kaos baru dan air mineral. Wajahnya masih kusam oleh oli, tapi matanya terlihat lebih fokus. Ia melemparkan kantong itu ke pangkuan Aura yang duduk di samping Bunda.

"Ganti baju lo. Gue nggak mau liat lo pake baju penuh darah kayak gitu," ucapnya ketus, padahal sebenarnya dia hanya ingin adiknya merasa lebih nyaman.

Aura mendongak, menatap kakaknya dengan mata bengkak. "Makasih, Kak..."

Bima hanya mendengus, lalu perhatiannya beralih pada Bunda. Sejak ia datang tadi, ia baru sadar wajah Bunda pucat sekali. Bibir Bunda yang biasanya kemerahan kini tampak putih, dan tangan Bunda yang memegang botol minum terlihat gemetar.

"Bun? Bunda nggak apa-apa?" tanya Bima, nadanya sedikit melunak.

Bunda mencoba tersenyum, tapi sedetik kemudian ia memegangi kepalanya yang berdenyut hebat. Tubuhnya limbung ke samping, membuat Bima dengan sigap menangkap bahu Bunda.

"Bunda cuma... sedikit pusing, Bim. Mungkin cuma kecapekan," bisik Bunda lemah. Keringat dingin mulai muncul di keningnya.

"Bunda belum makan, ya?" Aura mulai panik, ia ikut memegangi tangan Bunda yang terasa dingin.

Bima menatap Bunda dengan tatapan yang sulit diartikan. Di balik egonya yang setinggi langit, Bunda adalah garis merah yang tidak boleh terluka. "Aura bener. Bunda pucat banget. Pulang sekarang, biar Bima yang pesenin taksi."

"Tapi Arfan, Bim... operasinya belum selesai..." Bunda masih mencoba bertahan.

"Biar Bima yang di sini!" bentak Bima kecil, kali ini bukan karena marah, tapi karena khawatir yang berlebihan. "Bunda kalau sakit malah nambah beban Bima lagi. Pulang. Istirahat. Biar urusan di sini Bima yang urus."

Bunda menatap mata Bima yang merah. Ia tahu, meskipun kata-katanya kasar, itu adalah cara Bima menunjukkan rasa sayangnya. Dengan berat hati dan kepala yang semakin berputar, Bunda mengangguk.

"Janji ya, Bim? Jangan kasar-kasar sama Aura. Kabari Bunda perkembangan Nak Arfan," pesan Bunda lemah.

"Iya Bunda, yang tepenting sekarang, Bunda jangan kecapean harus istirahat," ucap Bima lembut.

Bima menuntun Bunda menuju lobi depan dengan sangat hati-hati, seolah-olah Bunda adalah porselen yang bisa pecah kapan saja. Begitu sebuah taksi berhenti di depan mereka, Bima membukakan pintunya. Namun, saat Bunda hendak masuk, Bima menahan pintu itu sejenak. Tangannya yang masih hitam kena oli tampak gemetar di pinggiran pintu mobil.

Bima menunduk, tidak berani menatap langsung mata Bunda yang sayu.

"Bun..." panggil Bima, suaranya tercekat dan sangat rendah.

Bunda menoleh pelan. "Iya, Bim?"

"Soal... soal tadi siang..." Bima menarik napas panjang yang terasa sangat berat di dadanya. "Maafin Bima. Bima nggak seharusnya bentak Bunda kayak gitu. Bima... Bima cuma lagi emosi. Bima beneran minta maaf, Bun."

Suasana lobi rumah sakit yang bising mendadak terasa sunyi bagi mereka berdua. Bunda terdiam sejenak, lalu tangan kurusnya yang dingin terangkat untuk mengusap pipi Bima yang kotor. Senyum tipis namun tulus muncul di bibir pucat Bunda.

"Sudah Bunda maafkan sebelum kamu minta, Nak," bisik Bunda lembut. "Bunda tahu kamu sayang sama Aura, cuma cara kamu yang salah. Sudah ya, jangan dipikirkan lagi. Sekarang fokus jagain adikmu, ya?"

Bima hanya bisa mengangguk kaku, matanya panas menahan air mata yang hampir tumpah. Ia membantu Bunda duduk dengan nyaman di dalam taksi, lalu menutup pintunya. Setelah mobil itu perlahan menjauh dan hilang di kegelapan malam, Bima masih berdiri di tempat yang sama untuk beberapa saat.

Beban di pundaknya terasa sedikit berkurang setelah minta maaf, tapi begitu ia berbalik dan melihat ke arah koridor ICU, rasa sesak itu kembali.

Bima kembali ke koridor, berdiri mematung menatap pintu besi yang masih tertutup rapat itu. Kini tinggal dia dan Aura.

Aura pergi menuju toilet untuk mengganti baju nya dan kini tersisa hanya Bima yang sedang terduduk sendiri menatap ruang ICU.

Di tengah kesunyian itu, Bima tiba-tiba melihat sesosok gadis berlari dari kejauhan menuju ke arahnya, yaitu Mawar.

Bima terkejut, instingnya langsung menyuruhnya untuk menghindar. Ia tidak mau Mawar melihatnya dalam kondisi sekacau ini, apalagi menjawab pertanyaan soal Arfan. Dengan cepat, Bima melangkah mundur dan bersembunyi di balik pilar besar, mengintip Mawar yang tampak menangis histeris.

Namun, hal yang membuat Bima terheran-heran adalah ketika Mawar, setelah menangis sebentar dan menatap pintu ICU dengan pandangan aneh, justru langsung berbalik dan pergi begitu saja. Mawar tidak menunggu, tidak bertanya lebih lanjut, ia menghilang secepat ia datang.

Tuh cewek kenapa? batin Bima penuh tanya. Dia nangis sampe kayak gitu, tapi langsung pergi? Ada yang nggak beres.

Bima masih terpaku, matanya menyipit menatap ujung lorong tempat Mawar menghilang. Pikirannya berputar liar, mencoba mencerna kenapa Mawar bersikap seolah dunia kiamat tapi langsung pergi begitu saja tanpa memastikan Arfan masih bernapas atau tidak.

"Kak Bima?"

Suara itu membuat Bima terlonjak. Ia hampir saja menabrak pilar tempatnya bersembunyi. Aura berdiri di sana, sudah mengenakan kaos oblong bersih yang tadi Bima beli. Wajah adiknya masih pucat, tapi seragam penuh darah itu sudah tidak ada, membuat napas Bima sedikit lebih ringan.

Aura mengerutkan kening, menatap kakaknya dengan bingung. "Kakak ngapain di situ? Kayak lagi ngumpet?"

Bima berdehem keras, berusaha mengembalikan wibawanya yang sempat anjlok. Ia keluar dari balik pilar dengan langkah kaku. "Nggak, siapa yang ngumpet? Tadi... tadi ada nyamuk gede banget lewat," kilah Bima asal, tangannya pura-pura menepuk-nepuk baju olinya.

Aura menghela napas, ia mendekati Bima dan menatap noda oli serta bensin yang sudah mengering di tangan dan wajah kakaknya. Bau bengkel masih tercium kuat dari tubuh Bima, sangat kontras dengan bau rumah sakit.

"Kak Bima... mending Kakak bersihin diri dulu deh," ucap Aura lembut. "Tangan sama muka Kakak hitam semua gitu. Di toilet situ ada wastafel kok. Kakak harus cuci muka biar segeran."

Bima melihat tangannya sendiri. Hitam, kotor, dan ada sisa bercak darah Arfan yang sudah mengering di sela-sela kukunya. Rasa mual itu kembali sedikit, mengingatkannya pada kejadian di gudang yang diceritakan Aura.

"Iya, iya, cerewet lo," gumam Bima, tapi kali ini tanpa nada kasar. Ia berjalan menuju wastafel di sudut koridor, meninggalkan Aura yang kini duduk di kursi tunggu dengan tatapan kosong mengarah ke pintu ICU.

Sambil membasuh wajahnya dengan air dingin, Bima menatap pantulan dirinya di cermin yang retak tipis. Kenapa Mawar pergi? Kenapa dia kayak ketakutan? Pertanyaan itu terus menghantui Bima, bahkan lebih mengganggu daripada rasa bencinya pada Arfan.

Bersambung........

1
Mawar
😍
Mawar
up terusss
Cahaya_Mentari
akhirnya😍
Mawar
lah kenapa tiba tiba Arfan berubah, bukannya kemarin dukung Aura ke London?
Cahaya_Mentari
Next Chapter😍
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
falea sezi
mawar ma arfan uda nganu ya Thor hmm. tidur bareng gt
My Name Cia: emmm, engga yaa🤭
total 1 replies
Mawar
Kok kayaknya Bima cemburu ya
Cahaya_Mentari
Alah, Arfan caper itu sama Bunda
Cahaya_Mentari
jadi keinget hy adik berkerudung putih, gtu ga sih🤭
Mawar
lanjut terusss
Mawar
baru awal udah di bikin penasaran
Cahaya_Mentari
kayaknya ceritanya bagus nih
Cahaya_Mentari
kok gtu banget sih Bima
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!