Valentine dan Valerie, si Twins V, telah tumbuh menjadi dua wanita dewasa dengan kepribadian unik yang selalu membuat orang-orang di sekitar mereka geleng-geleng kepala. Kepolosan, keberanian, dan cara berpikir mereka yang di luar nalar kerap menghadirkan tawa sekaligus kekacauan, terutama bagi kedua orang tua mereka.
Di tengah candaan tentang keinginan cepat menikah, mimpi-mimpi aneh, dan celetukan tak terduga, Twins V terus membawa kejutan baru. Lalu, keseruan dan kekacauan apa lagi yang akan mereka ciptakan selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eireyynezkim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemampuan
Ale melihat kepergian Zurra dengan rasa yang tak menentu, tapi kemudian dia menepuk kedua pipinya pelan. Dia kembali fokus dengan tugasnya saat ini yang di berikan oleh Ale kepadanya dan juga terus mengawasi keberadaan Valen. Tapi dia mulai gusar karena tidak menemukan keberadaan Arlo kekasihnya.
"Sial, kalau Arlo sampai kenapa napa, gue ledakin kalian semua!" gumam Ale geram.
Jari jemari Ale terus bergerak mencari keberadaan kekasihnya yang belum bisa di lacak.
Meskipun Ale belum menemukan keberadaan Arlo tapi dia tak akan menyerah begitu saja.
......................
Di sisi lain, Arlo yang baru tersadar mengerjapkan matanya berkali kali menyesuaikan cahaya yang ada di sana. Setelah dia sadar sepenuhnya, dia mengedarkan pandanganya untuk melihat di mana dia berada saat ini.
"Ini gue di mana?" gumam Arlo bingung.
Arlo memegangi kepalanya yang pusing dan memijatnya pelan. Dia meraba seluruh badannya memeriksa apa ada yang terbawa sama dia. Dan dia sadar jika antingnya terlepas, dan mencari cincin pemberian Ale yang ternyata masih berada di jarinya. Hanya saja di sana Arlo melihat jika sinarnya meredup mungkin terbentur sesuatu atau signalnya yang susah.
Arlo bangkit dari lantai dan mencoba melihat ke sekelilingnya yang terdengar sepi karena saat ini Arlo berada di kamar yang hanya ada jendela dan pintu yang sudah jelas terkunci.
Arlo berdiri menatap jendela itu dan juga menatap cincinnya lagi. Dia memikirkan cara bagaimana dia bisa memberi tanda pada Valen dan yang lainnya karena sudah jelas jika saat ini pasti banyak yang sedang mencarinya.
"Ck, nyusahin banget mereka ini!" gerutu Arlo kesal.
Tapi sedetik kemudian dia tersenyum lebar saat melihat seberkas cahaya masuk ke dalam ruangan tempatnya di sekap. Dia lalu melepaskan cincin yang dia pakai dan dia melemparkannya melalui celah jendela yang kecil itu.
"Ayo cincin lo harus bawa keberuntungan buat gue!" gumam Arlo pelan.
Tak lama setelah itu terdengar suara derap langkah mendekat ke arah ruangan Arlo dan membuat Arlo menjadi lebih waspada.
Arlo kembali pada posoisi semula saat dia belum tersadar agar tak menimbulka kecurigaan pada mereka.
Ceklek......
Brukkkk...
Terdengar suara orang terjatuh di dekat Arlo tapi Arlo hanya menajamkan pendengarannya bukan matanya yang terbuka.
"Ini mereka nggak mungkin bangun 'kan? Atau mereka akan mengenali kita?" tanya orang itu khawatir.
"Mereka tidak akan bangun, laki laki itu sudah mendapatkan bius yang banyak sedangkan kita sudah memukul perempuan itu dengan keras. Jadi tak mungkin mereka akan bangun dengan cepat. Lebih baik kita pergi dari pada mereka bangun dan melihat kita," sahut orang itu.
Setelah nya mereka lalu pergi dari sana dan Arlo mengerutkan keningnya heran karena merasa mengenali bau parfum seseorang yang ada di sebelahnya. Seketika Arlo langsung membuka matanya dan langsung terbelalak saat melihat Valen tergeletak di sana dengan ada noda cairan merah di keningnya.
"Valen...." teriak Arlo cepat.
Dia segera meraih kepala Valen dan menepuk pipi Valen pelan. Arlo berusaha membangunkan Valen dan tak lama usahanya membuahkan hasil. Valen mulai membuka matanya perlahan dan mengerutkan keningnya karena merasakan nyeri di bagian belakang kepalanya. Arlo sedikit merasa lega melihat Valen yang mulai sadar.
"Valen, syukurlah lo udah sadar." ucap Arlo pelan.
Arlo segera membantu Valen duduk dengan perlahan dan terlihat Valen mengerutkan keningnya merasakan sakit dan nyeri.
"Sssshh, sialan banget mereka. Mana main belakang!" gerutu Valen kesal.
Dia belum sadar jika dia sudah bersama Arlo saat ini. Dan Arlo masih membiarkan Valen menggerutu untuk menghilangkan rasa kesalnya saat ini.
"Val....." panggil Arlo pada Valen.
Valen mengerjapkan matanya, dan menajamkan telinganya saat merasa mendengar suara Arlo di dekatnya.
"Kok gue denger suara Arlo ya? Ini telinga gue yang eror apa gimana? Kan yang kena pukul kepala gue, celetuk Valen lirih.
Arlo yang ada di belakangnya melongo mendengar celetukan Valen yang malah melantur kemana mana.
Plak...
"Aduhhh...."
Akhirnya Valen menoleh ke belakang dan di sana terlihat jelas Arlo yang berdiri menatapnya garang.
"Terus sejak tadi yang usaha bangunin lo siapa kalau bukan gue? Lo kira gue cuma angin lewat tiba tiba manggil lo!!!" hardik Arlo kesal.
Valen langsung bangkit dan mencubit pipi Arlo dengan cepat.
"Awwww. aduhhh, Vallll.... Lepasin bego. Ini sakit!!!" keluh Arlo sambil berusaha melepaskan cubitan Valen pada pipinya.
Arlo mengusap pelan sambil memonyongkan bibirnya karena kesal dengan Valen.
"Lo kebiasaan deh Valen, lo kira pipi gue apaan? Gue aduin sama Ale ya kelakuan lo ini!"
Valen menggaruk kepalanya yang tak gatal karena dia juga bingung dengan refleknya tadi tapi kemudian dia bisa bernapas lega saat tahu Arlo baik baik saja.
"Gue seneng lo nggak apa-apa, semua udah nyari lo kemana mana dan pas gue nemuin anting berlian lo gue malah ketemu orang orang gila itu sedang bertengkar dan membully orang lain dan ya lo pasti bisa tebak selanjutnya seperti apa," ucap Valen santai.
Dia kembali duduk saat merasakan kepalanya sedikit pusing lagi. Dan Arlo memerhatikan semua tingkah Valen dan melihat jika Valen sebentar meringis menahan sakit di bekas pukulannya tadi.
"Lo yakin nggak apa apa?" tanya Arlo khawatir.
Valen mengangguk dan melihat jam tangannya yang terus berkedip, dia tersenyum senang melihat jika Ale sudah menemukan mereka berdua.
"Gue rasa habis ini kita bakal bersenang senang, atau kita pilih bersenang senang duluan?" tanya Valen sambil menaik turunkan kedua alisnya.
Arlo menghela napas panjang dan berbarengan dengan itu terdengar suara langkah kaki menuju ke ruangan mereka. Tapi dari dalam ruangan itu mereka berdua juga mendengar teriakan kesakitan dan tangisan yang menyayat hati.
Arlo serta Valen saling pandang saat mendengar itu semua, dan mereka segera kembali berdiri waspada siapa yang akan datang ke ruangan itu.
Valen dan Arlo saling bicara lewat kode mata mereka dan mereka mengambil posisi di tempat yang tak langsung kelihatan lawan mereka saat ini.
Ceklek....
"Gue kan udah bilang kalau mereka ber....."
Mata ketiga orang itu terbelalak saat tak menemukan Arlo dan Valen ada di ruangan itu padahal ruangan itu tertutup dan terkunci.
"Dimana mereka berdua?" tanya salah satu orang itu dengan panik.
Dua orang lainnya juga ikut panik saat tak menemukan Arlo dan Valen.
Sementara Valen menaikkan sebelah alisnya saat mengingat siapa orang itu.
"Kiki, bukannya dia teman perempuan yang kemarin, "batin Valen.
"Sialan, apa mereka kabur?" tanya Kiki lagi.
"Ahhh, lo ternyata..." ucap Valen sambil keluar dari tempat persembunyiannya.
Kiki dan kedua temannya langsung berbalik dan melotot ke arah Valen dengan wajah yang pucat pasi. Tapi sedetik kemudian wajah Kiki berubah menyeramkan dan Kiki tertawa terbahak melihat Valen dan Arlo sudah sadar.
"Lo emang anak Zurra dan Altezza sampai di pukul seperti tadi lo masih bisa berdiri," ucap Kiki keras.
Kedua teman Kiki yang baru tahu jika Valen adalah anak orang paling di takuti pun terkejut dan sedikit memundurkan langkah mereka karena mereka tahu konsekuensi berurusan dengan kedua keluarga itu.
Valen memiringkan kepalanya dan menatap Kiki remeh. Sungguh dia terkejut saat Kiki mengenalinya karena Valen tak pernah memberitahu tentang siapa jati dirinya dan yang lainya tapi Valen tersenyum lebar melihat keberanian Kiki saat ini.
"Ah, tentu aja lo tahu siapa gue karena lo juga putri tunggal seorang Pablo yang bergerak di dunia bawah. Hanya saja mungkin lo terlalu terlena dengan kekuasaan ayah lo sampai lo berani bertindak sejauh ini. Apa lo nggak sadar kalau lo udah bikin keluarga lo sendiri hancur?" pancing Valen pada Kiki.
Kiki menaikkan sebelah alisnya bingung tapi sesaat kemudian mata Kiki membola sempurna saat otaknya menangkap maksud Valen yang sudah tersenyum remeh ke arahnya.
"Apa lo pikir mami sama papi gue bakal diam aja, saat tahu ada anggota dunia bawah yang melanggar semua aturan yang sudah di sepakati? Apa lo pikir gue dengan mudah akan mati kalau di pukul pakai besi itu? Hahaha, lo salah berurusan sama gue Kimora Hardasia putri angkat Pablo Gunesa pemilik club malam dan juga gudang senjata di bagian utara kota ini." ucap Valen tenang.
Deg....
Tubuh Kimora alias Kiki langsung mematung saat Valen menyebutkan namanya lengkap dan juga identitas lainnya padahal ini belum ada berapa jam sejak Valen di bawa kemari.
Arlo yang mendengar semua yang di katakan Valen juga tercengang karena tak menyangka jika Valen sudah mendapatkan semua informasi itu dengan mudah dan cepat.
"Lo?" tunjuk Kiki pada Valen.
"Iya gue Valentine Ainsley Byantara, putri sulung Altezza dan juga Zurra," jawab Valen santai.
Kiki sedikit khawatir saat ini, tapi dia tak akan tunduk pada Valen hanya karena orang tua Valen meskipun Kiki tahu apa kemampuan Valen, itu yang ada di pikiran Kiki saat ini.
"Hahah, sekalipun lo anak mereka, lo nggak akan bisa kabur dari sini!!!"
to be continued...