Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20: Puing Keangkuhan dan Sinyal Bahaya
Udara di dalam lobi utama Adhitama Estate mendadak terasa menyesakkan, seolah oksigen tersedot keluar oleh ketegangan yang dibawa oleh tamu tak diundang itu. Nyonya Siska, wanita yang selama ini menjadi lambang keangkuhan dan sumber penderitaan bagi Nala, kini bersimpuh di atas lantai marmer yang dingin. Gaun malamnya yang berwarna keemasan sudah tidak berbentuk lagi, kotor oleh noda tanah dan sobekan besar di bagian lengan yang memperlihatkan kulitnya yang memar kebiruan.
Siska menggigil hebat. Suara isak tangisnya terdengar menyakitkan, namun di telinga Nala, suara itu tidak mengundang rasa iba yang mendalam. Ada rasa asing yang merayapi hati Nala saat menatap sosok yang dulu selalu berdiri tegak untuk menamparnya. Melihat Siska dalam keadaan sehancur ini tidak memberinya rasa puas yang meledak-ledak, melainkan rasa mual yang dingin. Nala membenci wanita ini, sangat membencinya, namun melihat kemanusiaan seseorang direnggut sedemikian rupa oleh pihak ketiga tetap saja memberikan efek ngeri yang menjalar hingga ke tulang.
"Sera, bawa dia ke ruang duduk. Berikan dia air hangat. Pastikan dia tidak mati karena syok di lantai rumahku," perintah Raga. Suaranya pelan namun sarat akan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Matanya tidak beralih dari pintu depan yang kini sudah ditutup rapat dan dikunci ganda oleh tim keamanan.
Sera maju dengan gerakan efisien. Ia merangkul bahu Siska yang gemetar dan membantunya berdiri. Siska bahkan hampir tidak sanggup menapakkan kakinya ke lantai, seolah seluruh tulangnya telah berubah menjadi bubur karena ketakutan. Ia terus bergumam tidak jelas, memanggil nama Bella dan Bramantyo berulang kali seperti orang yang telah kehilangan akal sehatnya.
Nala mengikuti mereka dari belakang dengan langkah kaki yang terasa berat. Tangannya terasa sedingin es. Ia tidak merasa sedih untuk Siska, tapi ia merasa terganggu oleh kenyataan bahwa masa lalunya kembali menyeretnya ke dalam kegelapan. Pintu ruang duduk ditutup rapat, menciptakan ruang kedap suara yang sempit. Raga memutar kursi rodanya, memposisikan dirinya tepat di hadapan Siska yang kini sudah duduk meringkuk di sofa, dibungkus oleh selimut wol tebal.
"Bicaralah," ucap Raga dingin. Tidak ada sedikit pun nada simpati dalam suaranya. "Dan jangan berharap aku akan mengusap air matamu. Katakan apa yang terjadi sebelum aku kehilangan kesabaran dan melemparmu kembali ke jalanan."
Siska mengangkat wajahnya perlahan. Rambutnya yang biasanya tersisir rapi kini menutupi sebagian wajahnya yang sembab. Ia menatap Raga, lalu beralih ke Nala dengan tatapan memohon yang menjijikkan bagi Nala.
"Kami sedang makan malam..." Siska memulai dengan suara yang putus-putus. "Tiba-tiba seluruh lampu di rumah padam. Lalu, ada suara pintu depan yang didobrak paksa. Orang-orang itu memakai penutup wajah. Tapi pemimpinnya tidak. Dia berjalan lambat masuk ke ruang makan. Suara tongkatnya yang mengetuk lantai sangat aku inbat. Tuk... tuk... tuk..."
Siska berhenti sejenak untuk mengambil napas pendek-pendek. Nala hanya berdiri bersedekap, tidak bergerak untuk mendekat atau menenangkan.
"Dia menyuruh anak buahnya menyeret suamiku Bramantyo ke tengah ruangan," lanjut Siska dengan tatapan kosong. "Ayahmu mencoba melawan. Tapi pria pincang itu langsung memukul kaki Ayahmu dengan tongkat besinya tepat di bagian lutut. Aku mendengar bunyi tulang yang patah. Sangat jelas. Ayahmu menjerit sampai suaranya hilang."
Nala memejamkan mata sejenak. Bayangan ayahnya yang lumpuh karena tulang yang remuk melintas di pikirannya. Ia tidak mencintai ayahnya, pria itu telah menjualnya seolah dia adalah hewan ternak. Namun, ada bagian dari nurani Nala yang bergejolak. Ia tidak ingin mereka selamat karena cinta, tapi ia ingin mereka selamat agar hutang budi dan sejarah berdarah ini benar-benar selesai. Ia tidak ingin Burhan menjadi pemenang dalam drama ini.
"Lalu kakak Bella?" tanya Nala singkat, suaranya datar tanpa emosi.
"Bella mencoba melarikan diri ke lantai atas," Siska mulai menangis lagi. "Tapi mereka menangkapnya. Pemimpin mereka bilang Bella adalah jaminan yang lebih baik daripada pria tua yang sudah rusak kakinya. Dia menarik rambut Bella dan menyeretnya keluar. Aku mencoba mengejar, tapi mereka memukul kepalaku sampai aku pingsan. Saat aku bangun, mereka semua sudah menghilang."
Raga mencengkeram sandaran tangan kursi rodanya begitu kuat hingga sendi jarinya memutih. Burhan Prasetya telah melakukan langkah yang sangat agresif.
"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Raga tajam. "Kenapa tidak melapor ke polisi?"
Siska menatap Raga dengan pandangan putus asa. "Dia meninggalkan pesan di dinding ruang tamu. Ditulis dengan cat warna merah. Dia bilang jika ada polisi yang ikut campur, dia akan mengirimkan potongan jari Bella satu per satu. Dan dia juga bilang bahwa hanya Nala yang bisa menyelamatkan mereka!"
Nala terdiam. "Kenapa harus saya?"
Raga tidak menjawab secara langsung. Ia tahu alasannya. Burhan ingin menghancurkan apa pun yang Raga miliki saat ini. Dan saat ini, Nala adalah orang terdekat di sekitar Raga. Burhan ingin menunjukkan bahwa Raga tidak bisa melindungi bahkan istrinya sendiri.
"Sera, periksa semua rekaman CCTV di sekitar kompleks Aristha," perintah Raga tanpa membuka mata. "Hubungi kontak kita, minta mereka memantau tanpa melakukan pergerakan fisik di lapangan. Jangan biarkan ular itu panik dan membunuh mangsanya sebelum aku sampai di sana."
Suasana di ruangan itu kembali hening, hanya diisi oleh suara isak tangis Siska yang perlahan mereda. Nala duduk di kursi kayu di sudut ruangan. Ia merasa muak. Muak karena harus berurusan lagi dengan orang-orang yang telah membuangnya.
"Mas Raga," panggil Nala pelan.
Raga membuka matanya, menatap istrinya.
"Mas tidak perlu melakukan ini untuk mereka," ucap Nala jujur. "Mereka bukan keluarga saya lagi sejak mereka menjual saya pada Mas. Jika Mas melakukan ini karena merasa terbebani oleh saya, tolong berhenti. Saya tidak peduli apa yang terjadi pada mereka."
Siska tersentak mendengar ucapan dingin Nala. "Nala! Bagaimana bisa kau bicara begitu?! Kami ini orang tuamu!"
Nala menoleh pada Siska dengan tatapan yang begitu tajam hingga wanita itu terbungkam. "Kalian adalah orang yang membiarkan aku kelaparan saat kalian berpesta. Kalian adalah orang yang menjadikanku pelayan selama dua puluh satu tahun. Jadi jangan bicara soal hubungan darah di depanku."
Raga menatap Nala dengan sorot mata yang sulit diartikan. Ada sedikit rasa kagum melihat ketegasan istrinya, namun ia juga melihat luka yang sangat dalam di sana.
"Aku tidak melakukan ini untuk mereka, Nala," jawab Raga pelan namun berwibawa. "Aku melakukan ini karena Burhan Prasetya berani menginjak teras rumahku. Dia berani menggunakan namamu dalam ancamannya. Bagiku, itu adalah tantangan perang secara terbuka. Aku menyelamatkan mereka bukan karena mereka berharga, tapi karena aku tidak akan membiarkan Burhan mengambil apa pun yang berkaitan dengan hidupku, termasuk masa lalumu."
Raga menjalankan kursi rodanya mendekati Nala, meraih tangan istrinya yang dingin.
"Dengarkan aku. Burhan ingin membuatmu terdengar bersalah bagaimanapun jika dia tetap di biarkan kemungkinan besar dia akan selalu menganggu kita jadi lebih baik kita yang mengetuk pintunya dahulu."
Tiba-tiba, suara dering ponsel Raga memecah ketegangan. Nomor tidak dikenal muncul di layar. Raga menekan tombol pengeras suara.
"Halo, Raga. Selamat malam, Pangeran Kecil," suara parau Burhan terdengar dari seberang telepon.
Raga tidak menjawab, membiarkan keheningan menekan lawan bicaranya.
"Aku lihat istrimu sudah menyambut kiriman pesanku dengan sangat dramatis," kekeh Burhan. "Siska memang pengantar pesan yang berisik, tapi dia berguna untuk membuatmu sadar bahwa aku tidak main-main."
"Apa maumu, Burhan?" tanya Raga dingin.
"Aku ingin kau mengumumkan pengunduran dirimu besok malam di pesta ulang tahun perusahaan. Serahkan hak kendali padaku. Dan kau harus membawa Nala. Sendirian. Tanpa pengawal, tanpa senjata. Ke lokasi yang akan aku tentukan," suara Burhan berubah menjadi dingin dan mengancam. "Jika tidak, kau bisa mulai memesan dua peti mati untuk keluarga Aristha malam ini juga."
Klik. Sambungan telepon terputus.
Nala merasakan lututnya lemas. Bukan karena dia mencintai keluarganya, tapi karena dia sadar bahwa dia sekarang benar-benar berada di tengah pusaran maut. Burhan menginginkan dirinya.
Raga meletakkan ponselnya kembali ke atas meja. Matanya berkilat dengan amarah yang membara di balik topeng peraknya.
"Pesta besok malam tetap akan berlangsung," ucap Raga pelan.
"Mas?" Nala menatap suaminya cemas. "Tapi dia menginginkan saya datang sendirian."
Raga memutar kursi rodanya, menatap Nala dengan tatapan yang sangat dalam.
"Dia ingin kau datang, Nala. Dan kita akan memberikannya apa yang dia inginkan. Tapi bukan sebagai korban. Dia pikir aku masih pria lumpuh yang lemah. Dia lupa bahwa singa tetaplah singa meskipun kakinya terluka."
Raga memanggil Sera kembali ke ruangan.
"Sera, siapkan tim utama. Kita akan merombak seluruh rencana untuk besok malam. Pesta ulang tahun Adhitama Group tidak akan menjadi panggung pengunduran diriku. Itu akan menjadi panggung eksekusi bagi Burhan Prasetya."
Nala melihat perubahan drastis dalam diri Raga. Pria di hadapannya saat ini telah bertransformasi menjadi seorang jenderal perang.
"Nala, aku tahu kau membenci mereka," ucap Raga sembari memegang bahu istrinya. "Dan aku tidak memintamu untuk mencintai mereka. Tapi aku butuh kau tetap berdiri tegak besok. Kita akan selesaikan ini semua. Setelah ini, keluarga Aristha tidak akan pernah bisa mengganggumu lagi, entah karena mereka selamat atau karena mereka menghilang selamanya dari hidupmu."
Nala menarik napas panjang. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sadar, ini bukan lagi soal menyelamatkan ayah yang jahat atau kakak yang iri. Ini adalah soal kemerdekaan jiwanya sendiri.
"Saya siap, Mas," jawab Nala dengan suara stabil. "Saya akan melakukan apa pun yang Mas perintahkan."
Malam itu, Adhitama Estate berubah menjadi markas komando yang sangat sibuk. Lampu-lampu tidak pernah padam. Di ruang bawah tanah, tim keamanan Raga sedang memeriksa perlengkapan. Di ruang duduk, Nyonya Siska akhirnya tertidur karena kelelahan emosional, dijaga ketat oleh pelayan.
Sementara itu, di kamar utama, Raga dan Nala duduk berdekatan di tepi tempat tidur. Raga perlahan melepaskan topeng peraknya di hadapan Nala. Wajah aslinya terlihat, menunjukkan kerentanan yang hanya ia bagi dengan wanita ini.
"Aku tidak peduli pada ayahmu, Nala," bisik Raga jujur. "Tapi aku peduli padamu. Aku tidak mau kau hidup selamanya dengan bayangan bahwa keluargamu mati karena kau tidak datang. Aku ingin kau bebas dari mereka tanpa ada rasa bersalah yang tersisa."
Nala memeluk leher Raga, membenamkan wajahnya di bahu kokoh pria itu. Ia sadar, Raga melakukan ini semua demi dirinya, demi ketenangan mentalnya di masa depan.
"Terima kasih, Mas," bisik Nala lirih.
Di luar jendela, petir kembali menyambar di langit malam yang gelap, sebuah sinyal bahwa badai yang sesungguhnya telah tiba. Raja Putih dan Ratu Putih bersiap untuk melakukan gerakan yang akan menentukan akhir dari segalanya.
ceritanya bagu😍